20160921

7 JUTA ALASAN LOGIS AGAR ANDA TIDAK MAJU

                Mengapa anda tidak segera merealisasikan keinginan untuk memiliki bisnis sendiri? mengapa anda tidak mencapai jumlah target yang anda inginkan? Mengapa tim sales anda tidak mengerjakan yang menjadi kesepakatan bersama? Mengapa anda belum juga memiliki rumah yang anda idamkan? Mengapa anda tidak segera mendaftar kuliah yang anda kehendaki? Mengapa anda belum jadi berangkat umrah atau naik haji?
                Jika pertanyaan itu mengena dengan diri anda, saya yakin anda akan segera memiliki alasan-alasan yang membenarkan kegagalan tersebut. Seiring berjalannya waktu, anda akan semakin banyak menghasilkan kreasi alasan-alasan untuk menengkan perasan anda sendiri atas kegagalan itu.
   Anda dan semua orang bermimpi, membayangkan, mengharapkan dan berdoa untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sayangnya tidak semua orang berhasil menggapainya.

TIRANI 7 JUTA ALASAN
               Saya dan anda bisa sekali untuk bersama-sama menciptakan tambahan alasan-alasan logis yang membuat kita tidak segera bergerak merealisasikan apapun yang kita mau. Semua alasan itu terdengar sangat logis, sangat masuk akal.
              Dan sepertinya kita sejak kecil terdidik dan terbiasa untuk mencari alasan sebagai kambing hitam akan busuknya pikiran kita sendiri. Alasan-alasan produk kreasi pikiran kita terasa sangat benar dan bisa terkesan seperti fakta.
            Kita dengan sangat cerdas merekayasa sesuatu hanya untuk menenangkan perasaan. Hanya untuk menenangkan dan menjajah batin kecil yang terus saja dengan merdeka mengkritik dan mengingatkan kita.
           Kecerdasan merekayasa alasan adalah hasil dari tunduknya pikiran dan diri kita terhadap penjajah/tirani yang kejam yang sejatinya muncul dari dalam diri kita sendiri. Kita sudah menjadi jajahan atas pikiran kita sendiri.
Jika kita ingin berhasil. Kita harus bangun dan jejakkan kaki kembali ke bumi. Balikkan kepada kehidupan yang nyata dan fakta. Kita harus punya 10 juta keyakinan untuk tidak menerima alasan-alasan apapu itu. Kita harus merdeka. Kita harus menjadi raja atas diri kita sendiri.

MENURUNKAN TARGET
                Efek domino dari kuatnya sikap malas dan godaan tirani diri itu adalah tidak tercapainya cita-cita atau tujuan yang diharapkan. Ketika itu terjadi, lalu banyak dari kita yang mengkoreksi titik tujuan atau cita-cita yang kita kehendaki. Sebutlah tadinya berharap 10 juta dalam satu bulan dan karena tidak juga segera tercapai, maka kita turunkan menjadi 5 juta atau kita tunda target itu menjadi tahun depan.
             Menurunkan target adalah kebodohan yang kadang kita restui. Untuk melawan kebodohan ini, kita harus menentukan target dalam hitungan yang memaksa. Buat target-target diatas terget kelas biasa. Target yang biasa-biasa tidak akan membuat anda tertantang untuk berjuang.
              Dengan target yang memaksa, kita terpaksa harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak biasa. Tindakan-tindakan yang berani dan menantang. Tindakan yang terpaksa harus dikerjakan dengan kesungguhan tingkat dewa.
               
TAGIH DENGAN BRUTAL
                Hanya satu cara untuk mematahkan kreatifitas penciptaan alasan untuk tidak berprestasi adalah konsep menagih atas apa yang kita canangkan dengan cara yang brutal. Menagih tanpa ampun. Menagih dengan keras dan tegas. Tagih bahkan ketika jatuh temponya belum terjadi. Tagih dengan kesungguhan.
                Ketika anda bisa menagih janji diri anda sendiri dengan cara yang brutal, maka anda akan dengan mudah melakukan hal yang sama terhadap tim kerja anda. Anda dan tim kerja anda sering melakukan kebodohan beregu. Bersama-sama sepakat untuk menciptakan 7 juta alasan agar batin-batin anda tenang atas tidak tercapainya kesepakatan bersama.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 September 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya              


                                                                                 Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160906

TIGA VIRUS PENYEBAB BANGKRUT


Saya bertemu dan berkenalan dengan seorang Business Coach asal Kota Pematang Siantar, beliau adalah Muhammad Al Haris yang juga memimpin sebuah usaha bernama Haritsa.
Setelah melakoni serentet usaha dan tahunan berbisnis, beliau memindai permasalahan permasalahan yang menjadi sebab musabab terjadinya kebangkrutan usaha.
Secara sederhana beliau menyimpulkan ada 3 virus penyebab sebuah usaha menjadi bangkrut. Berikut pamikirannya;

OVER SPENDING
Virus pertama penyebab kebangkrutan adalah "over spending" alias “lebih besar pasak daripada tiang”. Harus disadari bahwa berapapun penghasilan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidup.
Pesan mendasar dari pandangan ini adalah “hiduplah dengan gaya hidup biaya rendah --Low Cost--  karena gengsi tidak akan membuat seseorang menjadi kaya”. Fakta yang ada adalah ketika anda sudah benar kaya, pasti anda akan menjadi bergengsi!”.
Beriktunya, solusi  agar tidak terjebak dalam gaya hidup “over spending” adalah dengan cara mengalokasikan penghasilan anda dengan pembagian utama pertama untuk survival (kebutuhan hidup), kedua untuk Getting More Money (investasi) dan yang terakhir adalah untuk  Growth (bertumbuh secara personal, relationship, spiritual).

UNDER INCOME
JIka anda sudah berupaya mengalokasikan penghasilan anda sehemat dan seefesien mungkin, namun tetap saja penghasilan gak bisa ditabung. Dalam hal ini bisa jadi virusnya adalah income/pendapatan anda yang terlalu kecil. Kalau faktanya seperti itu maka solusi paling jitu adalah memiliki tambahan PIPA REZEKI dengan jalan membangun bisnis. Bagi umat Islam, Rasulluah SAW bersabda “9 dari 10 pintu rezeki dari perniagaan/berbisnis”.
Jika anda sudah berbisnis tetapi, tetap saja pendapatannya seret. Mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses perjalanan bisnis anda tersebut. Bisa jadi saat inilah waktu yang tepat bagi anda untuk mengevalusi bisnis anda.
Coba tanyakan kepada diri anda selaku pengusaha, dimana posisi bisnis anda dalam kerangka pandangn value, channel dan marketserta tahapan membangun bisnis dari Starting, Running dan Growing.

UNEXPECTED EVENT
Jika anda sudah hidup hemat, income anda sudah naik berkali-kali lipat, tapi bukan berarti anda terbebas dari kebangkrutan. Karena pada saat anda punya banyak uang, selalu ada orang yang ingin “mengambil” uang dari kantong anda dengan berbagai trik bujuk rayu gombal, menurut Harist, virus inilah yang paling mengerikan!.
Anda bisa saja terayu oleh bujukan popularitas untuk menjadi anggota DPR. Bisa jadi anda terbujuk untuk investasi tambahan dalam pola investasi yang tidak anda kuasasi. Bisa jadi anda terlena mengikuti gaya hobby yang berbiaya tinggi.
Bukankah sudah banyak contoh di sekitar kita orang yang kaya raya, dalam sekejap mata bisa bangkrut bahkan terlilit hutang. Hal-hal tersebut terjadi karena kejadian yang tidak disangka alias “unexpected event” yang disebabkan oleh keserakahan dan kebodohan.

POLA
Menjadi Kaya itu berpola dan bangkrut itu juga berpola. Ada pola-pola yang sudah dipelajari oleh para pendahulu yang sudah sukses. Diperlukan keberanian dan sikap fokus untuk belajar dan mempelajari pola-pola tersebut. Karena pola dan trend itu sejatinya berulang.
Mencari pendamping / coach dan mentor bisnis sangat penting. Jika anda belum mendapatkannya, anda bisa memulai dengan berkumpul dengan orang-orang yang juga menggeluti bisnis. Berkumpul dengan sesama pebisnis akan mengarahkan pikiran dan wawasan yang bernuansa bisnis. Berkumpul dengan sesama pebisnis akan menularkan jiwa bisnis kepada anda.

                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 September 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Bawah - Menengah – Atas


Saya bertemu dan berkenalan dengan seorang Business Coach asal Kota Pematang Siantar, beliau adalah Muhammad Al Haris yang juga memimpin sebuah usaha bernama Haritsa.
Setelah melakoni serentet usaha dan tahunan berbisnis, beliau memindai permasalahan permasalahan yang menjadi sebab musabab terjadinya kebangkrutan usaha.
Secara sederhana beliau menyimpulkan ada 3 virus penyebab sebuah usaha menjadi bangkrut. Berikut pamikirannya;

OVER SPENDING
Virus pertama penyebab kebangkrutan adalah "over spending" alias “lebih besar pasak daripada tiang”. Harus disadari bahwa berapapun penghasilan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidup.
Pesan mendasar dari pandangan ini adalah “hiduplah dengan gaya hidup biaya rendah --Low Cost--  karena gengsi tidak akan membuat seseorang menjadi kaya”. Fakta yang ada adalah ketika anda sudah benar kaya, pasti anda akan menjadi bergengsi!”.
Beriktunya, solusi  agar tidak terjebak dalam gaya hidup “over spending” adalah dengan cara mengalokasikan penghasilan anda dengan pembagian utama pertama untuk survival (kebutuhan hidup), kedua untuk Getting More Money (investasi) dan yang terakhir adalah untuk  Growth (bertumbuh secara personal, relationship, spiritual).

UNDER INCOME
JIka anda sudah berupaya mengalokasikan penghasilan anda sehemat dan seefesien mungkin, namun tetap saja penghasilan gak bisa ditabung. Dalam hal ini bisa jadi virusnya adalah income/pendapatan anda yang terlalu kecil. Kalau faktanya seperti itu maka solusi paling jitu adalah memiliki tambahan PIPA REZEKI dengan jalan membangun bisnis. Bagi umat Islam, Rasulluah SAW bersabda “9 dari 10 pintu rezeki dari perniagaan/berbisnis”.
Jika anda sudah berbisnis tetapi, tetap saja pendapatannya seret. Mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses perjalanan bisnis anda tersebut. Bisa jadi saat inilah waktu yang tepat bagi anda untuk mengevalusi bisnis anda.
Coba tanyakan kepada diri anda selaku pengusaha, dimana posisi bisnis anda dalam kerangka pandangn value, channel dan marketserta tahapan membangun bisnis dari Starting, Running dan Growing.

UNEXPECTED EVENT
Jika anda sudah hidup hemat, income anda sudah naik berkali-kali lipat, tapi bukan berarti anda terbebas dari kebangkrutan. Karena pada saat anda punya banyak uang, selalu ada orang yang ingin “mengambil” uang dari kantong anda dengan berbagai trik bujuk rayu gombal, menurut Harist, virus inilah yang paling mengerikan!.
Anda bisa saja terayu oleh bujukan popularitas untuk menjadi anggota DPR. Bisa jadi anda terbujuk untuk investasi tambahan dalam pola investasi yang tidak anda kuasasi. Bisa jadi anda terlena mengikuti gaya hobby yang berbiaya tinggi.
Bukankah sudah banyak contoh di sekitar kita orang yang kaya raya, dalam sekejap mata bisa bangkrut bahkan terlilit hutang. Hal-hal tersebut terjadi karena kejadian yang tidak disangka alias “unexpected event” yang disebabkan oleh keserakahan dan kebodohan.

POLA
Menjadi Kaya itu berpola dan bangkrut itu juga berpola. Ada pola-pola yang sudah dipelajari oleh para pendahulu yang sudah sukses. Diperlukan keberanian dan sikap fokus untuk belajar dan mempelajari pola-pola tersebut. Karena pola dan trend itu sejatinya berulang.
Mencari pendamping / coach dan mentor bisnis sangat penting. Jika anda belum mendapatkannya, anda bisa memulai dengan berkumpul dengan orang-orang yang juga menggeluti bisnis. Berkumpul dengan sesama pebisnis akan mengarahkan pikiran dan wawasan yang bernuansa bisnis. Berkumpul dengan sesama pebisnis akan menularkan jiwa bisnis kepada anda.

SURAT PERMOHONAN COACHING


SURAT PERMOHONAN COACHING






Saya yang bertanda tangan di bawah ini :



Nama                        :      

Alamat                       :


No HP                        :

No WA                       :

Email                         :

Pekerjaan/jabatan       :

Nama perush/instansi   :

Bidang Usaha              :



Atas nama diri saya sendiri/kelompok ............................................... dengan jumlah ...... orang/usaha*



Dengan ini saya menyatakan;



1.       Mendaftar untuk mengikuti program coaching yang diberikan oleh Bapak Cahyo Pramono sebagai coach, untuk program ;

  Business Coaching *

  Career / Proffesional Coaching *

2.       Memahami dan Menyetujui bahwa Coaching merupakan bentuk “Komunikasi” yang akan menggerakkan saya sebagai coachee dari situasinya sekarang ke situasi yang berbeda. Coaching berorientasi pada “Tindakan” yang perlu terjadi di saat ini dan di masa depan untuk mencapai “TUJUAN” tertentu. Coaching terjadi dengan dasar value “Partnership” dan “Trust”.

3.       Dengan pemahaman tersebut, saya sebagai coachee menyetujui untuk;

a.   Untuk berkomitmen dalam proses sesi Coaching untuk jangka waktu yang disepakati setelah pertemuan coaching yang pertama kali.

b.   Menyetujui waktu pertemuan yang disepakati, kecuali ada keadaan darurat, dan dalam kasus seperti ini diharapkan memberikan pemberitahuan.

c.   Berusaha menjaga hubungan dengan saling menghormati terhadap kompetensi dan integritas dan berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu mencapai kesuksesan coaching.

d.   Bersikap terbuka terhadap umpan balik, berbagi pemikiran, transparan, dan melakukan yang terbaik untuk melaksanakan tindakan serta sesuai jadwal yang disepakati.

e.   Bertanggungjawab sepenuhnya atas segala keputusan dan tindakan pribadi saya sebagai hasil pemikiran dan keyakinan saya setelah atau selama proses coaching.

4.         Memahami bahwa;

a.    Coach akan berusaha menjaga hubungan dengan saling menghormati terhadap kompetensi dan integritas dan berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu saya mencapai kesuksesan.

b.    Coach akan menjaga kerahasiaan dari semua pertemuan, dan tidak mengungkapkan agenda pertemuan kepada pihak lain, kecuali ada pemberitahuan sebelumnya atau diberikan  izin untuk itu.



c.    Coach akan menggunakan semua data yang dikumpulkan melalui  proses assessment atau dengan cara lain hanya untuk agenda Coaching, dan untuk memberikan umpan balik yang jujur ​​sehubungan dengan perkembangan kebutuhan saya sebagai coachee.

d.    Coach dapat dan diperbolehkan memberikan umpan balik tanpa mengungkapkan identitas responden.

e.    Coach Tidak menyebarluaskan dokumentasi tersebut dengan pihak lain.

f.     Coach menghormati rencana tindakan dan tujuan saya sebagai coachee, serta mendorong cara berpikir untuk memperluas wawasan saya sebagai coachee. Dan juga dapat mengkonfrontasi saya sebagai coachee jika diperlukan dengan saling menghormati kedua belah pihak.

g.    Coach bisa dan berhak untuk merekomendasikan mengakhiri hubungan sebelum waktunya, jika Coach merasa bahwa dirinya tidak dapat memberikan nilai tambah apapun untuk perkembangan saya selaku coachee.

5.         Saya akan menyerahkan pengaturan waktu dan jadwal coaching kepada pihak coach. Jika diperkenankan, saya senang melakukan coaching pada hari ………………………………………… sekitar pukul ……….. s/d …….









Medan……………………..2016

Yang menyatakan











---------------------------







Catatan

·         * pilih salah satu  

·        Isi, tandatangani dan kirimkan kembali lembar ini melalui email tj@cahyopramono.com atau via wa 0811638383

20160826

Mengawetkan Kenangan Dalam Kaleng



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

          JOGJAKARTA, kota keci ini sungguh tiada pernah berhenti dan menjadi poin kenangan indah bagi jutaan orang yang pernah berkunjung atau tinggal disana.  Semua sudut kota ini bercerita dengan gaya yang khas, natural dan bergaya ‘Jogja’.
            Setiap pergi meninggalkan kota ini, selalu saja ada alasan yang kuat untuk berjanji akan kembali lagi.
            Dengan berbagai cara orang membawa kenangan tentang Jogjakarta, ada yang melukisnya dalam lagu dan musik, ada yang membawa produk kerajinan dan kesenian, ada juga yang terpaut dengan makanannya.
           
GUDEG
           Gudeg dan Jogja adalah dua sisi mata uang yang tiada terpisah. Tak ada yang tidak pernah mencicipi gudeg bagi yang pernah tinggal disana. Buah nangka yang dimasak manis dan gurih ini lengket dengan ciri khas jogja. Dan orang-orang merindukannya, hingga terfikir untuk bisa membawa pulang ke kota masing-masing ketika berkunjung ke Jogja.
            Masalahnya, gudeg jogja adalah makanan tanpa pengawet yang tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam tanpa disimpan di kulkas. Untuk dibawa atau jadi oleh-oleh, kemasan tradisionalnya terbuat dari kotak anyaman bambu yang disebut besek –tidak layak untuk penyimpanan lama dan kurang nyaman dibawa naik pesawat terbang--.
           
KENANGAN DALAM KALENG
            Adalah seorang Chandra Setiawan Kusuma --generasi ke-2 dari keluarga ibu Lies yang menekuni usaha Gudeg Wijilan di Jogjakarta—yang merasa gemas, tentang kenangan tentang Jogja dan gudegnya, agar bisa dibawa pergi jauh dan lama tanpa masalah.
            Impiannya sangat sederhana, gudeg sebagai poin kenangan tentang Jogjakarta mestinya bisa dikirim kemanapun, kapanpun dan dengan rasa yang tidak berubah. ia ingin Jogjakarta tetap menjadi kenangan indah dan bisa dinikmati dimanapun. Ia ingin menjawab kerinduan jutaaan orang yang kini tinggal jauh dari Jogjakarta.
Sekembali dari perantauannya, Chandra membuat serangkaian ujicoba kelayakan mengemas gudeg jogja dalam kemasan kaleng. Ia terinspirasi dengan berbagai makanan kaleng dari luar negeri yang tetap enak walaupun disimpan lama.
            Tahun 2011 ia yakin dengan hasil uji cobanya mengalengkan gudeg jogja. Tahun 2012 ia mulai memproduksi dengan kelengkapan perijinan dan sertifikasi standard kelayakan produk dan usahanya.
            Kini, produksi gudeg kalengan --yang ia klaim sebagai kenangan tentang Jogjakarta dalam kaleng--, sudah mulai dikenal banyak orang dan produksinya terus naik dan berkembang. Bahkan ia memiliki berbagai varian produk dari rasa manis hingga rasa pedas menderas seperti ledakan mercon.

DUTA BESAR DAN BERKUASA PENUH.
Satu sore di jalan Margo Utomo kawasan Tugu Jogjakarta, saya bertemu dengan Mas Candra si tokoh yang saya ceritakan tadi. Sebuah percakapan bermutu menjadi obrolan kami.
Dalam keyakinannya, ia harus menjadi Duta Besar dan berkuasa penuh atas produk gudeg kalengan yang ia rintis. Produk yang unggul dan praktis ini perlu disosialisasikan. Oleh karenanya ia mengangkat dirinya sebagai Duta Besar bagi produknya tersebut.
Chandra menjadikan dirinya sebagai billboard berjalan. Di pakaiannya ada logo yang selalu menjadi topik obrolan bagi siapapun yang baru saja mengenalnya. Jangan heran ia bawa kartu nama dan brosur kemana-mana.
Ia senang berorganisasi dan mengumpulkan kekuatan kolektif antar para pebisnis yang sejenis dalam sebuah asosiasi. Ia senang bertemu orang-orang baru. Strateginya yang keren adalah ketika ia berusaha memberikan sample untuk dicicipi secara langsung atau melalui pihak hotel dan restoran.


                                                          Konsultasi&Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160818

Kata Siapa?

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 15 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
AKHIR minggu lalu, saya meng-coach seorang pekerja karir yang ingin berinvestasi. Ia ingin sekali mendapatkan hasil investasi yang besar dengan bentuk investasi yang sesederhana mungkin.
Dalam pikirannya ia memiliki 2 alternatif investasi yaitu membeli tanah yang luas di kampung atau membuat rumah dipinggiran kota dengan tanah yang lumayan luas. Tetapi ia ragu-ragu. Jika memilih membeli tanah di kampung, bisa saja status legalitas tanahnya bermasalah, karena kebetulan salah satu temannya sudah bertahun sedang menjalani proses hukum karena tanah yang dibelinya ternyata memiliki surat ganda, sehingga kepemilikannya bertumpuk.
Lalu, jika ia pilihannya adalah membuat rumah di pinggiran kota, ia ingin rumahnya ia desian sendiri. Ia ingin rumah itu menjadi rumah tinggal yang nyaman bagi diri dan keluarganya.

PERTANYAAN
            Saya membantunya dengan beberapa pertanyaan; misalnya apakah ada di dunia ini yang sedikit modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Setelah bebarapa waktu hening, ia menjawab, hasil besar harus dengan usaha besar. Hasil besar berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan.
            Lalu saya bertanya lagi; apakah hanya 2 bentuk investasi itu saja yang dia ketahui? Apakah tidak ada yang lain? Sejenak dia berfikir dan menjawab, “mungkin ada ya…”.
           Saya bertanya lagi;  jika harus memilih berinvestasi di tanah, apakah semua tanah bermasalah? Apakah semua tanah berstatus bermasalah dalam legalitasnya? Apakah ada sumber informasi lain tentang pertanahan selain satu-satunya kawan yang sedang bermasalah dipengadilan itu? Apakah mungkin dia cari sumber-sumber informasi itu , agar lebih melengkapi datanya.
          Semua pertanyaan itu ia jawab satu persatu dengan ‘aha…!’, sebuah klik dimana ia menemukan bagian-bagian yang terlewat dari cara berfikirnya karena kurangnya data yang valid.
            Ketika terfikir untuk berinvestasi dalam bentuk rumah di pinggiran kota, saya bertanya, apa beda nilai modal yang harus dikeluarkan antara membangun rumah untuk investasi dan rumah untuk memuaskan selera diri sendiri?
            Jelas rumah sesuai selera akan mengambil modal yang jauh lebih besar daripada rumah untuk investasi dan dijual. Karena ini menyangkut selera dan selera mengenai rumah sangat sulit dikendalikan.
            Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah selera dirinya atas sebuah desain rumah akan sesuai dengan selera pasar jika suatu saat nanti ia jual?
            Pertanyaan lainnya adalah; apakah ada bangunan rumah yang relatif tidak ada maintenance? Sehingga nilai modal tidak tergerus tiap tahun hanya untuk perawatannya.

 KATA SIAPA?
Semua dari kita selalu bisa bersikap dan mengambil keputusan masing-masing. Permasalahannya adalah, bagaimana kesimpulan itu diambil? Atas dasar apa? Apakah data pertimbangannya cukup lengkap?
Kata-kata; ‘saya pikir’ dan  ‘saya rasa’, memang bagus, tetapi dasar pikiran dan perasaaan itulah yang sering terbukti kurang cukup, sehingga mengakibatkan pikiran dan perasaan yang dangkal serta kurang bijaksana.
Perlu sumber-sumber data yang kredibel, falid dan layak dipercaya. Perlu upaya memperkaya data sehingga cara pandang yang lebih luas dan bijaksana.
Yang kita perlukan hanyalah keluar dari tempurung yang mengurung diri kita dan bertanya. Ya, cuma bertanya. Bahkan mencari dan menilai kredibilatas narasumber juga bisa dilakukan dengan bertanya.
Ketika kita bertanya, kita akan mendapatkan banyak data. Ada yang pro dengan pikiran anda dan ada yang kebalikannya. Teruslah bertanya.
Pada akhirnya, kesempurnaan kelengkapan data harus diakhiri dengan keberanian pengambilan keputusan. Terlalu banyak data tanpa keberanian, hanya membuat kita menjadi penakut yang tidak mengambil langkah apapun.


            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com