20090711

Numpang Nampang


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi, tangal 01 juni 2009.

JAKARTA, KOMPAS.com — Produk sepatu bermerek JK Collection Shoes yang dipasarkan pada pameran industri di Gedung Departemen Perindustrian Jakarta laris karena diminati pengunjung.
"Tiga hari pameran yang dijadwalkan ditutup, Jumat sore, meraup pendapatan sekitar Rp 11 juta," kata seorang perajin sepatu, Adeng Sugiarto, di Jakarta, Jumat (8/5).
Sepatu bermerek Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla itu diproduksi perajin dari Cibaduyut, Kota Bandung.
Sebelum membeli, konsumen memeriksa sepatu secara teliti hasil produksinya sambil memakai untuk membandingkan sepatu tersebut dengan buatan pabrik maupun impor. "Tidak kalah kualitasnya dengan produksi pabrikan maupun impor," ujar seorang ibu yang mengaku bernama Shinta.
Sepatu perempuan ditawarkan bervariasi antara Rp 130.000 dan Rp 180.000 per pasang tergantung jenisnya.
Sejumlah pria juga tertarik dengan sepatu kantor dan santai dengan harga Rp 300.000. "Seorang bapak mengaku asal Kalimantan, kemarin (Kamis), membeli langsung lima pasang karena tertarik kualitas dan mode," ujar Adeng.
Dia mengaku terinspirasi memakai label JK setelah Wapres mengunjungi Cibaduyut. "Saya beruntung karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk promosi karena Wapres sudah terkenal sehingga pastinya menarik minat masyarakat," katanya.
Dia berharap, pemerintah yang telah memotivasi masyarakat agar memanfaatkan produksi sepatu dalam negeri itu dan mengatur mekanisme pasar sehingga sepatu lokal dipakai masyarakat.
"Rasanya kualitas tidak kalah bersaing dengan produksi pabrik dan impor. Sekiranya, pemerintah membekali perajin dengan kemudahan kredit, pelatihan bagi perajin dan peralatan," kata Adeng Sugiarto
.

Numpang Nampang
Dalam berita diatas, pengrajin sepatu Cibaduyut itu memanfaatkan popularitas Jusuf Kalla –JK--. Karakter yang dimiliki JK melekat terhadap sepatu tersebut. Pasar mengasosiasikan produk sepatu itu sebagai sesuatu yang dibanggakan, sebuah produk dalam negeri yang murah tetapi berkualitas dan bergengsi, karena juga disukai oleh seorang petinggi yang terkenal.
Seperti tanaman yang baru tumbuh, biasanya tidak cukup tangguh untuk berdiri, mereka memerlukan ajir --tonggak pengikat—agar tananam itu bisa berdiri hingga saatnya mereka mampu berdiri sendiri dengan akarnya yang kokoh.
Konsep pemasaran yang menumpang ‘tampang’ seseorang juga merupakan upaya untuk mempengaruhi konsumen. Upaya meningkatkan kepercayaan, mengalihkan konsentrasi, meningkatkan loyalitas dan lain sebagainya.
Ketika bencana Gunung Merapi mengancam sebagian warga sekitarnya, muncullah seorang kuncen yang pada saat itu terbukti kebenaranya bahwa Merapi tidak akan meledak. Dialah mbah Marijan yang kemudian menjadi sangat populer di berbagai media.
Ke’tangguhannya’ menginspirasi sebuah jamu yang mencitrakan keperkasaan. Konon dengan dibintanginya iklan produk Kuku Bima Energy oleh Mbah Marijan, Chris John serta Rieke, penjualan produk jamu laki-laki itu melonjak hingga 60 persen pada Agustus tahun ini.
Dalam sebuah kesempatan di Jogja, pihak produsen jamu mengaku sampai kewalahan dan kekurangan stock melayani permintaan pasar. Tapi, menurut Irwan –pimpinan perusahaan jamu tersebut--, kesuksesan promo produknya itu bukan saja karena Mbah Marijan sebagai penjaga Merapi atau Chris John sebagai petinju kelas dunia. Melainkan, karena mereka adalah orang-orang yang punya nilai, rendah hati, dan jujur.

Referensi
Dua contoh diatas adalah satu bentuk bukti bahwa tokoh-tokoh yang digunakan untuk mengkampanyekan sebuah produk menjadi sangat penting. Mereka menetukan perilaku pasar, mengapa? Tentu saja karena sebagian besar pasar adalah trend follower ¬¬–pengikut mode--. Hanya sedikit orang-orang yang menjadi trend setter –pencipta mode--.
Sebutlah seorang penyanyi Afgan yang menjadi penyebut bentuk model kaca mata. Kini orang-orang menyebut kaca mata dengan frame lebar dengan sebutan, kaca mata Afgan. Itu terjadi karena si penyanyi ini kerap menggunakan kaca mata seperti itu. Lalu banyak orang ikut mengenakan jenis model yang sama karena mencontoh si penyanyi tadi.
Kini celana panjang anak muda kembali mengulang mode beberapa tahun yang lalu. Tetapi sebutannya baru; celana Cangcuter. Karena group band ini selalu muncul dengan model celana sempit yang ngepress sekujur kakinya. Bukankah sekarang hampir semua anak muda berpakaian yang serupa?
Pernah seorang Agnes Monika menjadi sebutan untuk sebuah model rambut, semua salon ikut mempopulerkanya. Pernah seorang Said -- tokoh peran dalam sintron Bajai Bajuri – menjadi sebutan model celana panjang jeans yang sobek di lututnya. Demikian juga Vokalis Group musik Radja yang menjadi sebutan jenis model kaca mata hitam.
Dalam hal ini, ketokohan menjadi penting untuk mengarahkan perilaku pasar agar berorientasi kepada produk atau bisnis yang dipromosikannya.

Tokoh Gratis
Nah ini yang penting karena tidak semua dari kita yang memiliki modal besar untuk membayar tokoh-tokoh publik tersebut. Tetapi sebuah kenyataan bahwa tidak semua tokoh yang ada juga harus dibayar. Seperti seorang JK yang dimanfaatkan oleh pengrajin sepatu Cibaduyut.
Banyak radio siaran yang meminjam suara artis-artis terkenal untuk mempromosikan radionya dan itu gratis. Tidak sedikit rumah makan yang memajang foto-foto artis atau tokoh terkenal di ruang restorannya, sekadar mengatakan kepada publik, bahwa orang ‘hebat’ itu juga pernah makan disana.
Setiap kota, sekecil apapun itu, biasanya memiliki tokoh-tokoh yang diangap terhormat, atau menonjol pada sisi tertentunya. Adalah langkah cerdas menggunakan mereka –para tokoh itu—untuk mempromosikan produk yang kita miliki. Entah itu adalah seorang Walikota, Bupati, Pejabat militer atau tokoh masyarakat. Seperti seingat saya, ada sebutan kedai Durian Pejabat di Kota Langkat, karena banya pejabat yang datang makan durian disana.
Teknik sederhananya adalah hadirkan tokoh tersebut kelokasi yang kita miliki. Atau jika produk berupa sesuatu yang bisa dikenakan, berikan kepada tokoh tersebut untuk memakainya. lalu dokumentasikan dan publikasikan. Tentu saja, semakin terkenal tokoh itu, semakin besar kemungkinan produk kita juga ikut terkenal.
Tertapi berhati-hatilah memilih tokoh, karena setiap tokoh memiliki karakter yang khas. Upayakan pilih tokoh yang sesuai dengan karakter produk. Pilih tokoh dengan catatan sejarah yang positif. Seperti Pepsi Cola membatalkan kontrak dengan Michel Jackson karena sekali waktu ia sakit dehidrasi –kekurangan cairan--.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

KREDIT Bank


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada tanggal 25 mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.

TERLALU banyak pertanyaan kepada saya tentang bagaimana caranya mendapatkan kredit dari bank. Sebagian dari penanya berfikir bahwa kredit adalah satu-satunya solusi bagi permasalahannya.
Sebelum saya menuliskan sedikit pengetahuan saya tentang persyaratan dan prosedur mendapatkan kredit dari bank, saya perlu sekali menegaskan bahwa, pertama bank bukan lembaga sosial. Artinya, mereka tidak akan pernah membantu siapapun. Jadi tak ada istilah bantuan kredit, karena bank juga mau hidup dengan mendapatkan bunga dari kredit kita.
Kedua, meminjam uang ke bank tidak seperti meminjam uang ke saudara yang bisa kapan-kapan saja dikembalikan. Ketiga, jika penjualan tidak bertambah setelah mendapatkan pinjaman, itu awal dari kebangkrutan. Keempat, cermatlah membaca bahasa bank dan bersabar mengikuti prosesnya. Kelima, berhubungan dengan bank umumnya sulit diawalnya saja, selanjutnya mudah dan semakin mudah (bukan dalam artian bunga, karena pihak bank tak pernah mau rugi sepeserpun). Dalam tahap tertentu, justru pihak bank yang akan mengejar kita serta memohon kepada kita.
Berikut adalah gambaran umum prosedur kredit dari beberapa sumber perbankan yang saya olah. Untuk jelasnya saya persilahkan menghubungi bank anda.

Sebelum ke bank
Sebaiknya persiapkan beberapa dokumen penting, antara lain berupa proposal permohonan kredit yang memenuhi syarat perbankan yang meliputi: data historis usaha; perkembangan usaha (neraca dan rugi laba); sumber dan penggunaan dana; jenis, jumlah, dan penggunaan kredit; penerimaan dan pengeluaran dalam bentuk arus kas (cashflow); Administrasi dan legalitas usaha.
Peminjam perseorangan akan diminta untuk memberikan: Fotokopi identitas diri; Fotokopi akte nikah. Dalam hal ini Akte nikah digunakan oleh bank untuk mengetahui apakah harta yang dijaminkan merupakan harta bersama suami-istri atau bukan, sehingga baik istri atau suami peminjam dapat dimintai persetujuannya dan turut bertanggung jawab terhadap harta yang dijaminkan ke bank berikut sejumlah utangnya.
Data yang lain adalah Fotokopi kartu keluarga (KK). Data ini digunakan bank untuk mengetahui apakah calon peminjam juga menanggung biaya hidup orang lain selain dirinya sendiri. Lalu juga Fotokopi rekening koran/rekening giro atau kopi buku tabungan di bank manapun antara enam hingga tiga bulan terakhir. Data ini diperlukan bank untuk melakukan analisa keuangan calon debiturnya, sehingga dapat diukur seberapa besar penghasilan debitur yang dapat disisihkan untuk membayar angsuran pinjaman tiap bulannya.
Adapun peminjam yang berbentuk perusahaan meliputi bentuk badan usaha seperti CV, PT, firma dan lain-lain. Persyaratan yang diminta antara lain: Fotokopi identitas diri dari para pengurus perusahaan (direktur & komisaris ); Fotokopi NPWP; Fotokopi SIUP ( Surat Izin Usaha Perdagangan ); Fotokopi Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris; Fotokopi TDP ( Tanda Daftar Perusahaan ); Fotokopi rekening koran/giro atau buku tabungan di bank manapun selama enam hingga tiga bulan terakhir. Disusul Data keuangan lainnya, seperti neraca keuangan, laporan rugi laba, catatan penjualan dan pembelian harian, dan data pembukuan lainnya.
Jika Anda telah menyiapkan semua dokumen dan berkas sebagai penunjang permohonan kredit, langkah selanjutnya Anda menemui petugas bank di bagian kredit. Biasanya Anda akan diberikan formulir (isian) permohonan kredit.
Di bank tertentu, formulir permohonan kredit Anda diisi oleh petugas bank. Jadi, Anda hanya diwawancarai saja. Namun, tidak menutup kemungkinan, di bank lain Anda akan mengisi formulir sendiri. Formulir tersebut pada umumnya berisi tentang data pribadi, profil usaha, pengalaman usaha, jumlah pengelola, jumlah karyawan, jenis dan pemasaran produk (barang atau jasa) termasuk bahan bakunya, omset usaha, profit margin rata-rata, modal, jaminan, tujuan penggunaan kredit, kebutuhan kredit, kepemilikan Jaminan, dan lain sebagainya.

Analisa
Bisa jadi akan ada Wawancara. Gunanya untuk untuk mencari kebenaran data di dalam formulir permohonan kredit dan data tambahan yang diperlukan bank. Lalu ada kunjungan pihak bank ke tempat usaha Anda; lalu dibuat laporan kunjungan; lalu Analisa Lanjutan yang berisi Analisa Keuangan menyangkut: Likuiditas, kemampuan usaha dalam membayar utang yang jatuh tempo. Leverage, mengukur seberapa besar asset calon debitur yang dibiayai oleh bank (kreditur). Kalkulasi ini dapat dilihat melalui komparasi total utang yang dimiliki dengan modal sendiri dan perbandingan antara pendapatan bersih dengan bunga yang harus dibayar. Aktivitas usaha, dinilai oleh bank melalui perbandingan pembayaran yang diterima dengan persediaan barang, perbandingan-perbandingan penjualan dengan persediaan total asset, serta perputaran modal kerja dalam setahun. Profitabilitas atau kemampuan menghasilkan keuntungan, diukur melalui perbandingan laba bersih dengan total asset, serta perbandingan laba bersih dengan modal sendiri.
Lepas dari analisa keuangan selanjutnya adalah Analisa Usaha/industri, Analisa Manajemen, Analisa Yuridis Usaha, Analisa Karakter dan Analisa Jaminan. Jaminan yang diminta oleh bank untuk kredit pemilikan rumah biasanya adalah rumah yang akan dibeli tersebut. Pada kredit pemilikan mobil, mobil yang akan dibeli itulah yang biasa dijadikan jaminan.
Sedangkan jaminan yang diminta untuk kredit usaha dan kredit serba guna, biasanya lebih bervariasi seperti tanah, rumah tinggal, ruko, apartemen, kendaraan, pabrik dan lain-lain. Jaminan yang kita ajukan biasanya dinilai kembali oleh tim tersendiri dari bank.

Persetujuan/Penolakan Kredit
Setelah melakukan analisa-analisa tersebut diatas, bank akan menyetujui atau menolak permohonan kredit Anda. Jika bank menyetujuinya, maka Anda (calon debitur) akan memperoleh offering letter (surat persetujuan prinsip bersyarat) dari bank yang bersangkutan.
Bila Anda (calon debitur) setuju atas persyaratan yang termuat dalam offering letter, maka akan dilanjutkan dengan pengikatan pembiayaan (kredit) dan jaminan. Proses selanjutnya adalah pencairan dana. Tiap bank mempunyai kebijakan berbeda.
Itulah prosedur standard yang dilakukan oleh pihak bank, sepertinya tidak mudah, tetapi semua orang sepakat bahwa tidak ada istilah saudara untuk perkara uang. Dan pemenangnya adalah mereka yang bersabar mengikuti prosesnya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Ada air tawar mengapa minum air laut? Catatan kecil untuk Penjual Mangga Parapat


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 18 Mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi. www.cahyopramono.com

“Satabi Inang, adong na naeng hu dokkon”. Dengan segala hormat dan kerendahan hati, ijinkan saya memberikan catatan kecil untuk para pejuang kehidupan yang luar biasa; para inang penjual mangga di Kota Turis, Parapat.
Bertahun-tahun saya memahami apa yang terjadi dalam romantisme kisah penjualan mangga kecil-kecil –mangga udang-- yang sering di sebut Mangga Parapat. Kisah Mangga Parapat benar-benar selalu menjadi topik hangat setiap kali kepariwisataan Danau Toba diperbincangkan. Mulai dari rasa yang khas, bentuk yang khas hingga pengalaman-pengalaman pahit mendapatkan mangga yang asam padahal saat mencicipi rasanya sangat manis.
Sekali waktu seorang mantan Pejabat di Salah Satu Kabupaten di pinggiran Danau Toba bahkan bercanda dengan menyebutkan, “Kalau tanpa trik itu jelas bukan Mangga Parapat!” dalam keprihatinannya, ia mengaku juga bahwa memang benar banyak wisatawan yang tertipu, tapi mereka tetap saja tidak jera untuk membeli mangga pada kesempatan kunjungan berikutnya.

Perjuangan Hidup
Atas nama kehidupan dan penghidupan, para laskar ekonomi keluarga ini –penjual mangga—sudah mewarnai kota Parapat sejak jaman dahulu. Sejak kota itu sepi hingga ramai lalu sepi lagi seperti saat ini.
Bertahun-tahun saya mencoba mengobservasi pola penjualan mereka, hingga kini saya bisa memahami bagaimana mereka yang menyalah adalah untuk bertahan hidup. Hingga muncullah berbagai lelucon tentang Mangga ini -- jikalah ada lelucon dan contoh-contoh negatif dalam tulisan ini, saya nyatakan itu tidak terjadi dan tidak dilakukan oleh semua pedagang. Saya sekali lagi menegaskan bahwa pedagang yang jujur dan tulus jumlahnya sangat banyak--.
Ada lelucon mengenai pembeli yang mengeluh karena 3 kg mangga yang dibeli semuanya asam dan busuk. Lalu dalam lelucon itu si penjual mangga menjawab bahwa tak usah mengeluh dan marah, “Baru 3 Kg saja Kau sudah berisik, tengoklah, punyaku 3 keranjang saja aku diam saja”.
Seorang penjual mangga pernah berkata kepada saya, “Amang, kami ini menjual ciptaan Tuhan, Cuma Dia yang tahu mana yang asam dan mana yang manis” lalu “Dan kami harus cepat menjualnya, kalau tak mau semuanya membusuk dan kami rugi”.
Ada juga kisah pedagang yang selalu berganti-ganti marga sesuai dengan marga pembelinya. Itu dilakukan agar terjadi kedekatan dan memuluskan transaksi. Demikianlah kisah perjuangan hidup berjalan selangkah demi selangkah; mulai dari kondisi timbangan yang tidak lagi sesuai ukurannya. Sangat bisa terjadi mangga 8 Ons akan menggerakkan jarum ukur hingga ke angka 1 Kg.
Semua bermula dari kualitas mangga yang diterima pedagang dan tawaran harga yang disepakati dengan pembeli. Jika mangga yang diterima pedagang bagus adanya, maka besar kemungkinan pembeli mendapatkan mangga yang manis. Berikutnya, berhati-hatilah jika harga yang disepakati jauh dari harga awal yang disebut pedagang. Itu artinya pedagang sudah terdesak harus menjual mangga itu karena kurang laku atau karena mengejar usia bertahannya buah tersebut sebelum menjadi busuk.
Untuk keterdesakan itu, biasanya ada pedagang yang meminta kompensasi, salah satunya adalah dengan mempraktekkan kelihaian tangannya; Begitu proses pemilihan mangga dilakukan oleh pembeli, bersamaan itu pula penjual ikut memasukkan mangga pilihannya kedalam wadah yang disediakan. Jelas pedagang yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan mangga akan sangat tahu mana mangga yang baik dan mana yang kurang baik. Saat pembeli baru memilih satu – dua butir mangga, si pedagang sudah memasukkan empat – lima butir mangga. Jika pembeli meminta 1 Kg, maka pedagang akan memasukkan mangga dengan jumlah lebih dari 1 Kg, sehingga ada alasan untuk mengurangi mangga dari wadahnya. Nah disaat itulah pedagang akan mengambil keluar buah-buah yang berkualitas baik dari dalam wadahnya, hingga yang terbawa oleh pembeli adalah mangga dengan kualitas rendah.
Dalam kejadian lain, mungkin wadah akan dipegang oleh pembeli sehingga pedagang tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Tetapi jelas itu bukan akhir dari segalanya; strategi yang lain menggantikan bungkusan terpilih dengan bungkus ‘cadangan’. Bungkus ‘cadangan’ sudah disediakan di meja dibalik keranjang buah pajangan berisi mangga dengan kualitas jelek dalam berbagai ukuran, sesuai rata-rata berat orang membeli mangga.
Tehnik permainannnya adalah, ketika semua proses penimbangan sudah dilakukan, maka berikutnya adalah proses mengikat bungkus plastik –wadah--. Pada saat pengikatan itulah proses penggantian ke ‘bungkus cadangan’ dilakukan. Saran paling sederhana saat berbelanja mangga Parapat adalah jangan pernah menawar terlalu rendah...!

Tidur Nyenyak
Saya meyakini bahwa masih ada langkah-langkah lain yang positif untuk bisa hidup layak tanpa harus membutakan batin. Sejauh kita berniaga dengan jujur dan iklas, niscaya kita akan bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasa khawatir. Perniagaan yang diawali dengan kecurangan itu persis seperti meminum air laut, tidak akan ada rasa puasnya.
Terlepas dari faktor filosofi perniagaan, berikut ada beberapa langkah praktis untuk perniagaan yang terbuka, dan meningkatkan kepercayaan pembeli.
Yang pertama adalah daftar harga. Para pelancong yang bukan penduduk asli jelas tidak cukup paham akan situasi daerah kita. Ada perasaan ragu, apakah harga yang didapatkannya adalah harga terbaik atau harga yang menjebak penuh tipuan. Penggunaan daftar harga atau tanda harga, akan memudahkan pembeli memilih sesuai keinginannya.
Yang kedua, kumpulan produk sesuai kelasnya. Ada kelompok berdasar rasa dan ukuran. Mungkin manis dan besar, sedang, kecil lalu ada juga yang asam atau berkualitas rendah. Masing-masing kumpulan memiliki harga yang berbeda-beda. Disinilah margin keuntugan bisa didongkrak, karena harga bisa didongkrak naik untuk mangga dengsan kualitas yang baik. Ketiga bangkitkan rasa nyaman pembeli dengan menjamin perasaan amannya dari ancaman penipuan dll. Kalau perlu biarkan pembeli menimbang sendiri dengan alat ukur yang jujur dan benar.
Keempat bangkitkan semangat kasih sayang, bayangkan jika kita sendiri atau anak-cucu sendiri yang menjadi pembeli dan diperlakukan dengan penuh tipu daya oleh penjualnya. Memuliakan tamu adalah cara terbaik untuk memastikan anak cucu kita bisa selamat dan sejahtera dalam perantauan mereka.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20090616

Ala Time Share (ide bisnis)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 11 mei 2009, di halaman bisnis dan teknologi.www.cahyopramono.com

INGIN wisata ke Berastagi dan semua hotel penuh? Tidak usah khawatir. Kini sudah banyak bungalow atau villa milik pibadi yang bisa disewa. Suasananya sangat berbeda dibandingkan dengan tinggal di hotel. Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri, ada ruang tamu, beberapa kamar tidur, ruang keluarga bahkan dapur yang disana anda bisa memasak sendiri makanan yang anda sukai.
Liburan akhir pekan lalu saya berkesempatan mengekplorasi beberapa villa yang disewakan tersebut. Masing-masing dari villa itu memiliki fasilitas dan kelengkapan yang berbeda-beda. Ada yang melengkapinya dengan karaoke set, air panas, perlengkapan dapur lengkap dan garasi tertutup.
Untuk keluarga dengan jumlah orang yang banyak, saya pikir mengunakan villa seperti ini lumayan cocok dan pas, apalagi kencenderungan harganya sedikit lebih murah dari pada hotel yang biasa. Apalagi dengan jumlah orang yang banyak biasanya tidak bisa terelakkan kegaduhan-kegaduhan kecil yang berpotensi menggangu tamu kamar lain jika tinggal di hotel. Alasan lainnya yang cukup menarik adalah bahwa tinggal di villa seperti ini, cenderung lebih tidak formal dan santai.
Mendapatkan villa-villa yang bisa disewa sungguh tidak susah karena menjelang akhir pekan atau hari libur, karena mereka biasanya mengiklankan villa-nya di koran-koran. Hubungi nomor teleponnya, tanya harga dan fasilitas lalu jadi. Anda akan mendapatkan kunci villa pada saat membayar atau saat berkunjung. Itu saja...
Villa yang dibangun untuk keperluan pribadi sudah biasa, bungalow untuk yang diswakan untuk umum juga sudah biasa. Tetapi villa pribadi yang sesekali disewakan untuk umum itu menjadi menarik. Kini kita bicarakan sisi bisnisnya. Bagaimana pemilik villa mendapatkan bisnisnya? Lalau bagaimana kalau mereka sendiri akan datang kesana? Apa memang membeli villa hanya untuk disewakan?

Time shared
Ini adalah sebuah konsep dari asas efisiensi. Menjadi kenyataan bahwa memiliki villa-villa di areal resor adalah seseutu yang menyenangkan. Tetapi semua orang tahu bahwa liburan tidaklah tidak dikerjakan sepanjang tahun. Dan tidak tiap liburan seseorang akan mengunjungi tempat yang sama. Sementara itu, biaya operasional villa tetap berjalan sepanjang tahun tanpa henti, dari biaya penjaga, kebersihan, listrik, air, pajak, perawatan dan sebagainya.
Bermula dari tahun 1960, di Eropa, konsep ini berkembang hinga saat ini menjalar keseluruh dunia. Konsep ini adalah konsep berbagai sesuai waktu yang disepakati. Boleh bertukar dengan pemilik yang lain atau variasi-variasi lainnya.
Yang saya ingin bahas dalam tulisan ini adalah konsep membagi kesempatan untuk bisa memiliki properti sekaligus mendapatkan keuntungan lebih dari propertinya. Artinya, villa yang dibeli tidak hanya untuk bersenang-senang dan berlibur, tetapi juga bisa menjadi mesin uang untuk si pemilik. Jika si pemilik villa tidak menggunakanya, villa bisa disewakan kepada publik.

Pribadi dan Publik
Saya pikir hanya sebatas masalah pemikiran saja, dimana pemilik properti mengijinkan atau merelakan properti pribadinya untuk digunakan bersama orang lain. Tentu saja ini hanya masalah pengaturan. Jika manajemen pengelolaannya bagus dan penatalaksanaan tata grahanya bagus, tentu tidak perlu khawatir atau merisaukan perkara ini.
Sepertu halnya pengaturan hotel yang baik dan bersih, maka memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakaan proterti tersebut tidaklah menjadi sesuatu yang bermasalah.

Perijinan
Dibeberapa daerah, perijinan yang diberlakukan adalah yang berhubungan dengan ijin usaha kepariwisataaan. Tentu saja beda daerah, beda ketentuan aturan yang diberkalukan oleh pemerintah setempatnya. Dalam perijinan itu nanti ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai layaknya sebuah usaha penyewaan perhotelan/penginapan.

Pemasaran,
Tentu saja konsep ini sangat cocok bagi daerah-daerah yang pengunjungnya sudah banyak, atau tempat tersebut sudah terkenal sebelumnya. Selanjutnya, strategi promosi yang lumayan cocok adalah strategi follower/pengikut. Domplengkan promosi properti tersebut dengan aktifitas yang berhubungan dengan promosi sarana yang lebih besar atau promosi kedaerahan.
Harus dipahami bahwa model sarana akomodasi seperti ini menuntut karakter tamu atau pelanggan yang juga khas. Pelanggan tersebut haruslah mereka-mereka yang bisa melayani diri sendiri, tidak membutuhkan palayanan berlebihan. Mereka tidak memerlukan layanan kamar, layanan makanan, layanan pencucian baju, dan layanan-layanan lain layaknya di hotel yang biasa. Mereka juga adalah tamu-tamu dalam grup yang memiliki kedekatan tertentu seperti keluarga atau perkawanan.
Promosi yang efektif untuk tipe akomodasi demikian adalah menggunakan media-media untuk para traveler. Bagus juga menggunakan harian-harian yang banyak pembacanya, terutama mendekati hari libur. Jangan dilupakan bahwa karakter tamu dari sarana akomodasi ini sangat khas dan mereka saling menginformasikan kepada kawan-kawannya. Jadi berikan kesan positif kepada mereka sehingga mereka akan membantu mempromosikannya.
Jika perlu ajak beberapa hotel untuk bekerjasama. Jika mereka membantu menjualkan villa anda kepada tamunya yang mungkin datang pada saat hotel penuh, maka anda akan memberikan insentif berupa komisi dan sebagainya.
Jangan lupa, Jaringan komunikasi pribadi melalui internet juga potensial untuk dimanfaatkan.

Tata graha
Inilah salah satu kunci keberhasilannya; properti yang bersih, terawat dan terjaga. Siapa yang tidak senang mendapatkan tempat tinggalnya terjaga kebersihan dan terawat semua fasilitasnya.
Kalau ini jelas menyangkut sistem organisasi tata graha dan kebiasaan serta budaya bersih yang dianut oleh pelakunya. Dari beberapa villa yang saya kunjungi, ada beberapa yang sangat baik kebersihannya dan ada juga yang memprihatinkan, padahal masing-masing ada petugas kebersihannya.
Mengapa ini menyangkut budaya? Karena kebersihan apapun tidak bisa dikerjakan sebulan sekali, tetapi harus dikerjakan tiap hari dengan rutin. Ada atau tidak ada tamu, seharusnya langkah kebersihan dikerjakan setiap hari. Tentu saja kelengkapan kebersihan juga harus menunjang.
Saya menemukan ada villa yang handel pintunya rusak. Ada yang kamar mandinya bocor, ada yang tidak memiliki lampu penerangan, ada yang instalasi listriknya bergantungan tidak terawat. Dan jelas itu akan mengecewakan tamu yang datang. Bisnis jasa seperti ini jelas bertumpu kepada perasaan senang dan puas bagi pelanggannya. Jadi usahakan apapun juga untuk mencapainya.
Ala Time Share
(ide bisnis)
INGIN wisata ke Berastagi dan semua hotel penuh? Tidak usah khawatir. Kini sudah banyak bungalow atau villa milik pibadi yang bisa disewa. Suasananya sangat berbeda dibandingkan dengan tinggal di hotel. Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri, ada ruang tamu, beberapa kamar tidur, ruang keluarga bahkan dapur yang disana anda bisa memasak sendiri makanan yang anda sukai.
Liburan akhir pekan lalu saya berkesempatan mengekplorasi beberapa villa yang disewakan tersebut. Masing-masing dari villa itu memiliki fasilitas dan kelengkapan yang berbeda-beda. Ada yang melengkapinya dengan karaoke set, air panas, perlengkapan dapur lengkap dan garasi tertutup.
Untuk keluarga dengan jumlah orang yang banyak, saya pikir mengunakan villa seperti ini lumayan cocok dan pas, apalagi kencenderungan harganya sedikit lebih murah dari pada hotel yang biasa. Apalagi dengan jumlah orang yang banyak biasanya tidak bisa terelakkan kegaduhan-kegaduhan kecil yang berpotensi menggangu tamu kamar lain jika tinggal di hotel. Alasan lainnya yang cukup menarik adalah bahwa tinggal di villa seperti ini, cenderung lebih tidak formal dan santai.
Mendapatkan villa-villa yang bisa disewa sungguh tidak susah karena menjelang akhir pekan atau hari libur, karena mereka biasanya mengiklankan villa-nya di koran-koran. Hubungi nomor teleponnya, tanya harga dan fasilitas lalu jadi. Anda akan mendapatkan kunci villa pada saat membayar atau saat berkunjung. Itu saja...
Villa yang dibangun untuk keperluan pribadi sudah biasa, bungalow untuk yang diswakan untuk umum juga sudah biasa. Tetapi villa pribadi yang sesekali disewakan untuk umum itu menjadi menarik. Kini kita bicarakan sisi bisnisnya. Bagaimana pemilik villa mendapatkan bisnisnya? Lalau bagaimana kalau mereka sendiri akan datang kesana? Apa memang membeli villa hanya untuk disewakan?

Time shared
Ini adalah sebuah konsep dari asas efisiensi. Menjadi kenyataan bahwa memiliki villa-villa di areal resor adalah seseutu yang menyenangkan. Tetapi semua orang tahu bahwa liburan tidaklah tidak dikerjakan sepanjang tahun. Dan tidak tiap liburan seseorang akan mengunjungi tempat yang sama. Sementara itu, biaya operasional villa tetap berjalan sepanjang tahun tanpa henti, dari biaya penjaga, kebersihan, listrik, air, pajak, perawatan dan sebagainya.
Bermula dari tahun 1960, di Eropa, konsep ini berkembang hinga saat ini menjalar keseluruh dunia. Konsep ini adalah konsep berbagai sesuai waktu yang disepakati. Boleh bertukar dengan pemilik yang lain atau variasi-variasi lainnya.
Yang saya ingin bahas dalam tulisan ini adalah konsep membagi kesempatan untuk bisa memiliki properti sekaligus mendapatkan keuntungan lebih dari propertinya. Artinya, villa yang dibeli tidak hanya untuk bersenang-senang dan berlibur, tetapi juga bisa menjadi mesin uang untuk si pemilik. Jika si pemilik villa tidak menggunakanya, villa bisa disewakan kepada publik.

Pribadi dan Publik
Saya pikir hanya sebatas masalah pemikiran saja, dimana pemilik properti mengijinkan atau merelakan properti pribadinya untuk digunakan bersama orang lain. Tentu saja ini hanya masalah pengaturan. Jika manajemen pengelolaannya bagus dan penatalaksanaan tata grahanya bagus, tentu tidak perlu khawatir atau merisaukan perkara ini.
Sepertu halnya pengaturan hotel yang baik dan bersih, maka memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakaan proterti tersebut tidaklah menjadi sesuatu yang bermasalah.

Perijinan
Dibeberapa daerah, perijinan yang diberlakukan adalah yang berhubungan dengan ijin usaha kepariwisataaan. Tentu saja beda daerah, beda ketentuan aturan yang diberkalukan oleh pemerintah setempatnya. Dalam perijinan itu nanti ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai layaknya sebuah usaha penyewaan perhotelan/penginapan.

Pemasaran,
Tentu saja konsep ini sangat cocok bagi daerah-daerah yang pengunjungnya sudah banyak, atau tempat tersebut sudah terkenal sebelumnya. Selanjutnya, strategi promosi yang lumayan cocok adalah strategi follower/pengikut. Domplengkan promosi properti tersebut dengan aktifitas yang berhubungan dengan promosi sarana yang lebih besar atau promosi kedaerahan.
Harus dipahami bahwa model sarana akomodasi seperti ini menuntut karakter tamu atau pelanggan yang juga khas. Pelanggan tersebut haruslah mereka-mereka yang bisa melayani diri sendiri, tidak membutuhkan palayanan berlebihan. Mereka tidak memerlukan layanan kamar, layanan makanan, layanan pencucian baju, dan layanan-layanan lain layaknya di hotel yang biasa. Mereka juga adalah tamu-tamu dalam grup yang memiliki kedekatan tertentu seperti keluarga atau perkawanan.
Promosi yang efektif untuk tipe akomodasi demikian adalah menggunakan media-media untuk para traveler. Bagus juga menggunakan harian-harian yang banyak pembacanya, terutama mendekati hari libur. Jangan dilupakan bahwa karakter tamu dari sarana akomodasi ini sangat khas dan mereka saling menginformasikan kepada kawan-kawannya. Jadi berikan kesan positif kepada mereka sehingga mereka akan membantu mempromosikannya.
Jika perlu ajak beberapa hotel untuk bekerjasama. Jika mereka membantu menjualkan villa anda kepada tamunya yang mungkin datang pada saat hotel penuh, maka anda akan memberikan insentif berupa komisi dan sebagainya.
Jangan lupa, Jaringan komunikasi pribadi melalui internet juga potensial untuk dimanfaatkan.

Tata graha
Inilah salah satu kunci keberhasilannya; properti yang bersih, terawat dan terjaga. Siapa yang tidak senang mendapatkan tempat tinggalnya terjaga kebersihan dan terawat semua fasilitasnya.
Kalau ini jelas menyangkut sistem organisasi tata graha dan kebiasaan serta budaya bersih yang dianut oleh pelakunya. Dari beberapa villa yang saya kunjungi, ada beberapa yang sangat baik kebersihannya dan ada juga yang memprihatinkan, padahal masing-masing ada petugas kebersihannya.
Mengapa ini menyangkut budaya? Karena kebersihan apapun tidak bisa dikerjakan sebulan sekali, tetapi harus dikerjakan tiap hari dengan rutin. Ada atau tidak ada tamu, seharusnya langkah kebersihan dikerjakan setiap hari. Tentu saja kelengkapan kebersihan juga harus menunjang.
Saya menemukan ada villa yang handel pintunya rusak. Ada yang kamar mandinya bocor, ada yang tidak memiliki lampu penerangan, ada yang instalasi listriknya bergantungan tidak terawat. Dan jelas itu akan mengecewakan tamu yang datang. Bisnis jasa seperti ini jelas bertumpu kepada perasaan senang dan puas bagi pelanggannya. Jadi usahakan apapun juga untuk mencapainya.

Waspadai Ulah Para Pengekor


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 04 mei 2009, di halaman bisnis dan teknologi.
Ada sebuah hotel berbintang di Sumatera Utara yang sama sekali tidak memiliki tenaga penjualan. Tetapi anehnya lumayan laku dan banyak mendapat bisnis. Anda tahu rahasianya?
Sebutlah dua buah hotel dengan bintang yang sama di sebuah kota pariwisata. Sebutlah Hotel “A” dan Hotel “B”. Hotel “A” berusaha melaksanakan kaidah-kaidah pemasaran dengan baik sedangkan hotel “B” sama sekali tidak melakukan hal itu. Hotel “A” memiliki banyak tenaga pemasaran sehingga lingkup promosi penjualannya semakin lebar. Mereka berpromosi, melakukan aksi-aksi pemasaran dan publikasi. Mereka dengan giat mengunjungi para calon pelanggan.
Manajemen Hotel “B” itu dengan sengaja tidak berpromosi seperti yang dikerjakan oleh manajemen hotel “A”. Hotel “B” sama sekali tidak menggunakan berbagai media promosi, juga tidak memiliki tenaga pemasaran sama sekali.
Sebagai akibat dari gencarnya promosi oleh pihak Hotel “A”, maka mulailah banyak perhatian untuk menginap di kota wisata tersebut diatas. Ketika calon tamu akan menginap atau membuat acara di kota dimana terletak kedua hotel tersebut, tentu saja calon tamu ingin membandingkan harga-harga hotel yang ada. Disinilah klik yang digunakan oleh hotel “B”. Walaupun mereka tidak promosi besar-besaran, tetapi mereka memanfaatkan calon pembeli yang menghubungi mereka sebagai akibat dari promosi pihak Hotel “A”.
Anda sudah bisa bayangkan apa yang terjadi berikutnya, pihak Hotel “B” dengan mudah menjual dengan harga yang lebih murah karena biaya promosi dan pemasarannya sangat sedikit. Hotel “B” yang sedianya hanya untuk pembanding, kini meraup keuntungan dari aksi promosi Hotel “A”.

Pengekor
Memang benar bahwa kompetisi sangat penting untuk memajukan sesuatu. Karena pada hakekatnya persaingan adalah satu bentuk natural dari pacuan untuk bertumbuh dan berkembang. Tanpa persaingan, pertumbuhan akan menjadi lambat atau mungkin berhenti sama sekali.
Dalam tataran ideal, sebagusnya persaingan yang sepadanlah yang akan memberikan hasil pembejalaran yang positif. Tetapi pada kenyataannya dunia ini kadang tidak adil. Kita sesekali dihadapkan kepada persaingan yang tidak adil. Salah satu diantaranya adalah pesaing pengekor. Mereka mencipta atau memasarkan sebuah produk seperti yang kita miliki. Mereka mendompleng peluang dari keberhasilan produk yang kita lakukan. Lalu mereka memberikan polesan sedikit-sedikit pada pola dan kondisi produksinya sehingga seolah-olah terlihat berbeda.
Atau bisa jadi mereka adalah junior-junior pendatang baru dalam bisnis yang tidak banyak berfikir. Mereka tidak menghitung laba atau rugi, karena orientasi mereka adalah belajar dan mencoba. Mereka tidak memiliki beban mental untuk menghadapi kegagalan. Mereka tidak menyadari bahwa langkah mereka berpotensi merusak pasar bersama.
Untuk menghadapi para pengekor ini, berikut ada beberapa tips yang mungkin bisa di aplikasikan dalam bisnis.

Mengenal pesaing
Kenalilah siapa orang-orang yang menjadi pesaing kita. Pelajari kelebihan dan kekurangannya. Ingat usahakan untuk mengenali orang-orangnya, bukan sekadar potensi manajemennya. Penting mengetahui kekuatan produk dan potensi pendukung manajemennya, tetapi lebih penting mengenal orang-orang yang menjalankan bisnis tersebut.
Pada produk tertentu, seringkali tidak bisa serta merta menandingi kualitasnya. Mungkin karena alasan keuangan dan lain-lainnya. Artinya, kita tidak sangat perlu mengkhawatirkan produk kita. Dengan mengenal para pesaing secara pribadi, kita akan bisa menafsirkan karakter dan kepribadianya. Kita akan tahu kencederungan pola pengambilan keputusannya.
Dari sanalah kita akan tahu strategi apa saja yang mungkin kedepannya akan dilakukan oleh pesaing kita itu. Senjata yang hebat tidak berarti apapun jika yang memegangnya tidak cukup hebat. Senjata yang biasa-biasa akan menjadi hebat jika pemegangnya juga hebat.

Persaingan harga
Biasanya, pengekor tahu dan sadar bahwa dirinya pendatang baru. Mereka tahu bahwa pasar akan mengenalnya sebagai pemula. Tentu saja publik belum bisa mempercayai krebilitasnya. Kecuali masalah harga. Biasanya harga yang dipakai adalah harga dengan keuntungan yang sangat sedikit.
Dalam hal ini, berarti kita menghadapi persaingan harga. Kompetisi menyeret anda kedalam kepanikan untuk pemberian diskon atau pengurangan harga. Saran saya, Usahakan untuk menghindarinya. Bertempur melawan pendatang baru dalam hal harga, jelas akan merugikan kita.
Kita jelas sudah mengeluarkan lebih banyak untuk menguasai pasar dan mereka baru saja memulainya. Konsekuensinya, pasar kita mungkin akan bergejolak, karena ada alternatif lain dengan harga yang lebih murah. Tetapi ingat, bahwa tidak semua orang sensitif terhadap harga. Masih banyak orang yang mengutamakan hal lain seperti kualitas dan lainnya.
Jika persaingan sudah sangat kuat dan cenderung mematikan bisnis, cobalah ubah strategi dengan mengesampingkan harga. Seperti beberapa developper yang beriklan di televisi. Mereka membuat iklan yang tidak semata-mata berjualan, tetapi meng-edukasi para konsumen tentang perlunya back to the city, lingkungan yang hijau, dan investasi yang menarik. Kini mereka sudah tidak lagi bicara harganya sekian dan diskon sekian.

Kekuatan distribusi dan ketersediaan
Pengekor biasanya akan berkonsentrasi kepada distribusi dan ketersediaan. Mereka akan mencoba mencari celah yang tidak terjangkau oleh mata dan perhatian kita. Mereka akan berusaha memastikan agar orang yang mencari produk kita suatu saat akan mencoba produknya jika produk kita tidak tersedia.
Alih-alih biaya promosi, mereka cenderung menggunakannya untuk menambah jumlah distribusi dan ketersediaan dipasaran. Menyogok jaringan distribusi agar mendapatkan tempat pajang yang strategis. Begitu kita khilaf, mereka dengan serta merta akan mengisi kekosongan itu.

Mental
Hanya pejuang yang gigih dengan mental positif yang akan bertahan dan memenangkan pertempuran. Demikian juga dengan persaingan menghadapi pengekor. Perbedaan posisi psikologis menempatkan beban mental yang berbeda.
Pemimpin pasar berfikir mempertahankan dan membesarkan sedang pengekor hanya melihat kepada satu titik. Jika gagal pengekor tidak memiliki beban mental yang terlalu berat.
Tetapi apapun itu, disinilah mental pejuang diasah dan dikembangkan. Bisnis bukan sekadar perkara uang dan kekayaan, tetapi juga media bagus untuk mendewasakan batin. Untuk menjadi orang yang istimewa.

Kejarlah Daku, Dikau Kutangkap.


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 27 April 2009 di halaman bisnis dan teknologi
SELAMAT pagi para pembaca yang budiman. Saya pikir tidak salah jika saya berdoa untuk kebaikan anda sembari mengucapkan terimakasih sudah mengikuti tulisan saya selama ini.
Beberapa waktu yang lalu saya, memberikan pelatihan untuk praktisi media cetak dan praktisi media radio yang dilaksanakan secara terpisah. Secara kebetulan saya memberikan materi dengan topik yang sama dan kini saya ingin membaginya untuk anda. Saya arahkan tulisan singkat ini kepada para praktisi radio siaran, praktisi media massa, baik cetak maupun elektronik serta multi media.
Judul diatas memang terinspirasi dari sebuah film remaja beberapa tahun yang lalu, tetapi kini saya gunakan dalam konteks pemasaran. Untuk memudahkan memahami judul diatas dan konsep pemasaran, secara sederhananya begini;
Sasaran pemasaran media massa itu ada dua. Yang pertama adalah pembaca, pendengar atau penonton. Sasaran yang kedua adalah para pemasang iklan. Kedua sasaran ini sangat erat berhubungan dan saling mempengaruhi.
Pemasang iklan akan tertarik mengeluarkan uang untuk kita, jika pendengar, penonton atau pembaca media kita jumlahnya banyak dan sesuai dengan sasaran promosi mereka. Dalam hal ini praktisi media harus berusaha untuk tampil sempurna agar orang-orang membaca, menonton atau mendengarkan produk siarannya.
Kalau pemasang iklan membayar dengan uang, pendengar, pembaca dan penonton kita membayar dengan waktu dan bahkan membayar secara materi. Untuk itulah praktisi media berusaha merayu khalayak ramai dan selanjutnya menggunakan kekuatan keramaian itu untuk mempengaruhi pemasang iklan. Kejarlah daku, dikau kutangkap...

Berorientasi Pasar
Benar bahwa media massa memiliki daya pengaruh yang tinggi untuk menjadi trendsetter tetapi untuk sukses mendapat perhatian dan pada akhirnya mendapatkan pembayaran dari pasar, tentu perhatian dan orientasi kepadanya adalah hal yang penting.
Berorientasi kepada pasar berarti juga memperhatikan keinginan dan harapan pasar. Dalam hal ini ada dua pasar yang berbeda kebutuhan dan harapannya. Yang pertama menghendaki sajian yang bermutu dan yang kedua menghendaki keramaian yang khas. Bukan sekadar banyak, tetapi kekhasan yang sering orang sebut sebagai segmentasi.
Pemasang iklan akan menuntut kejelasan usia, kemampuan bayar, kecenderungan perilaku belanja dan berbagai latar belakang lainnya secara jelas. Pemasang iklan jelas tidak ingin bersia-sia mengeluarkan uang untuk sasaran yang tidak jelas.
Bayangkanlah jika anda seorang pemasar yang ingin mengiklankan produk anda yang berupa alat bantu dengar untuk lansia. Jelas anda tidak akan memasangnya di media yang mengumpulkan anak-anak muda.
Jika anda ingin beriklan untuk kalangan perkotaan, jelas radio bersiaran FM akan lebih tepat di banding radio yang mengudara pada frekuensi AM.
Media-media yang tidak secara khas membidik katakter keramaian tertentu yang spesifik, biasanya akan menjadi pilihan kesekian dari para pemasang iklan. Pertimbangannya sangat jelas, dalam keseharian jelas sulit terjadi penyatuan minat antara orang tua dengan anak remaja. Sama seperti kelompok pecinta olahraga dengan pecandu narkoba. Artinya, akan ada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda.
Seseorang akan berkelompok biasanya karena memiliki kesamaan-kesamaan baik nasib, pekerjaan atau minatnya. Seseorang akan berkelompok mungkin karena alasan jender, alasan kelas ekonomi, alasan hobby, alasan pekerjaan, alasan asal muasal nenek moyang, alasan religi atau alasan lainnya. Setiap kelompok itu bisa menggambarkan karakteristik orang-orang didalamnya yang bagi pemasang iklan sangat penting.
Sampai saat ini golf dianggap sebagai permainan papan atas dan mahal, tentu saja pemasang iklan menganggap bahwa pemain golf adalah orang-orang yang berada dikelas ekonomi mapan serta memiliki daya beli. Jika mereka menggunakan sarana tranportasi publik paling tidak akan menggunakan yang lebih nyaman walaupun berbiaya lebih mahal. Kalau mereka memilih hiburan mungkin jauh dari hingar bingar hebohnya musik jalanan. Kalau memilih rumah jelas mereka akan memilih rumah yang berukuran tertentu, dilokasi tertentu dan harga tertentu yang diangap mahal oleh kebanyakan orang.
Orang-orang dalam Perkumpulan Golf adalah sasaran yang bagus untuk mereka yang akan menjual properti, sarana akomodasi kelas atas, sarana tranportasi kelas eklusif, pertunjukan musik Jazz, Opera dan hal-hal yang bergengsi dengan harga yang mahal.
Praktisi media yang tidak mengelola medianya dengan orientasi pasar yang khas, jelas akan mengaburkan siapa audiencenya (pembaca, penonton dan pendengar). Audience yang kabur jelas tidak menarik pemasang iklan.
Jika masih ada pemasar dari media-medai massa yang latah mengaku medianya untuk kalangan menengah keatas, itu sudah ketinggalan jaman, karena dari tampilan dan kemasannya saja orang sudah bisa menafsirkan kemana arah mata panah media tersebut di arahkan.

Data base
Inilah yang sering dilupakan oleh para pemasar. Data base audience dan para pemasang iklan semestinya menjadi salah satu senjata yang sangat penting. Data ini bisa berisi informasi apapun yang berhubungan dengan audience menjadi sangat penting demi penjualan langsung dan promosi kepada pemasang iklan.
Saat ini jika kita akan berpromosi melalui pemilik jaringan e-mail di dunia internet, kita akan ditanya oleh mereka, “Anda ingin pasar apa? Di negara mana? Di kota apa? Usia berapa, laki-laki atau perempuan? Pecinta electronik atau olah raga dan sebagainya.
Mereka mempertanyakan itu karena mereka memiliki kelengkapan data yang bagus. Sehingga akurasi sasaran promosinya menjadi tepat dan akurat.

Kejar - Tangkap
Sangat sederhana, publik memilih media yang mempesona lalu media akan menggunakan publik tersebut untuk menarik keuntungan penjualan dari pemasang iklan. Sederhana bukan?!
Pesona-pesona yang ditebarkan oleh media bisa berupa kualitas cetak, isi berita, program acara dan lain-lainya yang saya yakin sudah dipahami secara gamblang oleh para praktisi media massa. Tetapi menghadirkan hubungan emosional antara audience dengan media jelas sesuatu yang sangat istimewa.
Bayangkan bahwa anda adalah juara salah satu cabang olehraga, lalu sekali waktu foto anda terpasang disebuah media cetak dengan berita yang baik, bagaimana perasaan anda? Itulah yang saya maksudkan.