20160826

Mengawetkan Kenangan Dalam Kaleng



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

          JOGJAKARTA, kota keci ini sungguh tiada pernah berhenti dan menjadi poin kenangan indah bagi jutaan orang yang pernah berkunjung atau tinggal disana.  Semua sudut kota ini bercerita dengan gaya yang khas, natural dan bergaya ‘Jogja’.
            Setiap pergi meninggalkan kota ini, selalu saja ada alasan yang kuat untuk berjanji akan kembali lagi.
            Dengan berbagai cara orang membawa kenangan tentang Jogjakarta, ada yang melukisnya dalam lagu dan musik, ada yang membawa produk kerajinan dan kesenian, ada juga yang terpaut dengan makanannya.
           
GUDEG
           Gudeg dan Jogja adalah dua sisi mata uang yang tiada terpisah. Tak ada yang tidak pernah mencicipi gudeg bagi yang pernah tinggal disana. Buah nangka yang dimasak manis dan gurih ini lengket dengan ciri khas jogja. Dan orang-orang merindukannya, hingga terfikir untuk bisa membawa pulang ke kota masing-masing ketika berkunjung ke Jogja.
            Masalahnya, gudeg jogja adalah makanan tanpa pengawet yang tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam tanpa disimpan di kulkas. Untuk dibawa atau jadi oleh-oleh, kemasan tradisionalnya terbuat dari kotak anyaman bambu yang disebut besek –tidak layak untuk penyimpanan lama dan kurang nyaman dibawa naik pesawat terbang--.
           
KENANGAN DALAM KALENG
            Adalah seorang Chandra Setiawan Kusuma --generasi ke-2 dari keluarga ibu Lies yang menekuni usaha Gudeg Wijilan di Jogjakarta—yang merasa gemas, tentang kenangan tentang Jogja dan gudegnya, agar bisa dibawa pergi jauh dan lama tanpa masalah.
            Impiannya sangat sederhana, gudeg sebagai poin kenangan tentang Jogjakarta mestinya bisa dikirim kemanapun, kapanpun dan dengan rasa yang tidak berubah. ia ingin Jogjakarta tetap menjadi kenangan indah dan bisa dinikmati dimanapun. Ia ingin menjawab kerinduan jutaaan orang yang kini tinggal jauh dari Jogjakarta.
Sekembali dari perantauannya, Chandra membuat serangkaian ujicoba kelayakan mengemas gudeg jogja dalam kemasan kaleng. Ia terinspirasi dengan berbagai makanan kaleng dari luar negeri yang tetap enak walaupun disimpan lama.
            Tahun 2011 ia yakin dengan hasil uji cobanya mengalengkan gudeg jogja. Tahun 2012 ia mulai memproduksi dengan kelengkapan perijinan dan sertifikasi standard kelayakan produk dan usahanya.
            Kini, produksi gudeg kalengan --yang ia klaim sebagai kenangan tentang Jogjakarta dalam kaleng--, sudah mulai dikenal banyak orang dan produksinya terus naik dan berkembang. Bahkan ia memiliki berbagai varian produk dari rasa manis hingga rasa pedas menderas seperti ledakan mercon.

DUTA BESAR DAN BERKUASA PENUH.
Satu sore di jalan Margo Utomo kawasan Tugu Jogjakarta, saya bertemu dengan Mas Candra si tokoh yang saya ceritakan tadi. Sebuah percakapan bermutu menjadi obrolan kami.
Dalam keyakinannya, ia harus menjadi Duta Besar dan berkuasa penuh atas produk gudeg kalengan yang ia rintis. Produk yang unggul dan praktis ini perlu disosialisasikan. Oleh karenanya ia mengangkat dirinya sebagai Duta Besar bagi produknya tersebut.
Chandra menjadikan dirinya sebagai billboard berjalan. Di pakaiannya ada logo yang selalu menjadi topik obrolan bagi siapapun yang baru saja mengenalnya. Jangan heran ia bawa kartu nama dan brosur kemana-mana.
Ia senang berorganisasi dan mengumpulkan kekuatan kolektif antar para pebisnis yang sejenis dalam sebuah asosiasi. Ia senang bertemu orang-orang baru. Strateginya yang keren adalah ketika ia berusaha memberikan sample untuk dicicipi secara langsung atau melalui pihak hotel dan restoran.


                                                          Konsultasi&Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160818

Kata Siapa?

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 15 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
AKHIR minggu lalu, saya meng-coach seorang pekerja karir yang ingin berinvestasi. Ia ingin sekali mendapatkan hasil investasi yang besar dengan bentuk investasi yang sesederhana mungkin.
Dalam pikirannya ia memiliki 2 alternatif investasi yaitu membeli tanah yang luas di kampung atau membuat rumah dipinggiran kota dengan tanah yang lumayan luas. Tetapi ia ragu-ragu. Jika memilih membeli tanah di kampung, bisa saja status legalitas tanahnya bermasalah, karena kebetulan salah satu temannya sudah bertahun sedang menjalani proses hukum karena tanah yang dibelinya ternyata memiliki surat ganda, sehingga kepemilikannya bertumpuk.
Lalu, jika ia pilihannya adalah membuat rumah di pinggiran kota, ia ingin rumahnya ia desian sendiri. Ia ingin rumah itu menjadi rumah tinggal yang nyaman bagi diri dan keluarganya.

PERTANYAAN
            Saya membantunya dengan beberapa pertanyaan; misalnya apakah ada di dunia ini yang sedikit modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Setelah bebarapa waktu hening, ia menjawab, hasil besar harus dengan usaha besar. Hasil besar berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan.
            Lalu saya bertanya lagi; apakah hanya 2 bentuk investasi itu saja yang dia ketahui? Apakah tidak ada yang lain? Sejenak dia berfikir dan menjawab, “mungkin ada ya…”.
           Saya bertanya lagi;  jika harus memilih berinvestasi di tanah, apakah semua tanah bermasalah? Apakah semua tanah berstatus bermasalah dalam legalitasnya? Apakah ada sumber informasi lain tentang pertanahan selain satu-satunya kawan yang sedang bermasalah dipengadilan itu? Apakah mungkin dia cari sumber-sumber informasi itu , agar lebih melengkapi datanya.
          Semua pertanyaan itu ia jawab satu persatu dengan ‘aha…!’, sebuah klik dimana ia menemukan bagian-bagian yang terlewat dari cara berfikirnya karena kurangnya data yang valid.
            Ketika terfikir untuk berinvestasi dalam bentuk rumah di pinggiran kota, saya bertanya, apa beda nilai modal yang harus dikeluarkan antara membangun rumah untuk investasi dan rumah untuk memuaskan selera diri sendiri?
            Jelas rumah sesuai selera akan mengambil modal yang jauh lebih besar daripada rumah untuk investasi dan dijual. Karena ini menyangkut selera dan selera mengenai rumah sangat sulit dikendalikan.
            Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah selera dirinya atas sebuah desain rumah akan sesuai dengan selera pasar jika suatu saat nanti ia jual?
            Pertanyaan lainnya adalah; apakah ada bangunan rumah yang relatif tidak ada maintenance? Sehingga nilai modal tidak tergerus tiap tahun hanya untuk perawatannya.

 KATA SIAPA?
Semua dari kita selalu bisa bersikap dan mengambil keputusan masing-masing. Permasalahannya adalah, bagaimana kesimpulan itu diambil? Atas dasar apa? Apakah data pertimbangannya cukup lengkap?
Kata-kata; ‘saya pikir’ dan  ‘saya rasa’, memang bagus, tetapi dasar pikiran dan perasaaan itulah yang sering terbukti kurang cukup, sehingga mengakibatkan pikiran dan perasaan yang dangkal serta kurang bijaksana.
Perlu sumber-sumber data yang kredibel, falid dan layak dipercaya. Perlu upaya memperkaya data sehingga cara pandang yang lebih luas dan bijaksana.
Yang kita perlukan hanyalah keluar dari tempurung yang mengurung diri kita dan bertanya. Ya, cuma bertanya. Bahkan mencari dan menilai kredibilatas narasumber juga bisa dilakukan dengan bertanya.
Ketika kita bertanya, kita akan mendapatkan banyak data. Ada yang pro dengan pikiran anda dan ada yang kebalikannya. Teruslah bertanya.
Pada akhirnya, kesempurnaan kelengkapan data harus diakhiri dengan keberanian pengambilan keputusan. Terlalu banyak data tanpa keberanian, hanya membuat kita menjadi penakut yang tidak mengambil langkah apapun.


            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160804

ANTI GRAND OPENING

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 1 Agustus 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu mennyebutkan sumbernya

                ANAK saya sedang berlajar berbisnis. Dia dan sepupunya membuat sebuah gerai kuliner di Medan. Saya menyarankan agar tidak usah repot-repot membuat peresmian besar pada awal usahanya dimulai. Mereka terheran tetapi akhirnya tetap menjalankan saran saya.
               Gerai kuliner mereka dimulai dengan merambat pelan pada awalnya. Promosi yang Mereka lakukan sangat sederhana, hanya mengandalkan perkawanan dari jaringan media sosial dan orang-orang yang lalu lalang di depan gerainya saja.
              Jumlah pelanggan yang datang bergerak naik dengan pelan, tidak seperti gerai yang lain yang mendadak ramai-heboh sejak awal pembukaan tetapi lalu drop menghilang pada bulan ke empat dan seterusnya.

GRAND OPENING
 Khusus untuk jasa kuliner, biasanya konsumen yang datang pada masa 3 bulan pertama adalah mereka-mereka yang sedang ‘mencoba’ saja. Ketika anda tidak benar-benar siap menyambut mereka yang datang dalam jumlah sekaligus besar, anda sedang menggali kuburan anda sendiri. Begitu keluhan demi keluhan terjadi, secara beruntun pada kesan pertama, selanjutnya bisnis anda akan di coret dari daftar pilihan pelanggan itu.
            Benar bahwa “jika diberi waktu, tak akan ada satupun pekerjaan yang selesai”, tetapi memulai hal yang serba baru dan tampil sempurna memerlukan persiapan yang tidak main-main. Sialnya, untuk benar-benar sempurna, anda memerlukan waktu dan sumber daya yang tiada sedikit.
Jika ingin membuat perayaan grand opening untuk usaha anda, pastikan posisi usaha anda sudah benar-benar siap, baik tempat usaha, produk, tim pelaksana, sarana promosi, dan semuanya. Karena begitu anda mulai, anda masuk dalam arus janji yang tiada celah untuk minta time-out / rehat sejenak.`

HENING
Begitu dibilang anak saya. Usaha mereka dibuka dalam ‘keheningan’ tanpa riuh undangan, iklan di Koran, iklan di radio, papan bunga, hingga baligho atau poster.
Keheningan yang sengaja dibuat ini menjadi pilihan karena; Pertama, bagi para pemilik dan pengelolanya ini adalah bisnis serius pertama yang sedang mereka coba pelajari sambil jalan. Mereka belum memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk semua hal, mulai dari pengalaman mengelola pegawai, mengelola operasional, mengelola keuangan, mengelola Pemasaran dan yang lainnya. Mereka hanya punya semangat. Ya itu saja.
Kedua, pegawai yang mereka rekrut hanya satu-dua orang saja yang benar berpengalaman dalam pekerjaannya, sedang selebihnya mereka adalah pemula yang tak pernah ada pengalaman sama sekali.
Ketiga, produk yang mereka tawarkan memerlukan proses uji respon pembeli, memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

TUMBUH BERSAMA
             Ada proses natural yang bertumbuh bersama-sama dalam proses hening ini. Produk, pegawai hingga tamu-tamu yang datang terlibat dalam pertumbuhannya.
              Tamu-tamu yang datang dilibatkan dalam proses bisnis ini, terjadi percakapan dan akhirnya mereka memberikan masukan dan saran. Ketika kunjungan berikutnya mendapati saran dan masukkannya dilakasanakan, para tamu merasa senang dan menjadikan tempat kuliner itu menjadi rumah bagi mereka.
                Produk dan pegawai bertumbuh dengan natural. Pegawai-pegawai yang bekerja terseleksi dengan lumrah. Ada yang tidak cocok bekerja dalam hitungan hari, ada yang cocok bertahan hingga tulisan ini saya buat. Ada proses terkoneksinya aura antara para pekerja dan pengelola. Hanya yang cocok yang bisa bertahan.
               Pertumbuhan yang terkesan ‘lambat’ tetapi terkonstruksi dengan baik ibarat pohon yang ditanam dari biji, pelan tapi memiliki akar yang kokoh menghujam dan mengikat bumi. Karena bisnis bukan cuma untuk semusim saja.


                                                               Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160721

Patah Tubuh, Hilang Berganti Mati Satu Tumbuh Seribu

 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Juli 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya
MENJALANKAN bisnis untuk 1 gerai dan 1000 gerai relatif tidaklah berbeda. Toh Anda tetap diberi jatah waktu 24 jam perhari, baik ketika mengurus 1 usaha atau 1000 cabang usaha.
Anda tetap berurusan dengan berbagai permasalahan yang umunya serupa; baik dari 1 pegawai maupun 1 juta pegawai.Demikian juga dengan urusan yang lain, mulai dari keuangan, sumberdaya, pemasok, pasar, pajak hingga urusan legalitas lainnya. Secara umum urusan dan energi yang dikeluarkan sama.
         Mungkin anda belum percaya, begini cara melihatnya. Pada urusan kepegawaian, semua prosedur dan pendekatan sama saja baik untuk satu orang pegawai maupun 1 juta pegawai. Mereka perlu seragam yang proses membuat seragamnya juga sama, dari mendesain, mengukur, menjahit hingga pebuatan jadwal pemakaiannya.
        Masih urusan pegawai, sebutlah ketika mengurus asuransi jaminan kesehatan, ketika mengurus untuk 1 orang dan untuk 1 juta orang pewagai, prosedur dan waktunya juga sama. Demikian juga untuk urusan pembayaran gaji dan sebagainya.
       Sebutlah untuk urusan pemasok. Dari mulai mencari, mengikat kontrak, prosedur pengawasan, menerima hingga membayar pemasok, prosedur dan waktunya tetap sama baik untuk bisnis yang hanya satu tempat maupun yang memiliki 1000 cabang.
           Kantor pajak yang melayani 1 cabang usaha juga sama dengan yang memiliki 1000 cabang.
            Yang beda hanya volume. Yang membedakan hanya faktor pengalinya saja. Tetapi rasa pusing dan energi yang dikontribusikan relatif sama.

VOLUME
            Melalui tulisan ini, saya mengajak anda untuk segera mempertimbangkan membuat cabang usaha sesegera dan sebanyak mungkin. Karena energi yang anda keluarkan tetaplah relatif sama.
Ketika kita membicarakan volume, kita tidak saja memikirkan kesulitan dan tantangannya, tetapi kita harus ingat janji keuntungan yang akan didapat dari perkalian volume tersebut.
Di daerah Si Cincin, Sumatera Barat, ada seorang pengusaha Sate Padang yang memiliki 180 gerai keliling. beroperasi di kabupaten Pariaman dan sekitarnya. Bayangkan bagaimana perkalian setoran penjualan yang didapat tiap harinya. Silahkan anda hitung.
Saya ingin menunjukkan bahwa volume memiliki kelebihan lain. Salah satunya adalah konsep saling menutupi dan mendukung. Sebutlah dari 180 unit usaha tersebut, terjadi kegagalan jual karena berbagai alasan menimpa 20 unit. Tentu tidak akan memberikan dampak kerusakan secara besar dan waktu yang singkat, karena masih ada 160 unit lain yang bisa diharap untuk mendukung dan menutup kerugian di 20 unit lainnya.

OPTIMAL
            Pada skala tertentu, masing-masing cabang  akan mencapai angka penjualan optimal dan tiada akan naik lagi secara signifikan. Hal itu sangat wajar karena ada titik optimal yang disebabkan oleh faktor jumlah pembeli dan daya beli pasarnya.
            Pada titik maksimal itu, pilihan untuk meningkatkan penjualan hanya ada 1 saja. Yaitu membuka cabang baru. Dan jika diamati secara sungguh-sungguh, setelah mencapai waktu tertentu, tiap cabang akan mencapai angka penjualan optimal yang akan sangat sulit ditingkatkan lagi.
            Jika anda terus membiarkan kondisi tersebut dan tidak membuka cabang baru, anda hanya akan kehabisan waktu.
            Banyak alasan bisa anda buat untuk mendiamkan nilai penjualan yang stagnan. Bisa saja anda merekayasa alasan seperti kurang waktu, masih harus meningkatkan kualitas, hingga kekurangan tenaga kerja. Dan semua alasan itu membuat anda tidak segera bergerak dan menciptakan tantangan baru.
            Tanpa tantangan, anda sungguh bukan siapa-siapa.



Konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160701

SEIKAT VS SEBATANG



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 Juni 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

SETIAP produk yang anda jual, tentunya diharapkan memberikan kontribusi keuntungan yang sudah anda tetapkan. Sebutlah anda memiliki 10 produk, maka idealnya kesepuluh produk ini terjual semuanya dengan harga maksimal dari masing-masing produk tersebut.
Dalam teorinya, seorang pembeli akan membeli sesuai kebutuhannya, satu persatu dari produk anda dan anda akan mendapatkan penjualan dari harga maksimal yang anda tetapkan. Dalam prakteknya, bisa jadi seorang pembeli akan membeli dalam jumlah yang besar sekaligus. Karena ia merasa membeli dalam jumlah yang banyak, maka ia akan meminta keistimewaan. Lumrah kan? Pertanyaannya adalah, apakah anda akan berikan permintaan itu?
Untuk memberikan gambaran yang lebih dalam, sebutlah anda mengoperasikan restoran. Anda memiliki 10 menu makanan yang biasanya orang rata-rata akan membeli satu porsi makanan menu makanan dan satu porsi menu minuman. Sebutlah misalnya masing-masing menu tersebut berharga Rp.30.000,-. Pertanyaannya adalah, apakah anda akan berikan, jika si pembeli meminta pengurangan harga menjadi Rp.25.000,- karena ia membeli sekaligus sebanyak 200 porsi dalam sekali pesan?

SEIKAT VS SEBATANG
          Inilah yang saya maksud perbedaan transaksi seikat atau sebatang. Transaksi yang sekaligus banyak (seikat) sering berhubungan dengan anggaran si pembeli yang sedikit terbatas, sehingga mereka meminta pengurangan.
            Jikapun anda menyetujui permintaan diskon tersebut, setidaknya inilah beberapa alasannya. Pertama; hitungan bisnis tidak sekadar secara individu (sebatang) masing-masing produk dihitung, karena transaksi yang banyak itu (seikat) memberikan keuntungan yang tiada sedikit dan terjadi pada waktu yang relatif cepat.
          Sebutlah untuk mendapatkan transaksi dalam jumlah 200 porsi, semestinya anda dapatkan dari 200 tamu yang berbeda-beda. Kali ini anda hanya berhubungan dengan satu pembeli yang membeli 200 porsi pada waktu yang sama.
          Hitungan volume bisnis dan keuntungannya adalah dari keseluruhan transaksi. Karena bahkan pembelian bahan baku dan proses pengerjaannya juga pasti akan memberikan kemudahan dan kentungan tersendiri.
          Benar bahwa jika 200 porsi dikalikan dengan Rp.30.000 lebih menguntungkan, tetapi bisa jadi orang akan pindah ke pesaing anda, jika anda tidak menyetujui pemberian diskon tersebut.
Kedua; proses produksi untuk sekaligus 200 porsi relatif lebih sama dan tidak merepotkan.
Ketiga; transaksi tersebut terjadi sekaligus dan memberikan jaminan penjualan yang singkat tetapi besar. Ingat, anda akan menghitung bisnis anda bukan sekedar harian dan satuan produk, tetapi akumulasi mingguan atau bulanan bahkan tahunan. Anda tetap beruntung dalam kalkulasi waktu.

BUNDLING
            Bisa jadi dari ke-10 produk yang anda jual ada diantaranya yang tidak memberikan kontribusi keutungan secara langsung, tetapi dengan pembelian dalam satu paket, bisa jadi boleh anda pertimbangkan untuk mendapat keuntungan dari beberapa produk yang lain.
      Dalam bisnis makanan tadi, sebutlah anda tetap menjual dengan harga Rp.30.000,- tetapi anda memberikan bonus berupa 1 tambahan menu pendamping yang harganya sudah anda taksir bisa masuk dan tidak rugi. Sebutlah paket Rp.30.000,- tersebut anda tambahkan 1 menu penutup yang modalnya kurang dari Rp.5.000,-,
       Si pembeli merasa tetap diuntungkan dan si pembeli tidak tahu kalkulasi modal anda dan anda mendapatkan penjualan yang lebih pada saat yang bersamaan.
           Atau anda menawarkan ruang pertemuan dengan paket hiburannya sekaligus. Atau anda menawarkan jasa transportasi penjemputan para pesertanya. Setiap penambahan bisnis yang terjadi, sebenarnya anda sedang membuat paket yang lebih menguntungkan.

                                                                 Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160621

BEDA LUKISAN DI DINDING RUMAH SI KAYA DAN SI MISKIN

Artikel ini sudah diterbitan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 Juni 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            LIHATLAH, bahwa banyak tema lukisan yang menjadi hiasan dinding di rumah-rumah mewah milik orang kaya adalah gambaran potret tentang kemiskinan, kesederhanaan dan cederung tradisinonal dan urban.
            Pada tema itu terpotret kehidupan kampung nelayan sangat sederhana, petani, penari tradisional atau pasar tradisional. Lukisan itu terlihat artistik karena lumrah, original, tanpa basa-basi dan tradisional.
            Lukisan gambar yang sederhana itu menjadi indah karena berada di gedung mewah dan bisakah anda bayangkan, jika lukisan yang serupa itu ditempatkan dibangunan kumuh atau sederhana seperti yang terlihat dalam lukisan itu.
            Pengalaman saya mengunjungi masyarakat urban dan sub urban justru kebalikannya. Mereka sebagai orang yang menjalani kehidupan nyata seperti dalam lukisan di dinding gedung mewah itu justru tidak memasang lukisan yang demikian, mereka memasang lukisan atau foto-foto yang menggambarkan kesempurnaan hidup yang tiada mereka miliki.
            Mereka memasang gambar mobil-mobil modern, mahal dan mewah. Mereka memasang foto-foto artis-artis ganteng dan cantik. Mereka memasang gambar atau foto yang menjadi impiannya.
            Kedua jenis lukisan diatas adalah refleksi rindu akan kehidupan impian dari si miskin dan pembanding bagi si kaya. Masing-masing terobsesi dengan pendekatan yang berbeda. Si miskin berharap agar segera menjadi kaya dan si kaya lebih menonjolkan kekayaannya ketika melihat fakta-fakta bahwa mereka lebih beruntung daripada yang didalam lukisan itu.

PANGSA PASAR
            Dalam dunia bisnis, ilustrasi lukisan diatas bisa menjadi pertimbangan ketika akan menentukan pola dan tampilan produk yang akan dipasarkan. Siapa pangsa pasar yang ingin anda tuju? Apakah si benar-benar kaya atau yang daya belinya relatif lebih kecil.
            Sebutlah anda akan berbisnis yang lokasi bisnis anda harus dikunjungi oleh pembeli, sebutlah restoran, toko dan lainnya. Jika pasar anda adalah dari kalangan menengah kebawah, cobalah tampil dengan mengujudkan impian mereka. Mulailah dengan setting lokasi dan interior yang menggambarkan kehidupan yang layak dan sempurna, modern dan mapan. Jadikan lokasi usaha anda menjadi hiburan dan bentuk realisasi atas impian-impian pasar anda.
            Demikian juga untuk lokasi dan sasaran dari kalangan menengah keatas, bayangkan bahwa pasar anda ini sudah hidup dengan mapan. Artinya, kita harus set anti kemapanan. Bentuknya bisa jadi dengan penggunaan unsur daur ulang. Bahan daur ulang di gedung mahal akan terkesan antik dan nyeni.
Yang jadi kebalikannya adalah ketika orang membuat café di pinggiran kota dengan tampilan yang merefleksikan kesederhanaan, mulai dari bahan dan perkakas yang dibuat dari bahan daur ulang dan atap rumbia, sangat tidak pas.

APLIKASI
            Semua pola tentang kaya dan miskin ini harus diterapkan dalam berbagai bentuk aplikasi, mulai dari nama produk, jenis produk, hingga tokoh yang digunakan.
            Untuk pasar menengah kebawah, pilihlah nama-nama produk yang terkesan asing, berkelas dan mahal, lalu jenis produk yang melambangkan kemapanan dan jika menggunakan tokoh untuk iklan, gunakanlah artis yang melambangkan kemampanan itu sendiri.
            Untuk pasar menengah keatas, pilihan produk klasik, berkelas karena kualitas dan lambang-lambang kemapanan. Mereka sudah sangat mengerti merek-merek kelas dunia yang sudah terkenal lama. Tokoh-tokoh yang digunakan adalah mereka yang menggambarkan keadaan yang diatas kebiasaan, misalnya petualang alam liar, ekspedisi khusus, tokoh pemenang penghargaan tinggi seperti pemenang nobel dll.
            Apapun pasar anda, pasti mereka memiliki impian-impian, penuhi saja impiannya maka produk anda akan mudah diterima.

Konsultai & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160615

Bernegosiasi Dengan Bantuan Tuhan

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya

BERKALI-kali saya menggunakan jasa taksi di kota yang tidak saya kuasai jalur lalulintasnya. Tiap naik taksi, saya kadang merasa seperti pengalaman banyak orang, dimana kadang-kadang ada perilaku sopir taksi yang kurang terpuji. Demi mendapatkan lebih banyak uang, mereka sengaja memilih jalur jauh untuk menambah putaran meteran, sehingga penumpang membayarnya lebih banyak dari yang semestinya. Belum lagi supir taksi yang menukangi meterannya sehingga putarannya lebih kencang dan lebih banyak.
            Jika berhubungan dengan sopir taksi di kota yang tidak kita kuasai, jelas posisi tawar kita sangat rendah, artinya; kita tidak tahu si sopir berlaku jujur atau tidak (untung sekarang ada alat GPS di smartphone).
            Sama seperti ketika bernegosiasi dengan tukang, supplier atau bidang bisnis yang tidak kita kuasai. Kita dalam posisi yang tidak bisa begitu saja mengetahui apakah kita sedang ditipu atau tidak.
            Kita hanya tahu setelah terjadi, setelah membayar dan pada kesempatan lain kita menemukan fakta-fakta bahwa layanan atau produk yang kita beli benar dan berkualitas dengan harga yang pantas atau kebalikannya.
            Jika sudah demikian, andaipun kita kecewa dengan layanan atu produk yang kita beli, posisinya sudah terlambat. Bahkan marah besar sekalipun tidak lagi bisa menolong kesialan kita. Kita dalam posisi sangat lemah dan itu sangat menyakitkan.

TAKUT
            Bagi para penipu, posisi ketidaktahuan dan ketidakberdayaan kita adalah sasaran yang empuk. Kita adalah binatang buruan yang sangat mudah dimangsa. Mereka tidak takut kepada kita, karena posisi kita lemah.
            Tapi ingat, bahwa ada lagi yang Maha Kuasa yang tidak bisa ditipu, Dialah Tuhan Yang Maha Tahu. KepadaNyalah kita bisa minta pertolongan dalam kondisi kelemahan dan ketidakberdayaan kita.
            Sebagai upaya terakhir saya jika terpojok dalam posisi tidak nyaman itu, saya menggunakan konsep ini.
            Dalam hal sopir taksi, biasanya sopir taksi akan bertanya tujuan kita dan mau lewat mana. Ketika kita jawab tujuan kita dan kita mengatakan tidak tahu lewat mana, disaat itulah titik lemah kita terbuka lebar. Jika si sopir tadi berniat jahat, pada saat itulah ia mulai beraksi, dengan menyebutkan bahwa rute ini macet dan banyak alasan lainnya.
            Pada saat itu biasanya saya akan mengakatan bahwa, silahkan saja memilih jalan manapun yang paling efisien dan cepat. Lalu saya sebutkan bahwa saya percaya kepada sopir tersebut diiringi pertanyaan, “Anda bisa dipercaya kan?”.
            Biasanya si sopir akan menjawab dengan kata “iya, bisa”, nah jawaban itulah yang akan menjadi senjata saya. Saya akan mengatakan, “Saat ini saya dan anda saling percaya dan baik-baik saja, dan jika nanti abang berbuat sesuatu yang berlawanan dengan janji anda, itu sudah bukan urusan saya, itu urusan anda dengan Tuhan anda”.
            Saya akan menyampaikan hal yang sama kepada tukang, janji supplier dan lawan negosiasi. Dan biasanya saya akan merasa nyaman karena pertama saya sudah menyerahkan urusan kami dalam kuasa Tuhan dan kedua, lawan negosiasi saya biasanya takut kepada Tuhannya.
  
IKHLAS
Dan jika sudah meminta pertolongan dari Tuhan agar kita tidak tertipu, lalu kita masih juga tertipu, itu artinya ada kehendak lain yang kita harus terima dengan ikhas dan rasa iman yang tinggi. Karena, dibaliknya pasti aka nada kebaikan-kebaikan lain untuk kita.
            Dan biarlah urusan dosa si penipu menjadi urusannya dengan Tuhannya.


                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160607

Lebih Cepat 1 detik, Lebih Maju 1 Jengkal

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Juni 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                LOMBA lari cepat dan balap renang selalu mengasyikkan untuk ditonton. Sederet peserta memacu kecepatan maksimal mereka. fokus kepada satu titik dan bergerak dengan sungguh. Lalu pada titik akhir akan ada seorang pemenangnya.
                Coba lihat, hampir semua perlombaan itu menunjukkan kesamaan. Pemenang pertama dan pemenang berikutnya selalu dalam posisi yang hampir sama. mereka hanya berbeda sekitar 1 detik atau lebih maju di depan hanya sekitar 1 jengkal.
                Perbedaan sekejap dan sedempet itu sajalah yang membedakan antara pemenang dan yang kalah. Perbedaan yang tiada mencolok, tidak jauh, bahkan kadang tidak kentara. Dan bagi mereka yang berusaha untuk selalu berbeda sedikit dari yang lain, maka mereka akan selalu manjadi pemenang.

PEMENANG
                Kaidah bisnis sejatinya hanya seperti perlombaan itu. Para pebisnis akan selalu menciptakan perbedaan itu dan mereka layak berdiri di panggung kehormatan, mendapatkan piala dan hadiah.
                Bisnis dalam tataran yang paling sederhana hingga yang komplek sekalipun sejatinya hanya perihal keberanian seorang pebisnis bekerja lebih awal dan lebih cepat dari orang kebanyakan. Itu saja.
                Ketika orang kebanyakan sedang tertidur lelap, ada segilintir orang terjaga membeli sayuran di pusat pasar, berebut dengan pembeli yang lain untuk mendapatkan harga yang lebih murah dan kualitas sayur yang lebih baik. Mereka lebih cepat dan lebih dahulu dari kebanyakan orang. Mereka mandapatkan uang dan keuntungan dari kebanyakan orang yang kala itu masih terlelap dalam tidurnya.
                Ketika orang kebanyakan ingin mudah dan tidak repot untuk makan sarapan pada pagi hari, ada beberapa orang saja yang terjaga semalam sebelumnya memasak lontong dan makanan sarapan lainnya. Mereka mendapat uang dan keuntungan dari mereka yang tak mau repot dan susah.
                Ketika orang kebanyakan malas berjalan jauh ke pasar, ada segelintir orang yang bersusah payah kulakan ke pasar lalu menyediakan di kedai yang dekat kepada para pemalas itu. Si pedang berjalan lebih didepan untuk mendapatkan uang dan keuntungan dari mereka yang sedikit mala situ.
                Ketika banyak orang membutuhkan transportasi, ada segelintir orang yang berpacu berhemat untuk mendapatkan kendaraan untuk disewakan kepada masyarakat yang membutuhkan transportasi tersebut. Segelintir orang itu akan mendapatkan uang dan keutungan dari masyarakat kebanyakan.

TIPIS
                Batas antara yang segelintir dengan yang kebanyakan sebenarnya sangat tipis. Orang kebanyakan seperti kita sebenarnya tahu rahasia kemenangan si segelintir orang itu. Tapi tak serta merta si kebanyakan bisa otomatis bisa di depan dan memang seperti yang segelintir itu.
                Orang kebanyakan itu malah kadang mencibir dan menggampangkan pekerjaan si segelintir orang itu. Mereka yang kebanyakan suka menganggap remeh pekerjaan yang segelintir itu. Hingga ketika melihat orang yang segelintir itu naik ke panggung kemakmuran, barulah si kebanyakan akan menganalisa dan berkomentar bahwa mereka pun bisa jika hanya melakukan hal sederhana seperti yang dilakukan oleh si segelintir.
                Si kebanyakan menciptakan berbagai macam alasan yang hanya untuk menenangkan perasaan mereka bahwa mereka tidak kalah, tetapi sesungguhnya mereka benar tidak menang.

PUASA
                Persis seperti Puasa Ramadhan. Hanya yang puasa dan Tuhan yang tahu siapa yang jujur atau menipu. Demikian juga dengan pemilihan diri untuk menjadi pemenang atau yang kalah.
                Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramdhan. Insyaallah kita akan menjadi pemenang yang sebenarnya.

                                                                           Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160601

PENGGEMBIRA UNJUK RASA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
           TIAP pagi saya melewati Kantor DPRD. Pada waktu-waktu tertentu, saya mendapati banyak pedagang kaget yang berjualan di depan kantor ini setiap ada unjuk rasa. Saya menjadi tahu, setiap ada mereka, berarti bakal ada keramaian semacam unjuk rasa.
              Ketika banyak orang merasa terganggu dengan aksi unjuk rasa, ternyata ada beberapa pengusaha kecil yang selalu bersyukur jika ada keramaian seperti unjuk rasa. Yang selalu menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, adalah bagaimana mereka bisa tahu sebelumnya. Rasa penasaran itu membawa saya untuk mendekat dan bertanya.
   “Habis bang?” Tanya saya kepada seorang penjual bakso. “Habis mas, maaf”, jawabnya. Gerobak mie ayam disebelahnya sudah mulai dibersihkan oleh penjualnya. Nampaknya juga habis. Tinggal penjual tahu isi yang masih ada barang dagangannya, itupun ternyata sudah putaran yang ketiga. Sudah dua kali istri si penjual tahu isi mengantarkan tambahan barang dagangannya. Sambil menjawab pertanyaan saya, si penjual tahu isi berkata, “Alhamdulillah pak, hari ini yang demo banyak”.
               
KEKUATAN INFORMASI
               Saya selalu penasaran, bagaimana mereka yang selama ini entah berjualan dimana, tetapi setiap ada demonstrasi di Gedung DPRD, mereka seperti sudah tahu duluan. Para pedagang kaget ini sudah buka lapak pagi-pagi bahkan sebelum tim kepolisian datang mengamankan lokasi.
            Artinya, mereka sudah mendapat informasi jauh hari sebelumnya. Sementara sebagian besar anggota DPRD sendiri tidak semua tahu jika hari itu bakal ada rombongan demonstrasi.
 Informasi yang akurat ini menjadi bekal utama konsep bisnis ini. Konon sampai tahu berapa jumlah peserta demo, rute objek demo dan durasi demo juga bisa mereka tahu. Saya sangat heran ketika mereka mengaku tahu berapa tim pengamanan dari kepolisian yang akan datang. Atas inforasi tersebut, mereka tahu berapa stok barang dagangan yang harus mereka siapkan.
Informasi lain yang tidak kalah penting adalah karakter pendemo. Apakah tipe rusuh yang berpotensi makan tetapi tidak bayar atau tipe gaduh yang berpotensi menciptakan huru-hara dan membahayakan dagangan. Informasi tersebut berguna untuk menetukan posisi lapak, memilih yang strategis dan aman.

MARKETING INTELEGENT
                Saya mencoba bersabar mengorek informasi. Saya mendapati jawaban yang membuat saya terkagum dengan cara mereka. Ternyata mereka punya jaringan ‘orang dalam’ yang hebat. Mereka punya kawan-kawan di kantor DPRD tersebut. Jelas bukan pimpinan dewan, tetapi sepertinya mereka yang memiliki akses informasi dan sudah mereka ajak berkawan sejak lama.
               Bukan hanya di kantor DPRD, mereka juga punya jaringan di Kantor Walikota bahkan Kantor Gubernur. Bahkan konon ada juga informan mereka di kantor polisi. Luar biasa…
                Sekali waktu ada seorang ibu anggota DPRD yang menerima peserta unjuk rasa, karena merasa iba, si ibu meminta ke penjual makanan itu untuk memberi makan beberapa pengunjuk rasa. Yang terjadi kemudian adalah semua pengunjuk rasa menyerbu dagangan. Dalam hitungan menit ludes. Dengan kekuatan jaringannya, si pedagang bisa memiliki akses untuk mengetahui kemana ia menagih pembayarannya. Antas bantuan informan-informannya, si pedagang menemukan dengan mudah si ibu tadi sedang dimana dan jam berapa hingga si ibu tak bisa lari kemanapun.
                Bisnis pola ini tidak saja mengandalkan kekuatan rasa produk makanannya, tetapi lebih kepada keandalan informasi. Terjadi dengan pola jaringan yang rapih, terselubung dan berkesinambungan. Betapa dicelah sesempit apapun selalu ada kesempatan bagi mereka yang bersungguh.


                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160524

PRO DAN KONTRA JABATAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

SUATU ketika, dalamsebuahrestoran,terlihatpemandangan yang unik. Si manajersedangangkat-angkatkursidansipemilikrestoranikutmembersihkanlantailaludibalikmeja bar, si Bartender diamsajamemperhatikankeduabosnya yang sedangsibukbekerja.
Ketikasi bartender ditegurolehkawan yang lain –mengapatidakikutmembantubosnya—siBartender berkilahbahwadiaadalah bartender, jadipekerjaanmemindahkursidanmembersihkanlantaibukanlahpekerjaandantanggungjawabnya.
Faktatersebutmembuatsipengusahamerubahsistemkerja. Semuapegawaitidakmemilikijabatandantanggungjawabkhusus, tetapiwajibmengerjakansemuahal. Sesaatpermasalahanlihatmelihatpekerjaanterselesaikan.
Takberapa lama kemudian, karenatidakadapenanggungjawabkhusus, peralatankerjasepertiperalatandapur, peralatan bar danperalatankebersihanmulaicapatrusak. Operasionaldapurberantakan, demikianjuga bar dankebersihan.
Alhasil, sipengusaharestoranpusingtujuhkeliling.

SPESIALISASI PEKERJAAN
Membuatseseorangbertanggungjawabsecarakhususataspembagianpekerjaansemestinyaterjadiuntukmemudahkanpekerjaan. Yang padagilirannya, kemudahanituakanmengantarkankepadakebaikan-kebaikan yang lainnya.
            Spesialisasiitumembuatkejelasanpembagiantugasdantanggungjawab. Walaukadangspesialisasipekerjaanterkadangmenghasilkankebingungandankoordinasi yang ribet. Sebutlah, sepertitukanglistrik yang asalbongkardindingdanmembuatpekerjaantukangbatumenjadiberantakan. Si tukanglistrikhanyamemikirkantugasnyasajadantidakmenghargaipekerjaantukang yang lain.

VOLUME PEKERJAAN
            Ramai-ramaimengerjakanpekerjaansepertikerjabaktihanyacocokuntuk volume pekerjaan yang kecil. Kecocokanitukarenajenis, bentukdankapasitaspekerjaan yang memangkecil. Artinya, satu orang bisasajamengerjakanbanyakfungsikerja.
            Sebutlahuntuksebuahtoko yang kecil, satupekerjabisasajamengerjakanbanyaktugas, misalnyamenjadipetugaskebersihan, petugaspenjualan, petugaskasir, petugasmengangkatbarangdll.
Tetapi, ketika volume tamuataupembeli yang datangdanberbelanjajumlahnyasemakinbanyakdanterusmenerus, makafungsi-fungsidiatassepertikebersihan, penjualan, kasirdantukangangkatseharusnyadikerjakansecarakhusus.

PENGGABUNGAN FUNGSI
            Jikaterpaskaharusdigabungkanbeberapapekerjaan, pelajarijenisdankarakterpekerjaantersebut. Misalkandi restoran, adapekerjaan yang bisadilakukanbersama-sama, misalnyamenyambuttamudatang, menerima order pemesananmakanan, lalumenyajikanmakanan. Ke-3 pekerjaaninisenyawa, jadijikadigabungkan pun tidakberefeknegtaif yang berlebihan.
            Berhati-hatilahmenggabungkanbeberapajenispekerjaanmenjadidikerjakanolehsatu orang saja, misalnyabagianpembeliandanbagianpenerimaanbarang yang dibeli, iniduapekerjaan yang mestinyadibedakanpetugasnya, karenasatupekerjaandenganpekerjaan yang lainnyasalingmengkontrol.
Contoh lain misalnyabagianpenjualanseyogyanyajangandisatukandenganpenagihan. Penggabunganinimemerlukanpertibangan yang lebihlayakdanmatang, samasepertibagianpembeliandanbagianpembayaran.

URAIAN KERJA DAN MORALITAS KERJA
            Untukmenghadapipermasalahan Si Bartender sepertidijelaskandiatas, sayapikirperlupenjelasandansosialisasikepadapekerja. Dalamkasusdiatas, benarbahwa bartender bertanggungjawabuntukurusanmeja bar, tetapisebagaipekerjadansedangmenganggur, saya rasa tidaksalahjikasi Bartender berkenankeluardarizonapekerjaankhususnyadanmembantumengangkatkursiataumembersihkanlantai.
            Artinya, jelasberbedaantarauraiankerjadanmoralitaspekerja. Untukhasilpekerjaan yang baiksangatperluspesialisasidenganpemberiannamajabatankhusus. Padasaat yang sama, moral pekerjauntuksalingmembantujugajangandilupakan.

                                                                         
                                                                          Konsultasi&Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160519

Telur Colombus

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 16 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

NAMA Chirstoper Colombus terkenal hingga saat ini karena dianggap sebagai penemu Benua Amerika. Ia memipin sebuah perjalanan petuangan yang membuktikan teori bahwa bumi itu bulat adanya. Atas teori itu Colombus berkeyakinan bisa menjangkau Benua Asia dan menemukan India dengan berlayar ke arah yang berlawanan dengan lajur tradisional yang sudah ada.
Sekembalinya Colombus ke negaranya, ia mendapatkan penghargaan dari kerajaan dan jadilah ia seorang pahlawan. Tetapi tetap saja dibelakangnya banyak orang yang mencibir dan mengejek Colombus bahwa penemuannya adalah penemuan yang tidak sengaja. Mereka mengatakan bahwa semua orang juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang Colombus lakukan.
Alkisah, tersebarlah beberapa versi cerita tentang bagaimana cara Colombus mematahkan cibiran yang santer mengejek dirinya. Kesemua cerita itu menggunakan media telur. Salah satunya adalah bahwa dalam sebuah jamuan kebesaran, Colombus merasa tidak tahan dengan ejekan yang diarahkan kepadanya. Singkat cerita Colombus mengambil sebutir telur masak yang ada dimeja makan dan menantang semua yang hadir untuk bisa membuat telur itu berdiri pada sisi yang lonjongnya.
Semua yang hadir ditantang untuk melakukan sesuatu yang menurut kebanyakan orang tidak mungkin untuk dilakukan. Semuanya gagal. Lalu kemudian, setelah semuanya menyerah, Colombus memegang telur masak itu dan mendirikannya diatas meja makan dengan sedikit menghentak, sehingga bagian telur yang lonjong itu pecah dan menjadi kaki untuk berdirinya telur tersebut.
Atas apa yang dilakukan oleh Colombus, sebagian besar yang hadir merasa dipermainkan oleh Colombus. Mereka menuding Colombus tidak melakukan hal yang fair. Serentak mereka mengatakan bahwa kalau cuma begitu —mendirikan telur masak sambil dihentakkan— pasti semua orang juga bisa. 
Menjawab keluhan itu Colombus mengatakan bahwa benar semua orang bisa melakukan apa yang ia lakukan, tetapi pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak melakukannya?  

SEMUA ORANG BISA
Sesungguhnya hampir semua perkara di dunia ini bisa dilakukan oleh semua orang. Demikan juga berbisnis. Semua orang mengatakan mudah dan bisa melakukannya. Tetapi mengapa tidak semua orang melakukannya?
Lihatlah, semua bisnis yang sudah berjalan dan sukses di muka bumi ini sesunggunya berangkat dari ide dasar yang sangat sederhana.
LIhatlah, dalam radius kurang dari 500 meter dari tempat anda tinggal, ada bisnis yang berjalan dan sukses, sebutlah dari toko kelontong, kedai kopi, kedai lontong, perbankan hingga pabrik yang besar, semuanya tercipta dari ide yang sangat sederhana.
Sukses Aqua yang menjual air minum, Sukses Go jek, Sukses a

yam goreng impor, Sukses kedai kopi yang dari Amerika bahkan sepatu olahraga yang mahal itu hingga saat ini tidak ada memiliki pabrik sendiri. Pemilik usaha sepatu itu hanya menjual merek, tidak lebih.

MENGAPA TIDAK MELAKUKANNYA
Inilah pertanyaan yang sebenarnya ditanyakan kepada anda. Jika anda merasa mudah dan bisa membuat bisnis seperti yang anda ucapkan, tetapi mengapa tidak anda lakukan?
Saya yakin, anda yang belum juga menjalankan rencana bisnis anda pada saat membaca tulisan ini juga langsung menjawab dalam hati dengan berbagai alasan yang membuat anda merasa lega dan nyamam serta merasa tidak bersalah atas pertanyaan mengapa anda tidak melakukannya.
Silahkan saja anda menciptakan ribuan bahkan jutaan alasan untuk menangkan perasaan anda. Tetapi ingatlah bahwa alasan-alasan itu sejatinya hanyalah sebuah belati yang anda gunakan untuk membunuh diri anda sendiri.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

20160511

“Beri Kacang, Dapatkan Monyet”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                INI cerita tentang kesungguhan. Ini cerita tentang fakta kehidupan. Ini cerita tentang realita bisnis. Jikapun ada yang berbeda, itu pengecualian yang sangat jarang. Dan saya mengingatkan agar Anda tidak usah bermimpi atas pengecualian itu.
               Filosofi “Jika anda memberi kacang maka anda akan mendapatkan monyet” ini sering disebutkan kepada pengusaha atau pimpinan yang jika hanya mau memberi gaji kecil, maka yang didapat adalah pekerja kelas (maaf) ‘monyet’.
                Tetapi sebenarnya, filosofi ini berlaku juga untuk sisi yang lain. Ini sesunggunya perkara keseriusan. Sebutlah jika anda dalam posisi sebagai pekerja dan anda hanya mengkontribusikan kemampuan dan potensi anda hanya sekelas ‘kacang’, sudah pasti anda hanya akan mendapatkan benefit sekelas ‘monyet’.

BERSUNGGUH
                Tidak saja pada hubungan atasan dan bawahan, pemberi dan penerima kerja; kebersungguhan ini juga berlaku dalam hal investasi. 
                 Sebutlah anda ingin jualan makanan, anda bisa saja membuat kedai di kaki lima, dengan piring plastik murahan atau daun pisang dan dengan pekerja yang tidak terlatih. Tentu ini  pilihan yang tiada salahnya.
                Tetapi anda bisa bayangkan jika anda memiliki kesempatan untuk lebih bersungguh mendapatkan lokasi yang strategis, bagus dan bergengsi. Lalu anda lengkapi perlengkapan makan anda dengan baik ditambah pekerja-pekerja yang terlatih. Pasti besaran potensi anda untuk mendapatkan yang lebih baik akan lebih besar.

UMPAN
                Sepertinya tidak ada memancing yang tanpa umpan – jika ada mungkin hanya di film kungfu Saolin--. Artinya, umpan adalah keharusan untuk dapat yang lebih besar. Disinilah kita harus bersungguh. Besaran umpan mempengaruhi besaran yang ditangkap. Jika umpan anda sebesar kelingking, mungkin ikan yang anda dapat adalah sebesar jempol. Jika umpan anda sebesar jempol, maka ikan yang akan anda tangkap mungkin sebesar kepalan tangan.
                Besaran umpan seperti besaran keseriusan anda dalam mengerjakan sesuatu termasuk bisnis. Terlalu banyak orang yang menjadi korban atas teori ekonomi dimana kondisi yang ideal adalah menggunakan modal sekecilnya dan mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.
                Teori itu tidaklah salah, tetapi para pemula biasanya salah menafsirkannya. Untuk pemula, tiada yang pantas kecuali kesungguhan yang sebenarnya. Penuh keringat, penuh resiko, penuh tantangan. Konsentrasi yang besar dalam memulai usaha dan lewat 2 tahun anda baru bisa dibilang sukses untuk tahap permulaan.
                Ketika anda sudah memasuki dunia bisnis jalur cepat, dimana anda sudah teruji dan berpengalaman dengan modal cukup, benar anda akan lebih mudah mendapatkan uang, tetapi umpan selalu menjadi komponen yang harus ada.
                Lihatlah, berapa banyak kedai kopi yang menjual kopi dengan harga Rp.20.000,- tetapi investasinya bisa bermilyaran rupiah. Ini karena uang bekerja untuk uang. Dan umpan yang diinvestasikan akan menghasilkan lebih banyak daripada kedai kopi yang menjual kopi dengan harga sama tetapi investasinya Rp.5 juta saja.
             Yang perlu diingat, umpan adalah bagian yang harus direlakan untuk hilang. Kadang beruntung mendapatkan yang kita pancing atau lepas ditengah jalan.

MONYET
                Bisa jadi anda memberi daging, tapi bisa jadi anda mendapat monyet yang berpenampilan seperti harimau. Waspadalah, saya sendiri sudah beberapa kali terjebak dalam permainan topeng monyet ini.
                Lagi-lagi kita perlu pengalaman yang sesungguhnya, karena lapangan yang kita hadapi bisa saja tiada dibahas dikelas kita sekolah dulu.
                Sering-seringlah ‘memancing’, maka anda akan berpengalaman memberikan umpan dan hasil yang anda kehendaki.


Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com