Kongsi bisnis dan konsekuensinya

Alkisah ada sebuah kampung yang dihuni oleh para pensiunan. Mereka mereka mengisi hari tuanya di perkampungan itu dengan bertani. Untuk melepas lelah, biasanya mereka berkumpul dan bersendagurau pada sore hari sambil sebagiannya memainkan alat musik. Mereka benar-benar menikmati kehidupannya, bertani dan bermain musik, tidak jarang mereka melewatkan permainan musiknya hingga larut malam.
Permainan musik mereka semakin bagus dan dengan bermain bersama-sama seperti orkestra dengan puluhan pemain, mereka selalu menjadi bintang pada pesta-pesta yang dikampung itu. Hingga pada perayaan hari ulang tahun kemerdekaan negera mereka, ada sebuah perlombaan musik antar distrik dan mereka memenangkan perlombaan itu. Dengan semangat menjadi juara, sebagain dari mereka terfikir untuk meningkatkan kualitas permainan mereka dengan menyewa pelatih proffesional dari kota besar.
Benar saja, kedatangan pelatih yang sekaligus konduktor profesional itu benar-benar membawa banyak perubahan. Perubahan itu dimulai dari seleksi anggota orkestra tersebut, tentu tidak semuanya piaway dan layak masuk ke dalam group yang sedang bergerak menuju profesional itu. Mulailah tersingkirkan beberapa anggota mereka dan selanjutnya terjadi perubahan dalam pelatihannya. Pelatih amat menekanan disiplin yang tinggi, tepat waktu dan tidak main-main.
Group orkestra ini dibawa dengan gaya pelatih profesional itu. Mereka berhasil keliling propinsi untuk pertunjukkan-pertunjukkan dengan jadwal yang ketat. Nama mereka semakin terkenal sebagai group orkestra veteran yang disiplin dan profesional.
Apa yang diinginkan oleh sebagian anggota orkestra tersebut benar-benar tercapai. Tetapi banyak yang hilang. Sejak pemilihan anggota, sudah mulai hilang senyum dan tawa mereka. Sejak awal itu pula, mulai ada pengelompokan sosial, yang bagus menjadi merasa layak serta yang tidak bagus merasa tidak layak dan berbeda. Sejak itu suasana desa tidak lagi satu dan menyenangkan.
Disiplin yang diterapkan pelatih membuat mereka tidak lagi bisa tertawa dan bercanda. Saat ini mereka menerima banyak pujian dan tepuk tangan, tetapi hati mereka menangis, rindu keluarga yang ditinggalkan dan rindu suasana kampung yang tenang, damai, tidak kaku, banyak canda dan tawa. Mereka merindukan masa lalu, yang santai, nikmat dan bersahaja. Sebenarnya apakah yang mereka cari?

Kongsi bisnis
Kisah diatas adalah contoh yang tidak banyak disadari oleh orang-orang yang ingin merubah nasib dirinya dengan bergabung dalam perkongsian bisnis. Kongsi bisnis dilandasi oleh sebuah keyakinan mendasar adalah bahwa dengan menggabungkan beberapa potensi tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan lebih besar. Tetapi keyakinan teoritis itu memerlukan tindakan-tindakan dewasa yang positif agar bisa terwujud sesuai harapan.
Tidak sedikit kisah-kisah duka perkongsian bisnis yang berakhir dengan pertikaian serta permusuhan. Yang pasti perkongsian bisnis membawa kita kepada konsekuensi bisnis yang tajam dan formal.
Kesadaran yang paling mendasar diperlukan sebelum berkongsi adalah pemahaman dan kesadaran akan konsekuensi logis penyatuan berbagai keinginan dan latar belakang yang berbeda-beda. Seluruh peserta kongsi selayaknya menyadari hal tersebut. Apalagi, umumnya perkonsian itu terjadi dengan awal pertemanan.
Pertemanan dan kongsi bisnis memiliki karakter yang amat berbeda. Pertemanan cenderung pro hubungan baik tanpa memikirkan material. Sedangkan kongsi bisnis akan menuntut komitmen material yang formal dan sesekali tidak memandang hubungan pertemanan.
Untuk itu, belajar dari kisah diatas, selayaknyalah kita menyadari konsekuensi-konsekuensi tersebut. Idealnya, kongsi bisnis adalah ajang untuk mengeratkan pertemanan. Sayangnya hal ideal itu jarang bisa terjadi jika kesemua pihak yang terlibat tidak mendukungnya. Jika memang tidak ingin kecewa di kemudian hari, maka pastikan kita memilih dengan bijak, berkongsi bisnis atau bersahabat saja.

Aturan main
Kesepakatan aturan main adalah landasan yang wajib ditempuh oleh semua pihak yang terlibat dalam kongsi bisnis apapun. Catatan yang saya uraikan berikut ini adalah situasi penting dalam memulai perkongsian bisnis oleh para pemula. Bagi mereka-mereka yang sudah lama berbisnis, hal-hal tersebut tidak terlalu mengganggu dan mereka cenderung paham bagaimana menyikapinya.
Ada beberapa hal yang mesti disepakati bersama. Diantaranya adalah ketegasan pembagian kewajiban dan hak seluruh anggota kongsi. Sekarang jauh lebih mudah karena hukum negara memberikan batasan-batasan yang jelas dalam berkongsi bisnis. Sistem kesepakatan hukuman dan imbalan atas pelaksanaan kewajiban dan hal juga sangat penting disepakati.
Pembagian tugas adalah bagian yang tidak kalah pentingnya. Tidak semua kawan yang kita miliki memiliki kapasitas yang cukup untuk duduk menjalankan bisnis. Tak usah memaksakan diri menyerahkan tugas hanya karena seseorang adalah kawan. Ingatlah bahwa mentolerir kekurangan anggota kongsi bisa berakibat kepada kerugian perkongsian itu sendiri.
Yang berikutnya adalah kejelasan cara komunikasi antar anggotanya. Ini sering terabaikan. Bila saatnya tiba, maka akan terjadi benturan kepentingan dari semua pihak. Ada yang memuntut waktu, materi, pemikiran dan lain sebagainya. Jika tuntutan-tunututan itu tidak terpenuhi, maka kegagalan adalah hadiah pertama yang akan diterima oleh semua pihak.
Idealnya ada forum-forum yang bisa menyelesaikan perbedaan pendapat dengan mudah. Lalu yang terakhir adalah kekuatan bersama untuk mengeksekusi kesepakatan yang dipilih. Jika dalam forum sudah disepakati hal tertentu, mestinya semua pihak menghormati dan mentaati aturan tersebut. Keengganan perkawanan selayaknya dibuang jauh-jauh sehingga tidak merugikan anggota kongsi.
Dalam pengalaman berkongsi, saya mencatat hal yang sangat penting bahwa perkawanan akan tetap terjaga walaupun perbedaan-perbedaan akan muncul dalam praktikal perkongsian bisnis, asal saja semua pihak tetap melihat dengan positif dan menganggap bahwa berlomba-lomba menyenangkan pihak lain lebih baik dari pada berlomba-lomba menyakiti hati pihak lain.
Previous
Next Post »