Lelaki Korban Sinetron

TELEVISI kini sudah duduk bersandar disetiap kelopak mata penghuni rumah. Ia ‘nggondelin’ alam pikiran kita untuk selalu segera memencet tombol remot dan memilih siaran-siaranya. Duduk, merelakan jam-jam kehidupan kita lewat begitu saja untuk nonton lalu mengimpaskan kerugian waktu itu dengan sebuah pembenaran, “Pengatahuan umum, wawasan, ilmu, dan sedikit hiburan…!”
Kehebatannya benar-benar sulit ditandingi. Seperti ‘korban-korban’ Rommy Rafael yang kena hipnosys, mereka dengan senang hati memelototi layar kaca sebidang itu, dari pagi hingga pagi berikutnya. Hanya segelintir orang saja yang masih berani menghindarinya dengan berjalan sore di taman atau bersepeda sekedar untuk mencari tetesan keringat. Itupun lebih karena disebabkan oleh ancaman kolesterol, asam urat dan gula darah yang tinggi.
Adalah si Enjong –lelaki 29 th, eksekutif muda di perusahaan lokal-- yang menjadi korban dari bisa beracun yang lebih pekat dan dasat yang muncul dari dalam kotak ajaib bernama TV itu. Bisa beracun itu bernama Sinetron. Yang lebih meyakitkan adalah bahwa si Enjong adalah orang yang tidak suka melihat sinetron dan hampir tidak punya waktu untuk melihatnya. Aneh bukan?
Sudah belasan purnama si Enjong nembak telak si Eba –perempuan centil 27 th, manajer bagian di perusahaan swata nasional— yang hingga kini ia proklamirkan sebagai gebetannya. Sayangnya, dua bulan ini dada Enjong yang tidak bisa disebut bidang itu sekarang sudah berubah fungsi. Di awal-awal percintaannya, dada itu sering menjadi tempat bersandar dan berbagi kehangatan. Sekarang dada itu lebih cocok menjadi sasaran pukul Eba jika sedang berantem dan menjadi landasan bagi telapak tangan Enjong sendiri ketika berusaha bersabar dengan mengelusnya pelan-pelan.
Si Eba tidak pernah merasa puas dengan layanan si Enjong. Perlu kita tahu, kalau si Enjong adalah lelaki pada urutan ke 7 dalam lembaran cinta yang dimiliki si Eba. Kini, kata-kata yang bermakna keluhan cenderung diterima Enjong tiap hari, bahkan ia selalu was-was tatkala menerima sms, ia selalu khawatir kalau-kalau isi sms itu lagi-lagi berisi repetan dan keluh kesah seperti biasanya. Setiap nama Eba muncul di layar Hp-nya, ia lagsung tegang, panik dan segera harus bersiap-siap untuk menerima caci-maki berikutnya.
Apa pasal?
Eba selalu mengeluh dan mempertanyakan kenapa Enjong tidak gentle, sayang, penuh perhatian, siap berkorban kapan saja, romantis, komunikatif dan tidak egois! Entah mengapa Eba kini menjadi demanding. Hampir tidak ada lagi kesempurnaan yang dimiliki si Enjong. Setiap Enjong bertanya, Eba selalu bersikap yang sama. Ia berharap agar Enjong memiliki kemampuan magis yang selalu paham dengan kehendaknya walaupun tidak ia ucapkan.
Sekali waktu, terbongkarlah secelah informasi, ternyata si Eba adalah penggemar berat berbagai sinetron. Dari ceria lokal, asia hingga amerika latin. Ia bisa mengabaikan makan, tidur, jadwal kencan bahkan pekerjaan jika berhadapan dengan menonton sinetron kesukaannya. Sekedar menonton mungkin bukan sesuatu yang aneh, tetapi Eba cenderung melibatkan seluruh jiwa dan raganya saat menonton sinetron-sinetron itu. Ia bisa tertawa terbahak-bahak, bisa nangis sejadi-jadinya, bahkan ikut membenci tokoh antagonis dalam peran-peran itu.
Pemberitahuan diawal cerita sinetron bahwa ini adalah kisah rekaan belaka, tidak menjadi Eba berpikir logis. Pemberitahuan itu sama seperti peringatan pemerintah di kotak rokok. Semua perokok mengabaikannya!
Tanpa Eba sadari, otak bawah sadar Eba sudah diprogram oleh kisah-kisah sinetron yang ia konsumsi. Yang ia tahu dan harapkan dari seorang laki-laki pasangannya adalah segala kelebihan dan keunggulan tokoh laki-laki dalam sinetron tu…..! Aalaa mak….!
Apeslah nasib si Enjong. Ia dituntut untuk menjadi tokoh idaman versi khayalan sinetron, yang penuh kasih, penuh perhatian, kaya, banyak uang, sering kasih bunga, sering kasih hadian, sering telepon sekedar nanya sudah makan apa belum, ganteng, jujur, sabar dan seabrek sisi positif lelaki sinetron.
Enjong lelaki pas-pasan, yang hanya bisa mejadi pegawai teladan jelas kelabakan dengan segala tuntutan itu. Trus cemana dong? Ada pendapat kalian?
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Anonymous
AUTHOR
January 5, 2007 at 5:49 PM delete

artikelnya bagus

Reply
avatar