“You kan orang lama…!”

(penyebab human error)

Apa yang anda lakukan dengan hidup terletak pada anda sepenuhnya.
Anda memiliki seluruh perangkat dan kemampuan yang dibutuhkan.
Apa yang anda perbuat dengan kedua hal tersebut sepenuhnya terlatak pada anda.
Pilihan berada ditangan anda.

Kalimat-kalimat itu adalah kumpulan dari 10 aturan-aturan bagi manusia yang tidak diketahui penulis aslinya dan kemudian dikutip oleh Sukie Miller, PH.D. dan Suzanne Lipsett dalam bukunya Hidup Setelah Mati.
Kalimat tersebut melesat begitu saja dalam ingatan saya ketika mendengar salah seorang rekan saya supervisor bawahannya dengan teramat keras dan kasar. Selidik punya selidik, ternyata bawahan rekan saya itu telah melakukan kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ia lalai tidak membuat laporan bulanan tepat pada waktunya. Ia bukan supervisor baru dibidangnya dan pekerjaan itu juga bukan pekerjaan baru baginya.
“You kan orang lama..!” Teriak si Boss, “Apa pantas orang lama bisa kecolongan begini!” lanjut si boss dengan amarah yang membludak. Saya pikir tak perlu saya sebut lagi kalimat-kalimat marah si boss.
Dalam kesempatan lain, saya ngobrol dengan rekan saya tadi –si Boss yang memimpin sebuah restoran yang cukup besar di kota Surabaya. — sampai akhirnya dia berkeluh kesah atas perilaku bawahannya yang semakin tidak masuk akalnya. Ia mengatakan bahwa ia memaklumi kalau ada seorang pramusaji baru membuat kesalahan sederhana seperti tidak menutup makanan waktu mengantar makanan ke tamu yang duduk diluar restoran. Tetapi ia benar-benar heran jika kesalahan itu dilakukan oleh pramusaji yang sudah lebih dari 3 tahun bekerja disana. “Itu terjadi bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena benar-benar kelalaian yang tidak dapat diterima” Keluh si Boss tadi.
Saya setuju dengan keheranan rekan saya tersebut. Sangat sering terjadi kesalahan-kesalahan kerja bukan karena si pekerja tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman atas pekerjaannya, tetapi karena unsur lain yang saya sebut sebagai kehausan motivasi.
Coba bayangkan betapa aneh jika ada seorang tukang masak senior lupa menaruh garam kedalam masakannya. Betapa mengherankan seorang guru yang lalai untuk mengajar. Betapa konyol jika seorang tukan sapu tetap menyapu lantai dengan sapu yang sudah gundul. Betapa memusingkan jika seorang sekreataris tidak memiliki agenda. Betapa menggemaskan jika seorang tukang cat meninggalkan lantai penuh dengan cipratan cat-nya. Betapa membahayakan, jika seorang Pilot lupa mengambil data prakiraan cuaca sebelum terbang. Dan masih banyak lagi contoh-contoh sederhana yang sering tercipta karena unsur human error.
Tentu alasan yang amat mendasar dan pasti diterima semua orang adalah bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti ada salahnya. Lalu, apakah dengan kesadaran keterbatasan itu lalu semua kesalahan terus menjadi halal untuk dilakukan? Apakah memang tidak boleh untuk menciptakan kinerja yang unggul?

Krisis Mental
Jika bukan masalah teknis dan sistem yang menyebabkan kesalahan-kesalahan tersebut diatas, tentu penyebab utamanya adalah karena seseorang tersebut sedang tertimpa penyakit Krisis mental. Gangguan tersebut mengakibatkan seseorang menjadi tidak mampu mengontrol dirinya sendiri dan ia berlaku seperti mati walau tetap bernyawa.
Tanda-tanda seseorang sedang mengidap penyakit krisis mental adalah sebagai berikut; Malas (mudah menjadi lemah, letih, letoy, lelah, lunglai), cenderung berfikir negative, tidak disiplin, mudah teringgung/emosional, mulai takut tantangan, mudah mengeluh, bimbang/ragu, tidak ada dedikasi, takut perubahan, pesimis, apatis, sulit beradaptasi dll.
Pengidap penyakit krisis mental ini, pada umumnya terjebak dalam kisaran itu dan semakin kritis. Mereka selalu menyalahkan pihak lain yang menjadi penyebab kehancuran itu. Mereka bahkan berpikir bahwa harus ada orang lain yang datang dan membujuknya bangkit dari lembah yang menyangsarakan itu.
Kesekian banyak tanda-tanda krisis mental itu tidak datang serta merta, mereka datang satu persatu dan akhirnya secara bersama-sama menjadi penyakit yang komplek dan kronis.
Mungkin yang datang pertama adalah sikap malas dan menunda. Ini amat sering terjadi karena sangsi atas penundaan dan kemalasan tidak secara instant bisa dirasakan. Karena penundaan itu, terjadilah konflik dengan pihak lain dan bisa saja tercipta hubungan yang tidak ramah. Lalu pikiran negatif berkembang dan mudah tersinggung. Sikap-sikap tidak disiplin mungkin dilakukan sebagai bagian dari permintaan perhatian, tetapi sayangnya pihak lain justru malah bukan berubah menjadi lebih perhatian, tetapi umumnya lebih cenderung untuk menekan dan tidak menghormati sikap tersebut. Lalu tanpa disadari, sikap-sikap krisis mental itu menjalar dan akhirnya menjadi komplikasi yang kritis.

Sembuh
Yang perlu dipahami adalah bahwa semua kondisi krisis tersebut sangatlah manusiawi, artinya; siapa saja berkemungkinan mengidap krisis itu. Yang kemudian menjadi sangat penting adalah bagaimana agar kita secara cerdas tidak terperangkap dalam krisis tersebut.
Seorang Anthony Robin pernah memberikan ilustrasi tentang beban mental dalam sebuah pelatihannya. Ia menyuruh seluruh peserta untuk mengangkat gelasnya masing-masing. Lalu ia bertanya; “Seberapa berat gelas anda?” jawaban peserta tentu berkisar ukuran berat seperti ons atau kilogram. Lalu Anthony menegaskan bahwa ini bukan perkara berat, tetapi perkara berapa lamanya. Apakah satu menit, dua jam, tiga hari, atau berminggu-minggu? Tentu gelas yang ringan itu akan menjadi perkara yang berbeda jika durasinya lebih lama. Demikian juga ia gambarkan bagaimana kita berhubungan dengan permasalahan dan beban mental. Bukan masalah beratnya, tetapi masalah berapa lama kita menahan dan menyelesaikannya.
Mulai dari berfikir positif, niscaya semua kendala akan terlewati dengan baik dan akan berakhir dengan kebaikan. Jaga pikiran dengan baik, sehingga semua krisis mental bisa dikendalikan dengan baik.
Bangun dan berpijak dibumi memang seringkali tidak seindah mimpi. Tetapi jauh lebih nyata dari sekedar khayalan. Ingat, krisis mental amat berbahaya dan tiada seorang pun sanggup membantu kita selain diri kita sendiri.
Previous
Next Post »