Melihat Uang

Seorang Nathalia Sunaidi dalam bukunya Journey to My Past Lives ada berkata, “Dalam setiap situasi selalu tersedia kehendak bebas untuk berfikir, berkata-kata dan bertindak. Maka, pilihlah pikiran, ucapan dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain berbahagia.”
Saya mengartikannya bahwa sebenarnya kita selalu punya peluang untuk mengkondisikan segala sesuatu menjadi lebih baik. Kita selalu punya peluang untuk menghasilkan uang lebih banyak dan memajukan bisnis menjadi lebih baik.
Pada kesempatan ini saya ingin membagi pengalaman saya melihat sebuah kisah dalam video singkat yang sangat menarik sebagaimana berikut ini;
Kisah ini dibuka dengan tampilan seorang anak laki-laki kecil mungkin sekira 9 tahun yang sedang memainkan bola miliknya dengan sangat lihai. Sebutlah anak ini si Iwan. Ia bisa menendang-nendang ke atas dan tetap menjaganya tidak menyentuh tanah.
Lalu pada suatu siang menjelang sore, Iwan membawa bolanya menuju taman bermain bersama teman-temannya. Dalam perjalanan itu, kita diperlihatkan bahwa Iwan melewati sebuah restoran cepat saji McD. Kamera menangkap gambar ayam goreng yang lezat dan nasi putih yang hangat, lalu kamera menyorot wajah iwan yang amat tergoda oleh pesona makanan itu.
Si Iwan mencoba merogoh kantong celananya dan ia nampak kecewa karena memang ia tidak memiliki uang. Begitu tergodanya, si Iwan masih sempat membayangkan kalau dirinya punya uang dan makan makanan itu.


Tampilan berikutnya adalah kekaguman kawan-kawan Iwan atas permainan bola si Iwan. Kemudian salah seorang dari mereka –sebutlah si B- bertanya bagaimana agar bisa lihai seperti Iwan. Lalu iwan menyarankan agar si B memiliki bola seperti dia, jadi bisa belajar kapanpun. Sayangnya si B tidak memiliki uang untuk membeli bola dan si B menawarkan replika pesawat terbang yang ia miliki dan sebuah topi cantik untuk digantikan dengan bola si Iwan.
Tampilan video berikutnya adalah gambar iwan yang sedang berjalan, mengenakan topi sambil memainkan replika pesawat terbangnya. Iwan seperti benar-benar menikmati mainan itu. Ia bersuara seperti suara mesin pesawat terbang. Ia meliuk-liukan pesawatnya mengikuti permukaan pagar disebelahnya seperti petualangan seorang pilot sejati.
Atas gaya Iwan yang begitu manarik itu, muncullah si C –kawan sebaya Iwan-- yang juga tergoda dengan permainan replika pesawat itu. Si C menawarkan barter dengan mobil remote control yang dimilikinya.


Telihat di video itu berikutnya adalah si Iwan dengan tetap mengenakan topi sedang memainkan mobil remote control-nya. Kali ini iwan juga memainkannya dengan amat riang dan menarik dengan cara menirukan suara mesin dan rem mobil balap.

Tak lama selanjutnya terlihat si D yang juga kawan bermain Iwan yang menghendaki mobil dengan remote control itu. Si D amat ingin memiliki mainan itu dan terjadilah tawar menawar dengan hasil si Iwan mendapat sebuah pelampung berenang baru dan sepuluh buah kelereng.
Video itu berputar lagi dengan gambar si Iwan yang mengenakan topi dan pelampung renang.


Iwan berjalan sambil melakukan gerakan seolah-olah ia sedang berenang dan sesekali ia naik ke pot bunga besar di samping trotoar dan seolah-olah ia sedang terjun di kolam renang.
Melihat gelagat itu datanglah seorang anak perempuan menghampiri si iwan. Sebutlah anak perempuan ini si E. Si E mengatakan kepada iwan bahwa ia ingin sekali bisa berenang, tetapi ia takut tenggelam. Sorot kamera medekat kearah wajah iwan yang menunjukkan binaran mata sekaligus senyum penuh arti di bibirnya.

Pembicaraan dengan si E berakhir dengan adegan si E memecah celengan ayam-nya dan mengambil uang hasil tabungannya untuk membayar pelampung renang milik iwan.
Iwan kini punya uang, topi dan kelereng. Lalu terlihat dalam video itu iwan yang sedang berjalan dan melewati restoran cepat saja McD tadi. Iwan mendekat resto itu dan memilih paket makanan hemat. Selanjutnya terlihat iwan yang mengangkat nampan berisi makanan berupa ayam goreng, nasi putih hangat, kentang goreng renyah dan minuman botol plus uang kembalian. Iwan terlihat amat girang dan telihat makan dengan amat nikmat dipinggir dinding kaca yang tembus pandang sehingga Iwan bisa melihat jauh keluar.

Dari posisi duduk Iwan, ia melihat kawan bermainnya si F yang sedang bermain bola sendirian melihat ke arahnya. Iwan lagi-lagi menggigit ayam gorengnya sedikit perlahan seolah-olah menggambarkan betapa lezat makanan itu. Iwan tahu si F sepertinya tertarik dan Iwan mengangkat bungkusan kentang goreng seperti sedang menawarkan kepada si F. si F mengangkat bahu dan memberikan tanda dengan tangan dan jarinya bahwa ia sedang tidak memiliki uang. Tampilan berikutnya amat menarik. Iwan menyodorkan bungkusan kentang goreng itu sekaligus mengisyaratkan agar si F menukarnya dengan bola yang sedang ia mainkan.

Video itu berlanjut dengan gambar si Iwan dan si F sedang makan bersama di resto cepat saji itu. Si Iwan duduk memangku bola sambil memakan nasi putih dan ayam goreng lalu si F makan kentang goreng sambil tertawa bersama-sama. Dalam gambar itu juga diperlihatkan mereka berbagi minuman botol yang hanya ada satu disana.

Video ini berakhir dengan adegan Iwan dan F yang sedang bermain bola bersama lalu begitu suasana menjelang senja, Iwan terlihat sedang melepas kepergian si F sambil mengenakan topi, membopong bola, sementara kantong celana sebelah kanannya penuh dengan kelereng dan kantong sebelah kirinya berisi uang sisa pembelian makanan tadi.

Melihat uang
Apakah saya masih perlu mengulas kisah dalam video itu? Saya yakin pembaca yang budiman sudah sangat memahami filosofi yang tersimpan dibalik cerita tersebut.
Betapa berfikir positif akan membawa kita kepada kemampuan utuk melihat peluang, mengejarnya dan menikmatinya. Jelas terlihat betapa produk bukanlah kekuatan yang paling penting dibanding kemampuan kita mencintai produk dan pekerjaan sehingga bisa mengganggu pembeli manapun.

Peluang ada dimana-mana, tetapi hanya sedikit orang yang mampu melihat dan memanfaatkannya dengan baik. Bagaimana dengan anda?

Previous
Next Post »