Kursus Manajemen Singkat

SAYA baru pulang dari lereng gunung Sibayak untuk pelatihan luar ruangan bagi sebuah tim pemasaran dari salah satu perusahaan besar di Medan. Dalam masa-masa istirahat selama pelatihan yang memakan waktu tiga hari itu, saya terlibat sebuah dialog dengan tiga pesertanya.
Kami banyak berdiskusi tentang perpolitikan, perkantoran, musuh dan kawan, sikap individu pekerja sukses dan sikap bisnis yang positif. Saya ingin sekali menyampaikan kepada mereka mindset adalah perkara yang amat penting dalam menyikapi berbagai permasalahan manajemen. Lalu pada akhir dari pelatihan itu, saya teringat sebuah kisah lama yang cukup populer. Kisah tentang manajemen yang amat sederhana dan singkat. Begini kisahnya:
Dimusim dingin yang membeku, terbanglah seekor burung kecil ke arah selatan demi mencari tempat yang lebih hangat. Begitu dinginnya si burung kecil ini benar-benar menjadi serba kaku membeku sehingga dia terjatuh di hamparan ladang. Tidak berapa lama setelah jatuh, lewatlah kerbau dan menjatuhkan kotorannya tepat di atas burung yang membeku tadi. Tentu saja tanpa disadari si burung, lama-lama badannya menghangat karena kotoran kerbau yang menyelimutinya. Setelah menjadi hangat si burung merasa kembali segar dan mulailah dia bernyanyi. Seekor kucing hutan merasa heran mendengar kicauan burung tidak jauh darinya. Dia heran mengapa kicaunya amat dekat dan tidak jauh di atas dahan. Lalu dia menyadari suara itu muncul dari balik kotoran kerbau yang tidak jauh darinya. Segera saja dia coba bongkar kotoran kerbau itu lalu ditarik seekor burung yang sedang bernyanyi dari dalamnya dan tidak lama kemudian memakan burung tersebut.
Betapa tragis nasib burung kecil itu, setragis nasib kita jika tidak segera memahami dan mengambil pelajaran dari kisah ini. Inilah kisah sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan bisnis dan merupakan bagian mendasar dari kecerdasan manajemen yang penting. Pelajaran apakah yang bisa kita dapatkan dari kisah burung kecil itu?
Kotoran Pelajaran pertama atas kisah itu menunjukkan betapa tidak semua orang membuang kotoran kepada kita adalah musuh. Dalam kisah di atas, kotoran yang menimpa si burung kecil adalah berkah. Kotoran itu begitu hangat sehingga menghangatkan tubuh si burung kecil dan membuatnya sembuh dari kedinginan yang membekukan dirinya.
Cobalah sadari, dalam kehidupan bisnis atau dunia kerja kita sehari-hari, kita sering menerima kritik, makian dan berbagai perlakuan tidak menyenangkan dari rekan kerja, kolega, atasan, pelanggan, pengawas dll. Cobalah sedikit saja memberikan kesempatan merenungkannya. Tidak semua 'kotoran' yang mereka semprotkan kepada kita racun dan merendahkan martabat kita.
Banyak 'kotoran' yang disemprotkan ke kita adalah serum yang akan lebih menguatkan kinerja dan kepribadian kita. 'Kotoran-kotoran' itu biasanya terasa busuk dan memuakkan diri kita, tetapi cobalah dengarkan sejenak. Kita bukan manusia yang sempurna, pasti ada sedikit kelalaian atau kesalahan kita. Biarkan mereka menjadi 'anjing' yang selalu menggonggong pada saat kita lalai atau khilaf. Luar biasa bukan? Kita memiliki alarm atau pengingat yang secara otomatis 'berbunyi' manakala kita lalai atau lupa. Kita harus memelihara alarm dan pengingat itu. Terimalah kehadiran mereka dengan kerelaan. Biarkan mereka muncul dan 'mengawasi' lingkungan kita.
Adalah tindakan yang amat kurang ajar jika kita digaji oleh atasan dengan tugas meminta tolong atasan tersebut agar mengingatkan kita atas pekerjaan-pekerjaan kita. Atau anda sudah menjadi atasan yang 'dijebak' oleh bawahan dengan selalu mengingatkan mereka?
Yang pasti, 'kotoran' memang tetap 'kotoran', hati kecil kitalah yang akan membedakannya, apakah itu kotoran yang penting dan apakah kotoran yang tidak berguna. Pandai-pandailah bersikap dan mengamati, kita dapat serum yang mengobati atau sisa kotoran yang tidak berguna?
Penolong Pelajaran kedua dari kisah di atas adalah tidak semua orang yang mengangkat kita dari kubangan kotoran adalah kawan. Kisah di atas menunjukkan si kucing bukanlah kawan bagi si burung kecil walaupun ia mengangkat si burung kecil dari kotoran yang menimpanya. Si kucing adalah orang yang memiliki niat terselubung dibalik kemauannya melepaskan si burung dari jeratan kotoran/masalah.
Tetap ingat dan waspada adalah perilaku dewasa yang sangat terpuji dan diyakini mampu mengurangi tingkat kerugian bisnis/kerja karena kelalaian. Perilaku yang penuh pencerahan adalah perilaku yang dilakoni dengan kesadaran. Cobalah untuk lebih awas dan waspada dalam melakukan segala sesuatu.
Fahamilah hampir tidak ada hal yang gratis didunia ini. Semua pihak memerlukan sesuatu, minimal menghedaki pemuasan atas kepentingan dan kebutuhannya. Ketulusan sudah menjadi bahan yang amat langka pada akhir-akhir ini. Jadi waspadalah atas tawaran bantuan oleh pihak lain. Tawaran yang penuh 'kehendak' biasanya ditampilkan dengan amat menarik. Jarang seseorang menawarkan sesuatu dengan percuma. Maka, tetaplah awas dan selalu waspada.
Diam Pelajaran ketiga dari kisah burung kecil itu diatas adalah bahwa lebih baik diamlah pada saat kita sedang dalam kesulitan. Dalam kisah diatas, kicauan burung itulah yang mengundang kucing untuk mencari dan memakannya pada akhirnya.
Pesan moral cerita ini adalah selalu cerdas menahan diri untuk tidak asal berkicau. Dalam kehidupan keseharian, acapkali kita mudah terpancing untuk bernyanyi pada saat senang dan mengeluh pada saat sakit. Segala 'bunyi' yang keluar dari mulut kita akan diterjemahkan pihak lain untuk mengetahui situasi kita. Ingat pepatah lama, hati kecil adalah ibarat kendi bermulut kecil yang tidak dapat kita ketahui kedalamannya, kita hanya akan tahu dari yang dikeluarkannya.
Yang lebih jelas adalah tiadalah orang lain yang mau asal mendengar keluhan-keluhan kita. Orang lain lebih siap mendengar tawa kita. Lalu sadarilah tidak semua kesulitan adalah akhir dari segalanya, jadi janganlah kita jual harga diri pada saat kita sulit dan menjadi tidak bermuka begitu waktu berlalu dan menyelesaikan permasalahan kita. Itupun jika kita tidak binasa karena 'kicauan' kita yang didengar 'pemangsa' yang berpura-pura menjadi 'dewa penolong'.
Previous
Next Post »