PERSEPSI = REALITA


SAAT gedung word trade centre yang di New York di terjang pesawat teroris, salah satu media global yang pertama memberitakannya adalah CNN. Dalam laporannya, sangat jelas terlihat dalam gambar yang ditampilan berupa kehancuran, kesedihan, dan kengerian yang mendalam. lalu dalam laporan yang sama dimunculkan gambar sisi lain berupa orang-orang bersorak sorai turun ke jalan dan terlihat seperti sedang merayakan sebuah kemenangan. Konon menurut beberapa sumber, gambar itu adalah rekaman orang-orang di timur tengah yang sedang bergembira turun ke jalan pada tahun 1991.


Pada saat itu sebenarnya belum ada kepastian siapa kiranya yang melakukan hal itu. Apakah benar kelompok muslim garus keras? Apakah benar anggotanya Osama Bin Laden? Atau kelompok lain? Pihak redaksi CNN berasumsi bahwa merekalah sebebarnya pelaku utamanya. Karena CNN dianggap sebagai lembaga penyiaran yang kredible, maka langsung saja Berita pada siaran itu disebarluaskan keseluruh dunia dan tanpa konfirmasi apapun diteruskan oleh berbagai stasiun televisi termasuk di Indonesia. Apakah sampai hari ini sudah jelas terbukti siapa pelaku teroris atas gedung itu?


Hingga saat ini hampir seluruh penduduk bumi ini menganggap bahwa osama bin ladenlah pelakunya dan mulailah terbentuk pikiran-pikiran negatif atas kelompok religi tertentu gara-gara pemberitaan yang berdasar asumsi tersebut.
Kisah nyata lain yang semakin memberikan petunjuk betapa persepsi sangat penting adalah kesengsaraan yang terjadi di Negara Irak saat ini. Betapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat akhirnya menyerang kedaulatan sebuah negara karena berasumsi bahwa ada laboratorium serta pabrik senjata kimia yang di kembangkan oleh Sadam Husein. Sayangnya kecurigaan itu tak pernah terbukti sedikitpun hingga saat ini setelah jatuh korban yang amat banyak.


Betapa asumsi adalah kotak anak tangga terdekat dengan persepsi, lalu persepsi inilah yang menjadi kenyataan adanya.

Manfaatkan
Benar bahwa tidak semua penduduk bumi ini memiliki kejernihan berfikir dan bertindak. Mayoritas manusia berlaku asal melihat, asal berfikir dan asal bertindak. Dan tidak perlu di khawatirkan karena itulah prototipe standard yang diciptakan Tuhan. Lihatlah dari sisi baiknya, ini adalah peluang dan senjata untuk bisa meningkatkan potensi bisnis dari siapapun.

Coba anda sadari bahwa sebenarnya kata ‘kualitas’ ternyata ada dua pemahamannya yang pertama adalah kualitas aktual yang sebenarnya (actual quality) dan kualitas secara anggapan (perceived quality). Kualitas Aktual adalah realita, Kesan Kualitas adalah persepsi. Tapi bagi konsumen yang berlaku adalah “persepsi adalah kualitas”.

Ada beberapa produk sepeda motor buatan Jepang. Pada kelas cc yang sama harganya berbeda karena salah satunya dianggap lebih baik bahkan harga jualnya juga tetap tinggi. Padahal beberapa merek yang lain juga cukup unggul, tangguh dibuktikan dalam berbagai pertandingan dan teknologinya juga maju pesat.

Banyak ahli mengatakan bahwa konsumen zaman sekarang semakin kritis, rasional, dan sadar akan haknya. Konsumen tidak mau lagi dicekoki dengan janji surga. Meningkatnya tingkat edukasi masyarakat dan pendewasaan konsumen melalui kehadiran beragam kompetitor dan program kompetisi baru membuat konsumen semakin kritis dan memahami haknya.
Pernyataan tersebut diatas saya setujui, tetapi jelas bahwa perilaku dasar manusia tidak juga berubah secepat perubahan jaman ini. Pasar kita tetap saja manusia dengan karakter yang sama, memiliki dua mata, dua telinga tetapi bermulut satu serta penuh kekurangan dan keterbatasan. Mereka tetap saja cepat mengambil kesimpulan, mudah diarahkan dengan cara-cara yang sesuai disituasinya.

Saya ingat sebuah merek sabun detergen yang menebarkan pesona dengan edukasi. Mereka mengandalkan slogan ‘mencuci sendiri’ pada saat pertamanya karena saat itu belum banyak mesin cuci dan mencuci dengan tangan sangatlah melelahkan. Begitu bermunculan banyak kompetitor, mereka menggantinya dengan ‘mencuci lebih bersih’ hingga beberapa tahap kemudian lalu akhir-akhir ini memunculkan pengertian bahwa ‘berani kotor itu baik’. Ada unsur edukasi solusi dan rasa keberpihakan kepada konsumen disana. Mereka mempersilahkan kita untuk tidak takut kotor, karena produk mereka akan menyelesaikan kotor tersebut. Jadi tidak perlu khawatir. Lihatlah betapa kita diarahkan kepada persepsi tertentu yang mereka harapkan.

Tebar Pesona

Sungguh perusahaan jaman sekarang tidak lagi harus selalu menuruti maunya konsumen. Mengapa? Karena konsumennya makin pintar dan menuntut. Kalau bertanya pada konsumen, tentu mereka akan meminta produk berkualitas tinggi, gampang diperoleh, harga murah, memberikan kebanggaan dan berbagai keistimewaan lainnya. Apakah anda sanggup?

Untuk itu sangat penting kita memiliki pesona sehingga pasar tetap berorientasi kepada kita. Pesona yang mantap adalah gerbang sukses. Jadi, tebarlah pesona positif, tentu saja dengan dukungan kualitas dan nilai yang dinikmati konsumen. Proses tebar pesona baru disebut berhasil kalau pesona yang dihasilkan sesuai dengan esensi pesona yang diharapkan oleh pemasar, bukan oleh konsumen. Pemasarlah yang menentukan kearah mana pesona tertebar, seperti apa pesona yang terjadi dan lainnya. Kalau pesona dibangun hanya berdasarkan ekspektasi konsumen akan dengan mudah terjatuh dalam kompetisi. Sebagai contoh, jika perusahaan yang punya tradisi kualitas dengan menggunakan bahan baku biasa dan proses produksi yang massal lalu dipaksa untuk membangun pesona sebagai produk berharga premium pasti tidak akan lama akan jatuh dan mati.

Pilihlah esensi pesona yang diharapkan, fokus dan amanti kekuatannya, apakah produk kita penuh pesona kualitas, pesona harga, pesona gengsi, pesona banyak hadiah atau pesona lainnya. Pesona yang abstrak akan menyulitkan konsumen untuk memahami dan mengingatnya. Untuk itu diperlukan picu pesona unik seperti kemasan, selebritas yang menjadi endorser, iklan kolosal, dan sebagainya. Salah satu supermarket raksasa tiap minggu mengiklankan dengan besar-besar produk yang amat murah sebagai cara membangun persepsi pesona harga murah.

Esensi pesona yang baik baru akan menjadi kenyataan kalau dikomunikasikan dengan baik. Monitoring respons positif atau negatif dari konsumen adalah langkah bijak untuk memastikannya. Bila gagal, segeralah rubah sinyal pesona, cara komunikasi, dan esensi pesona. Perubahan ini juga bagus untuk menyegarkan perhatian konsumen. Jadi selalu tebarlah persepsi positif dan panenlah keuntungan karenanya.



Previous
Next Post »