"Hepeng Mengatur Nagaraon"


"JANGANKAN kita, batu kering pun bisa diperas dan keluar airnya." Ini pernyataan dari seorang pengusaha yang pernah merasa diperas oleh oknum penguasa dalam menjalankan bisnisnya. Sebuah kenyataan dari sebuah rahasia umum bahwa hukum rimba berkuasa dalam roda kehidupan zaman ini.

Konon saat ini tidak ada lagi lantun nyaring pekik MERDEKA. Sudah sulit menemukan rasa merdeka dalam berbisnis di negeri yang mengaku sudah terbebas dari penjajahan ini. Pekik merdeka memang lantang disuarakan orator-orator politik yang hendak menjaring dukungan massa, tetapi terasa jelas bahwa pekik merdeka itu bergema dengan buntut tatapan tajam yang mengatakan, "bersiap-siaplah, tunggu saya jadi harimau, nanti saya akan terkam kalian satu per satu"

Sadarilah para pengusaha, sekarang anda adalah mangsa yang empuk sedang dikelilingi oleh algojo-algojo yang buas dan kelaparan. Mereka berkeliaran mulai dari proses perizinan, permodalan, operasional bisnis, sampai kepada pekerja anda sendiri. Mereka ada yang pakai dasi, pakai seragam, pakai jas, ada juga yang 'tidak berpakaian' apapun.

Bukan rahasia
Siapa yang tidak tahu, bahwa semua hal membutuhkan uang. Bahkan mati pun bukan lagi perkara yang harus dipasrahkan saja, karena setelah mati kita tetap memerlukan biaya. Yang menjadi alasan mengapa pengusaha harus serba waspada adalah kenyataan bahwa semua orang kini sepertinya harus mengeluarkan dana untuk menjabat jabatan pelayanan umum.

Bukan rahasia umum berapa puluhan hingga ratusan juta rupiah yang diperlukan untuk menjadi seorang anggota legislatif tingkat kabupaten, jangankan sampai anggota legislatif, untuk menjadi ketua partai politik tingkat kabupaten saja demikian. Lalu, berapa miliar rupiah yang diperlukan untuk menjadi seorang bupati/walikota.

Bukan hal aneh jika seseorang juga memerlukan dana yang tidak sedikit untuk menjadi seorang pegawai negeri, polisi atau tentara. Setelah masuk menjadi abdi negara pun mereka harus mengeluarkan sejumlah dana agar bisa ikut pendidikan hingga berpeluang naik pangkat. Jika mereka menghendaki mendapatkan jabatan tertentu, daftar harganya sudah sangat jelas. Bukan rahasia jika untuk menduduki jabatan komandan keamanan tingkat kecamatan saja, seseorang memerlukan biaya puluhan juta rupiah. Konon tingkat kabupaten atau provinsi?

Pertanyaan yang juga bukan rahasia adalah bagaimana mereka mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannya? Apa benar ada cinta sejati yang selalu penuh dengan pengorbanan? Jadi bukan lagi rahasia umum, jika para penguasa berlomba-lomba menciptakan berbagai cara agar modalnya bisa kembali. Dan semuanya ingin untung bukan sekadar impas.

Selama Ayam Masih Mau Makan Jagung...
Anda semua pasti sudah paham dan bisa melanjutkan sub judul diatas. Kompetisi untuk mendapatkan jabatan amanah rakyat sudah tidak lagi bisa dipercaya. Tokoh sekarang bukan lagi karena kearifan dan kecendekiawannannya, tetapi karena ketebalan uangnya. Cocoknya lagi, tokoh yang tebal uangnya tersebut sangat yakin, selama ayam masih mau makan jagung, pasti tidak akan menolak jika diberikan jagung kepadanya.

Orang kebanyakan mengakui bahwa perlu langkah yang arif dan bijak untuk kesehatan kehidupan dimasa yang akan datang, tetapi semua orang juga menyadari proses itu memerlukan waktu yang panjang, disisi lain hampir semua orang sedang merasa sangat lapar pada saat ini. Disinilah bertemunya mobil dengan garasinya. Satu pihak sedang perlu uang dan pihak lain sedang perlu dukungan dan memiliki uang.

"Takut dengan hari kiamat", bukan lagi kalimat yang sering kita dengar. Kita akan menerima apapun agar kita bisa kenyang, walaupun perut kita sudah buncit. Mereka yang membutuhkan kita juga tidak lagi tergerak hatinya karena sudah tidak lagi sering mendengar kalimat tersebut.

Keamanan dan sosial?
Siapa yang tidak merindukan keamanan? Semua pihak mau aman. Karena permintaan rasa aman ini, munculah berbagai praktik bisnis yang menjual jasa keamanan. Sayangnya praktek bisnis ini cenderung memeras daripada menjual jasa keamanan.

Banyak pihak berlomba-lomba membuat lembaga yang seolah-olah sangat legal dan mendapat wewenang untuk meminta uang jasa keamanan di areal kekuasaannya. Mereka berlaku seperti seorang raja yang harus dipenuhi semua titahnya jika kita ingin aman dari gangguannya.

Ada yang menyebut dirinya pemuda setempat, ada yang menyebut dirinya jasa bongkar muat, tapi angkat barangpun tidak dikerjakan. Hanya angkat kuitansi untuk mendapatkan uang dari targetnya. Ada lagi yang berkedok organisasi kepemudaan, bahkan ada juga yang berkedok koperasi dari lembaga keamanan yang legal. Pada kalangan tertentu, ada pemikiran bahwa pengusaha adalah mahluk Tuhan yang banyak uangnya, mudah di tekan dan harus takluk karena mereka mengambil keuntungan dari lingkungannya. Apakah anda menyadarinya?

Contoh-contoh dari kenyataan pemikiran tersebut adalah satu bulan menjelang hari ulang tahun kemerdekaan republik tercinta ini, sudah banyak proposal-proposal sumbangan dengan dalih merayakan hari kemerdekaan. Hari kemerdekaan sudah tidak lagi bermakna merdeka. Masih banyak praktik meminta sumbangan dengan memaksa dan tidak menghormati asas kemerdekaan itu sendiri.

Bagimana dengan kita?
Siapa lagi yang bisa dimintai perlindungan selain Tuhan? Hukum apalagi yang masih bisa dipercaya oleh masyarakat dinegeri ini? Apakah memang hukum rimba harus terus terjadi? Jika belajar dari binatang-binatang yang sering terancam pembunuh, mereka akan selalu menggunkan kekuatan kolektif untuk bertahan. Hanya kijang yang terpisah dari kelompoknya yang akhirnya menjadi santapan harimau. Apakah kita tidak bisa belajar?

Satu lagi, penyuapan merupakan suatu kemunduran bagi semangat etika religius. Secara hukum dan pertimbangan moral, suap itu berada di luar perilaku yang dianggap pantas di banyak negara. Tetapi bukan juga rahasia, suap dikerjakan oleh para pengusaha untuk melancarkan usahanya. Sayangnya pihak-pihak penguasa juga senang dengan tawaran suap tersebut. Inilah sumber malapetaka mengglobal di negeri tercinta ini.

Jadi siapa dulu yang seharusnya berubah? Ayamnya atau telurnya? Pengusahanya atau penguasanya? Proses kompetisi yang bersih dan sehat dalam bisnis sulit sekali ditegakkan. Apakah benar bahwa bisnis hanya bisa berjalan jika praktek suap dikerjakan? Apakah tidak ada lagi nurani untuk memulai kerbersihan batin dengan membersihkan diri dari praktik tersebut?

MERDEKA ...! 60 tahu yang lalu, pada tanggal-tanggal sekarang ini adalah waktu yang sarat dengan komitmen untuk perjuangan tanpa pamrih demi menjadikan sebuah bangsa yang merdeka, lepas dari segala belenggu penjajahan dan menjadi manusia yang bermartabat. Sekarang, walupun semangat ini sudah pudar, tidak salah kalau kita harus mulai belajar untuk berani meneriakkan semangat kemerdekaan ini.

Kini saatnya para pengusaha berani untuk merdeka dari jajahan pungutan liar, dari jajahan para penguasa yang zalim, merdeka dari ancaman premanisme dan merdeka dari perilaku merusak mental masyarakat dengan meninggalkan suap. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi?
Previous
Next Post »