Pengalaman Lae Sinaga Belajar Mengambil Keputusan


“Ku ambil apa tidak ya?” demikian tanya hati Lae Sinaga, ketika ia mendapatkan sebuah pesawat ponsel tergeletak begitu saja dikursi sebelah tempat duduknya dalam penerbangan dari Jakarta ke Medan minggu lalu.
Hati Lae Sinaga benar-benar bimbang dan gusar, sebelah hati ingin memiliki HP itu karena dari merek dan bentuknya terlihat jelas bahwa itu adalah HP yang mahal dan bagus. Tetapi disebelah hati yang lain, ia merasa tidak berhak atas barang itu.
Dalam kisahnya setelah pendaratan, ia mengatakan kepada saya bahwa selama 2 jam penerbangan itu Ia sangat lelah karena gara-gara HP tak bertuan itu. Kecamuk pikiran dan perasaan bermain dengan amat deras dan tajam.Sempat ia berkata dalam hatinya, ”Kasihan kali pemilik HP ini, jangan-jangan HP ini milik penumpang sebelumnya yang baru saja datang pertama kali ke Jakarta” jelas Lae Sinaga, lalu, “Pasti orang itu benar-benar sial dan semakin yakin bahwa Ibu Kota memang kejam, buktinya belum juga sehari di Jakarta, Hpnya sudah hilang!”.
Lae Sinaga mencoba memperhatikan sekelilingnya, tak nampak seorang pun diantaranya yang terlihat gelisah karena kehilangan HP mahal, lagi-lagi ia tergoda untuk memilikinya tetapi cepat saja ia urungkan niatnya, Saat itu Lae Sinaga masih ingat dosa.
Dalam kecamuk pikirannya, mulailah berlalu lalang para pramugari yang melayani penumpang. Kemudian Lae Sinaga terfikir untuk memberikan saja kepada pramugari yang sedang bertugas itu. Saat mulai melihat-lihat wajah pramugari yang bertugas satu-persatu ia menjadi bimbang, apakah orang-orang ini bisa dipercaya dan sanggup mengembalikan HP sial itu kepada pemiliknya. Dalam pikiran Lae Sinaga, mulai terfikir bagaimana cara pramugari itu mengumumkan HP tak bertuan itu atau jangan-jangan akan didiamkan saja untuk pribadinya sendiri. Setelah bebrapa lama, Lae Sinaga mencoba memberanikan diri menguji si Pramugari dengan pura-pura bertanya harga-harga souvenir yang dijual di penerbangan itu. Saat ia tidak boleh menawar harga souvenir yang ia tunjuk, Lae Sinaga langsung memutuskan bahwa ia tidak bisa percaya dengan pramugari tersebut.
Singkat cerita, Lae Sinaga benar-benar tersiksa dengan pikirannya atas HP tak bertuan itu. Selama 2 jam penerbangan, tak sedetikpun ia bisa berpaling memikirkan HP dan cara menyelesaikan permasalahannnya. Bahkan ketika ia berfikir untuk pindah tempat duduk, ia lagi-lagi terfikir kalau-kalau malah HP itu diambil orang jahat dan tidak dikembalikan kepada pemiliknya yang sah.

Manajemen = keputusan
Kisah nyata diatas adalah gambaran mengenai inti dari kata manajemen. Ya... Keputusan! Keputusan adalah nyawa dari manajemen. Manajer/pimpinan dan siapapun yang mengambil keputusan, dituntut untuk bisa mengambil keputusan dan memutuskannya dengan cepat, tepat dan bermanfaat.
Mengendalikan perusahaan/manajemen tidaklah cukup sekedar memiliki nurani dan logika. Lihatlah betapa Lae Sinaga terjebak oleh nurani dan pikirannya hingga ia berlarut-larut terjebak didalamnya.
Benar bahwa seorang pemimpin harus amanah, tetapi ia juga harus sadar bahwa ia bukanlah Dewa atau Tuhan yang serba sempurna. Ia harus sadar bahwa semua keputusan selalu membawa serta konsekuensi logis. Tidak ada tindakan tanpa resiko. Yang ada hanyalah kesempatan untuk mengurangi resiko itu sendiri.
Lae Sinaga benar-benar belajar dan memahami apa yang pernah disampaikan oleh Anthony Robin dalam sebuah pelatihannya; ia meminta semua peserta mengangkat gelas masing-masing dan menanyakan seberapa berat gelas itu. Lalu para peserta mulai menjawab dengan berbagai ukuran seperti 2 ons, 3 ons 5 ons dan sebagainya. Sementara itu, yang dimaksud Anthony robin bukanlah ukuran beratnya, tetapi seberapa lama mereka mampu memegang beban itu. Memang gelas itu katakanlah hanya 2 ons, tetapi jika memegangnya selama 1 jam,1 hari, 1 minggu, 1 tahun dan seterusnya, pasti tangan kita akan patah. Demikian juga dengan sebuah beban permasalahan, biarpun permasalahan itu ringan dan sederhana, tetapi jika kita menahannya dan membiarkannya berlama-lama, tentu kita akan tersiksa dan menderita berkepanjangan.
Memutuskan segala sesuatu memang harus cepat dan tepat. Untuk itu sangat diperlukan data yang akuran sebagai bahan pertimbangan atas keputusan tersebut. Data adalah nyawa dari sebuah keputusan. Tepat dan tidaknya keputusan jelas karena faktor data. Disisi lain, mengumpulkan data adalah seni pengambilan keputuan yang harus dipelajari oleh semua pengambil keputusan.
Dalam kasus Lae Sinaga, jelas terlihat bahwa ia tidak memiliki data yang akurat tetapi ia tidak berusaha mengumpulkannya dari pihak lain. Lagi-lagi ia mengandalkan ‘kehebatan’ pikirannya yang terbatas itu. Ia tidak tahu kalau semua penerbangan memiliki standar prosedur operasional atas semua harang hilang atau yang ditemukan (Lost & Found). Ia hanya mengandalkan intuisinya yang belum terlatih dengan sering mengambil keputusan. Lae Sinaga juga terlalu memainkan nuraninya tanpa berfikir logis. Ia hanya main perasaan dan benar ia tersiksa selama 2 jam penuh.

Save By The Bell
Untung saja pesawat segera mendarat, sehingga tidak ada pilihan lain bagi Lae Sinaga untuk lagi-lagi menunda mengambil keputusan dan berlarut-larut menggendong permasalahan tidak penting di pundaknya. Ia terselamatkan karena memang pesawat harus mendarat di Bandara Polonia Medan.
Ia menunggu semua orang berdiri dan membawa barang masing-masing, lalu pada akhirnya ada seorang pria setengah baya yang terlihat gusar, meraba-raba kantongnya, membuka-buka tasnya, dan terlihat panik. Lalu Lae Sinaga bertanya apa ada yang hilang dan benar ia mengaku Hpnya hilang, tanpa berfikir panjang Lae Sinaga memberikan Hp disebelahnya dengan perasaan lega.
Lae Sinaga terbebas dari beban berat selama penerbagan 2 jam dan pemilik HP itu terbebas dari beban berat kurang dari 5 menit.
Previous
Next Post »