Merdeka dari 7 Belenggu Dalam Memulai Bisnis


MERDEKA…! Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 62. salam ini sengaja saya pilih untuk memastikan agar setiap dari kita terbebas dari beban dan belenggu yang membatasi diri kita.
Ide tulisan ini berangkat dari sebuah obrolan saat merayakan HUT RI dengan beberapa tetangga dan kerabat. Dalam pembicaraan itu tersepakati bahwa untuk menjadi pribadi yang merdeka secara finansial, bagusnya kita tidak lagi makan gaji.
Untuk melengkapi obrolan itu, -- dan saya yakin sidang pembaca layak mengetahuinya – saya tuliskan beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan dalam memulai berbisnis. Ini menjadi harapan agar sidang pembaca yang budiman tidak lagi mengalami kesulitan seperti yang orang lain pernah lakukan seperti berikut ini.

Mau bisnis apa?
Ya, Mau bisnis apa? Karena kurang data dan kreatifitas, kita terbiasa latah dan ikut-ikutan. Padahal kecerdasan memilih bisnis adalah salah satu indikasi talenta kewirausahaan.
Tetapi jangan takut, karena kunci untuk memilih bisnis menjadi sangat mudah jika kita memahami, PASAR yang tersedia, PESAING yang ada, PRODUK yang hendak kita kerjakan, SUMBER DAYA yang kita miliki.
Untuk mencari ide bisnis, anda tak harus mengandalkan kemampuan ‘daya khayal’ diri sendiri. Bergabunglah dengan komunitas ‘kedai kopi’ – tapi jangan lama-lama—lalu kumpulkan banyak ide dari pemimpi disana dan jangan lupa berkumpul dengan komunitas pebisnis. Nanti ide akan mengalir seliweran dari mereka.

Tidak segera mulai
Segera pilih salah satu dari ide yang paling briliant. Abaikan alternatif-alternatif yang kebanyakan, karena akan mengurangi konsentrasi anda. Ingat, ‘bepeganglah dengan erat kepohon yang sudah anda pegang, terlalu sering melompat, akan berpotensi menjatuhkan anda’.
Mimpi menjadi orang kaya memang menarik dan membuat bahagia, tetapi jika kita tidak segera memulainya, kita hanya akan menjadi pelanggan kedai kopi yang penuh dengan konsep, cakap besar tapi membayar kopinya sendiripun harus ngutang.
Ingat semua yang besar bermula dari yang kecil, semua yang sukses bermulai dari gagal. Boleh berfikir besar tetapi kerjakan dari yang kecil, yang mudah, dari sekarang. Tak perlu menunda waktu. Untuk memiliki sekolah swasta dengan ribuan siswa, bisa segera anda mulai dengan 1 orang siswa di teras rumah anda, sekarang. Kita harus menyadari, bahwa ‘pelaut ulung hanya diciptakan oleh lautan yang ganas’.
Bisnis yang kita pilih tidak harus hal yang kita ketahui, memang sangat bagus jika bisnis bermula dari hobby, tetapi ingat bisnis adalah seni yang tidak berperasaan, jadi tak usah melo sekali dalam mengerjakannya.

Modal
Menunggu modal terkumpul adalah aksi yang paling menjengkelkan. Karena nilai uang yang kita kumpul semakin hari semakin merendah. Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa kemampuan mengumpulkan modal tidaklah secepat pergantian waktu. Yang lebih lucu adalah, niat menabung selalu kalah dengan upaya memaafkan diri saat terpaksa menggunakan uang tabungan itu untuk keperluan lain yang seolah-olah penting dan mendesak.
Seorang sahabat yang juga pebisnis sukses pernah mengatakan rahasia yang menarik, “bisnis yang paling bagus adalah menggunakan otak orang lain, uang orang lain dan tenaga orang lain”.
Saya pikir anda sudah paham akan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut diatas.

Sewa Kantor?
dalah membuang energi yang amat besar jika kita memaksa diri harus menyewa kantor, untuk memulai bisnis jika kita belum memiliki modal yang cukup. Tak semua bisnis harus memiliki kantor yang layak dan mentereng.
Gengsi memang penting untuk permainan permukaan dan mempengaruhi orang lain, tetapi nyawa bisnis yang utama adalah ketekunan dan kesabaran tanpa gengsi. Ingat, gengsi berbiaya mahal dan gengsi tidak memberikan kita makan. Gengsi tidak pernah akan menyekolahkan anak kita.
Mulai saja dari emperan rumah, teras, garasi atau bahkan bawah pohon diseberang jalan. Sekarang fasilitas komunikasi menjadi lebih mudah tanpa harus memiliki pos yang permanen. Telepon sudah bisa dibawa-bawa dan internet sudah bisa diakses dimanapun, bahkan perbankan pun lebih senang jika nasabahnya tidak banyak mengantri dikantor kas mereka.

Tak ada sekolah bisnis
Sepertinya belum ada sekolah yang bisa mengajari kita untuk menjadi orang kaya. Semua kurikulum dalam sekolah di tataran apapun, biasanya hanya untuk meningkatkan kapasitas diri untuk memperkaya orang yang sudah kaya.
Bisnis membutuhkan pengetahuan, itu jelas dan pebisnis harus memiliki pengetahuan itu. Sayangnya, si pemula hanya kebingungan kemana mencari gurunya, padalah banyak sekali contoh dan guru disekitarnya. Yang diperlukan adalah bergaul dengan mereka dan mendapat cerita pengalamannya, bekali diri dengan pengetahuan melui buku-buku binis atau gunakan internet untuk mendapatkan semua informasi itu.
Kebanyakan pebisnis pemula di Indonesia mendapatkan kesulitan itu karena membaca bukanlah kultur kita.

Menunggu dukungan
Memang anda hidup bersama orang lain, mungkin pacar, istri, keluarga, sahabat dll. Tapi ingat, soal uang itu urusan masing-masing. Mereka boleh berpendapat tapi andalah yang berkuasa mengambi keputusan. Jika keputusan anda salah, jangan khawatir. Secara rata-rata, seseorang akan sukses setelah 3 hingga 5 kali gagal atau jatuh.
Saya sering mengatakan bahwa bisnis adalah media religius untuk mengantarkan diri menuju Tuhan. Ini jelas terjadi karena kita tidak bisa mengandalkan dukungan dari orang lain. Kekuatan kedewasaan batin diri sangat dibutuhkan untuk mengarah kepadaNya, sama seperti bisnis yang menutut independensi serupa.
Pada saat anda hanya sendiri, pertanyaannya adalah apakah anda akan tetap yakin akan peluang itu, walaupun anda sendirian di dunia ini yang percaya terhadap peluang itu?

Invest dan hasil
Invest dulu, lalu menunggu hasil. Itulah kesalahan yang paling sial. Hanya bisa buat trus bingung kemana cari pembeli. Yang cerdas adalah cari pembeli dulu, dapatkan kontrak kerja, dapatkan panjar dan setelah itu baru buat produknya.
Previous
Next Post »