Optimalisasi Media Promosi




Selalu saya katakan, bahwa mutiara baru bisa sah disebut mutiara jika sudah terjalin melingkar di leher perempuan. Mutiara yang masih dalam lumpur bagi saya adalah lumpur.

Proses awal agar mutiara dikenal orang dan dimanfaatkan adalah promosi. Sebuah langkah memperkenalkan diri kepada sasaranya sebelum transaksi lanjutannya. Dengan promosi, produk unggulan kita berpotensi dilirik dan diminati oleh pangsa pasar yang kita kehendaki.

Promosi bisa dikatakan sebagai kabut yang menyelimuti pasar, bukan kunci utama terciptanya transaksi. Tetapi, promosi adalah hal wajib untuk dilakukan jika kita ingin memasarkan sesuatu.
Efektifitas promosi sangat tergantung medianya, isi pesannya, jumlah dan durasi penyampaian serta kecerdasan untuk memasuki alam dasar pikiran banyak orang. Disisi lain, adalah kenyataan semua manusia modern sudah memasuki era over-comunicate –kelebihan informasi--. Manusia modern cenderung tidak lagi mampu menerima pesan-pesan karena sudah terlalu banyak informasi yang diterima dan melampaui kapasitas kerja otaknya. Jadi hanya pesan-pesan yang istimewa saja yang sanggup menggemingkan seseorang di era ini.

Tanda-tanda seseorang sudah kelebihan informasi misalnya; sudah tidak lagi perduli apapun isi spanduk yang melintang di jalan yang ia lewati, sudah tidak lagi sempat membaca iklan, sudah tidak lagi bisa membaca semua berita di koran yang ia pegang, sudah tidak lagi sempat membaca tulisan yang ada pada kemasan makanan yang ia konsumsi dan sebagainya.

Media & Efektifitasnya
Baiklah, coba fokus kepada salah satu kunci sukses berpromosi yaitu faktor media yang digunakan untuk berpromosi. Media promosi adalah alat penghantar pesan promosi tersebut. Media promosi yang paling tua dan sangat efektif adalah media dari mulut ke mulut. Menggunakan media ini memang sangat efektif, tetapi kurang efisien karena kecepatan penyampaianya kurang bisa diukur dan diperkirakan.

Media promosi yang klasik mungkin saja berupa; brosur, poster, booklet, leaflet, spanduk, baligho, billboard, neon box, standing banner, kartu nama, kop surat, seragam pegawai, jam dinding, poster di mobil/truk, piring/gelas, iklan di tv, radio, spanduk terbang (ditarik pesawat), balon udara, iklan di media cetak, daftar menu, daftar harga dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada satupun media yang sangat tepat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Artinya, jika kita hanya menggunakan satu media untuk mempromosikan produk kita, jelas secara pasti efektifitasnya menjadi terbatas.

Iklan di koran, memang bisa menjangkau lebih banyak orang dan menghemat biaya distribusi tetapi usianya kurang dari 24 jam saja. Selain itu, koran hanya terbaca oleh orang-orang tertentu saja. Karena tidak semua orang membaca koran dan jumlah penerbit koran sudah lumayan banyak dengan pembaca yang berbeda-beda. Hanya orang tertentu yang berlangganan koran lebih dari satu buah.

Iklan di radio cukup mempengaruhi pendengarnya karena ia masuk melalui media pendengaran, tetapi usianya hanya beberapa detik dan hanya pada jam-jam tertentu saja radio memiliki banyak pendengar.

Promosi dengan brosur, cenderung lebih murah dan bisa diarahkan penyebarannya, tetapi kita semua tahu bahwa brosur yang dibagikan tidak pernah terbaca sampai habis dan usianya kurang dari 30 menit begitu sampai ditangan seseorang.

Promosi dengan billboard memang cukup mengundang perhatian pengguna jalan karena bentuknya besar dan kadang dilengkapi lampu penerang, tetapi pesan yang disampaikan menjadi terbatas karena rata-rata billboard harus sudah selesai dibaca dalam hitungan detik.

Optimalisasi Pemanfaatan Media
Coba pastikan berapa media promosi yang sudah anda gunakan? Lalu sepuas apa anda atas hasilnya? Sudah jelas bahwa masing-masng media memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan kita harus menggunakan beberapa darinya untuk memastikan agar pesan kita melingkupi semua target kita dari semua sisi. Penyampaian pesan promosi menggunakan media tunggal saangat beresiko. Karena karakter media tersebut membatasi penyampaiannya kepada target yang hendak kita tuju.

Banyak strategi pemasaran yang gagal karena membatasi penggunaan media promosi yang berfariatif. Apakah anda juga masuk golongan yang hanya mengandalkan iklan di satu koran saja. Sayang bukan?

Ada dua alasan tidak memanfaatkan media promosi yang berfariasi yaitu karena ketidaktahuan dan hambatan anggaran. Sementara kita sudah paham bahwa biaya promosi adalah ibarat umpan pada saat memancing. Besar-kecil umpan berhubungan langsung dengan besar-kecilnya hasil yang akan kita dapatkan. Umpan adalah sesuatu yang harus kita relakan terbuang.

Teknik memanfaatkan media promosi secara optimal adalah sebuah kecerdasan yang bisa dilatih. Yang diperlukan untuk membangun kecerdasan itu adalah kemampuan pengamatan yang jeli serta kemampuan menciptakan kreasi agar pesan-pesan yang kita sampaikan mampu menembus alam bawah sadar target kita.

Contoh dari kecerdasan itu adalah misalnya; dalam hal menggunakan media koran. Kita memiliki banyak pilihan berpromosi melalui media ini. Yang paling kasik adalah beriklan di bagian iklan kecil/baris (dihalaman yang sudah ditentukan), lalu iklan kolom (boleh memilih halaman yang diminati dan bisa berwarna), atau iklan kuping (di kanan/kiri nama koran), berupa advertorial (pariwara) atau berupa berita.

Kesemua pilihan tersebut diatas memiliki karakter yang berbeda-beda. Iklan baris/kecil biasanya cukup murah, tetapi jelas tidak dibaca oleh setiap orang. Iklan kuping umumnya mahal tetapi sangat efekti karena langsung terlhat pada saat orang belum membuka seluruh halamannya. Pariwara bisa memuat pesan yang banyak dan lebih menarik karena bisa disertakan foto dan ditulis dalam gaya bahasa laporan tapi biasanya berbiaya lumayan besar. Iklan melalui berita cenderung lebih hemat (maaf, paling uang kopi untuk wartawannya) tetapi kita harus menciptakan sesuatu agar memiliki nilai berita seperti aksi sosial, penciptaan tehnologi baru yang penting untuk publik dan sebagainya.

Jadi sekali lagi, walaupun kita masih menggunakan media promosi yang klasik, tetapi kita harus jeli mengamati kebiasaan dari target kita dan tahu memilih media yang tepat untuk memsatikan agar kita tidak membuang-buang biaya percumah.
telah diterbitkan oleh harian WASPADA pada tanggal 27 Agustus 2007
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
sastranesia
AUTHOR
January 28, 2013 at 3:49 PM delete

Terimakasih pak, konten yang sangat bermanfaat, sekarang sedikit banyak kita jadi lebih memahami soal promosi

Reply
avatar