5 mitos yang salah mengenai Pengusaha


CITA-CITA menjadi pengusaha amat jarang disebut oleh anak-anak jika mereka ditanya akan jadi apa gerangan kalau sudah besar nanti. Jawaban yang terbanyak adalah menjadi profesional yang nota bene adalah pekerja –makan gaji--. Jawaban yang demikian tentu itu ada penyebabnya; yaitu belum banyak orang tua yang belum menyadari bahwa menjadi pengusaha adalah salah satu cara yang terhormat untuk menjadi merdeka secara finansial.
Dewasa ini sudah mulai banyak generasi muda yang terfikir untuk menjadi pengusaha, tetapi saya masih melihat cara pandang yang salah mengenai pengusaha. Ada lima mitos yang salah mengenai pengusaha. Sehingga keinginan untuk memulai usaha agar menjadi mandiri tidak juga segera terlaksana. Inilah kelima mitos tersebut;

Harus dari Keluarga Pengusaha
Benar, belajar bisnis dari kecil memang lebih efektif. Lingkungan bisnis akan mewarnai pola pikir dan pola hidup seseorang. Tetapi syarat menjadi pengusaha harus dari keturunan pengusaha adalah mitos yang amat menyesatkan, karena jaman sekarang tidak sesulit jaman dahulu. Untuk bisa belajar berbisnis, tidak lagi harus kepada orang tua. Saat ini banyak sekali pintu untuk bisa belajar bisnis.
Mulai dari multi level marketing, seminar dan kursus bisnis, kolom-kolom bisnis di medai massa, buku-buku bisnis dan bagi yang melek internet, ada berjuta guru on-line disana.
Untuk menjadi brillian dalam berbisnis tidak harus muncul dari kepala kita sendiri. Banyak orang yang senang mencakapkan konsep bisnisnisnya, yang kita perlukan hanya menangkapnya, mengolah dan melaksanakannya sesegera mungkin.
Aturan yang berlaku dalam menjawab mitos ini adalah gunakan pikiran orang lain.

Membutuhkan modal besar
Memang benar modal memang penting, tetapi tidak semua usaha/binsis itu memerlukan modal material yang besar untuk bisa memulainya. Kalau saya amati, ternyata modal yang penting bukanlah material, tetapi kecakapan kewirausahaan.
Modal yang besar seyogyanya diberikan kepada mereka yang sudah lulus sekolah bisnis. Sekolah bisnis yang saya maksud adalah mereka-mereka yang sudah mempraktekkan bisnis sekian lama sehinga mengalami pasang surutnya bisnis dan memahami karakter dan jiwa bisnis itu sendiri.
Cara kerja bisnis sebesar apapun pada prinsipnya sama saja. Jadi lebih baik belajar berbisnis dengan memulainya pada skala kecil terlebih dahulu. Tentu untuk awal tidak memerlukan modal besar. Contoh sederhana adalah menjadi agen tiket tontonan/pertunjukkan. Anda hanya memerlukan alamat yang akan dipromosikan oleh penyelenggara pertunjukkan. Anda menjual tiketnya dan anda mendapat keuntungannya. Mudah bukan?
Aturan penting dalam poin ini adalah gunakan uang orang lain untuk bisnis kita.

Membutuhkan keahlian tinggi
Benar bahwa seseorang idealnya memiliki keahlian tertentu. Tetapi menjadi pengusaha titipan sepeda motor sepertinya sangat sederhana. Catat nomor plat sepeda motor, simpan dan terima uang. Menjual bunga juga tidak harus menjadi sarjana pertanian. Menjual Mie goreng tidak juga perlu tahu bagaimana cara membuat mie-nya.
Saya pikir, orang yang terlalu ahli, biasanya malah kurang sukses pada saat berbisnis, karena akan banyak pertimbangan serta menghendaki kesempurnaan saat memulai bisnisnya. Sementara sudah jelas, kesempurnaan bisa tercapai dengan melalui proses dan dikerjakan secara bertahap.
Disisi lain adalah salah besar memulai bisnis dengan keahlian, yang sangat penting adalah mulailah dengan memperhatikan kebutuhan pasar. Apalah artinya keahlian yang tinggi jika keahlian itu tidak diperlukan oleh pasar.
Tidak semuanya harus dikerjakan sendiri, aturan dalam hal ini adalah gunakan tenaga orang lain.

Besar Resikonya
Konsekuensi logis adalah sesuatu yang natural. Jika anda makan pasti akan jadi kenyang. Jika anda ngantuk pasti harus tidur. Kita tidak bisa memilih yang enaknya saja. Tetapi kita bisa waspada atas konsekuensi logis dari segala tindakan kita.
Masalah besar dan tidaknya resiko, itu tergantung seberapa besar keuntungan yang ingin kita dapatkan. Coba bayangkan. Apalah resiko menjual sesuatu yang bersifat kongsinasi? Apalah resiko menjadi penyalur guru les?
Jangan terjebak dalam bayang-bayang resiko sehingga anda tidak juga segera bergerak untuk memulainya. (banyak orang yang tidak segera berbisnis hanya karena ketakutan akan resikonya). Segeralah mulai resiko/konsekuensi logis harusnya membuat kita waspada, bukan menghentikan langkah dan menyerah.
Aturan penting yang berlaku untuk menghadapi mitos ini adalah keyakinan bahwa semakin besar resiko, semakin besar juga peluang yang kita dapat. Ingat, nelayan yang handal bukan terlahir dari laut yang tenang. Nelayan yang handal lahir dari laut yang bergejolak dan berombak ganas.

Rakus dan Jahat
Saya pikir pengusaha itu bukan perampok atau pembunuh. Pengusaha adalah orang yang memiliki keteguhan hati untuk mendapatkan keuntungan sebaik-baiknya dengan kewaspadaan yang tinggi serta berupaya optimal untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.
Memang banyak orang menganggap pengusaha sebagai orang yang rakus, pelit dan jahat demi mendapatkan keuntungan yang semaksimal mungkin. Jika anda yang menjadi pengusaha dan sudah menginvestasikan uang anda, tentu anda akan sayang dengan uang anda, aset dan masa depan anda, ini tentu akan meningkatkan kewaspadaan anda. Jadi jika ada pegawai anda yang membuang-buang bahan baku, tentu anda akan marah to? Dan itu lumrah bukan?
Jika ada pengusaha yang berbisnis obat terlarang, menyelundup dan memberikan upah dibawah minimal, itu jelas bukan mengusaha, tetapi penjahat yang berkedok jadi pengusaha.
Bagaimanapun juga pengusaha juga manusia biasa. Ada sisi baiknya dan ada isi buruknya. Tetapi menjadi seorang pengusaha adalah salah satu jalan yang terhormat untuk menciptakan kesejahteraan finansial serta sebagai bagian yang mendasar untuk mengantarkan diri kita mejadi manusia paripurna.
Previous
Next Post »