Mau bisnis apa yah? (kewirausahaan)



Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan tgl 8 oktober 2007 di halaman ekonomi/bisnis

BANYAK orang beminat dan berniat untuk berbisnis. Terbayang betapa enak berbisnis tanpa harus bergantung kepada pekerjaan yang tidak menjamin. Sayangnya banyak yang sudah berniat bertahun-tahun tapi hingga kini belum juga terlaksana. Kelambatan itu konon karena banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan pertama untuk berbisnis; mau bisnis apa?
Secara sederhana, perlu pertimbangan mendasar untuk memudahkan penentuan jenis bisnis yang akan dipilih, yaitu faktor pasar atau pembeli. Apalah ada pembelinya? dimana mereka tinggal, usia berapa? Jenis kelaminnya apa? Pendidikannya apa? Pendapatan rata-ratanya berapa? Seberapa besar jumlah mereka? Dan berbagai gambaran lain tetang siapa pembeli produk bisnis kita.
Adalah seorang Dr Romeo Rissal P—Pimpinan Bank Indonesia Medan— dalam obrolan off-air sebuah radio di Medan memberikan beberapa tips menarik untuk memilih bisnis. Menurut Dr. Romeo yang sarat dengan pengalaman bisnis, ada empat kriteria mudah untuk memilih bisnis, yaitu Berbisnis produk yang tidak ada dipasaran, berbisnis produk bagus yang tidak tersalurkan, berbisnis produk yang mahal/tidak terjangkau dan berbisnis karena hobby.

Produk yang tidak ada di pasaran
Sangat sempurna jika bisa berbisnis produk yang memang benar-benar baru. Makna baru, tidak saja karena benar-benar baru, tetapi bisa saja baru dalam makna pemunculan secara teritorial. misalnya, Dawet Ayu di daerah Banyumas, Jawa Tengah adalah produk lama dan cukup memasyarakat di daerahnya dan belum pernah ada di kota domisili kita. Di Padang Panjang ada makanan sate yang cukup populer dimana model sate-nya tidak seperti yang kita kenal di daerah lain. Selain di kota asal makanan tersebut, kedua produk makanan diatas jelas merupakan produk baru yang tidak ada di pasaran bagi kota-kota lain. Memilih berbisnis produk ‘langka’ memiliki potensi diterima pasar yang lebih tinggi. Keunggulan pemilihan itu adalah karena faktor rendahnya persaingan dan minat pasar yang berpotensi tinggi.
Yang perlu diwaspadai adalah bahwa ada beberapa karakter kedaerahan yang berhubungan dengan produk. Misalnya Lemang Tebing Tinggi, biarpun kita buat di Medan dengan kualitas yang baik, terkadang pasar tetap menganggap bahwa yang di Kota Aslinya jauh lebih enak. Contoh serupa yang terjadi dengan Bika Ambon yang sudah terlanjur melekat dengan nama Kota Medan, bukan sedikit toko roti di Jawa yang menjual bika ambon, tetapi yang dari Medan ‘terasa’ lebih nikmat.
Untuk mengatasi permasalahan pemikiran kederahan, mungkin bagus jika munculkan produk tersebut tanpa harus menempelkan label nama daerah asal produk itu sendiri.

Produk bagus yang tak tersalurkan
Hampir diseluruh daratan Aceh, banyak diproduksi tikar pandan yang pengerjaannya cukup rapi dan berkualitas tinggi serta kaya akan variasi motif. Hingga saat ini produksinya juga beredar hanya di daerah Aceh saja. Contoh yang sama adalah cobek batu untuk menggiling cabe dari Magelang, konon produk ini menggunakan batu yang sama dari batuan yang digunakan di Candi Borobudur.
Contoh produk diatas sangat menarik jika di pasarkan di daerah lain yang pasti belum tersedia disana. Berbisnis distribusi produk yang bermutu jelas sebuah keunggulan, apalagi untuk produk eklusif yang memang belum ada pesaingnya.

Produk yang mahal/ tidak terjangkau
Prinsipnya adalah mengkopi seperti yang dikerjakan oleh Jepang pada saat usai perang dunia ke-2. pada saat itu produk-produk unggul dari eropa dan amerika mereka rekayasa ulang dengan harga yang jauh lebih murah. Sampai akhirnya mereka memiliki keunggulan mandiri dan menjadi negera produsen yang dicontek oleh produsen di negara lain.
Memalsu jelas merupakan kejahatan intelektual, tetapi mendapatkan inspirasi dari produk lain dan memodifikasikannya saya pikir itu boleh-boleh saja. Peluang ini jelas sangat besar karena pasar sebagian besar ingin bergaya seperti ‘orang kaya’ tetapi membayar seperti ‘orang miskin’.

Hobby
Berbisnis dari hobby memberikan potensi sukses yang cukup tinggi karena pelakunya akan mengerjakannya dengan senang hati dan tidak takut rugi. Coba perhatikan dari unsur yang lain yang cukup penting adalah aspek pasarnya.
Jika bisnis hobby itu diminati oleh banyak orang, tentu bisnis itu akan berprospek baik. Hobby memasak jelas pekerjaan yang di butuhkan semua orang. Hobby mananam bunga juga sesuatu yang menarik bagi banyak orang. Harapa diingat, bahwa berbisnis Hobby harus tetap mempertimbangkan faktor pasar seperti yang sudah diulas sebelumnya.

Kunci Sukses
Dalam tulisan saya terdahulu saya pernah mengunakan istilah batak yang berbunyi “Si loppa lali nahabang”. Terjemahan bebasnya adalah 'si tukang masak burung elang yang terbang'. Seseorang yang berencana memasak seekor burung elang. Belum juga mendapatkan elangnya (karena masih terbang) dia sudah sibuk membayangkan betapa lezatnya masakan itu, bagaimana bumbunya dan sambal yang diinginkan dsb. Sayangnya dia tak pernah segera menangkap burung elang apalagi memotongnya untuk dimasak. Artinya mimpi ingin berbisnis harus dirubah kepada bentuk nyata. Segera lakukan. Ingat, bisnis adalah ilmu praktek, bukan ilmu konsep. Ingat, belajar naik sepeda dan belajar cara naik sepeda jelas sangat berbeda.
Dr. Romeo mengingatkan faktor penting dalam berbisnis, yaitu Karakter. Ya, itulah syarat penting untuk memastikan kunci sukses benar-benar ditangan. Ada tiga pilar utama Karakter kewirausahaan yang unggul yaitu Jujur, Gigih dan Tuntas.
Jujur, ini sangat penting karena kode etik bisnis dimanapun menuntut adanya kepercayaan. Kepercayaan pihak-pihak terkait baik pihak suplier, pembeli, penanam modal dan pihak-pihak lainnya akan memberikan dukungan akselerasi sukses yang positif.
Gigih, logika semua orang akan mengatakan setuju atas persaratan ini, tetapi menjalankan prinsip ini sungguh memerlukan keseriusan yang tinggi. Sukses jelas merupakan rentetan proses yang memerlukan kesabaran, sikap pantang menyerah dan terus mencoba.
Tuntas, bisnis bukan sekadar ilmu teori. Bisnis itu ilmu terapan yang memerlukan keseriusan dan pemahaman menyeluruh. Artinya, jika mencoba memulai bisnis tertentu, harussnya all-out, libatkan diri secara optimal dan selesaikan secara utuh –tidak tanggung-tanggung--.
Previous
Next Post »