Seni Mengejar Uang (Kewirausahaan)

tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada tgl 01 Oktober 2007

KAMAR tak berventilasi itu penuh dengan asap rokok. Asap itu mengepul cepat membuat pekat udara diruangan karena hembusan lima orang perokok yang sedang mempertaruhkan nasibnya dalam sebuah meja judi kelas teri.
Mereka memainkan Joker Karo dengan taruhan Rp.1000,- (artinya jika permainan dilakukan sampai matahari terbit sekalipun kemenangan tertinggi paling hanya hanya Rp. 100.000,- yang jelas tidak akan membuat mereka menjadi mendadak kaya atau miskin). Biarpun begitu, Rp.1000,- itu membuat 4 orang pemainnya benar-benar tegang dan galau, padahal mereka adalah orang-orang yang cukup senior dalam permainan itu dan sudah lama terbiasa berjudi.
Hati ke-4 orang itu semakin teriris dan penasaran karena mereka dikalahkan oleh seorang pemula yang baru saja belajar berjudi. Jangankan mengamati kartu lawan, menghitung nilai kartu pun masih harus diajari.
Karena mereka berkawan, canda tawa tetap muncul selama permainan itu, tetapi saja rasa kecut dan gondok tetap tidak bisa di elakkan. Mulailah celoteh-celoteh aneh muncul dari mulut ke-4 orang ini karena kekalahannya. Ada yang memanggil arwah nenek moyangnya untuk membantu ‘sang cucu’, ada yang mengklaim salah tempat duduk, ada yang merasa bersalah karena belum mandi sehingga terus kalah dan berbagai ocehan lucu yang lainnya.
Ke-4 orang itu ada juga mencoba melakukan serangan mental dengan trik-trik kartu kepada si junior, tetapi tatap saja tidak terjadi karena memang si junior tidak paham hal itu. Dan itu justru semakin menyakitkan hati si senior.
Mengapa si senior kalah? Mengapa uang memilih si junior?
Al kisah, cerita serupa terjadi juga pada orang-orang di dunia Multi Level Marketing. Betapa banyak orang yang jatuh cinta dengan iming-iming kemerdekaan finansial, kebebasan waktu dan berbagai mimpi lainnya.
Ibarat kerucutnya gunung, hanya sedikit jumlah tanah yang diatas, selebihnya di tengah dan paling banyak di bawah. Artinya, hanya sedikit saja orang yang bisa sukses mencapai puncak di bidang MLM sementara lainnya gagal ditengah jalan. Bahkan tidak sedikit yang langsung gagal setelah membayar uang pendaftaran dan memiliki starter kits. Mereka hanya mendaftar tapi tak pernah sekalipun memulai berbisnis.
Apa pasal? Ya, ternyata mereka terbius oleh contoh-contoh perhitungan keuntungan yang amat tinggi, kalau tidak jutaan pasti milyaran. Belum lagi contoh nyata orang-orang yang sudah diatas. Jelas itu memberikan mimpi indah tanpa kesadaran bagaimana harus berjuang dan berapa lama untuk tetap sabar demi mencapai tahapan itu.
Kalaulah ini kita anggap sebagai permainan, jelas permainan ini memerlukan banyak kerja nyata. Ibarat menembakkan 100 peluru, siapa tahu 1 atau 2 diantaranya akan mengenai sasaran. Sayangnya tidak semua orang rela dan iklas membuang 98 atau 99 peluru hanya untuk 1 atau 2 sasaran.

Permainan
Disamping strategi dan usaha yang keras/jelas, saya meyakini bahwa mendapatkan uang adalah sebuah seni permainan keberuntungan. Rahasianya bukan pada konsep atau bidang usaha, tetapi pada proses untuk mendapatkannya.
Uang itu seperti sabun basah, dipegang terlalu erat malah membuatnya mencelat, dipegang terlalu longgar justru akan membuatnya jatuh.
Tanpa melupakan keseriusan pemilihan bentuk bisnis dan menajemennya, sikap dalam mencari uang itu sangat penting dan menentukan tingkat kemujuran seseorang. Kesabaran, ketekunan, kemampuan menahan penderitaan serta kemampuan untuk tetap fokus adalah jalan wajib untuk mendapatkan uang jangka panjang.
Memang ini bukan ilmu eksakta, tetapi kecenderungan permainan uang ini menuntut perilaku tertentu dari seseorang yang hendak mendapatkannya. Yaitu;

Terbuka
Uang cenderung ditangkap oleh orang yang lebih terbuka dan lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan sigap bertindak ketika peluang datang. Mereka memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Orang rilex karena berpikiran terbuka tidak takut resiko dan mereka akhirnya menikmati prosesnya tanpa merasa dipenjarakan oleh tuntutan hasil. Memikirkan resiko secara berlebihan justru akan membuat kita panik lalu menjadi protektif dan tertutup.
Seperti memukul bola golf, jika mata kita terus ingin melihat hasil pukulan kita, maka kualitas pukulan akan menjadi jelek. Demikian juga jika kita berlomba lalu kita hanya memikirkan hadiah, maka kita akan kehilangan fokus dan itu awal dari kekalahan kita. Ingat, hadiah hanya akan didapat setelah perlombaan selesai dimenangkan dengan baik.
Uang lebih mudah didapat melalui bisikan “hati nurani” (intuisi) dari pada hasil kalkulasi angka yang canggih. Uang tidak menghampiri orang yang sibuk dengan keragu-raguan penalaran yang tak berkesudahan sehingga sulit melacak suara hatinya. Konon pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses.

Selalu berharap kebaikan akan datang.
Uang akan mendatangi orang yang selalu positif terhadap kehidupan. Selalu berprasangka bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Selalu ada alasan untuk berbahagia dan positif. Karena sikap mental ini, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.
Uang akan mendatangi orang yang tidak takut miskin. Mereka berani dan suka berbagi. Apalagi ada janji Tuhan bahwa semakin kita beramal, semakin besar rejeki yang akan kita terima.
Berfikir selalu kekurangan dan miskin justru akan membuat kita benar-benar miskin, karena selalu merasa kurang dan selalu kurang. Tanpa kita sadari sebenarnya terlalu banyak alasan untuk menyadari bahwa diri kita sebenarnya kaya.
Intuisi orang-orang yang dekat dengan rejeki meyakini bahwa, uang itu seperti air dan diri kita adalah wadahnya, jika kita tidak mengeluarkan uang kita, maka kita tidak akan pernah mendapat uang yang baru. Dalam bahasa religi, kita mengenalnya sebagai membayarkan zakat, infak, sodakoh dll.

Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »