Sok menengah keatas...!(marketing)


tulisan ini di publikasikan di harian waspada tgl 29 oktober 2007 pada halaman ekonomi


Kasta sosial tetap saja tidak akan hilang dari muka bumi yang semakin tercengkeram kapitalisme global. Kalangan ramai tetap saja melihat dirinya dan orang lain dengan kacamata material.

Ukuran yang dipakai amatlah banyak, tak tersebut! Mulai dari lulusan apa? Anak siapa? Apa kerjanya? Apa jabatannya? Apa merek pakaiannya? Dan berbagai standard hingga hal sesederhana sabun cuci. Konon, kelas sosial kita bisa di ukur dengan sabun cuci yang kita pakai. Apakah kita memakai sabun cuci batangan? Sabun colek/krim, sabun cuci cair atau ditergen bubuk formula?

Sudah banyak agama, nabi, rasul, ulama, guru dan berbagai kalangan religius yang diutus Tuhan untuk meyakinkan manusia bahwa di hadapanNya adalah sama derajatnya. Yang tetap juga menjadi kenyataan ternyata di tataran hidup kemanusiaan, kelas sosial lengket bak label harga yang terikat erat di jidat kita. Untuk kalangan religius jelas ini sesuatu yang tidak bijaksana, tetapi untuk siapapun yang mengetahuinya, ia akan melihat sebuah keindahan atas sebuah ketidakmanusiawian.

Sebuah keindahan jika kita bisa memahami dan memanfaatkan ketololan itu. Bagi anda yang ingin menguasai mereka, pastikan anda memahami konsep ini. Karena harta material yang fana ini tidaklah dimiliki secara merata oleh seluruh umat manusia. Semua orang ada bagian-bagiannya. Artinya, semua manusia memiliki kemampuan beli yang berbeda-beda. Susunan jumlah pembeli ini menyerupai bentuk piramida. Sebuah Piramid di Mesir dibangun dengan format lebar dibawah lalu menciut hingga runcing diatasnya. Alanogi itu untuk menggambarkan orang di kelas bawah berjumlah sangat banyak dibanding kelas menengah apalagi kalangan atas.

Siapa memainkan siapa?
Sekali lagi pemahaman atas ‘peta politik’ ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit pedagang yang juga terjebak dalam kubangan kebodohan itu. Kubangan itu terkesan wangi karena pikiran bahwa kalangan menengah ketas memiliki kemampuan beli yang lebih besar dan embel-embel gengsi yang lebih tinggi.

Kesalahan melihat ini terjadi karena lekatnya sisi kemanusiaan kita. Tidak saja pebisnis pemula, pebisnis lama juga menggunakan cara pikir yang sama. Mereka sok mengarah kepada kalangan menengah keatas. Masih belum paham? Ini contohnya; ketidaksabaran untuk memasukan barang dagangannya ke pasar modern seperti supermarket dan hipermarket yang tidak dimbangi dengan kemampuan yang seharusnya, ada juga pengusaha kelas tanggung sok memaksakan diri untuk eksport padahal pasar lokal saja belum terjamah dengan lengkap.

Indikasi kelatahan ini terlihat dari sedikitnya siaran radio yang secara sukarela memutarkan lagu-lagu atau acara yang mewakili ‘kalangan bawah’. Perilaku pengusaha dalam memilih barang untuk pribadi juga sangat mencolok. Misal memilih telepon genggam, mereka terpicu untuk memilih merek dan tipe mahal, karena mereka merasa itulah pertanda kelas mereka. Membaca media massa yang bukan urusannya dan tidak menjembatani dirinya dengan pasar potensialnya dan berorientasi kepada kehidupan papan atas tanpa menyadari kelas sebenarnya.

Disisi lain yang lebih nyata, pasar dikalangan bawah justru jumlahnya berjubel audzubillah...! Bangun... marilah segera tersadar dan manfaatkan pasar yang terbuka itu. Ingat, berbisnis produk kelas bawah tidak berarti kelas kita rendah. Tidak sedikit orang kaya yang berbisnis untuk orang-orang miskin. Lihatlah betapa pengusaha sabun batangan yang konon hanya untuk kalangan bawah justru hidupnya diposisi atas. Lihatlah pedagang dipasar tradisional yang becek dan kotor justru mampu memiliki rumah besar dan mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Lihatlah dengan jelas, para pengumpul barang-barang butut justru hidup layak walau halaman rumahnya penuh dengan rongsokan.

Kunci dasar atas kenyataan ini adalah keyakinan bahwa gengsi tidak akan pernah membuat kita kenyang. Gengsi tidak akan membayarkan sekolah anak kita. Gengsi tidak akan pernah mendatangkan makan yang cukup dan sehat. Singkirkan pikiran gengsi itu. Ingat, orientasi gengsi hanya boleh di miliki oleh orang lain. Lalu gerbang sukses yang layak dilalui adalah melihat kenyataan bahwa pasar ‘kelas bawah’ juga pasar yang tidak bisa dilihat dengan sebelah mata. Manfaatkan sebaik mungkin. Ingat, siapa yang memainkan siapa?

Mengolah kelas bawah
Pasar kalangan bawah jumlahnya amat banyak. Mereka bertebaran dimana-mana. Betul memang kalau mereka tidak memikirkan pemenuhan kebutuhan foya-foya dan berlebihan. Mereka masih berorientasi pemenuhan kebutuhan basik dan sesekali kebutuhan hiburan yang tidak mahal. Kenalilah profile keuangan mereka, sehingga kita paham bagaimana berbisnis dengan mereka.

Artinya, mereka adalah pasar yang cocok untuk produk-produk dasar seperti sembako, perlengkapan mandi, pakaian, cuci dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Lalu mereka juga pasar yang sensitif dengan harga. Kualitas bisa jadi menjadi prioritas kedua bagi mereka. Dengan kata lain, bisnis dengan pasar tersebut kita tidak bisa mengharapkan nilai keuntungan yang amat besar, tetapi karena jumlahnya banyak, kita akan berfokus kepada kuantitas yang juga banyak. Bisa saja dari satu produk kita beruntung satu rupiah, tetapi volume penjualannya yang tinggi juga akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit.

Sekali lagi jangan terjebak dalam kelatahan yang memusingkan. Pada saat berfikir tentang kualitas, kita tidak sedang bercerita mutu kelas terbaik. Kualitas adalah perkara persepsi. Kualitas adalah urusan cara pandang. Tidak lebih. Contohnya kembali kepada sabun cuci, orang banyak berfikir bahwa sabun berkualitas adalah yang menghasilkan banyak busa, padahal sangat jelas bahwa busa bukanlah yang membuat cucian menjadi bersih.

Sekali lagi tentang kualitas. Kualitas adalah sekadar anggapan. Sabun mandi dengan merek apapun, dengan alasan untuk kecantikan apapun, adalah sekedar trik pemasaran, karena isinya sama saja. Pasar hanya membeli merek yang dibuai oleh tokoh-tokoh cantik dalam iklannya. Tidak lebih!

Mereka yang dikalangan tersebut, percaya dengan konsistensi. Artinya tetaplah setia dengan kualitas yang diluncurkan dari awal. Selalu tersedia dipasaran dan ramah dengan harga. Artinya, bila harga naik, anda hanya perlu merubah kemasan daripada menaikkan harga.

Yang terakhir, hanya orang berpikiran kelas atas yang mampu menguasai dunia yang dipenuhi oleh orang-orang berpikir dan berpelaku kelas bawah. Ingat, hanya orang yang kelas atas yang bisa merendah dan hanya orang kelas bawah yang sok diatas.
Previous
Next Post »