Cahaya kecil buat saya

Sauadaraku yang baik, minggu ini saya banyak diluar kota, sehingga belum sempat mengunjungi project pembangunan rumah ibu salmiah di hamparan perak. Mohon maaf jika email ini tidak dilengkapi dengan foto-foto perkembangan yang terakhir.

Yang pasti, team teknis kini sudah tidak lagi bekerja karena semua bangunan dari teras, rumah utama, dapur, kamar mandi, wc, sumur, tempat shalat, tempat masak, gudang dan jemuran pakaian sudah dikerjakan.

Saya berencana untuk mengunjungi project itu akhir pekan ini. Semoga senin berikutnya sudah ada kabar yang lebih bagus untuk kalian.

terimakasih
Sungguh saya dan semua anggota team kerja dengan sepuluh jari mengucapkan terimakasih atas budi baik kalian semuanya. Semua dukungan dalam bentuk doa, saran, dana dan tenaga sungguh menyadarkan kami (semua anggota team kerja) betapa kehendak Tuhan sulit di pahami dengan kapasitas logika kita yang serba terbatas. Ketidakmungkinan menurut alam pikiran kami ternyata bukan hal mustahil bagi Tuhan.

Ada keanehan2 sederhana yang kami pikir jelas diluar logika kami.
1. dalam waktu segera kita bisa mengumpulkan sekian jumlah dana
2. dalam waktu segera kita bisa mendapatkan lahan yang bisa digunanakan
untuk tinggal oleh keluarga ibu salmiah, tanpa harus membeli
3. dalam waktu yang segera kita menemukan team kerja yang sanggup bekerja secara sukarela
4. dalam waktu yang segera kita mendapatkan tukang yang bersedia dibayar dengan anggaran minimal
5. dalam waktu itu juga kita menemukan suplier yang bisa memberikan kredit jika kita membutuhkan bahan bangunan dan belum ada danaya.
6. semangat ini justru menyebar ke semua anggota keluarga team teknis. Setiap hari libur, mereka datang untuk ikut membantu pekerjaan fisik, membawa makanan dan berbagai dukungan lain.
7. banyak kawan-kawan yang pada akhirnya tersadar, bahwa sesulitan dan kesengsaraan yang mereka derita ternyata tidak seberapa dibanding yang dialami keluarga ibu salmiah.

Inspirasi
Saya sungguh simpati dan takjub dengan beberapa donatur yang serta-merta memberikan dukungan dengan jumlah yang lumayan besar. Lalu saya beranikan diri untuk ngobrol dengan sebagian dari mereka. Ini yang saya dapatkan dari mereka;
1. Membayar zakat mal (bagi yang muslim) adalah kewajiban, jadi pembayar zakat bukanlah orang yang dermawan. Ia hanya menjalankan kewajiban saja. Ia disebut dermawan jika sudah mampu memberikan derma/infak/sadaqoh/hibah/hadiah diluar zakat yang ia tanggung.

2. Siapa yang tidak membayarkan zakat mal, adalah maling. Pencuri dan perampok atas hak orang lain yang dititipkan Tuhan melalui dirinya. Mereka itu juga yang tidak melakukan ritual pernyataan (melalui pembayaran zakat) mana bagian Tuhan (untuk fakir miskin dll) dan mana bagian untuk dirinya. Karena itulah banyak orang yang makin hari, makin berkurang harta-bendanya.

3. Berderma dengan iklas dan penuh syukur adalah logika Tuhan untuk membuka pintu rejeki lebar-lebar bagi kita mahlukNya. Logika saya sebelumnya adalah menerima banyak dan memberi sedikit akan memberi kesempatan kita untuk cepat kaya. Tapi ternyata jalan yang dikehendakiNya tidaklah demikian. Dia mengenal aturan dasar yang berbeda dengan pola pikir logis kita. menurutNya, memberi lebih banyak akan membuka pintu rejeki jauh lebih lebar. Aturannya yang lain dalam hal pencerahan finansial adalah dengan memberi terlebih dahulu, maka kita akan memanennya suatu saat nanti. Sayangnya Saya sendiri pernah suatu waktu berjudi dengan Tuhan. Saya meminta sesuatu dengan janji, saya akan mengerjakan pekerjaan amal tertentu jika saya mendapatkan apa yang saya minta dari Tuhan. Apakah mungkin Tuhan akan mengurus orang yang sesombong saya mengatur dan mengiming2kan sesuatu ke Tuhan jika Ia memberi permintaan kita?

4. Berderma dengan memberikan yang terbaik adalah indikasi tingkat keyakinan kepada Tuhan.
ini kisah yang benar saya alami;
Dalam obrolan dengan orang budiman itu Ia berkata “saya sedang belajar untuk selalu memberikan yang terbaik yang saya punya, saya mulai dengan berusaha memberikan pecahan uang terbesar di sompet saya jika ada kotak sumbangan di depan saya”.

Saya pikir itu hal sederhana, tetapi saat saya sendiri menghadapi kesempatan itu, saya sempat gagal. Sehari setelah pertemuan itu saya pergi ke kota Parapat dan sempat shalat di sebuah mesjid di perjalanan. Saya merasa benar-benar terbodoh saat mempraktekan konsep memberi yang terbaik seperti dalam obrolan diatas. Hampir 2 menit saya terpaku didepan kotak infak (sumbangan) dengan beberapa lembar ditangan. Saya ingin mempraktekkan memberi pecahan terbesar dari uang yang ada dikantong saya. Setelah 2 menit, saya kalah. Saya memang memberikan bukan yang terjelek, tapi jelas bukan yang terbaik.

Sepanjang perjalanan saya itu, saya merasa bersalah dan berdosa. Bukan karena nilai uangnya, tetapi saya baru tersadar ternyata saya sudah melewati masa berbahaya. Masa dimana saya tidak yakin dengan kasih sayang Tuhan. Masa dimana saya khawatir Tuhan tidak akan menolong saya. Saya sempat khawatir bagaimana jika ada apa2 dijalan dan uang saya tidak cukup? Bagaimana dengan uang rokok saya?. Entah berapa banyak lagi kekhawatiran yang saya rasakan pada saat menentukan pecahan uang yang mana yang harus saya selipkan kedalam kotak itu. Saat itu jelas saya sedang khawatir dan lupa bahwa Tuhan Maha memberi apalagi untuk pekerjaan mulia. Saya itu saya merasa lebih akbar dari Tuhan saya, sehingga saya tidak mempercayai bahwa Ia akan menolong saya jika saya sudah berjalan di jalanNya.
Saya mengaku beriman, tetapi ternyata secara mendasar saya sempat sudah menyepelekan dan tidak percaya kepada kuasa Tuhan. Semoga saya masih sempat belajar untuk lebih percaya. Amin...

5. Adalah sebuah fakta, bahwa orang-orang banyak yang berderma dengan iklas itu justru tidak miskin. Mereka Penuh dengan keyakinan bahwa Tuhan akan tetap menggandeng mereka. Mereka pada umumnya hidup dengan pikiran positif, optimis dan terbuka. Mereka terlihat damai dan tenang. Mereka tetap saja manusia biasa yang membutuhkan uang, tetapi mereka tidak lagi menjadi budak uang itu sendiri.

Sisi lain
Saudaraku yang baik, dalam proses ini, saya mendapatkan banyak dukungan moral dan juga ujian. Ada 3 orang melalui email yang tidak setuju dengan konspep kita memberi bantuan kepada keluarga Ibu salmiah. mereka bilang bahwa tidak mungkin mengentaskan kemiskinan dengan cara itu.
Ada 4 orang yang menolak untuk menerima email2 saya dan meminta agar emailnya dihilangkan dari distribution list emai saya

Saudaraku yang baik, email ini sungguh tidak bermaksud mengajari anda. Cuma saya sangat terkesan dengan berbagai fenomena selama mengerjakan project rumah ibu salmiah ini. Saya pikir pengalaman ini bisa menjadi inspirasi untuk anda.

Salam
Previous
Next Post »