“Cup! Itu punyaku..!” (Marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tgl 12 november 2007, di halaman bisnis dan teknologi.


LIMA anak kecil telihat memasuki pintu gerbang sebuah kolam renang umum dan sekejap berikutnya mereka berebut tempat duduk yang letaknya jauh diujung kolam. Dari jauh mereka dengan meneriakkan satu kalimat; “Cup! Kursi yang merah punyaku”, lalu yang lain, “Cup! Yang kuning punyaku dan seterusnya hingga kelima bocah lucu itu membagi tempat duduknya dengan kesepakatan yang sederhana.
Saya merasakan kelucuan itu karena saya pun pernah mengalami masa-masa dan istilah yang serupa itu. Sedikit berbeda di beberapa tempat, ada yang menggunakan istilah “Dek”, “Tong” dan lainnya tetapi tetap mengindikasikan makna yang sama.
Tanpa kita sadari, permainan itu adalah salah satu awal dari sebuah konsep berkompetisi. Kita sudah diajarkan oleh pergaulan itu untuk bisa bersaing dan mendapatkan yang terbaik dengan kecepatan yang tinggi, mendahului pesaing lainnya. Kita juga sedang belajar bagaimana bersikap positif atas sebuah persaingan. Anak-anak sangat cepat membuat kesepakatan permainan, mereka mudah menerima semua konsensusnya dan menghormatinya. Memang tidak jarang juga persaingan itu berakibat pertengkaran dengan akhir air mata.

Adu Cepat
Dalam praktek kompetisi, adu cepat adalah salah satu point yang sangat penting. Persis seperti dalam permainan anak-anak tadi yang menuntut kecepatan melihat serta menentukan pilihan sebelum yang lain melakukannya.
Kecepatan yang paling sempurna dalam berinvestasi dan berbisnis adalah kecepatan mendapatkan informasi serta kemampuan pengolahan informasi yang segera dan kemampuan pengambilan keputusan seketika. Seperti anak-anak diatas yang memasuki areal kolam renang, yang paling pertama melihat ada kursi berwarna-warni dan membayangkan pilihan terbaik serta segera meneriakkan pilihannya. Bagi yang pertama itulah kesempatan terbaik biasanya datang.
Adu cepat dalam mendapatkan informasi berhubungan dengan kemampuan penggalangan jaringan, kemampuan mengolah dan mengorek informasi dari jariangan yang ada serta kemampuan mengeksekusi atas informasi tersebut.
Contoh sederhana yang jelas didepan mata kita adalah kenyataan bahwa ada orang tertentu yang mengetahui hutan-hutan yang bisa dimanfaatkan untuk dibisniskan. Mulai dari penebangan kayu, hingga penanaman hutan rakyat atau menjadi perkebunan komersial.
Tidak semua orang mengetahui seluk-beluk rencana tata kota, hanya orang tertentu yang mengethuinya dan mendapatkan informasi lahan-lahan murah yang bakal melejit harganya. Lihatlah betapa banyak orang yang membeli lahan tanah didaerah yang tidak populer lalu membangunnya seolah nekat tetapi tak lama sesudahnya terbuka jalan besar melintang didepan areal propertinya.
Jelas hanya orang tertentu yang memiliki informasi plafon-plafon kredit dari bank yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. Lihatlah betapa hanya orang tertentu saja yang mendapatkan dukungan permodalan dari BUMN. Lihatlah betapa tidak semua orang memiliki akses pengetahuan bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dari jasa perbankan.
Negara yang berkembang seperti Indonesia jelas merupakan sasaran bantuan lembaga-lembaga LSM dari negara-negara maju. Sayangnya tidak semua orang mengetahui hal ini apalagi memanfaatkannya. Ada banyak program bantuan dari permodalan, manajemen hingga pemasaran yang ditawarkan lembaga tersebut.
Tidak semua pelajar/mahasiswa yang mengetahui adanya dana bea siswa untuk belajar ke luar negeri. Jangankan mencoba membuat proposal, tahu saja tidak. Jangankan si siswa, gurunya saja belum tentu menguasai perihal ini.
Dalam hal ini akses informasi adalah hal yang sangat istimewa. Jadi tidak salah jika kita memiliki banyak relasi yang bisa mensuplay informasi-informasi penting bagi kita. Memang kadang-kadang informasi itu berbiaya, tetapi itu adalah umpan penting yang harus direlakan demi pancingan yang lebih besar dan menguntungkan.

Menguasai pasar
Kecepatan dalam pemasaran adalah bahan bakar yang sangat penting. Cepat dapat informasi, cepat mengolahnya dan segera mengeksekusinya. Itu semua adalah langkah sederhana untuk mematikan pergerakan pesaing. Seorang Sun Tzu, mengatakan bahwa lebih dahulu sampai medan pertempuran adalah awal dari sebuah kemangan.
Jika saya sebutkan beberapa merek terkenal seperti Aqua, Sanyo, Honda, Kodak dll, mereka menang karena mereka mempraktekan keunggulan kecepatan, mereka memasuki pasar sebelum yang lain memikirkannya. Mereka jelas sudah melalui proses penelitan, pengumpulan informasi yang lebih cepat dari pesaingnya dan eksekusinya pun demikian.
Untuk mereka yang datang kemudian, bukan hal yang mustahil jika memposisikan dirinya sebagai sesuatu yang baru. Tentu saja dengan cara yang tepat memberikan informasi yang merata dengan edukasi pasar. Ingat sebuah merek permen rasa kopi yang mengaku dirinya bukan permen, tetapi kopi berbentuk permen. Ingat sebuah merek sabun yang mengatakan dirinya bukan sabun karena 1/4nya adalah pelembab. Kedua merek tersebut masih menduduki peringkat atas dalam percaturan pasar permen dan sabun.
Semua orang tahu, kalau ibu-ibu rumah tangga ternyata lebih senang membeli sabun yang mengeluarkan banyak busa dari pada kemampuannya dalam membersihkan sesuatu. Lalu, jika itu adanya, maka seseorang akan datang dengan konsep baru yang dengan bangga memperkenalkan sabun tanpa busa tetapi lebih mampu membersihkan.
Aksi kuasa menguasai pasar adalah pertempuran serius yang harus dikerjakan. Pilihanya hanya dua, yaitu; kita lebih dahulu menembak atau kita tertembak. Dan itu harus dilakukan kepada pesaing yang eksis ataupun yang masih laten.

Hilang pantat hilang tempat
Kalimat ini muncul dari seorang anak di kolam renang tadi yang pada saat berebut diawal ia terlambat jadi ia menduduki kursi warna hitam yang tidak disukainya. Begitu anak yang sedari tadi duduk di kursi warna kuning beranjak dari tempat duduknya mendadak lompatlah anak yang di kursi hitam lalu menduduki kursi warna kuning pilihannya sambil meneriakkan kalimat, “Hilang pantat hilang tempat!“.
Seserhana itu juga pola penguasaan pasar. Jika pasar dibiarkan tanpa adanya kontak dan hubungan dalam bentuk apapun. Maka orang lain akan melakukannya. Begitu kita sedikit saja lengah dengan menyia-nyiakan pasar yang sudah ada, maka pesaing kita akan dengan senang hati menggantikan kita. Lagi-lagi kecepatan dalam melakukan pergerakan pemasaran adalah bahan bakar yang amat penting dan perlu dijaga konsistensinya. Ingat, hilang pantat, hilang tempat.
Previous
Next Post »