Menikmati Persaingan (marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian Waspada Medan, pada hari senin tgl 05 November 2007 di halaman bisnis & teknologi


N.A. KELARAS adalah sebuah nama yang melekat erat pada dunia tanaman kebun dan tanaman hutan di kawasan Sumatera bagian utara. Dari kawasan Tanjung Morawa Medan, ia sudah mendistribusikan bibit tanamannya dari ujung Aceh hingga Lampung. Ia laksana seorang maestro, guru dan pendeta atas dunia tanaman itu.
Sekali waktu saya merasa terheran-heran manakala ia membabat pohon-pohon yang ditanamnya beberapa tahun yang lalu. Saya penasaran, mengapa ia harus membunuh tanaman yang ia sendiri tanam sekian waktu. Memang tidak semua tanaman ia potong. Tanaman itu tumbuh berderet dengan jarak 2 meter. Begitu tanaman itu mulai tumbuh menjulang setinggu 2 meter, ia potong yang ditengah. Artinya jarak tanam menjadi 4 meter dan ia mengorbankan satu pohon dan membiarkan 2 pohon lain tumbuh.
Dengan bahasa guyon, ia mengatakan bahwa ia sedang ‘memainkan’ tanaman itu. Ia percaya bahwa tanaman itu seperti anak-anak dan berjiwa kekanak-kanakan. Saat masih kecambah, ia membiarkan bibit-bibit pohon itu berdesakan. Lalu mereka bersaing untuk tumbuh dan mendapatkan matahari. Begitu mulai tumbuh sekira 15 cm, ia memindahkan kecambah itu ke polybag dan menempatkannya berhimpitan. Sekali lagi ia menstimulai terjadinya persaingan diantara mereka. Mereka berebut untuk tumbuh dan mendapatkan sinar matahari. Tentu saja dalam kurun waktu yang tidak lama, bibit dalam polybag itu berkembang pesat hingga mencapai ketinggian 45 cm atau 60 cm, bahkan ada yang sampai 90 cm. Setelah itu ia pindahkan tanaman ke lokasi penanaman dengan jarak tanam yang cukup dekat –2 m--. Rupanya ia lagi-lagi merangsang persaingan diantara mereka. Dengan pesat tanaman-tanaman itu berlomba mencapai ketinggian yang mempesona. Setelah 2 meter, ternyata tanaman itu tidak lagi mampu bersaing dengan jarak yang dekat, maka lalu ia kurangi tanaman itu dan ia tinggalkan tanaman itu dengan jarak 4 meter.
Seorang Kelaras, sudah mempraktekkan bahasa sederhana atas sebuah permainan persaingan. Ia paham benar bahwa persaingan memacu tanaman untuk segera tumbuh dan berkembang. Dengan persaingan tanaman memacu pertumbuhannya dengan pesat. Mereka diciptakan untuk tidak sabar dan berebut sinar kehidupan dari matahari untuk mengolah nutrisi yang mereka makan dari tanah tempat mereka berpijak.

Kompetisi
Selalu, dalam berbagai seminar dan pelatihan pemasaran, saya senantiasa menekankan bahwa pemasaran adalah perihal pola pikir, tidak lebih. Layaknya sebuah perang, pemasaran adalah konsep kuasa-menguasai pikiran. Untuk menjadi penguasa atas pikiran orang lain, mengalahkan dan menguasai pikiran diri adalah persyaratan mutlaknya.
Dan kunci dasar penguasaan pola pikir adalah keputusan-keputusan untuk memilih. Memilih segala persepsi yang kita kehendaki. Hingga pada akhirnya, persepsi itulah yang menjadi kenyataan dalam kehidupan nyata kita.
Demikian juga terhadap apa yang sering kita sebut sebagai persaingan dan kompetisi yang merupakan bagian penting dalam pemasaran. Kompetisi dan persaingan bisa saja menjadi sebuah petaka bagi mereka yang memilih melihatnya demikian atau merupakan hiburan bagi mereka yang memilih cara pandang itu.
Persaingan adalah aturan dunia yang manusiawi. Harus ada bagi mereka yang ingin maju dan berkembang. Kecepatan maju dan berkembang sangat tergantung dari kualitas kompetisi itu sendiri. Dalam bahasa bisnis yang kita kenal, tak mungkin Coca Cola maju pesat jika tidak ada Pepsi Cola. Tak mungkin Boing melesat jika tidak ada Airbus.
Persaingan sudah terlanjur menjadi bahasa pikiran manusia dimanapun. Bahkan sudah dicekok-kan sejak dini waktu anak-anak. Sudah ada perlombaan mewarnai gambar, ada perlombaan mengejar ranking pelajaran di sekolah dan berbagai persaingan laninnya. Saat masih bayi pun sudah ada lomba bayi sehat. Artinya, kita sudah telanjur diprogram menjadi orang yang kompetitif. Berorientasi bersaing dan memenangkan persaingan.
Dalam kerangka yang demikian, kebanyakan dari kita terlanjur mengunakan kompetisi sebagai bahan bakar utama kehidupannya. Jadi bilamana bahan bakarnya habis (tanpa kompetisi) habis pulalah kehidupannya. Indikasi kekurangan bahan bakar kompetisi adalah kelesuan dan kemalasan serta perasaan puas yang membuat kita berhenti.
Hanya orang tertentu seperti N.A.Kelaras yang paham benar arti penting persaingan dan kompetisi. Begitulah banyak pemimpin sukses yang sadar bahwa yang mereka adalah pemimpin atas segolongan orang-orang biasa yang terlanjur dibesarkan dengan persaingan. Lalu mereka merekayasa kompetisi tersebut untuk memacu pasukan dan targetnya bergerak menuju sasaran yang mereka kehendaki. Mereka terus merekayasa persaingan untuk orang-orang tersebut, karena jika tidak, maka kelesuan akan menyebar dan semua proses kinerja berhenti bergerak.

Menghormati pesaing
Dalam falsafah jawa ada istilah, “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” yang bermakna menyerang tanpa bala bantuan dan menang tanpa merendahkan. Inilah harapan dari sebuah persaingan yang bermartabat.
Membunuh pesaing adalah langkah bodoh, seperti sebuah dongen dimana seorang raja matahari yang ingin membunuh ratu bulan. Jelas itu akan menghilangkan keseimbangan. Keseimbangan adalah faktor natural yang sangat penting bagi semua manusia dan isi jagat raya ini.
Cara melihat keberadaan pesaing adalah awal dari sikap yang akan kita berikan kepada mereka. Jika kita melihat pesaing sebagai musuh, tentu kita akan terangsang untuk membunuhnya. Ada baiknya kita sadari makna keberadaan pesaing sehingga kita akan meletakkannya sebagai partner untuk meningkatkan kinerja kita. Karena pada akhirnya yang sempurnalah yang akan bertahan hidup.
Praktek-praktek membenci pesaing sangatlah naif. Apalagi sampai muncul rasa antipati sehingga bertemu pun tidak mau. Padahal, kesejatian persaingan bisnis tidak saja terletak pada produknya, tetapi sangat jelas dikendalikan oleh orang-orang dibelakang produk itu.
Orang banyak sering mengatakan “the man behind the gun” (orang yang berada dibelakang senjata/orang yang menggunakan senjata) adalah kunci manfaat dari senjata itu. Hebatpun senjata yang dipegang, tetapi kalau orangnya bodoh, pasti manfaat senjata tersebut tidaklah maksimal.
Cobalah pahami dengan jelas, bahwa menghadapi pesaing bukanlah harus sibuk memikirkan produknya, tetapi kenalilah orang-orangnya. Dengan mengenal orang tersebut, kita akan jelas memahami karakaternya. Dengan memahami karakternya, kita akan bisa meraba kemampuan strategisnya. Jadi, bertemu dan bergaul dengan pesaing adalah salah langkah cerdas untuk mengerti dan bisa mengendalikan pola pikirannya. Dan itu adalah pemasaran yang sebenarnya.
Previous
Next Post »