Meniru Negeri Peniru (sdm)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian Waspada, pada tgl 19 November 2007 pada halaman bisnis dan teknologi.

SELAMAT pagi pembaca yang budiman. Saya berharap pagi ini Anda merasakan kebahagiaan seperti yang sedang saya rasakan. Selain karena berkah Tuhan yang tiada henti, saya kebetulan sedang teramat bahagia karena saya menemukan sebuah buku yang sudah lima tahun saya mencarinya.
Penasaran yang tiada henti untuk mendapatkan buku itu terpicu oleh mentor saya –Frank Ong-- yang tinggal di kota kecil Zoetermeer di sisi tengah barat negeri Belanda. Lima tahun yang lalu ia menyebutkan ada sebuah buku bagus dengan judul “The book of five rings” yang pernah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Kitab lima cincin”.
Sudah saya jelajahi lebih dari 11 toko buku kenamaan termasuk didalamnya 4 toko dengan jaringan internasional. Tetapi tetap saya tidak menemukannya. Jaringan rekanan di beberapa kota besar juga tidak cukup membantu. Jaringan internet sebagai gudang maya yang terbesar di jagat ini juga tidak cukup membantu. Referensi yang saya dapat seringkali hanyalah komentar-komentar orang-orang yang beruntung sempat membaca buku itu.
Sampai akhirnya mentor saya mengakui bahwa saya sudah berjuang untuk mendapatkannya dan akhir bulan lalu ia menghadiahkan “The book of five rings” versi bahasa inggris koleksi pribadinya. Bergetar saya membukanya, buku ini sudah amat tua, ia beli pada bulan juli tahun 1977. lebih bergetar lagi karena mengetahui ternyata si Musashi, menuliskan buku ini di abad 16.
Sekadar gambaran, Musashi adalah seorang Samurai, prajurit berpedang ganda yang melegenda di Negeri Sakura ratusan tahun silam. Ia terlahir menjadi seorang kesatria yang tangguh dan memenangkan berbagai pertempuran. Puluhan orang mati ditangannya. Hingga akhirnya ia menyadari kesejatian sebuah kemenangan. Lalu sebelum malaikat maut menjemputnya, Musashi sempat menuliskan pemikiran dan keyakinannya dalam lima buku yang merupakan sebuah kesatuan dengan judul versi bahasa indonesianya “Kitab Lima Cincin”.
Pengalaman bertempur, strategi dan pandangan hidup Musashi sungguh aplikatif terhadap konsep bisnis modern. Kitab itu begitu transparan menggambarkan situasi negeri Jepang kala itu. Negeri Jepang sudah lama terkenal dengan kemajuan yang luar biasa diantara negara-negara Asia lainnya.
Lalu bercermin dari keadaan itu, saya mengamati ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari dari sana. Bagaimana mereka bisa sukses? Seorang Romi Satria Wahono yang pernah 10 tahun tinggal disana ada mengamati 10 hal penting atas sukses mereka. Berikut ulasannya;

KERJA KERAS
Bukti bahwa pekerja jepang adalah pekerja keras adalah bahwa rata-rata mereke bekerja 2.450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
uy@k
AUTHOR
November 27, 2007 at 6:38 AM delete

Mas, sy googling di internet, The Book of Five Rings banyak diadapat dari Amazone. Tinggal pesen aja kayakanya ...

Reply
avatar
Cahyo Pramono
AUTHOR
December 4, 2007 at 11:48 AM delete

Iya tuh, kebetulan tadinya mau cari yang versi bahasa indonesia, tapi sekarang di gramed medan juga sdh ada, jadi ke 4 buku musashi sudah ditangan sekarang, tinggal ngabisin aja tuh...
kalau sempat baca deh bukunya, lumayan 'maskulin'.

Reply
avatar