Cuma dedaunan dan rerantingan(manajemen strategis)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 03 desember 2007

Mohammad Sofyan, seorang petugas kolektor diperusahaan saya memiliki harta peninggalan berupa beberapa pohon rambutan,di kampungnya Desa Selesai, sekira seisapan rokok jaraknya dari kota Binjai kearah utara.
Dalam perhitungannya, setiap tahun pohon ini berbunga mulai awal bulan Agustus dan bisa dipanen pada akhir September atau awal Oktober. Perhitungan ini tidak pernah meleset, kecuali hasilnya yang tidak pas. Semakin tahun semakin sedikit buahnya.
Sofyan menyadari bahwa pohon rambutan itu makin tua, berkompetisi dengan waktu. Ia sadar bahwa harus ada langkah tertentu yang harus dikerjakannya. Mulai dari memberikan pupuk, memangkas ranting tua dan memperhatikan dengan iklas seperti merawat anak sendiri. Sayangnya Sofyan tidak memiliki kekuatan yang dasyat untuk menggerakan dirinya mengerjakan segala yang dipikirkannya. Hal-hal lain seperti pekerjaannya, rumah tangga, dan hobbynya menyerap semua energi yang juga cukup besar. Memang ia tetap mendapatkan uang dari pohon-pohon itu, tetapi untuk memastikan pohon itu memberikan hasil yang lebih optimal jelas sering terlupakan olehnya.
Dalam sebuah obrolan, saya bertanya mengapa ia biarkan pohon-pohon itu. Ia pun mengiyakan pertanyaan saya. Lalu tanpa pancingan serius, ia pun menjelaskan kesalahan-kesalahannya yang tidak cukup memelihara pohon itu demi hasil yang lebih maksimal. Diantara kelelahan pikirannya atas pohon itu, terpikir pula untuk menebangnya dan menghilangkan perasaan bersalah untuk sudah menelantarkan pohon-pohon itu.
Sambil memperhatikan kejujuran Sofyan, bermunculan beberapa nama sahabat-sahabat dengan perusahaan warisan orang tuanya atau perusahaan sendiri yang sudah lama dikelolanya. Persis seperti yang dialami Sofyan dengan warisan pohon rambutannya.

GAMANG
Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi itu. Manajemen bisa tersudut hingga posisi yang gamang, tidak jelas apa yang dipikirkan, diharapkan dan yang akan dikerjakannya. Hasil penjualan yang semakin menurun, tetapi memupuk dan memangkas tidak juga kunjung dikerjakan.
Dalam kasus pohon rambutannya, Sofyan lebih sering meminta anaknya untuk menyapu dedaunan dan rerantingan yang kering yang rontok ditanah. Meminta orang-orang untuk tidak mencangkul dan membuang sampah di bawah pohon rambutannya sambil berharap agar tahun ini hasilnya akan meningkat. Sofyan sampai pada kondisi gamang yang mematungkan dirinya. Karsanya melemah hingga tidak tahu lagi mengapa ia tidak juga mengerjakan apa-apa yang seharunya ia kerjakan.
Tanpa saya minta –dalam obrolan yang cenderung monolog itu —Sofyan berjanji kepada dirinya sendiri untuk segera memberikan pupuk dan memangkas ranting-ranting tua yang sudah tidak lagi bisa menghasilkan tunas untuk berbunga dan berbuah.
Sembari saya iyakan, ia juga mengatakan bahwa ia harus sanggup menunggu dua atau tiga tahun agar cabang baru akan muncul dan produktif setelah dipangkasnya. Memang menurutnya itu akan mengurangi hasil pada tahun pertama dan kedua setelah pemangkasan, tetapi ia yakin bahwa pada tahu ke tiga, ia akan mendapatkan buah yang lebih banyak dibanding produksi beberapa tahun ini.

STRATEGIS & TAKTIS
Dalam kasus Sofyan, perencanaan memberikan pupuk dan memangkas adalah langkah strategis. Langkah itu harus diputuskan atas dasar kesadaran penurunan produksi yang dihadapi, gambaran hitungan yang jelas serta rencana produksi yang akan terjadi atas langkah-langkah strategis itu.
Masih dalam komponen strategis, ia harus memastikan tata letak pohon, jarak antar pohon dan potensi arah akar pohon. Lalu ia harus memastikan orang-oranya agar mampu melakukan pemupukan dan pemangkasan yang benar. Bagi saya, proses pengerjaan pupuk dan pemangkasan adalah pekerjaan taktikal yang tidak harus dikerjakan sendiri oleh Sofyan.
Perkara strategis yang sering terlupakan dalam praktek bisnis modern adalah kenyataan bahwa kita sering lupa bahwa kita memerlukan perencanaan yang tepat dengan dasar data yang akurat. Lalu kita juga sering lalai untuk memastikan tujuan bisnis kita secara jelas. Saat kita tidak bisa secara detail dan gamblang atas tujuan dan target kita, sudah pasti kita akan berjalan tanpa arah tujuan. Lalu jelas saja team pendukung kita juga akan meraba-raba seperti berjalan didalam kegelapan.
Perkara strategis yang lain adalah manakala kita tidak memiliki panglima-panglima handal untuk membantu meringankan beban kita. Kalau lagi-lagi kita menggunakan manajemen ‘kedai sampah’ dengan gaya kepemimpinan one man show (semua serba kita sendiri yang mengerjakannya) pasti cepat atau lambat kita akan mencapai anugerah tekanan batin dan stress yang berkepanjangan. Jika tidak, setidaknya kita berjalan menggali makam kita sendiri.

SEKADAR DAUN DAN RANTING
Bolehlah Sofyan menuntut anggota team kerjanya untuk bisa menyapu daun dan ranting kering, menyiram dan memberi pupuk. Tetapi kalau Sofyan tidak menyadari bahwa yang dibutuhkannya adalah buah yang banyak dan besar, maka Ia akan sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Bulan penghujung tahun seperti ini layak untuk merenung dan memastikan tahun depan tidak lagi tahun yang gelap, tetpi tahun yang jelas dan terang, sehingga mudah dilalui dengan baik.
Dalam pencarian kesejatian Miyamoto Mushasi (tokoh samurai legendaris Jepang), ia mengejar dan mengemis kepada Godo—seorang guru Zen yang masyur--, ia mengikuti guru itu kemanapun pergi tanpa jawaban yang memuaskan. Suatu saat menjelang musim gugur dalam upaya pengejaran itu Mushashi berteduh disebuah gerbang kuil di tepi Danau Biwa. Di dinding gerbang itu ada papan dengan tulisan kata bijak;

Saya mohon, cobalah temukan sumber asasi.
Pai-yun tergerak oleh jasa Pai-ch’ang;
Hu-ch’iu kecewa atas ajaran peninggalan Pai-yun.
Seperti para pendahulu kita yang agung,
Janganlah hanya memiliki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan

Pernah Musashi seperti menghiba ia meminta pencerahan dari guru Zen ini, tetapi tetap saja tidak ada wejangan yang panjang lebar kecuali satu kalimat, “Cuma dedaunan dan Rerantingan”. Dan akhirnya ia menyadari bahwa ia terlalu sibuk dengan bayang-bayang, bukan intinya.
Previous
Next Post »