Didia Rokkapi? (segmentasi – marketing)



Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 10 desember 2008 di halaman bisnis dan teknologi

… …
Mangoli da amang nimmu tu au (menikahlah anakku itu katamu)
Dang na so olo au inang (bukannya aku tidak mau ibu)
Alai didia rokkapi (tetapi diamana jodohku)
Didia rokkapi (dimana jodohku)
... …
Paboa ma tu au (Beritahukanlah kepadaku)
Didia rokkapi...(dimana jodohku…)


Musik dan syair yang ‘minor’ ini benar-benar menghimpit perasaan lalu mengantarkan kita kepada pemahaman betapa kepedihan itu amat berat bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya tetapi belum juga mendapat jodoh seperti yang diharapkan ibunya. Sebuah sayatan tajam mengiris relung batin terdalam dan meninggalkan luka terperih.
Lagu berbahasa Batak yang sering terdengar disemua kedai-kedai tuak itu menggambarkan sebuah pencarian yang tiada berujung. Sepertinya Jodoh adalah sesuatu yang gaib dan tersimpan entah dilangit yang mana. Bahkan pertanyaan Didia rokkap hi –dimana jodohku?—menjadi penutup kesempurnaan derita yang dibawa lagu sedih itu.
Bukan hendak saya menjadi melo dan sok romantis, tetapi jeritan-jeritan serupa sungguh sering saya dengar dari banyak pelaku bisnis yang tersesat saat mencari-cari ‘jodoh’ bagi produknya. Mereka tidak tahu, siapa sebenarnya pasar mereka, siapa yang akan membeli produknya, bagaimana cara memasarkannya?
Apakah bisnis anda juga tersesat? apakah ‘belahan jiwa’ tidak juga ditemukan? Apakah karena itu anda terpaksa menjaja cinta dijalanan tanpa tahu kepada siapa hati harus dijatuhkan.

JODOH
Produk kita semestinya dibeli oleh pembeli yang pas. Jodoh! Seperti yang kita harapkan. Jodoh yang pas tanpa cela (kalau bisa). Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan pembeli yang pas? Terlalu Banyak gadis atau janda yang ada, tapi siapakah yang akan duduk bersanding dipelaminan?
Untuk memudahkan pemahaman yang benar, konsep pemasaran memerlukan sebuah studi riset yang nantinya akan sangat berguna di dalam menentukan siapa jodoh kita. Riset tersebut akan memilah-milah dengan teliti seperti kita memilih tomat ukuran A, B atau C. Riset itu akan menyeleksi siapa-siapa yang tepat menjadi sasaran kita. Penyeleksian itulah yang saya sebut sebagai segmentasi. Sebuah langkah mengelompokkan objek berdasar acuan tertentu.
Tanpa studi itu, kita akan mengeluarkan energi yang berlebihan dengan hasil yang tidak menjamin. Ibarat memberondongkan peluru banyak-banyak dan berharap salah satunya akan mengenai sasaran.
Dalam praktek keseharian banyak sekali praktisi pemasaran yang tidak tahu dengan media apa dalam menyampaikan pesan. Ada yang merasa beriklan di koran sudah cukup. Ada yang memaksa diri membuat billoard, ada yang latah membuat brosur dalam bahasa inggris dll.
Kalatahan karena ketidaktahuan juga melanda banyak pelaku pemasaran dengan mengejar outlet-outlet modern tanpa mengetahui efektifitasnya. Kelatahan itu juga melanda banyak pengusaha yang bermimpi agar produknya menembus pasaran ekspor, walaupun kadang-kadang itu tidak perlu.

SEGMENTASI
Inilah langkah penting untuk mengetahui jodoh kita. Untuk memastikannya, anda memerlukan langkah survey/riset. Lupakan riset-riset yang memusingkan seperti mengkilapya kepala proffesor pintar itu. Lakukan riset sederhana saja. Kuncinya, anda hanya perlu bertanya dan temukan jawabannya. Hanya itu.
Carilah datra; siapa target kita yang cocok dengan produk dan harapan kita. Dimana lokasi mereka tinggal, usia, jenis kelamin, suku bangsa, agama, bahasa, pendidikan, pendapatan, daya beli, status perkawinan, dll.
Jawaban atas pertanyaan tersebut pasti akan membimbing anda kepada pemahaman siapa pasar anda yang benar dan pas. Lalu kembangkan pertanyaannya kepada hal-hal yang sifatnya lebih personal. Seperti; preferensi gaya hidupnya, preferensi sexualnya, preferensi hiburan dan preferensi politik pilihannya, preferensi menggunakan alat komunikasi dll.
Lalu ketahuilah alasan menggunakan jasa/produk kita itu karena apa? Apakah karena kebutuhan dasar, kebutuhan gaya hidup, atau karena alasan lain. Singkap tabir cara mereka mendapatkan produk kita; apakah dengan membeli langsung, melalui agen, atau pinjam dari orang lain.
Untuk memastikan media massa yang digunakan oleh pasar kita, cari tahu media apa yang mereka baca/dengar/tonton. Kapan mereka berhubungan dengan media itu, berapa lama dan bagian mana yang menarik dari media tersebut.
Jangan berhenti disitu, gali lebih detail sedalam-dalamnya. Setiap produk memiliki karakter pasar yang berbeda. Saya contohkan produk makanan, maka tambahan detail yang diperlukan adalah mengetahui bagaimana perilaku pasar terhadap makanan utama,makanan sampingan, makanan ringan, makanan jajanan dan makanan untuk oleh-oleh.
Ikuti dengan; dimana mereka memakannya di restoran, di bawa pulang (dibungkus), atau minta diantar; kapan mereka makan? (hari-hari apa saja, jam berapa saja dll). Jika mereka makan ditempat, model layanan apa yang dikehendaki; formal, popular atau kedai informal. Model Eropa, Asia atau lokal? Mereka lebih memilih lokasi, kualias makanan atau hiburannya?

KAWIN
Jika semua pertanyaan tersebut diatas sudah terjawab, pasti kita sudah mendapatkan gambaran yang jelas, siapakah jodoh kita. Kita tahu dimana mereka berada dan semua hal mengenai mereka. Itu sangat cukup untuk mendapatkan mereka, menyampaikan surat cinta penuh sanjungan mematikan, bekenalan, bertunangan dan akhirnya kawin.
Ingat, kekuatan hubungan yang sudah ‘diatur’ ini berada dalam ‘jiwa’ hubungan tersebut. Jiwa yang hampa dan hambar tanpa cinta jelas akan menjadi komoditi yang tidak akan bertahan lama. Perceraian adalah akhirnya. (tentang love mark sudah saya bahas ditulisan terdahulu)
Saya harap jeritan-jeritan pencarian jodoh tidak lagi terjadi dengan pemahaman ini. Kekuatan komunikasi sangat penting untuk membangun hubungan yang mampu bertahan lama diantara godaan-godaan dunia. Bolehlah kita teramat cerdas, tetapi berkomunikasilah dengan bahasa mereka. Ingatlah selalu cara anda memanggil ayam walaupun anda seorang profesor yang teramat pandai.
Previous
Next Post »