Surat Untuk Winarto Kartupat (Manajemen Umum)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 07 januari 2008

Pembaca yang Budiman, ijinkan saya sekali ini menuliskan pesan untuk seorang sahabat, Winarto Kartupat seorang seniman serba bisa, penuh keunggulan dan memiliki ‘mimpi’ untuk menjadi orang besar lalu terkenal sebelum mati menjemput.
Sengaja saya buat surat ini secara terbuka sehingga Winarto-Winarto yang lain bisa mendapat manfaatnya.

Asalamualaikum,
Kang Winarto ‘sedulurku’, mengulang ‘percakapan langit’ pekan lalu, aku ingin kembali mengingatkan bahwa kehebatan seorang seniman itu seperti kehebatan prajurit pejuang dan menjadi terkenal setelah mereka mati. Kalau kita harus berjuang untuk menjadi terkenal setelah kita mati apalah artinya buatmu? Apalah makna anumerta jika tidak dapat menikmatinya?
Aku setuju jika seniman juga manusia biasa yang butuh uang untuk hidup, syukur-syukur bisa menikmati kemasyurannya sebelum tutup usia. Dan itu juga tidak sedikit yang bisa melakukannya. Jika kamu seorang Peter Gonta, kamu bisa merekam musik jazzmu dengan biayamu sendiri. Jika kamu seorang Setiawan Jodi, kamu masih tetap bisa berkarya tanpa mikir biaya. Jika kamu seorang David Coperfiled, kamu masih tetap mempesona tanpa kelaparan.
Permasalahannya adalah sudah berapa lama kuasmu kamu goreskan, sudah berapa lama perkusimu menyajikan bunyi-bunyian indah dan sudah berapa lama bendera teater kamu kibarkan? Kemudian, apakah kamu sudah kaya karena itu? Jangan kamu kira aku mengajarimu untuk menjadi materialistis, tetapi selama kamu masih berpijak di bumi, kamu perlu uang. Itu pasti.
Jika aku bertanya, apakah kamu ingin sukses? Apakah kamu ingin terkenal? Apakah kamu ingin kaya? Apakah kamu ingin mapan? Sudah kupastikan jawabanya iya. Karena sukses, terkenanl, kaya dan mapan adalah impianmu yang tiada henti seperti kebulan asap dari 20 batang rokokmu setiap harinya.
Semua itu hanya pertanyaan dasar yang tak penting untuk dibahas. Yang sangat penting dan mendesak adalah pertanyaan, apa saja yang sudah dan sedang dikerjakan untuk mencapai mimpi-mimpimu itu?

Nyali besar dan Fokus
Kang Winarto sang maestro, lukisan pasirmu adalah roket yang sangat bagus untuk membawamu keliling dunia, menaklukan kancah perupa yang penuh intrik. Apakah roket itu sudah cukup terpelihara dengan sempurna?
Terlalu banyak bidang seni yang kamu gauli, membuatmu dangkal dan membiaskan perhatian pasar. Bolehlah kamu berfikir holistik tetapi pasar hanya memiliki satu lensa yang tidak bisa melihat dua objek yang berbeda bersama-sama. Jadi fokuslah pada satu pegangan hingga mengantarkanmu sampai kepuncak dunia. Ingatlah jika kamu menggali tanah yang lebar, maka galian dangkal yang akan kamu ciptakan. Tetapi jika kamu menggali tanah yang sempit, maka galianmu bisa sangat dalam.
Nyali besar sangat diperlukan untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Nyali besar bukan untuk membunuh siapapun kecuali lasaknya pikiranmu sendiri yang serakah ingin menguasai segalanya. Berjihadlah ‘sedulur’, karena sebelum menguasai pengagummu, kamu harus terlebih dahulu menguasai dirimu sendiri. Jadilah raja atas dirimu. Merdekalah, jangan jadikan dirimu hamba atas angan-angan tak berujung itu. Carilah alat-alat bantu untuk memudahkan dirimua, mulai dari agenda, catatan komitmen dan alat ukur pencapaiannya.

Marketing
Sebelum kulanjutkan, coba betulkan dulu letak kaca matamu yang melorot itu. Sesudah kamu kuasai diri sendiri, kini waktunya kamu kuasai dunia. Sun ztu, Miyamoto Musashi, Hitler dan Van de kok pada jamannya, mereka memerlukan satu pasukan tentara dan ilmu perang. Jaman kita kini yang kita perlukan adalah ilmu manajemen pemasaran. Kamu harus terkenal, punya nama dan akhirnya karyamu bernilai uang yang tidak sedikit.
Jika belum terasa tamparanku, coba kamu ingat-ingat; kamu ini Winarto apa? Winarto pelukis? Winarto Perupa? Winarto pemain musik atau Winarto Aktivis Teater? Kamu ingin dikenal sebagai apa? Serba bisa memang bagus, tapi menyulitkan orang untuk mengingatnya.
Pilihlah salah satu yang bisa membuatmu terkenal karena kamu orang pertama yang mengerjakannya. Mengapa pertama? Karena kamu pasti tidak tahu siapa orang kedua yang berjalan dibulan, siapa orang kedua yang mencapai puncak Everest, siapa orang kedua yang menemukan Benua Amerika. Sekali lagi, jadilah kamu orang yang pertama.
Setelah itu pilihlah media-media yang pas untuk memajang nama dan karya besarmu. Dalam hal ini kamu hanya perlu stempel bernuansa kesan. Ingat kesan akan menciptakan persepsi dan dalam pikiran pasar persepsi adalah realita. Coba lihat betapa seseorang lulusan UGM akan merasa lebih tinggi saat berdampingan dengan seorang sarjana lulusan universitas swasta yang tidak terkenal. Walaupun sebenarnya mereka mendapat kurikulum yang sama dengan waktu belajar yang juga sama. Kini tentukan targetmu kapan bisa pameran di Milan, Paris, Tokyo dan London. Ingat dasar pemasaran produk yang awal adalah kemasannya, bukan isinya.

Sekarang
Rubah mimpimu mejadi sebuah strategic plan. Rencana strategi seperti Repelita jaman Soeharto. Segera tulis dan realisasikan setahap demi setahap. Jangan berhenti sebelum wajah berkumismu memenuhi sampul majalah TIME sebagai Man of the Year.
Ingat betapa kamu sangat setuju bahwa internet adalah media penting untuk mengantarkan dirimu mengapai puncak itu. Tetapi kenyataanya kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk membuat sebuah domain dengan nama kamu, sehingga seluruh dunia bisa mengenalmu. Kamu bahkan tidak tahu kemana mendapatkannya, berapa harganya dan bagaimana cara kerjanya.
Berhentilah menyia-nyiakan waktu dengan membuangnya di asap rokok itu. Kerjakan saat ini juga, dari yang kecil-kecil hingga akhirnya menjadi besar. Gunung sekecil apapun tidak akan terlampaui jika kita tidak segera melangkah, step by step.
Jangan tunggu ada seorang dewa yang melamar untuk menjadi manajer pembimbingmu. Itu tidak pernah ada kecuali di sinetron-sinetron tv yang penuh khayalan. Segeralah bangkit dan jadi manajer untuk dirimu sendiri.
Ingat, kamu ingin benar-benar sukses atau sekadar merasa sukses.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Anonymous
AUTHOR
January 18, 2008 at 4:16 AM delete

Surat yg anda tulis untuk Winarto Kartupat sangat menyentuh hati saya, saya rasa surat yang kamu buat ini tidak hanya untuk seorang Winarto-Winarto saja, tapi surat ini tepatnya untuk semua orang, bahasamu, kata-katamu dalam surat ini membangkitkan semangat semua orang uantuk dapat terus berkarya berjuang untuk mengorbitkan namanya menjadi yang pertama.

Reply
avatar