’Tiupkan Ruh Kehidupan’ ke Produk Anda (marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tgl 21 januari 2008 pada halaman bisnis & teknologi


MATI adalah hal negatif bagi sebagian besar manusia. Mati sama dengan kegelapan, ketidakpastian, sepi, sendiri, dingin, kehilangan, ketidak berdayaan dan segala situasi yang tidak menyenangkan. Sebegitu besar momok jelek kematian itu, membuat orang lebih senang hidup dan takut mati.
Ya HIDUP...! hidup adalah pertanda positif dan lawan dari semua hal yang berbau kematian. Kata hidup menyimpan kesan pasti, jelas, terang, bahagia, bernafas, tumbuh, hangat, ramai, berdaya dan seterusnya.
Orang-orang yang percaya dengan aliran Neuro Linguistic Programming percaya bahwa otak manusia mengerahkan lebih dari 80% dari potensinya untuk menghindari kematian dan 20%-nya untuk mencari kehidupan. Jadi mereka percaya bahwa itulah yang menggerakkan manusia apapun.
Begitu besarnya pesona kehidupan bagi manusia, hingga semua benda mati ciptaan manusia juga dituntut untuk ’memiliki nyawa’. Jika ’nyawa’ tidak tertiup dalam produk/merek itu, maka penolakan sering lebih banyak didapat. Pasar menuntut sesuatu yang hidup, bukan yang mati.
Kisah kebutuhan akan jiwa/ruh dalam produk ciptaan manusia terinspirasi oleh kebesaran Tuhan dalam proses penciptaannya. Konon, jika Tuhan tidak tiupkan Ruh kedalam diri manusia, maka manusia adalah mahluk terlemah yang pernah ada di planet ini. Bayangkanlah betapa tanpa Ruh Tuhan itu, manusia tidaklah sekebat gajah yang sanggup mengangkat beban berat. Manusia tidak sehebat burung yang bisa terbang diangkasa, tidak sehabat ikan yang sanggup berenang dan menyelam dalam waktu yang amat lama. Manusia juga tidak sehebat cacing yang bisa tinggal didalam tanah. Manusia juga tidak sehebat kutu yang bisa masuk ke sel-sel tubuh manusia tanpa disadari si pemilik badan itu sendiri.
Demikian juga dengan merek / prduk ciptaan kita. ia dituntut memiliki ‘jiwa’, ‘ruh’ dan ‘nyawa’, hingga akan diterima oleh pasar dan terhindar dari ‘kematian’.

Ruh Produk/Merek
Jaman dahulu, merek-merek sering mengunakan bentuk-bentuk yang hidup, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Berbagai jenis binatang dari garuda, elang, merpati, ular, kuda, ikan hingga kalajengking menjadi perlambang. Berbagai tumbuhan seperti padi, gandum, kapas, pohon kelapa, bunga mawar, bunga matahari dan berbagai buah-buahan yang menggambarkan kehidupan dijadikan nyawa merek.
Jaman terus berkembang seiring persepsi manusia dalam memaknai kehidupan itu sendiri. Kini jiwa kehidupan sudah diterjemahkan kepada berbagai media. Mulai dari warna, ukuran, jenis huruf, tata letak hingga pola.
Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa warna memiliki jiwa tertentu, ada warna kehidupan yang penuh semangat, warna kebijaksanaan, warna keberanian, warna kesucian dan warna duka, warna janda dan berbagai makna lainnya.
Ada kesepakatan lain dalam memaknai bentuk. Bentuk taring, tanduk setan dan parang mewakili kegelapan. Bentuk bulat bisa menggelinding dan berkembang dimanis, bentuk yang berkaki dan berbagai penafsiran lainnya.
Merek-merek tertentu memerlukan bantuan icon/maskot yang menggambarkan kehidupan. Banyak maskot dengan berbagai bentuk animasi yang mengisyaratkan itu. Ada gambar jempol yang diberi mata, mulut, tangan dan kaki demi kesan kehidupan itu. Ada gambar kaleng yang ‘dimanusiakan’ bahkan mobil-mobil jaman tertentu memiliki wajah depan yang mirip wajah manusia.
Sekarang coba lihat merek anda, apakah ada tanda-tanda kehidupan disana? Apakah anda merasakan adanya ‘ruh’ atau ‘jiwa’ tertentu dalam merek anda?

Jiwa
Jiwa adalah energi mental yang memiliki kekuatan untuk dapat memotivasi terjadinya proses perilaku yang menjadi bentukan aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Pesan-pesan dalam produk/merek seharusnya mengacu kepadanya.
Jiwa ditandai dengan emosi yang berperasaan. Kesan apa yang ingin dimunculkan, apakah kesan kasih sayang, kesan sedih dan duka, kesan kekuatan, kesan kedewasaan dan kebijaksanaan atau kesan kekanak-kanakan.
Nyawa kehidupan terlihat jiwa yang bersemayam dalam merek/produk. Jiwa itu terbaca, terdengar dan terasakan sebelum pelanggan anda menikmatinya. Pesan itu harus sangat mencolok dan menancap tegas kedalam relung hati pasar anda.
Secara mudah anda bisa merasakan waktu anda melihat merek-merek terkenal tertentu yang memiliki jiwa kemewahan, kemapanan dan janji kelas sosial yang tinggi. Merek-merek tersebut benar-benar mengibarkan pesona yang secara otomatis kita bisa rasakan. Pasti anda bisa bayangkan bagaimana kalau sudah benar-benar merasakan produknya.
Merek-merek sukses bahkan mampu menempatkan dirinya sebagai standard kualitas jiwa dan hidup pemakainya. Bagaimana dengan merek anda?

Bertumbuh
Hidup adalah bertumbuh, berkembang dan proses itu menjadi penting. Produk/merek juga harus memiliki kesan itu. Proses mendidik pasar sangat penting dengan pola yang terus berkembang, berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan pasar.
Jika dirasa perlu, penggantian merek, kemasan dan pesan-pesan promosi adalah bagian penting yang menandakan kehidupan yang bertumbuh itu. Perubahan logo Pertamina adalah contoh jelas untuk bahasan ini.
Bagi produk yang sudah mantap, pertumbuhannya diwakili oleh pertumbuhan pesan-pesan promosinya. Untuk kasus ini saya senang membahas pola bertumbuhnya pesan-pesan promosinya Sampoerna A Mild. Ia tumbuh dan berkembang dengan memimpin pasar lainnya. Ia bertumbuh dengan kecerdasan melalui pesan-pesan promosi sederhana yang tidak diperkirakan oleh kebanyakan orang.
Pada tataran tertentu, hidup diwakili oleh eskalasi kebutuhan yang berkembang dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan tertinggi seperti yang dipikirkan oleh Maslow. Perlu juga diyakini, bahwa pada tahap tertentu filosofi kemapanan, kesempurnaan, kebenaran universal dan kesejatian adalah sasaran semua manusia. Cobalah menggunakan kaidah-kaidah itu untuk menandai pertumbuhan merek/produk anda.
Jiwa bertemu Jiwa. Rasa bertemu rasa. Ruh bertemu ruh. Sebagai pemilik merek/produk anda sangat tahu, kemana produk anda arahkan, kepada siapa ditujukan dan bagaimana menyampaikannya. Anda pasti tahu karakter sasaran anda. Jiwa yang seperti apa? Rasa yang seperti apa? Hingga anda bisa memilih ‘ruh’ apa yang harus anda tiupkan dalam merek/produk anda.
Previous
Next Post »