Jangan mengaku sebagai salesman (salesmanship)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada halaman binsis & ekonomi pada tanggal 17 maret 2008


TERNYATA salesman adalah profesi yang cenderung ditolak. Profesi ini adalah profesi menantang karena ternyata cenderung tidak diterima untuk bertamu. Sementara disisi lain, bukankah berkunjung/bertamu adalah salah satu alat yang paling efektif untuk berjualan? Wow... dunia semakin berubah!
Sekian banyak wiraniaga pemula dan bahkan ada juga yang sudah senior masih saja selalu mengeluhkan betapa sulit mereka beremu dengan pengambil keputusan dan mempresentasikan produknya dengan nyaman. Bagi mereka, diusir secara halus adalah makanan sehari-hari yang kadang bisa melemahkan iman.
Berangkat dari keluhan-keluhan itu, saya membuat survei kecil melalui internet dengan responden sekitar 90 orang yang tersebar di sebagian besar Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Saya menanyakan sejauh mana mereka merasa senang untuk menerima tamu seorang salesman. Kesimpulan sementara dari survei sungguh mengagetkan saya.
Salesman adalah tamu nomor urut ke-tiga yang sangat tidak diharapkan setelah polisi dan pemeriksa pajak. Artinya dari sepuluh peran/profesi yang antri ingin bertemu, salesman adalah urutan ke-delapan dari urutan itu. Yang lebih menarik adalah bahwa penagih hutang malah lebih diutamakan untuk ditemui dari pada salesman. Berikut hasil olahan data urutan tamu yang diterima oleh responden (dari yang paling didahulukan hingga yang paling ditolak);
1. keluarga
2. sahabat
3. tetangga
4. pekerja/aktifis politik
5. orang yang ingin berkenalan
6. penceramah agama
7. penagih hutang
8. salesman
9. pemeriksa pajak
10. polisi
Data tersebut diatas sepertinya dengan jelas menunjukkan bahwa salesman bukanlah profesi/peran yang paling disukai untuk ditemui. Artinya, mengaku sebagai salesman untuk bertamu adalah langkah konyol yang berpotensi menuai penolakan. Hadir sebagai keluarga, sahabat atau tetangga justru lebih berpotensi untuk diterima. Tidak heran jika multi level marketing lebih menyarankan untuk berjualan ke kalangan sendiri terlebih dahulu.
Lalu, saya juga bertanya, jikalah mereka ’terpaska’ harus menerima salesman, salesman apakah yang paling mereka terima? Berikut urutannya;
1. tidak memilih
2. salesman hotel
3. salesman koran
4. salesman perlengkapan rumah tangga
5. salesman kosmetik
6. salesman kendaraan bermotor
7. salesman obat kuat
8. salesman asuransi
9. salesman investasi
10. salesman multilevel marketing
Terlihat dengan jelas bahwa sales multi level marketing adalah peran yang paling ditolak, diikuit oleh salesman investasi dan salesman asuransi. Tetapi pada dasarnya indikasi penolakan terhadap peran salesman sangatlah jelas terlihat dari jawaban diatas.
Saya juga bertanya alasan yang paling sering dipilih untuk menolak tamu yang tidak dikendakinya adalah;
1. sedang rapat (30 %)
2. sedang ada tamu (28 %)
3. sedang keluar kota (15 %)
4. sedang makan (10 %)
5. sedang sakit ( 07%)
6. harus ada janji dulu ( 05 %)
7. menerima semua jenis tamu apapun (05 %)
Bagi anda yang berkeinginan untuk bertamu, berikut durasi yang diminati oleh penerima tamu ;
1. 30 s/d 60 menit ( 60 %)
1. 0 s/d 30 menit ( 26 %)
2. 60 s/d 90 menit. ` ( 10 %)
3. 90 s/g 180 menit ( 04 %)
4. lebih dari 190 menit. ( 00 %)

Alasan
Studi kecil itu menggelitik pikian saya, mengapa begitu besar penolakan yang dialami salesman. Lalu kepada sebagian dari responden diatas, saya satu persatu bertanya kenapa mereka tidak suka menerima tamu seorang salesman. Ini Jawabnya;
1. sibuk, tidak mau diganggu (29 %)
2. salesman kebanyakan itu sok pintar (23 %)
3. salesman suka memaksa (21 %)
4. salesman selalu memojokan kalau tidak membeli (17 %)
5. membosankan (08 %)
6. tidak punya uang (01 %)
7. malas (01 %)
Saya pikir, figur-figur diatas cukup sekali menjelaskan persepsi responden terhadap peran salesman. Ini seharusnya menjadi bekal bagi para salesman untuk ber-intropeksi sehingga bisa lebih ’diterima’ oleh orang-orang seperti responden saya tersebut.
Upaya memposisikan kembali citra salesman ke posisi yang lebih baik adalah pilihan yang cukup urgen pada saat ini, kalau tidak, kita mesti menghindari mengaku sebagai salesman jika akan memprospek target.
Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
wiwit Wiranto
AUTHOR
September 16, 2008 at 5:08 PM delete

Lucu juga surveynya...simple dan menarik. Padahal salesman adalah pekerjaan yg mulia, memberikan yg terbaik bagi calon konsumennya...tidak heran salesman merupakan profesi yang menantang...ditunggu survey lainnya, pak

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
November 24, 2010 at 11:05 AM delete

wewww.... langsung minder nig gw... secara gw saLEs gituloh...wkwkwkw

Reply
avatar
Anonymous
AUTHOR
March 18, 2012 at 9:15 PM delete

Budaya feodal orang tua kita, kerja itu "dikantor" gaji berapapun gak apa apa, asal jangan panas panasan diluar, sedang Salesman orang lapangan,sering ditolak orang untuk produk/ jasa tertentu. Kenyataannya semua bisnis yang ber-orientasi profit, sangat tergantung tenaga Sales sebagai mesin uang perusahaan.
Menariknya jadi Sales, kariernya cepat melecit semua posisi puncak diduduki orang marketing, staff office tetap jadi bawahan.>
Target= bonus uang halal diluar gaji>
Kinerjanya "measurable" dapat diukur dari pencapaian targetnya.

Reply
avatar
Andrie
AUTHOR
April 14, 2012 at 8:06 AM delete

Sungguh menarik surveynya mas,dari sini bisa dilihat kalau penolakan itu selalu dialami oleh setiap salesman tinggal bagaimana salesman itu menyikapi dan belajar dari kegagalan tersebut untuk menuai sukses.
Menurut saya salesman yang sukses itu harus minimal memiliki 2 sikap dasar untuk sukses dalam menjual yaitu patience dan persistence.

andrie
www.basic-salesmanship.blogspot.com

Reply
avatar