Berbau luar


Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada, pada halaman Bisnis & Teknologi, tanggal 14 April 2008.

YANG berasal dari jauh akan berbau wangi dan yang dekat-dekat saja biasanya (maaf) berbau tai. Bukan berarti yang dekat itu tidak bagus, tapi begitulah kira-kira perilaku pasar kita yang sudah terbangun kuat sejak jaman dulu.
Salah satu nenek saya dulu selalu mempersiapkan berbagai hidangan dan penyambutan VIP untuk saudara-kerabat kami yang datang dari jauh. Mulai dari pembersihan rumah, kamar tamu, menu makanan yang wah, hingga persiapan oleh-oleh bagi si tamu. Penyambutan itu benar-benar menyakitkan perasaan saudara-kerabat lain yang selama ini tinggal berdekatan dengan nenek saya tersebut, karena bagi mereka yang dekat, fasilitas dan suasana itu hampir tidak pernah mereka dapatkan.
Saya masih ingat wajah paman dan bibi saya yang merengut seperti gelap mendung, namakala nenek saya lebih sering membandingkan kebaikan-kebaikan saudara-kerabat yang jauh itu dengan kekurangan-kejelekan yang ia dapati dari paman dan bibi yang tinggal sekampung dengan nenek. Kebaikan yang diterima nenek dari kerabat-saudara yang tinggalnya jauh itu hanya terjadi sesekali saja, tidak sebanding dengan kebaikan yang diberikan saudara-kerabat yang tinggal berdekatan dengan nenek.
Sama dengan seorang dua sahabat saya yang sudah seperti kerasukan setan, begitu yakin kepada bahwa barang import pasti dijamin kualitasnya serta mampu mendongkrak nilai gengsinya. Sahabat yang pertama memiliki hobby menabung uang untuk berbelanja dan berkunjung keluar negeri. Ia seperti diplomat yang sering melakukan lawatan ke negeri-negeri sahabat. Konon kalau ia sakit flu saja tidak bakal sembuh jika dokternya bukan dari negeri tetangga.
Sabahat saya yang satu lagi mengidap sindrom yang sama, ia begitu keranjingan berburu pakaian bakas pakai dari luar negeri. Ia selalu tahu kapan bal-bal barang import itu dibuka penjualnya. Yang ia cari adalah merek luar negeri. Ia sangat bangga mendapatkan merek terkenal dengan harga miring. Jika mereka berdua berkumpul, cakapnya tidak jauh dari membanggakan produk-produk dan budaya luar yang mereka kagumi.

Budaya & Strategi Pemasaran
Tak bisa dihindari kenyataan yang berkembang dipasaran kini. Sesuatu yang berbau luar akan cenderung mendapatkan penghargaan yang berlebihan. Makanya tidak jarang produk lokal di ‘stempel’ atau di’semprot’ wewangian asing.
Jika produk yang dijual adalah produk elektronik, maka nama-nama yang berbau negeri Jepang dan Taiwan atau Korea akan memuluskan proses pemasarannya. Sebutlah VCD player buatan Skaramai Medan atau yang diolah diindustri rumahan di areal Metal, mereka menggunakan istilah-istilah yang berbau Jepang, seperti Nakamura, Tioshi, dan sebagainya.
Jika produk yang dipasarkan adalah produk garmen, maka istilah-istilah Perancis dan Italia akan menjadi dasar penciptaan mereknya. Sebutlah tas bermerek Le Monde, Dividior. Ada juga pakaian jadi yang mengusung merek Giova.
Sampai ada sebuah brand nasional yang terdengar seperti brand import seperti Sophie Martin. Pembeli produk-produk merek itu terlihat dengan bangga mengenakannya seolah-olah sedang memakai produk import dari Eropa.
Lihatlah betapa produk kosmetik nasional mampu menembus pasar dengan sangat bagus dengan menyebut dirinya bermerek dari negeri Cina, lalu dibumbui dengan tulisan Cina dan ikon promosinya orang-orang yang terlihat seperti orang dari Daratan Cina.
Kisah serupa dialami oleh para dosen, konsultan dan artis lokal. Mereka berkompetisi habis-habisan dengan dosen, konsulatan dan artis dari luar kota atau sering disebut dengan mereka-mereka yang berasal dari ibu kota. Bukan berarti semua yang dari lokal itu rendah kualitasnya dan bukan berarti semua yang daru luar kota/luar negeri itu bagus kualitasnya.
Tidak sedikit perusahaan Medan yang merekayasa seolah-olah mereka adalah cabang dari sebuah kantor/bisnis besar yang ada di Jakarta atau Singapura. Pasar lokal bahkan tak pernah tahu kalau yang mereka aku sebagai kantor pusat hanyalah sebuah ruko sewaan yang tidak ada apa-apanya. Demi nama!
Kekonyolan ini benar-benar sudah salah kaprah, publik benar-benar buta dan asal percaya. Di Sumatera bagian utara ini sudah banyak sekali warung makan hingga restoran besar yang mengaku berjualan makanan khas dari daerah Jawa, mulai dari Jawa Barat, Betawi, Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Padahal pemiliknya sama sekali belum pernah mengunjungi daerah itu.

Kaprah
Semangat kedaerahan hanya ada ditataran politik yang menuntut agar putra daerah menjadi ’penguasa’ didaerahnya. Bagaimana dengan produk asli daerah tersebut?
Lihatlah betapa pasar yang gila produk asal luar daerah benar-benar membuat kita bisa tertawa geli. Penggunaan istilah asing sering kali hanyalah sebuah kesalahan yang dianggap benar. Banyak sekali brosur dan sarana promosi yang dengan latah diciptakan menggunakan bahasa asing. Padahal pasarnya sendiri banyak yang tidak tahu bahasa tersebut. Tetapi memang sudah salah kaprah, pasar yang tidak tahu bahasa asing itupun senang-senang saja menerimanya, karena kultur berfikirnya serba berorientasi kepada hal-hal yang mengunggulkan segala sesuatu dari tempat yang asing.
Sialnya, tidak sedikit orang Sumatra ini yang tertipu oleh orang-orang asing, karena kelatahan itu. Mereka sangat percaya kepada orang asing itu yang dianggapnya infestor kaya yang akan mengantarkan uang sebanyak-banyaknya. Tapi diantara mereka tidak menyadari bahwa yang meresa sambut itu hanyalah penipu berkedok dermawan.
Sangat menyakitkan jika orang-orang tetap saja membandingkan kita dengan orang atau negeri asing. Yang jelas-jelas bukan perbandingan yang sepadan. Itupun acapkali dilontarkan oleh orang-orang yang tak pernah sekalipun mengunjugi tempat asing yang disebutkannya itu.
Saya bukan sosiolog, tetapi saya yakin kalau anda setuju dengan saya bahwa selama mentalitas bangsa ini masih seperti jaman penjajahan, maka kepercayaan diri kita tetap rendah. Kepercayaan diri yang rendah itu selalu membimbing preferensi kita kepada rasa takjub dan menyanjung segala sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Kepercayaan itu semakin kuat bercokol sehingga tanpa disadari kita mengaku secara tersembunyi bahwa kita adalah bangsa bergenetika kasta rendahan.
Previous
Next Post »