PILKADASU & PERUBAHAN PAKSA BISNIS SABLON


” It is not the strongest species that survive, nor the most intelligent, but the ones most responsive to change” Charles Darwin.
Teori Charles Darwin diatas sepertinya berlaku untuk iklim bisnis saat ini. Betul bahwa bukan spesies yang paling kuat yang sanggup bertahan, bukan juga yang paling cerdas, tapi hanya mereka yang paling responsive untuk berubahlah yang akan paling sanggup bertahan.
Ada sebuah kenyataan yang muncul dalam berita WASPADA edisi selasa 15 April 2008 pada halaman Ekonomi & Bisnis, disana dituliskan konsekuensi tuntutan jaman/trend. Berikut petikannya.

Perajin reklame
Zulkifli salah seorang perajin reklame yang biasa menerima orderan dari salah satu pelaku usaha reklame di Simpang Limun juga mengatakan hal sama, omset usaha di bidang bisnis tersebut pada masa kampanye kali ini berkurang sangat jauh.
Kondisi itu terjadi akibat keunggulan para kompetitor dengan berbagai fasilitas berteknologi tinggi sehingga menghasilkan kualitas gambar dan karya yang lebih baik daripada produk usaha reklame yang masih menggunakan fasilitas manual, sebutnya.
Keunggulan lain yang dimiliki pesaing baru tersebut adalah kemampuan produksi yang mampu menghasilkan produk lebih banyak dengan kualitas memenuhi standar dan stabil, katanya.
Namun tidak seluruh pelaku usaha yang sama menerima nasib seperti dirinya masih banyak yang bernasib lebih baik walau kondisinya tidak mungkin sama dengan masa kampanye pesta demokrasi pada masa sebelumnya seperti caleg, katanya.
Masih ada usaha reklame lain yang mendapat orderan penyablonan sebanyak 5000 potong t-shirt dari salah seorang tim sukses pasangan cagub dan cawagub pada Pilkadasu kali ini dengan harga Rp6.650 per potong, lanjutnya.
Namun harga tersebut masih terlalu mahal dibanding perusahaan percetakan dan kompetitor lainnya yang mampu mengerjakan produk yang sama dengan kualitas jauh lebih baik. “Mereka sanggup mengerjakan Rp5.000 per potong.” jelasnya.
Untuk pengerjaan spanduk diluar upah jasa desain gambar dan logo, usaha reklame hanya mampu menetapkan upah sedikitnya Rp12 ribu per meter, sedangkan pihak percetakan mampu menentukan harga Rp8.000 per meter berikut disain gratis, katanya.
Sehingga sudah jelas usaha reklame saat ini tertinggal jauh dan bakal tidak mampu bersaing dengan usaha percetakan tersebut, sehingga perajin reklame harus mengandalkan produk pembuatan stempel perkantoran dan plang merek usaha, lanjutnya.
Untuk dapat bersaing secara sehat Zulkifli menjelaskan, sudah saatnya usaha tersebut beralih teknologi dari sistem yang digunakan secara manual bergeser ke fasilitas yang menggunakan teknologi secara komputer sehingga kemampuan manual tertinggal.
Namun besarnya modal untuk membeli peralatan dan fasilitas berteknologi tersebut sepertinya akan menjadi kendala para pelaku usaha mengingat rejeki usaha dibidang tersebut bersifat musiman, paparnya.
Dikhawatirkan teknologi tersebut juga merambah ke jenis produk lainnya dibidang usaha tersebut seperti pembuatan plang merek yang warnanya dikerjakan secara komputerisasi sehingga penampilannya lebih hidup seperti foto.
Begitu juga dengan pembuatan stempel perkantoran yang dikerjakan menggunakan fasilitas berteknologi, bila sudah begini usaha reklame yang dibina para perjin kecil tersebut akan terpuruk dan tertinggal oleh zaman, katanya.(m40)

Berubah
Ada tiga hal pokok yang menjadi kunci penting dalam konsep aplikasi manajemen perubahan. Yang pertama adalah jawaban atas pertanyaan; apakah ada situasi dissatisfaction, yaitu ketidakpuasan kita dengan perusahaan yang saat ini sedang berjalan. Poin apa yang sedang menjadi ketidakpuasan kita? Mana dan apa yang akan kita rubah dalam perusahaan itu? Dalam kasus pengusaha sablon, kini jelas ketidakpuasan muncul karena kekalahan bersaing dengan teknologi modern, dimana ketrampilan tangan beradu dengan teknologi tinggi yang lebih bagus, efisien dan murah.
Kedua adalah model yaitu model organisasi bisnis. Bisa saja model bisnis yang kita pakai saat ini sudah tidak cocok lagi, karena mungkin perusahaan didesain 12 tahun yang lalu. Padahal industrinya sudah berubah. Kita perlu melakukan reorganization. Kita harus menimbang model mana yang paling tepat dengan model yang kita jalani sekarang. Misalkan, kita sekarang bekerja dengan gaya A, di mana perusahaan buka pukul 07.00 sampai 17.00. Padahal paradigmanya sudah berubah, di mana geliat usaha sekarang mulai buka pukul 10.00 sampai pukul 21.00 malam.
Dalam kasus pengusaha sablon diatas, jelas model jasa manual tidak lagi menjadi pilihan utama bagi pasar setelah adanya model jasa sablon yang memiliki mesin-mesin berteknologi canggih.
Ketiga adalah process. Untuk melakukan perubahan yang kita inginkan seperti sekarang, maka proses apa saya yang perlu kita lakukan? Mulai dari negoisasi dengan karyawan, bagaimana kita mencari supplier yang baru, menggunakan mesin atau alat yang lebih mendukung optimalisasi bisnis dan pendekatan pemasaran yang lebih progresif.
Ketiga hal inilah yang perlu kita perhatikan dan pertimbangkan dalam rangka menerapkan manajemen perubahan. Bila ketiga nilai ini mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan biaya yang harus kita keluarkan untuk melakukan perubahan, maka perubahan ini layak dan harus dilakukan untuk perbaikan perusahaan kita.
Dalam kasus bisnis sablon tradisional, jelas kekalahan yang nampak adalah permodalan yang cukup untuk membeli teknologi tersebut serta kemampuan sumber daya manusia mengoperasikan teknologi tersebut. Jelas pilihan perubahan itu datang dengan pilhan yang sangat terbatas, diambil atau mati pelan-pelan. Masing-masing pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang sangat mencolok dan sangat tegas.
Tentu saja pilihan pertama adalah langkah tepat jika ingin bertahan di era kompetisi yang tajam ini. Tetapi jika pilihan itu tidak memungkinkan dikerjakan saat ini, maka hindari memilih arena pertarungan yang tidak menguntungkan kita. Kembangkan produk-produk lain yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin. Biasanya pekerjaan tangan dengan tingkat originalitas tinggi yang masih bisa bertahan. lihatlah betapa teknologi foto sangat berkembang pesat, tetapi lukisan cat minyak atau lisan dengan media lain tetap saja bisa bertahan dan tidak tertandingi oleh mesin-mesin modern yang ada hingga saat ini.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah ketrampilan menyablon bisa berkembang dan mendapat pengakuan sebagai karya seni seperti lukisan diatas kanvas?
Previous
Next Post »