Bisnis itu harus didelegasikan


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 05 mei 2008 di halaman bisnis dan teknologi

"FEELBAB"adalah slank dengan makna (maaf) "Feeling Babi". Istilah ini digunakan dengan seloroh oleh team adventure yang saya pimpin jika ingin menyebutkan seseorang yang tidak memiliki perhitungan navigasi dan berjalan di dalam kesesatan, asal jalan tanpa aturan yang benar.

Jika seseorang tersesat di hutan lebat, dan tak tahu arah mana yang harus ditempuh, semestinya ia tidak terus berjalan, atau membabat semak sana-sini. Yang seharusnya dilakukan adalah berhenti sejenak, menghitung dimanakah sesungguhnya posisi diri ini berada, menengadah ke langit mencari cahaya mentari atau rembulan, menunduk ke bumi mengukur bayang-bayang diri. Baru setelah itu menentukan kembali arah yang harus dituju, lalu berjalan penuh hati-hati, sembari terus mengukur bayang-bayang. Penjelajah yang sejati tahu kapan harus bergerak, berhenti dan beristirahat.

Jika Anda tersesat dalam kesibukan yang Anda sendiri tak tahu mengapa melakukan apa. Semestinya Anda juga berhenti sejenak. Membuka peta diri Anda, merujuk kembali pada tujuan besar hidup Anda, lalu meniatkan hati untuk melangkah. Tujuan tercapai karena kita tahu mana yang sedang dituju, dengan cara apa dan alat bantu apa. Kemudian kita bergerak dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan.

Demikian juga pesona dunia bisnis yang sering �memaksa� pebisnis larut dan terjebak didalamnya. Mereka �terpaksa� menjadi super hero, pahlawan yang tak tertandingi, serba hebat dan lagi-lagi hanya dirinyalah yang dianggap mampu mengerjakan semua hal. Dan itu saya sebut dengan pengusaha dengan kemampuan feelbab.

Seperti petualang di alam liar, pengusaha juga berpotensi memainkan permainan nekat dan feelbab. Mereka bukan orang-orang yang gagal, tetapi mereka akan selalu merasa kekurangan 20 jam dari jatah 24 jam sehari yang diberikan Tuhan kepadanya. Sudah pasti mereka akan mencapai puncak kemampuannya yang terbatas dan sangat sulit menembus batas-batas kemakmuran seperti yang dinikmati Bill Gates, Oprah W, George Soros, dan berbagai nama muti-milioner sukses lainnya.

Pengusaha-pengusaha dengan feelbab, memang bisa kaya, tetapi tidak akan pernah mencapai kursi sangat kaya. Kenapa? Jelas karena mereka membatasi peluang suksesnya dengan menyibukkan diri sendiri terjebak dalam rutinitas tak berarti.
Sangat menggelikan, bahwa banyak pengusaha kaya yang tidak pernah menikmati liburan dengan layak. Banyak pengusaha kaya yang tidak tahu cara makan dan berpakaian yang layak sesuai aturannya. Banyak pengusaha kaya yang tidak punya kawan pergaulan yang �berkelas�. Itu terjadi karena mereka begitu sibuk mengurus segalanya sendirian.

Delegasi
Tidak ada manusia yang sempurna (superman) tetapi seseorang bisa menciptakan superteam. Tangan manusia hanya dua, kaki juga hanya dua, otak satu dan berbagai keterbatasan lainnya. Tetapi dengan mendelegasikan pekerjaan, kita bisa mendapatkan perangkat yang lebih dan tidak terbatas.
Kini saatnya untuk menggunakan tenaga dan pikiran orang lain untuk memudahkan urusan kita. Lalu semua waktu, tenaga dan pikiran kita yang tersisa akan sangat bermanfaat untuk lebih melipatgandakan volume bisnis kita.
Jawabanya sudah jelas, bisnis itu harus di delegasikan. Secara mudahnya pengusaha harus mempunyai orang kepercayaan yang setiap saat bisa menjalankan, mengawasi dan meningkatkan bisnis kita secara proffesional.
Lalu pertanyaannya adalah siapa yang paling tepat kita jadikan delegasi untuk bisnis kita? Untuk bisnis skala kecil dan bagi para pengusaha dengan tingkat kecurigaan yang berlebihan, alternatif yang paling dekat adalah pasangan hidupnya entah itu istri atau suaminya. Karena keunggulannya adalah ketika kita mendelegasikan pada pasangan kita ikatan batin lebih kuat, ada kejelasan perasaan memiliki, sehingga ketika terjadi sesuatu dia akan merasa sangat ikut memiliki bisnis tersebut dan selalu akan sungguh-sungguh dalam mengelola.
Tetapi ingat, bahwa keunggulan tentunya tak lepas dari kelemahan. Kelemahan utama adalah waktu yang tidak maksimal, dan rawan timbul konflik yang disebabkan permasalahan di lapangan misalnya karena perbedaan selera dan orientasi bisnis/operasional.

Alternatif kedua adalah mencari pegawai yang kita plot secara bertahap menjadi orang kepercayaan. Dari pengalaman saya, diperlukan paling tidak 10 orang pegawai dalam proses untuk mendapatkan 2 orang pegawai kepercayaan. Ingat mereka bukan komputer yang bisa diprogram tanpa kesalahan, setiap proses pembelajaran selalu beresiko kesalahan/kegagalan pada awalnya. Dan sistem yang baik harusnya bisa mengendalikan dan mengawasi mereka tanpa harus kita mandori secara langsung.
Untuk bisnis pemula, gangguan yang akan selalu timbul adalah sebuah pertanyaan bagimana nanti kita mbayar gajinya sementara bisnis tersebut belum lancar, distribusi masih belum bisa kemana mana, penjualan belum maksimal dsb.
Kasus seperti ini pas sekali dengan perumpamaan siapa duluan antara ayam dan telor? Menurut saya pebisnis sejati akan selalu berani ambil resiko, hati-hati dan waspada perlu tetapi ketika itu menghambat penjualan, dan menghambat perkembangan bisnis kehati-hatian yang membelengu itu harus dihilangkan. Ketika kita rekrut pegawai baru, kita terpacu untuk meningkatkan berbagai upaya agar bisnis harus semakin meningkat.

Konon, ada sebuah perusahaan jasa pindahan barang, dimana si pengusaha adalah pegawai kantoran. Dia sadar bahwa dia tidak mempunyai cukup pengetahuan mengenai bisnis ini, dia juga sadar bahwa dia kurang punya banyak waktu untuk mengelola bisnis ini sendirian. Ia sangat paham bahwa ia membutuhkan �pertolongan� berupa otak, otot dan waktu orang lain yang lebih sanggup. Kemudia dia "membajak" direktur operasional perusahaan ekspedisi kelas internasional yang berkebangsaan asing yang gajinya saja hampir 100 juta/bln belum lagi fasilitas lain seperti apartemen buat si bule tersebut dan lain sebagainya. Dia ambil resiko, dia lakukan itu dengan yakin dan akhirnya yang terjadi adalah, omzet bulanan jasa pindahan barang ini dalam satu bulannya rata-rata mendekati 1 Milyar.
Previous
Next Post »