Motifasi VS Stress


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada tanggal 28 april 2008 di halaman ekonomi bisnis.

STRESS, selain menjadi dirinya sendiri dan hasil dari dirinya, juga merupakan penyebab stress itu sendiri.—Hans Selye, Psikolog.

BANYANGKAN anda adalah seorang manajer kesebelasan sepak bola. Jika tim anda yang tertekan dan kaku sedang bermain, apakah anda bisa mengharapkan pemain itu mampu melakukan lemparan bebas lalu mereka dapat melakukan taktik dan strategi penyerangan dengan bagus? Apakah pemain anda yang sedang yang stress itu bisa menendang bola dengan bebas dan memasukkannya ke gawang lawan dengan mudah?
Katakanlah anda seorang pecinta group musik yang sedang menonton group musik favorit anda, tetapi semua pemusik tersebut tampil dalam kondisi tegang, kaku dan tertekan, apakah anda akan bisa menikmati sajian musik seperti yang anda harapkan?
Kini coba anda bayangkan, kalau anak yang anda cintai mengikuti sebuah lomba pidato, ia berjalan dengan panik, kaku dan tertekan saat naik keatas podium. Apakah anda akan mendapatkan sebuah kemenangan dari anak anda?
Saya pikir tidak. Mereka itu, para pemain sepak bola, pemusik, artis, para pemimpin disemua level, bawahan anda termasuk anak anda, tidak akan bisa berprestasi dengan baik mengerjakan sesuatu dengan perasaan tertekan, tegang dan kaku.
Saya pikir orang tidak akan memiliki akses yang baik kepada kemampuan dan intelegensinya dalam keadaan panik dan tertekan. Mereka akan menjadi patung yang bisa bernafas. Mereka hanya akan menjadi robot yang bekerja atas teriakan dan perintah-perintah yang keras. Mereka tidak akan menciptakan keindahan dan tidak akan ada karya-karya berkualitas dari orang-orang yang bernasib sial itu.

Perduli VS Panik
Pengalaman praktikal saya memiliki beberapa team kerja yang berbeda-beda, mengantarkan saya kepada sebuah pengertian yang ingin saya bagikan kepada anda.
Di salah satu team kerja saya, saya mendapatkan orang-orang yang selama ini dibesarkan dengan kemarahan, koreksi, peringatan dan hukuman. Mereka benar-benar bebal sehingga jika tidak diteriakin atau ditendang pantatnya, mereka tidak akan bekerja dengan baik.
Sekali saja mereka diberikan kesempatan untuk bekerja sendiri, mereka akan lupa diri dan lagi-lagi berbuat kesalahan. Sialnya, situasi ini membuat manajemen memilih untuk tidak mempercayai mereka dan hanya membuat mereka menjadi robot yang tidak dituntut untuk berfikir.
Tanpa mempelajari lebih lanjut, saya membagikan keperdulian saya dengan sesekali membagikan stress kepada mereka. Saya perkenalkan kepada mereka kepanikan-kepanikan yang dialami pihak manajemen. Mulai dari pencapaian target yang jauh dari harapan, beban perusahaan dan harapan ratusan pewagai atas kinerja perusahaan sehingga mereka tidak mengalami tindak PHK.
Saya mencoba menyalakan semangat team dengan mengirimkan energi kecemasan kepada team kerja ini. Dari kisah pemain sepak bola, pemusik dan lomba pidato diatas pasti membuat anda paham, bagaimana yang terjadi dengan team kerja saya itu.
Di salah satu team kerja yang lain, nyaris sekalipun saya tidak pernah berteriak kepada mereka. Senyum dan tatapan mata saya seolah-olah bisa dibaca dan dimengerti. Mereka menikmati pekerjaan seperti mereka menikmati sebuah makanan lezat. Mereka mendedikasikan dirinya untuk kesempurnaan pekerjaannya.
Obrolan dan diskusi yang terjadi selalu dinamis, komunikatif dan berkembang. Tiap pertemuan adalah awal dari terciptanya kreasi-kreasi baru yang cerdas. Kami berani mencoba hal-hal ‘gila’ dengan cara ‘gila’ yang akhirnya menciptakan sesuatu yang positif dan memuaskan.
Perbedaan kedua kelompok itu sangat jelas. Sebelum saya menyalahkan kelompok kerja yang pertama, saya mencoba menganalisa dan merenungkan kondisi tersebut. Ternyada ada kontribusi kesalahan saya dalam hal ini kepada team pertama. Saya lebih menekan mereka dengan kecemasan-kecemasan dari pada memotifasinya dengan hal-hal yang kreatif dan positif.

Super team
Menganalisa performa kedua team kerja saya diatas, saya mencatat beberapa hal sebagai berikut. Pertama. Rasa takut berbeda dengan rasa segan. Team kerja yang pertama diatas lebih takut kepada saya dari pada kelompok yang kedua. Rasa takut itu membuat pikiran buntu dan negative. Rasa takut itu membuat mereka tidak menghargai saya. Mereka cenderung menjadi maling ketika saya tidak memandori mereka.
Dikelompok kedua, kami tidak saling menakuti, kami melihat yang lain dengan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Kami menerima apa adanya dan memberikan hormat atas peran-peran yang masing-masing kami emban. Di kelompok kedua kata maaf justru sering muncul dari orang-orang yang belum sempat di koreksi oleh anggota kelompok yang lainnya. Ironiknya di kelompok pertama, hampir tidak ada dialog, yang ada monolog. Jika mereka diajak bicara dalam pertemuan mereka hanya diam tidak berekspresi, bahkan pernah saya tanya hal sederhanapun mereka tidak bergeming, diam dengan pandangan kosong menunggu selesai pertemuan.
Kedua. Perduli berbeda dengan tekanan. Di kelompok pertama definisi perduli berubah menjadi tekanan. Itu terjadi karena kultur yang terlanjur terpola lama sebelum saya serta gaya pendekatan saya yang keliru. Saya meyakini bahwa stress/tekanan akan membuat seseorang mengerjakan tugasnya menjadi lebih buruk. Di kelompok yang kedua, rasa perduli benar-benar seperti vitamin yang memancing suasana rileks dan focus kemudian itu akan memancing semua sumberdaya yang seolah-olah secara magis mengantarkan kepada ketenangan yang terfokus kepada pencapaian-pencapaian dasyat yang luar biasa.
Ketiga. Ice breaking. Perlu upaya-upaya meleburkan kebekuan yang ada. Perlu secara perlahan dibuat budaya baru yang lebih percaya, sehingga bisa rileks dan tenang. Semua pihak harus mengembangkan pikiran positif dan meyakini bahwa konsekuensi logis dari pembelajaran adalah terjadinya kesalahan atau kegagalan. Itu hal yang harus diterima jika kita mau lebih cerdas dan lebih baik.
Membangun budaya baru itu seperti mempola sebuah bangsa, harus ada upaya bersama-sama mengembangkan persamaan-persamaan sederhana, sehingga keyakinan lama-lama bisa berubah. Menghindari pekerjaan yang monoton tanpa variasi. Membangun kesetaraan hak tanpa mengurangi rasa hormat. Menghargai peran-peran dan membedakannya dengan unsur pribadi. Inilah awal dari upaya membangun team yang super, karena kita tidak bakal bisa menjadi superman, tetapi pasti kita bisa membuat superteam.
Previous
Next Post »