Kepercayaan sebagai modal bisnis

TAK ada orang yang mau ditipu. Tak ada orang yang mau merasa bodoh dan dibodohin orang lain. Bukankah begitu?
Begitu juga dalam bisnis. Selalu saja setiap kita mendengar pengalaman para pengusaha sukses, mereka berani menyimpulkan, modal keberhasilannya adalah kepercayaan. Mereka mengaku mendapatkan uang dari orang lain yang percaya kepadanya. Lalu mereka mendapatkan produk juga dari orang lain yang percaya kepadanya. Dari modal dan produk itulah mereka mengolahnya dengan proses-proses yang terpercaya lalu lahirlah transaksi yang menguntungkan. Setelah menajadi pengusaha sukses, mereka juga memilih suplier, rekanan dan pengutang yang bisa ia percayai.
Begitu pentingnya kepercayaan itu dalam bisnis, sampai-sampai ada yang mengatakan begini: “Jika orang itu suka kamu, ia akan mendengarkanmu, tetapi jika orang itu mempercayaimu, ia akan melakukan bisnis denganmu.” Mungkin atas dasar inilah George MacDonald pernah mengatakan: “Dipercaya itu nilainya lebih besar ketimbang dicintai.”
Konsep NLP –Neuro Linguistic Programming—juga meyakini bahwa kepercayaan adalah langkah penting untuk membangun keyakinan yang pada gilirinnya akan membawa kepada proses kesepakatan transaksi. Baik transaksi dalam bentuk bisnis ataupun kesepakatan seseorang menjalankan permintaan, perintah atau himbauan pihak lain.
Jadi mustahil ada transaksi jika rasa percaya tidak terbangun diantara pihak-pihak yang terlibat. Kepercayaan itu bukan bawaan lahir tetapi hasil dari pemberdayaan atau usaha, kepercayaan itu bukan pemberian tetapi balasan, kepercayaan itu bukan kumpulan pernyataan/pengakuan, tetapi kumpulan dari pembuktian.
Kepercayaan itu datangnya dari orang lain tetapi alasannya mucul dari kita. Artinya, harus ada usaha aktif dari kita agar pihak-pihal lain menjadi terpengaruh untuk mempercayai diri kita.

Membangun kepercayaan
Merangkai pengalaman-pengalaman para praktisi senior yang mendapatkan pelajaran dalam berinteraksi dan konsep NLP, saya mencatat ada beberapa hal penting ketika berbicara kepercayaan yaitu;
Pada saat membangun komunikasi awal, pertama kali harus terbangun persamaan. karena apapun yang bersifat kontra adalah awal dari sebuah penolakan. Persamaan akan memberikan pancingan terhadap kedekatan dan kemudahan-kemudahan lain.
Persamaan perlu dibangun dari hal-hal sederhana, mulai dari topik pembicaraan, intonasi suara dan pemilihan kata-kata, gerakan dan posisi badan pada saat berbicara, dan memahami cara-cara pemahaman dari lawan bicara.
Jika kita sangat suka dunia sepak bola dan lawan bicara kita tidak menyukainya, tetapi lebih suka perihal makanan, cobalah hindari terjadinya perbedaan dengan memaksanya berbicara dunia sepak bola yang kita senangi itu. Pemaksaan-pemaksaan yang seperti itu berakibat terhadap menajamnya perbedaan dan akan menunai penolakan.
Persamaan dalam kontek intonasi; upayakan kita berbicara sesuai dengan intonasi yang disuarakan oleh lawan bicara kita. Berbeda nada dan intonasi, juga memberikan perasaan-perasaan berbeda yang akan memicu perbedaan lanjutan.
Persamaan dari bahasa tubuh sudah sering dibahas dalam berbagai media, tetapi pantas untuk diingat bahwa posisi berbicara layaknya sama tingginya dan sama aksesnya, sehingga sensor syaraf memudahkan lancarnya komunikasi.
Kepercayaan juga bisa terstimulasi karena persamaan-persamaan yang bermula dari kedekatan . yang pertama adalah KEDEKATAN FISIK. Ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kita sering bertemu, maka kita akan lebih mudah jatuh cinta. Ini juga berlaku dalam membangun kepercayaan. Kita cenderung lebih percaya pada orang yang secara fisik bisa kita lihat (dibandingkan dengan orang yang belum pernah kita kenal sama sekali). Membangun kedekatan fisik membutuhkan komitmen yang cukup tinggi untuk sering bertemu, dan berkomunikasi. (asalkan reaksi awalnya tidak negatif).
Jadi, memang tidak salah jika dikatakan ”Dekat di mata, dekat di hati”. Fenomena ini juga banyak dimanfaatkan oleh para tenaga pemasar dalam memasarkan produk mereka. Frekuensi kemunculan iklan yang tinggi untuk suatu produk dapat menyebabkan produk tersebut lebih dekat di hati konsumen.
Kedua adalah KEDEKATAN INTELEKTUAL. Kedekatan intelektual perlu diterapkan juga agar kepercayaan tidak hanya pada permukaan saja, tapi juga bisa meraih ke pikiran. Yang dibidik dari kedekatan intelektual adalah keinginan untuk dimengerti. Jika kondisi saling mengerti bisa diciptakan maka kepercayaan pun lebih mudah untuk dibangun antara kedua belah pihak. Kedekatan intelektual bisa dikembangkan dengan mencari kesamaan pengalaman dan kesamaan bahasa yang digunakan.
Yang ketiga adalah KEDEKATAN EMOSIONAL. Kedekatan emosional inilah yang membuka kunci ”kepercayaan” orang lain akan diri kita. Tanpa adanya kedekatan ”emosional”, rasa percaya tidak akan pernah ada. Kedekatan emosional bisa muncul jika ada rasa saling menyukai, keinginan untuk saling membantu, dan ketulusan untuk saling menghargai.

Merusak kepercayaan
Kebanyakan orang sudah mengetahui apa saja yang perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan dan mengetahui apa saja yang perlu dihindari karena akan merusak kepercayaan orang. Tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Padahal, pada akhirnya kepercayaan itu butuh pembuktian, bukan pernyataan.
Berikut sekadar mengingat, ada tiga hal yang kerap menjadi perusak kepercayaan. Pertama rasa dan sikap malas, tidak serius dan kerja tanggung. Kedua Keahlian atau kapasitas yang tidak memadai. Pengakuan yang berlebihan tanpa menyadari kemampuan yang sebenarnya adalah titian yang rawan menuju kehancuran kepercayaan. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan mengukur kadar diri (self-understanding), pengetahuan-diri (self knowledge) atau kemampuan membuat keputusan yang bagus (the right decision).
Ketiga, kebiasaan Melanggar Kebenaran. Kebiasaan melanggar kebenaran yang disepakati agama-agama, norma-norma dan kesepakatankepsepakatan serta punya kebiasaan mendewakan “kebenaran-sendiri” yang melawan kebenaran itu, adalah racun ganas yang sangat mungkin merusak kepercayaan.
Yang terakhir, semua bentuk peringatan tersebut diatas hanyalah bentuk pengingat yang tidak perlu memberikan rasa khawatir yang berlebihan. Tetap upayakan memberikan yang terbaik dengan ketulus-iklasan, niscaya akan berbuah kepercayaan dari siapapun.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
sigid
AUTHOR
August 26, 2008 at 11:05 AM delete

Artikelnya mendidik. salam kenal.

Reply
avatar