Lupakan Dulu Ijasahmu…

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada halaman bisnis dan teknologi, tanggal 14 juli 2008

Menjadi manusia yang mumpuni ternyata tidak harus ‘sangat cerdas’. Menjadi jawara kelas di sekolah ternyata tidak otomatis menjadi jawara di dunia nyata.
Beberapa pelaku bisnis yang menurut saya cukup sukses, ternyata bukan mantan bintang kelas. Kawan-kawan saya yang dulu bintang kelas, ternyata lebih banyak menjadi pegawai yang memperkaya orang-orang non bintang kelas atau paling-paling menjadi konsultan dan dosen.
Semakin saya lihat bahwa para bintang kelas, biasanya tidak cukup ‘terancam’ dalam konteks pelajaran, sehingga tidak cukup ‘terpaksa’ untuk menggunakan pikiran. Para bintang kelas, sepertinya mengerjakan sesuatu dengan pola yang sama, logis dan prosedural. Tetapi bagi mereka-mereka yang tidak masuk tataran jenius, jelas tidak ada pilihan lain selain memaksa diri ‘berfikir’ dan memaksimalkan potensi pikiran ‘terbatasnya’.
Bagi orang-orang yang tidak sangat jenius, yang muncul adalah kreatifitas dan berbagai terobosan sebagai akibat keterbatasan kemampuan pikirannya. Orang yang tidak jenius lama-lama terbiasa untuk menggunakan pikirannya dan saya kira itulah yang membuat orang kurang sangat jenius akan menjadi orang-orang yang kreatif dan penuh terobosan.
Jika ujian atau test sekolah adalah sebuah permainan yang harus dimenangkan, tentu orang jenius akan mengandalkan kemampuan logikanya yang memang sudah premium. Berbeda dengan orang-orang yang kurang jenius, mereka terpaksa mencari solusi lain, seperti mencontek, untung-untungan, berdukun atau secara ekstrim ada yang menyogok. Dalam konteks sportifitas permainan, jelas itu bukan sesuatu yang terpuji, tetapi dari sisi kemampuan penyelesaian masalah, itulah yang membuat orang-orang yang tidak cukup jenius memaksa pikirannya untuk bisa menyelesaikan masalah.

Ijasah dan Dunia Nyata
Sekarang, sudah menjadi kesadaran bersama bahwa ternyata kurikulum di kebayakan sekolah tidak berhubungan sama sekali dengan upaya-upaya menjadikan diri si siswa menuju kekayaan yang luar biasa.
Jikalah para lulusan sekolah itu masuk ke dunia industri, biasanya akan mengalami kekagetan-kekagetan yang luar biasa. Mereka terlanjur dicekoki konsep-konsep yang menyesatkan oleh pihak kampus. Menurut sebagian kalangan kampus yang sedikit kurang bijak, para mahasiswa D1 dan D2 adalah orang-orang untuk level supervisor. Dan D3 serta S1 adalah untuk menduduki jabatan manajer. Bagaimana mungkin mematok seorang S1 untuk menjadi seoarang manajer, jika kompetensi kurikulumnya meragukan?
Bagi saya, ijazah hanyalah sebuah kunci (yang tidak harus) untuk memasuki dunia kerja. Itu saja! Selanjutnya, untuk menjamin seseorang bisa sukses atau tidak, bukan ijazahlah yang menentukannya.
Saya meyakini ada beberapa hal yang penting untuk meningkatkan kualitas seseorang terlepas dari ijazah yang mereka milikiyaitu seberapa banyak referrensi yang dibaca, seberapa banyak orang yang ditemui serta seberapa banyak tempat yang dikunjungi.

Referensi
Sangat naif, bagi seorang sarjana yang lulus 20 tahun yang lalu untuk tetap sanggup berkompetisi dengan anak baru gedhe tapi tidak pernah membaca apapun. Sayangnya lagi, sarjana itu juga tidak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan selama kurun waktu karirnya itu. Satu-satunya referensi yang dimilikinya adalah pesawat TV dan sesekali koran, itupun sebatas hiburan, berita olahraga, gosip dan kriminal.
Orang-orang yang aneh ini biasanya selalu ingin maju dan berkembang, mereka takut bersaing dengan anak muda. Mereka iri jika yang lain dipromosikan. Tetapi jangankan mereka mencari referensi bacaan atau pelatihan, sekadar mencari bahan bacaannya saja mereka tidak pernah lakukan. Bukankah buku adalah jendela dunia?
Pertanyaan sederhana untuk kita renungkan sendiri-sendiri, “Kapankah terkahir kali kita membaca buku?” dan, “Buku apa yang kita baca”. Jawabannya seiring dengan kualitas kita saat ini.

Bergaul
Terlepas dari ijazah apapun, pembelajaran dan pengayaan wawasan tidak saja datang dari orang-orang berlabel guru, pengajar, pelatih atau konsultan. Bagi saya guru sejati adalah orang-orang yang bisa memberikan pencerahan walaupun hanya setitik dan itu mungkin saja datang dari orang-orang yang tidak kita duga.
Bergaul dan bertemu dengan berbagai orang adalah pembelajaran yang istimewa. Obrolan dan pengalaman bersama orang-orang dari berbagai latar belakang akan memperkaya wawasan kita. Mereka akan mengantarkan pemahaman kita kepada hal-hal yang tidak tersebur dalam kurikulum sekolah dan mungkin tidak tersebut dengan khas di buku-buku manapun.
Bergaul tidak saja memberikan keuntungan wawasan, tetapi berpotensi memberikan dukungan jaringan. Pergaulan akan mengantarkan kita kepada zona-zona sosial yang tertentu. Pergaulan akan menghasilkan dukungan yang penting untuk kemajuan karir serta bisnis. Lebih dari itu, pergaulan akan mengantarkan kita kepada wawasan religi yang mungkin tidak terbatas.
Pertanyaan untuk mengukur jaringan pergaulan kita adalah, “Seberapa banyak orang yang kita temui?” lalu , “Apakah hari ini saya sudah bertemu orang baru?”

Perjalanan
Tidak lengkap wawasan yang kita miliki jika tidak melihat dan merasakan tempat-tempat lain di muka bumi ini. Setiap tempat memiliki alam yang berbeda, lain lubuk, lain pula ikannya. Setiap tempat juga memiliki aturan dan norma yang berbeda-beda. Setiap tempat juga dihuni oleh orang-orang dengan perilaku dan kultur yang berbeda-beda.
Otak manusia biasanya akan lebih mudah mempelajari sesuatu jika itu bersifat ‘dialami dan dirasakan’. Mengunjungi tempat-tempat yang berbeda adalah salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas wawasan dan pengalaman kita sendiri.
Pertanyaan selanjutnya, “Seberapa banyak tempat yang pernah kita kunjungi?”

Manfaat
Buku, orang-orang dan berbagai tempat berbeda akan memberikan manfaat besar bagi siapa saja yang bisa mendapatkannya. Contoh sederhana adalah jika kita ingin mendapatkan beasiswa atau kredit dari sebuah bank.
Bagaimana kita tahu ada fasiliatas beasiswa atau fasilitas kredit jika kita tidak memiliki referensi mengenai hal itu. Lalu, bagaimana kita akan mudah didalam mendapatkannya jika kita tidak mengenal orang-orang yang bisa mengantarkan kita ketujuan itu? Dan bagaimana mungkin kita mendapatkan kemudahan lain kalau kita tidak pernah berkunjung ke kantor penyedia beasiswa atau bank yang memberikan fasilitas kredit itu?
Kunci sukses mengakses ketiga hal tersebut kembali kepada diri kita sendiri, apakah kita hanya sekadar ingin sukses atau memang benar-benar ingin sukses. Semua terjawab dari pertanyaan sederhana diatas.
Previous
Next Post »