Peringatan bagi bawahan (7 hal yang dibenci atasan)

tulisan ini sudah diterbitkan diharian waspada medan,pada halaman bisnis & teknologi, tgl 30 juni 2008
SEBENARANYA 7 hal yang akan saya tuliskan bukanlah hanya dibenci oleh atasan, tetapi juga oleh orang-orang lain, bahkan oleh orang-orang yang mengaku sayang kepada kita.
Saya menuliskan 7 hal ini karena saya pernah melakukannya dan sekarang sebagai atasan saya meyadari betapa itu adalah perilaku bodoh yang sangat berpotensi menghambat perkembangan karir saya.
Saya dan sebagian dari anda pasti pernah dengan sengaja mengerjakannya. Waktu itu kita menganggap bahwa tindakan bodoh itu adalah bentuk perlawanan kita kepada atasan, tetapi kini saya tahu bahwa yang rugi saya sendiri. Saya terjebak delam pikiran negatif dan memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk memperbaikinya.
Dalam berhubungan dengan ”Boss” – terutama boss dari indonesia—kita tidak bisa melepaskan status hubungan peran dan relasi. Dimana kita tidak saja dituntut bekerja dengan sempurna seperti peran dan posisi kita, tetapi juga kita dituntut untuk menjadi bawahan seperti layaknya junior dalam budaya ketimuran. Bukankah begitu?
Lalu disini, rasa senang dan tidak senang bercampur dalam kepala boss atas dasar prestasi kerja dan prestasi kepribadian yang kita tampilkan. Mempelajari betapa saya pernah menderita kerugian atas pemikiran yang negatif itu, maka saya mencoba mengingat kembali 7 hal jelek yang bisa merugikan semua bawahan;

Tidak Jujur
Dibohongi terasa sangat menyakitkan dan memalukan. Mungkin kerugian materialnya tak seberapa. Tetapi jelas bahwa selain kita mendapatkan data palsu, kita juga merasa malu, karena kita ditempatkan oleh si pembohong dalam urutan paling bawah. Ia menyepelekan kita dan menganggap enteng diri kita. Itu artinya kita tidak dihargai.
Berbohong tidak ada yang putih dan tidak ada yang hitam. Semua tindakan yang tidak jujur adalah penipuan. Satu sikap yang jelas membeda antara yang diucapkan dan yang dipikirkannya. Bisa saja kita berbohong agar tidak dimarahi, tetapi pada kenyataannya atasan akan lebih marah ketika kita membohonginya. Dengan alasan apapun. Lihatlah betapa tidak jujur bisa membawa kita kepada kemungkinkan PHK tanpa hormat.

Tidak Disiplin
Aturan diciptakan untuk kebaikan bersama. Aturan diciptakan dan diundangkan untuk memastikan semua hak terpenuhi. Ingatlah betapa saat kita melamar dulu, kita sudah menghiba dan memelas sambil berjanji bahwa kita akan menjadi disiplin setiap saat asal kita diterima kerja disana.
Namanya saja manusia, mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya lupa dan lalai. Demikian juga dengan bawahan yang lalai atas janji yang pernah diucapkannya.
Pengingkaran itu biasanya berupa ketidak disiplinan. Bermula dari rasa bosan, ingin mencoba-coba, hingga akhirnya karakter tidak disiplin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kita.
Coba bayangkan betapa marah seorang pimpinan yang mendapati bawahannya sering terlambat masuk kantor, tidak pakai seragam, tidak menjalankan aturan yang ditetapkan, sering absen tanpa alasan, dan sebagainya.
Yang pasti ketidakdisiplinan ini bukan saja menjengkelkan, tetapi juga seperti penyakit yang mudah menular pada karyawan lain.

Pengecut
"Bukan saya, tapi mereka yang...," seperti inilah yang diucapkan oleh pengecut demi membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Para pengecut akan berusaha mencari berbagai dalih untuk melemparkan tanggungjawab kepada orang lain.
Yang membuat sial operasional adalah jika aksi lempar tanggungjawab ini terjadi antar bagian secara berantai. Coba banyangkan, ketika seorang satpam pengecut ditegur kenapa tidak mengganti bola lampu yang sudah mati, ia akan menyalahkan bagian tehnik/perawatan, dan teknik/perawatan akan menyalahkan bagian gudang, bagian dugang akan menyalahkan bagian pembelian, bagian pembelian akan menyalahkan bagian yang lain dan seterusnya. Coba bayangkan, bukankah itu adalah sebuah awal dari bencana?

Selalu Mengeluh
Yang sangat pasti adalah bahwa kita harus sadar bahwa perusahaan bukanlah surga, dan atasan bukan Tuhan yang bisa memberikan kesempurnaan. Saya yakin bahwa tidak ada perusahaan dimanapun yang sanggup menjanjikan kesenangan serta perasaan bahagia.
Jika kita tidak pandai menciptakan kebahagiaan sendiri, maka kita hanya akan menjadi pengeluh ulung. Kita dibayar dengan tugas untuk meringankan beban atasan bukan menambahinya dengan beban baru berupa keluhan-keluhan yang tak bermutu.

Pembangkang
Atasan mana yang tak kesal jika perintahnya dianggap angin lalu. Kesepakatan yang terjadi antara atasan dan bawahan pada saat pemberian tugas, haruslah dikerjakan bukan untuk dibiarkan atau ditunda-tunda, kecuali sejak awal kita memberitahukan kondisinya.
Berinisiatif memang bagus, tetapi jika kesepakatan sudah terjadi, bagusnya semua orang melaksanakannya sesuai kesepakatan. Lebih berbahaya lagi jika pembangkangan dilakukan atas dasar rasa tidak suka dan berdalih kesepakatannya tidak bagus.
Kebiasaan serba meng-iya-kan apapun kata atasan adalah awal dari aksi pembangkangan ini.

Loyo
Perang sekecil apapun tidak akan dimenangkan jika prajuritnya loyo tidak bersemangat. Keloyoan ini bisa tercermin dari muka murung, tampang mengantuk, atau pakaian acak-acakan. Bisa juga terlihat kalau sedang mengerjakan tugas dengan malas-malasan, atau setengah hati, lamban,
dan akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan.

Miskin Dedikasi
Dedikasi saya terjemahkan sebagai ketulusan pengabdian. Seorang bawahan yang berdedikasi tak hanya menyelesaikan tugasnya dengan baik tetapi berusaha untuk hasil yang terbaik. Ia akan berusaha melibatkan semua potensi dan kemampuannya untuk hasil terbaik.
Bawahan yang selalu berhitung untung rugi hanya mau mengerjakan tugasnya sendiri dengan seadanya tanpa mau mengejar prestasi. Dia pulang selalu tepat waktu, bahkan jam kerja belum lagi usai dia sudah berkemas-kemas. Bila diberi tugas di luar jam kerja mungkin masih mau menerima tetapi dengan muka masam atau langsung menolak. Sifat semacam ini sungguh menggemaskan atasan.
Yang terakhir, perlu dipahami bahwa tulisan ini bukan untuk membela atasan, tetapi marilah kita mengaca diri. Sebelum menuntut seorang atasan yang ideal, apakah kita sudah menjadi bawahan yang baik?

Referensi "7 Sifat yang Tak Disukai Atasan", Buntje Harboenangin
Previous
Next Post »