“Tidak Seindah Khayalan…”

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 21 Juli 2008 di halamam bisnis dan teknologi
“Mau Jadi Presiden…..” teriak kita saat masih anak-anak dan hingga kini saya pikir semua anak-anak akan meneriakkan harapan yang sama ketika ditanya mau jadi apa mereka nanti kalau sudah besar. Memang ada profesi lain seperti tentara, dokter, insinyur, guru dan lain sebagainya. Dalam bayangan kita, berbagai kebaikan tercermin dari profesi tersebut diatas.
Apakah memang demikian kenyataannya?
Dalam beberapa waktu saya pernah telibat dalam sebuah hajatan menyambut Presiden Negeri kita ini. Mengikuti semua proses persiapan, hingga pelaksanaan. Kesempatan itulah yang membawa saya kepada pengertian betapa berat menjadi seorang presiden.
Sebelumnya saya kira, menjadi presiden itu enak, menjadi penguasa negara, dihormati bahkan ditakuti oleh banyak orang, mendapat fasilitas kelas premium, mau apa-apa tinggal bilang dan tak ada alasan untuk tidak terpenuhi. Ternyata tidak hanya demikian adanya.
Disamping kemudahan-kemudahan diatas, ternyata menjadi presiden itu kerjanya jauh lebih repot. Apapun yang dikerjakannya setiap hari serba diatur. Bahkan pekara sederhana seperti makan pun susahnya luar biasa. Mulai dari menu yang dibatasi lalu di uji terlebih dahulu, kemudian jam makan juga dibatasi, bahkan lokasi makan juga diatur hingga terkadang seorang presiden benar-benar tidak memiliki pilihan selain harus menurut apapun kehendak protokoler.
Setelah seharian penuh dengan berbagai kegiatan yang serba formal, seorang presiden masih harus mengerjakan tugas-tugas administrasi pada malam hari atau memperkaya wawasan dengan membaca hingga dini hari. Lalu, beberapa jam kemudian seorang presiden harus bangun untuk ibadah dan aktifitas lainnya.
Sama seperti iming-iming para ‘perayu’ dari jaringan pemasaran berjenjang. Mereka menjanjikan, jika kita mencapai tingkat tertentu, kita tidak lagi terbelenggu waktu, kita bebas menentukan mau kita, dari seberapa jam kita mau bekerja atau bahkan kita dijanjikan pendapatan ’pasif’ yang sering dianggap sebagai tidak kerja tetapi akan mendapatkan hasil yang besar. Tanpa melihast prosesnya, tentu semua orang akan mengatakan iya, jika tidak kerja tetapi memiliki pendapatan yang besar dan terus-menerus.
Saya juga teringat, ketika masih menjadi seorang clerk, saya ingin sekali menjadi pemimpin utama sebuah perusahan. Saya pikir menjadi boss itu enak, boleh suka-suka dan mendapat gaji lebih besar. Ternyata tidak hanya itu. Memang gaji bisa jadi lebih besar. Memang menjadi boss tidak dituntut mengeluarkan kekuatan fisik secara berlebihan. Tidak cukup berkeringat. Tetapi yang pasti bukan tidak capek.

Berhenti Adalah Mati
Setelah melewati berbagai jabatan dari junior clerk, asisten supervisor. Supervisor, asisten manajer, manajer bagian, hingga pimpinan umum, saya merasa bahwa sebenarnya tiada istilah berhenti. Sepertinya sesaat ingin menikmati jawabatan, tetapi tetap saja justru jabatan dan tanggungjawab yang diemban, semakin menuntut dedikasi yang lebih tinggi lagi.
Demikian juga ketika memulai bisnis, semakin besar bisnis, semakin besar pekerjaan yang harus dilakukan. Kenyataan-kenyataan yang ada menuntut tanggungjawab yang semakin besar. Kenyataan itu menyadarkan diri bahwa impian semasa kecil, tidaklah sesederhana yang kita khayalkan.
Begitu juga orang-orang yang sukses dalam pola jaringan pemasaran berjenjang, mereka yang sukses itu tidak pernah berhenti. Memang benar mereka mungkin tidak lagi repot-repot jualan sendiri, tetapi mereka harus terus mengembangkan jaringan, memotivasi orang-orang dibawahnya dan aktif memposisikan dirinya di masyarakat dan urutan jaringannya.
Terjebak dalam kondisi selalu bersantai dan menikmati fasilitas adalah langkah bodoh seperti menggali kuburan sendiri. Dibelakang kita masih banyak lagi yang memacu lebih kencang, masih banyak pesaing yang akan mengambil porsi kita, jika kita lengah. Bagi saya, berhenti berarti mati, karena berhenti adalah pembodohan dan itu membiarkan diri kita terduduk lalu tertinggal dan kalah lalu terlupakan begitu saja. Boleh saja kita berpesta merayakan setiap sukses, tetapi mengasah senjata untuk melanjutkan perjuangan adalah hal wajib yang tidak boleh dilupakan.
Lihatlah tokoh-tokoh publik datang dan pergi, tetapi tetap saja ada yang terus bertahan karena kemampuannya untuk selalu berubah dan memperbaiki diri. Lihatlah merek-merek yang sudah puluhan tahun, mereka tetap berjaya karena tidak berhenti, terus berubah dan terus menyempurnakan diri.

Proses
Ini yang sangat penting. Semua posisi unggul, sukses dan berbagi pencapaian adalah sebuah hasil atas berbagai daya upaya. Tentu saja usaha tersebut akan memakan waktu, biaya, kekuatan mental dan kemampuan manajemen plus ridha Allah YME. Tidak ada sukses yang mendadak, tidak ada kekayaan yang begitu saja datangnya, tidak ada kepandaian yang begitu saja datangnya.
Semuanya berproses, dari kecil hingga besar, dari miskin hingga kaya, dari bawahan hingga kemudian menjadi pemimpin/atasan, dari pekerja hingga menjadi pengusaha.
Proses yang tidak natural, seperti buah yang matang karena karbit. Buah karbitan memang cepat masak, tetapi akan terasa asam. Umumnya, buah yang asam tidak diminati oleh pembeli. Demikian juga kebalikannya, proses yang terlalu lambat juga kontra-produktif. Itu namanya melawan azaz kemajuan.
Menjalani proses sebagaimana mestinya itu sangat penting untuk menjadikan diri kita sebagai insan yang paripurna, lumrah dan membumi.

Paripurna
Bagi saya manusia paripurna adalah manusia yang sejalan antara pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan. Mereka adalah orang-orang yang sanggup menyatukan angan-angan keberhasilannya dalam pikiran yang teguh, perasaan dan optimisme yang terucap dalam perkataanya serta nyata dalam tindakannya.
Lihatlah betapa banyak pecundang yang berkhayal menjadi sesuatu atau menciptakan sesuatu, tetapi tidak segera menerapkannya dalam aksi nyata. Mereka masih tetap saja berkhayal dan tidak segera memulai prosesnya.
Bersiapdirilah untuk menduduki bangku sukses, termasuk konsekuensi-konsekuensi logisnya, agar tidak kaget dan tidak menghayal yang bukan-bukan. Ingat semakin tinggi pohon menjulang, semakin deras angin bertiup menerpanya.
Previous
Next Post »