Siapa Yang Pintar?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada tanggal 04 agustus 2008 di halaman bisnis dan ekonomi.

Beberapa kali saya menerima pesan berantai di internet yang sumbernya tidak bisa saya ketahui. Mula-mula saya abaikan saja, karena terkesan kasar dn kurang santun. Tetapi setelah surat yang kesekian, saya jadi merasa tergelitik untuk membaginya kepada anda. Pesan itu merupakan sebuah pemikiran sederhana, lugas dan asal saja. Ini seperti intermesso, kurang bisa dibuktikan secara ilmiah, tetapi cukup inspiratif walau sedikit ironik-sarkastik.
Mohon dipahami bahwa kata pintar dan kurang pintar yang saya gunakan adalah dalam konteks prestasi dan catatan akademik serta latarbelakang pendidikan formal saja. Dengan sedikit editing tanpa mengaburkan tujuan makna, begini tulisannya; Pertama; Orang yang kurang cerdas di sekolah sulit dapat kerja, akhirnya dia berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang yang kurang pintar.
Kedua; Orang yang kurang pintar disekolah konon sering melakukan kesalahan, maka mereka ada rekrut orang-orang pintar yang penuh ketelitian dan tidak pernah salah untuk memperbaiki yang hal-hal yang salah. Walhasil orang yang kurang pintar memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang yang kurang pintar.
Ketiga; Orang pintar biasanya belajar atau sekolah untuk mendapatkan ijazah guna selanjutnya mendapatkan kerja. Orang yang kurang pintar biasanya berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Keempat; Orang yang disebut kurang pintar tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
Kelima; . Orang yang kurangh pintar kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum. Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat atau mengedalikan segala peraturan yang menguntungkan orang yang kurang pintar tersebut.
Keenam; Orang yang kurang pintar biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang yang kurang pintarm tapi biasanya sudah terlambat.
Ketujuh; Orang yang kurang pintar berpikir pendek, untuk memutuskan sesuatu perlu bantuan orang pintar untuk memikirkannya secara panjang lebar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang yang kurang pintar.
Kedelapan Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Lalu orang-orang pintar berunjukrasa, walhasil orang-orang pintar "meratap-ratap" kepada orang kurang pntar agar tetap diberikan pekerjaan.
Kesembilan, Tapi saat bisnis orang yang kurang pintar berjalan maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang yang kurang pintar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Kesepuluh, Mata orang yang kurang pintar selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Kesebelas, Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong dam masih banyak lagi contoh yang lain; Adalah orang-orang yang tidak memiliki catatan prestasi akademik yang sangat istimewa (konon tidak pernah dapat S1) tetapi jelas mereka orang yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan hingg ratusan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang itu.

Untuk kaya tidak perlu sangat cerdas
Dalam kacamata bisnis dan kewirausahaan, salah satu kata kuncinya adalah "resiko" dan "berusaha". Dalam hal ini konon orang yang tidak sangat cerdas berpikir pendek dan sederhana maka mereka tidak gentar dengan potrensi resiko yang ada. Berusaha maksimal dan percaya, bahwa sukses adalah haknya dengan sambil berusaha untuk benar-benar memperkecil resiko tersebut.
Di sisi lain, orang yang cukup cerdas terbiasa berpikir panjang dan melihat serta mempertimbangkan segala kemungkinan dan potensinya, maka mereka akan benar-benar melihat potensi resikonya yang besar. Pada saat keraguan menjalar, waktu terus berjalan dan terkalahkan oleh pesaing yang nekad main duluan.
Belum lagi pemikiran orang yang jauh lebih cerdas menghendaki semua persiapan yang matang, baru mulai berbisnis. Padahal dalam konteks pertumbuhan bisnis, tidak ada yang namanya titik kesempurnaan. Dalam dunia perkembangan bisnis, menunggu sempurna baru bergerak adalah langkah cerdas yang paling tolol yang saya ketahui.
Untuk pemula, perkembangan bisnisnya biasanya seiiring dengan perkembangan kepribadian pemiliknya. Kecerdasan kewirausahaan pemiliknya akan mewarnai perkembangan bisnisnya. Disini jelas perlu keyakinan, bahwa tidak perlu menunggu sempurna untuk tampil dan maju. Seperti matahari tak perlu menunggu hingga panas terik untuk menguapkan embun.
Sepertinya saya sepaham dengan anda, bahwa untuk kaya, memang memerlukan kecerdasan, tetapi, cobalah berfikir sederhana, kerjakan dengan sahaja, fokus, fokus dan sekali lagi fokus. Selanjutnya, diperlukan keberanian yang tangguh. Keberanian ini sangat mudah terbentuk jika seseorang tidak memiliki data-data resiko yang berlebihan. Data-data resiko yang berlebihan akan memberikan trauma-trauma pikiran dan pada akhirnya memberatkan pikiran sehingga berakhir kepada ketakutan-ketakutan. Itulah makanya, lebih banyak orang yang lebih memilih menjadi pegawai, lebih nyaman atas resiko-resiko yang lebih besar.

Kurikulum Menjadi Orang Kaya?
Sepertinya hingga saat ini belum ada kurikulum disekolah-sekolah di Indonesia yang berisi cara-cara untuk menjadi orang kaya. Sepertinya yang ada hanya cara-cara untuk menjadi pegawai yang pandai dan berkualitas yang konon lebih memperkaya orang yang kaya.
Orientasi pendidikan kita masih berkisar kepada menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai (walau jelas-jalas hampir tidak ada yang benar-benar siap pakai). Belum lagi persepsi kebanyakan orang tua yang lebih menginginkan anaknya menjadi pejabat pemerintahan atau bekerja di perusahaan swasta yang menjamin, lebih dimotori oleh gengsi.
Saya merindukan sebuah sekolah yang benar-benar mendidik jiwa kewirausahaan kepada anak didiknya. Memberikan kesempatan berbisnis dan memiliki semua jaringan yang memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk memulai dan mengembangkan bisnisnya. Pendidikan apapun sangat penting untuk siapa saja. Semakin tinggi derajat pendidikan suatu bangsa jelas akan mendukung kekuatan negara itu sendiri. Teapi kok aneh rasanya jika negara yang besar penduduknya ini hanya pintar menjadi pekerja.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Anthony Harman
AUTHOR
August 12, 2008 at 10:25 PM delete

salam kenal...
saya permisi njiplak salah artikel anda. sangat 'kena' banget buat saya.

Reply
avatar