Memastikan binis menghasilkan uang ditangan


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & teknologi tanggal 25 agustus 2008



MISALKAN anda seorang pebisnis. Anda sudah mendapat hasil penjualan senilai A, lalu ada piutang senilai B dan pesanan yang belum dikirim senilai C. seberapa besar nilai uang yang anda dapat?
Ada yang mengatakan bahwa bisnis anda adalah total A + B + C. karena semuanya akan menjadi milik anda. Tetapi ada juga bilang bahwa uang dari bisnis anda adalah A saja. Mereka berfikir bahwa A-lah yang sudah pasti dan nyata ditangan kita. Sementara B dan C adalah masih potensial, belum menjadi kenyataan. Bisa saja dalam proses menagih B ada timbul masalah dan demikian juga ada potensi pembatalan untuk pesanan degan nilai C.
Cara pandang yang berbeda itu sepertinya menarik untuk dikombinasikan. Cara pandang pertama, banyak dipakai oleh pengusaha atau eksekutif yang oportunistik dan memberikan pengaruh optimis serta rasa harapan yang biasanya meningkatkan andrenalin dalam diri si pelaku. Potensi-potensi yang ada akan dikuak dan menjadi bantalan untuk langkah ‘berani’ selanjutnya.
Cara pandang kedua adalah pandangan yang realistik. Ini penting untuk memposisikan kaki kita tetap membumi dan nyata. Sayangnya jika salah menggunakan kacamata yang kedua ini, kita bisa terperangkap oleh rasa pesimis dan kekhawatiran yang berlebihan.
Dalam aplikasi manajemen keseharian, saya ada melihat cara ini digunakan secara berbeda oleh pemilik perusahaan dan para eksekutifnya. Perbedaan tersebut adalah cara melihat uang sebagai hasil dari bisnisnya. Pemilik perusahaan cenderung melihat uang yang nyata, yang ada di tangan kita sedang para eksekutif lebih senang menggunakan ukuran dari sisi seberapa besar pencapaiannya di laporan keuangan.
Ini jelas hanya sebuah perbedaan akademik dengan konsep klasik. Para eksekutif yang melewati pengalaman akademik, memahami segala sesuatunya melalui mekanisme dan menciptakan alat-alat bantu untuk memudahkannya, walau terkadang menjadi terkesan ribet dan menyulitkan serta jika tidak dikerjakan dengan lengkap, maka akan memberikan data yang tidak akurat.
Sementara itu, pemilik bisnis klasik yang bermula dari volume usaha sederhana juga akan menggunakan konsep sederhana dalam mengatur keuangannya. Tak cukup perduli dengan aturan hitungan, yang penting uang ditangan jelas jumlahnya.
Jikalah kita menggunakan dasar prinsip bisnis adalah mencari uang dan uang yang benar adalah uang yang ada ditangan kita, bukan sekadar dilaporan, berikut saya ada beberapa tips untuk mengoptimalkannya.

Prinsip uang
Untuk prinsip bahwa uang yang sebenarnya adalah uang ditangan, maka pastikan semua prinsip mengenai keuangan adalah kepada hal-hal yang bisa mengarahkan kepastian uang tersebut kearah kita.
Yang pertama adalah pola penjualan yang mengutamakan pembayaran dengan tunai atau pembayaran lunas. Hindarkan peluang-peluang permintaan kredit. Sekarang banyak gerai yang memberikan layanan pembayaran dengan kartu kredit atau katu debit untuk mengurangi resiko piutang.
Kedua, jikalah harus memberikan kredit, usahakan agar tidak seratus persen. Mintalah uang muka. Kemudian, ada kepastian kredit dimana terbentuk sebuah jaminan bahwa kredit tersebut akan dibayar pada waktu tertentu dan jumlah tertentu. Pasti jaminan itu harusnya ada memiliki kekuatan hukum.
Seyognyanya keputusan memberikan kredit kepada seseorang atau sebuah badan usaha, mestinya harus melalui sebuah proses yang benar. Proses itu bermula dari permohonan kebijakan kredit oleh pihak yang membutuhkan, yang berisi segala informasi keuangan atas seseorang atau lembaga peminta fasilitas kredit. Setelah itu, kita harus melakukan segala bentuk check dan ferifikasi sebelum menyatakan bahwa seseoarang atau sebuah lembaga tersebut layak diberikan kredit dengan nilai tertentu dan dalam masa waktu tertentu.
Ketiga, pada saat menerima pesanan, seharusnya secepatnya kita harus mengikat pemesan dalam sebuah kesepakatan. Ya kesepakatan yang tertulis dengan jelas apa-apa saja hak dan kewajiban masing-masing pihak serta penalti atas pengingkaran kesepakatan jika terjadi.
Pelajari pola pemesanan yang sering terjadi dalam bisnis kita. Kadang seorang negosiator cukup cerdas dalam menyebutkan jumlah pesanan yang tinggi, sehingga kita memberikan harga murah, tetapi pada pelaksanaannya terjadi banyak pengurangan dan kita tidak berdaya untuk mengenakan penalti dengan harga yang lebih mahal kepadanya. Itu terjadi karena tidak ada penyebutan penalti-penalti yang jelas jika ada perubahan-perubahan dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Sangat bagus jika pada saat pengikatan kesepakatan, kita juga meminta panjar kepada pemesan. Agar terjadi ikatan emosi yang lebih dalam dan kita mendapat keuntungan atas uang yang jelas kita terima lebih awal dari transaksi sebenarnya.
Pesanan apapun itu harusnya diklasifikasikan kepada beberapa status tingkatan kepastinannya, sehingga mudah dinilai. Misalnya istilah tentative untuk yang belum pasti, confirm untuk yang pasti dan postpond untuk yang ditunda dan cancel untuk yang batal. Lalu confirm juga harus dilegkapi apakan sudah bayar atau belum dan kejelasan status pembayarannya. Kadang-kadang ada orang yang suka asal pesan atau khilaf memberikan informasi batal, sementara kita menganggapnya pasti jadi.
Keempat, hindarkan segala sesuatu yang berpotensi menghambat proses penagihan. Buatlah catatan yang bisa membuka mata kita dengan jelas siapa saja yang berhutang dengan nilai hutang serta masa piutang yang jelas. Jika ada usia tagihan yang lebih dari masa kesepakatan, biasanya sudah pasti itu adalah petunjuk adanya sebuah permasalahan. Jangan biarkan data itu tanpa perhatian serius. Segera amati kira-kira masalah apa yang terjadi, apakah karena faktor internal kita atau karena masalah internal partner bisnis kita. Segera ambil tindakan dan jangan biarkan masalah itu mengambang berlarut-larut.
Kelima, hindarkan semua praktek yang berpotensi mengurangi pembayaran. Semua diskon, komisi atau apapun itu harus dilakukan atas kesepakatan di awal transaksi. Kebijakan ini bisa terasa kaku tetapi ini sangat penting untuk memastikan bahwa transaksi yang tercatat benar-benar terbayar seperti apa adanya.
Previous
Next Post »