Berjaga diri atas imbas krisis

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & ekonomi tanggal 13 oktober 2008

MEDIA massa sangat gencar mengabarkan keterpurukan ekonomi global karena kegagalan penanganan ekonomi negara besar Amerika Serikat. Sekarang sepertinya ancaman kebangkrutan global seperti anak panah beracun yang sudah melesat tepat ke arah mata kita. Sialnya sebagian dari kita sedang berada di dalam kegelapan, sehingga tidak tahu mata panah seperti apa yang sedang meluncur. Harus menghindar ke mana? Harus menangkis seperti apa? Sementara itu, cepat atau lambat kita akan terkena anak panah beracun itu, jika tidak minimal terserempet.

Banyak ekonom menggambarkan keadaan kritis tersebut, tetapi saya tertarik untuk mengadopsi cara pandang seorang Dahlan Iskan, pemilik jaringan media besar Indonesia tentang krisis ekonomi dunia ini. Dalam sebuah tulisan yang berjudul Krisis Subprime di Amerika Serikat, Kalau Langit Masih Kurang Tinggi. Dalam tulisan itu Dahlan menggambarkan betapa ketamakan secara beregu menjadi biang kerok krisis global ini.

Dahlan menggambarkan krisis itu bermula dari keinginan semua pihak untuk meningkatkan kekayaannya. Berikut cuplikannya:

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terusmenerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber

Pada bagian lain: di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan borostidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercitacita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain.

Roboh semua
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?

Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Lalu Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN 700 miliar dolar AS.

Upaya penyelamatan 700 miliar dolar AS mestinya bisa menenangkan pasar. Tapi ternyata jumlah itu menimbulkan keraguan baru, yaitu dari sisi kesehatan keuangan pemerintah Amerika.

Jumlah utang pemerintah kini mencapai 9,7 triliun dolar AS dan tiap hari bertambah 1,8 miliar dolar AS. Dengan upaya penyelamatan itu, batas atas utang pemerintah ditetapkan 11,3 triliun dolar AS. Pada masa pemerintahan yang akan datang, siapa pun presidennya, bukan tidak mungkin rasionya meningkat menjadi 100 persen.

Bagaimana dengan kita?

Nah, sekarang kita harus bagaimana? Dalam obrolan singkat dengan pakar ekonomi John Tafbu Ritonga, sepertinya sekarang sudah bisa terbaca paling tidak 6 bulan ke depan semua pengusaha Indonesia akan merasakan serempetan dan tusukan panah beracun yang sudah meluncur sekarang ini. Indikasi-indikasi seperti pasar saham, tingkat inflasi, suku bunga bank dll mengarah kepada pembenaran asumsi tersebut.

Benar kita sudah 10 tahun terlatih dan terbiasa dengan gejolak krisis yang datang dan pergi. Tetapi bukan berarti kita tidak akan goyah dengan situasi si 'Gajah'yang sedang sakit itu. Secara serderhana, nilai uang akan terganggu. Lalu daya beli masyarakat akan merendah. Permasalahan kredit perbankan dan lembaga keuangan lainnya juga akan bergejolak.

Lalu kita harus bagaimana? Berhemat. Penghematan tetap akan menyelamatkan kita dalam krisis apapun. Pastikan pembiayaan benarbenar tepat dan efektif.

Cermatlah dalam hal keuangan. Investasiinvestasi baru yang 'masih coba-coba' mestinya ditunda hingga saatnya semakin jelas dan terang. Investasi yang mengarah kepada kepemilikan tanah sepertinya cukup 'aman' dibanding polapola saham/valas. Periksa dan rencanakan pola utang dan piutang. Jika memungkinkan memperbaiki kondisi hutang mungkin lebih bijak, baik dari masa hutang dan tingkat bunga serta cara pengembaliannya. Perpendek masa piutang.

Menjaga pasar
Memang bagus mencaplok pasar-pasar potensial yang baru, tetapi menjaga pasar yang sudah ada adalah langkah bijak yang harus dipertahankan. Waspadalah untuk produk-produk premium yang pembelinya terbatas.

Benar bahwa karakter masyarakat kita adalah masyarakat konsumsi yang sudah terbiasa membeli, tetapi daya beli yang menurun juga akan memaksa mereka akan sedikit 'berpuasa'.

Yang terakhir, setelah semua usaha dilakukan, segeralah sorongkan tangan kita agar digandeng Tuhan. Biarlah Dia yang menyelamatkan kita. Amin.
Previous
Next Post »