Menjadi istimewa Atau Sekadar saja?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 27 Oktober 2008, pada halaman bisnis & teknologi
Selamat pagi para pembaca yang budiman. Pagi ini saya ingin menjawab sebuah pertanyaan yang diberikan oleh beberapa pembaca yang sedang gamang, terutama untuk Sdr. Anthony S. yang belum juga bergerak setelah 5 tahun diwisuda.
Untuk memulainya, ijinkan saya menyadur kalimat bagus dari seorang motivator nasional Mario teguh;
“ Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil, akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian didalam proses bekerja, didalam proses hidup.
Orang-orang yang mengerti alasan mengapa dia harus bekerja keras, akan tahan terhadap sulitnya bekerja keras.
Orang-orang yang tahu mengapa, akan lebih mudah menangani pertanyaan bagaimana caranya.
Orang-orang yang tidak tahu mengapa, akan berhenti waktu tidak tahu caranya.
Itu sebabnya upayakan selalu tahu, mengapa anda harus bekerja keras, mengapa anda harus mencapai keberhasilan”.

Konon, ada informasi bahwa satu pon (sekitar setengah kilo) baja sesaat di tambang harganya sekitar 5 dollar (45.000 rupiah). Dengan harga itu, beberapa fungsi bisa dikerjakan oleh besi baja itu, dari pemberat meja, mengganjal pintu atau pemberat kertas. Lalu jika baja dengan berat yang sama dibuat sepatu kuda, harganya akan naik menjadi sekitar 50 dollar (450.000 rupiah). Kalau baja itu dibuat jarum suntik kedokteran, nilainya menjadi 500 dollar (4.500.000 rupiah). Dan begitu baja itu dibuat menjadi pegas atau per yang diperlukan dalam jarum buatan Swiss, maka satu pon baja itu menjadi senilai 5000 dollar (45.000.000 rupiah).
Kisah yang sama adalah sekaleng minuman cola berkarbonasi. Beberapa kaleng keluar dari produsen yang sama dengan pengiriman yang sama. Begitu sampai grosir, harganya sekira Rp.4.500,- lalu menjadi Rp. 5.000,- sesampainya ke pengecer di pinggir jalan. Akan menjadi hampir Rp.10.000,- jika disajikan dengan es dingin disebuah rumah makan. Kita akan mendapatkan minuman yang sama dengan harga Rp.70.000,-an begitu sampai ke Pub yang terkenal dan elit (tentu saja dengan ramuannya).
Yang manjadikan harga produk yang sama itu menjadi berbeda harganya, adalah karena ada subuah proses yang membedakan. Ada perlakuan-perlakuan khusus kepada bahan mentah itu. Dari pengolahan, penambahan, fariasi, penggabungan dan pengemasan. Kesemua proses itu akhirnya menciptakan sebuah hasil baru yang lebih bernilai.
Persis seperti kupu-kupu merupakan gambaran proses penyempurnaan yang menarik, dari telur, manjadi ulat, berubah menjadi kepompong hingga akhirnya muncul menjadi salah satu mahluk yang memiliki sayap terindah di muka planet ini.
Alih-alih proses dan tujuan, semua bermula pada simpul yang sama. Anda mau apa? Anda ingin apa? Mengapa anda menghendakinya?

Bagaimana dengan kita?
Sekarang apa yang bisa kita lakukan dengan bahan mentah yang Tuhan telah berikan pada kita? Jelas kita menuntut berbagai kesempurnaan dari pihak lain, baik dari keluarga, relasi, kolega, pasar, pelanggan, bahkan kita juga berharap adanya situasi-situasi berubah menjadi baik untuk kita. Pertanyaannya adalah kapan kita merubah diri sendiri.
Tuntutan kita kepada pihak lain agar berubah menjadi baik, seringkali disampaikan dengan energi yang berlebihan. Dengan marah atau bahkan dengan letusan senjata api. Tangan yang sama bisa digunakan untuk dua kepentingan yang berbeda. Tangan yang sama bisa saja digunakan untuk menodong dan merampok atau mengendalikan proses korupsi besar-besaran. Lalu tangan yang itu juga bisa digunakan untuk mencangkul, bertani, melukis, mengetik dan serangkaian kerja halal yang lainnya. Satu batu bata bisa dipakai untuk melempar jendela rumah tetangga atau menjadi bagian dari suatu bangunan yang indah.
Energi untuk menyesali hidup dan merengek sama besarnya jika digunakan untuk membangun kehidupan itu sendiri. Pikiran yang ragu-ragu serta khawatir untuk memulai usaha sama besarnya jika usaha itu langsung dikerjakan.
Sudahkan kita melihat potensi lengkap kita? Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk meningkatkannya? Apa yang bisa Anda lakukan di waktu mendatang untuk membuka bungkusan potensi Anda dan terlibat lebih jauh dengan kapasitas Anda untuk membuat dunia lebih baik?

Bagaimana dengan bisnis kita?
Bijih besi akan memiliki nilai tambah begitu ia diolah seperti layaknya masakan. Terampilah seperti seorang koki yang mencampur, meramu dengan pemanas, pendingin, bahkan penggilas, hingga tercipta sajian yang nikmat.
Belajarlah dari seorang pelukis, sang maestro, yang bisa mencampur warna-warna menjadi sebingkai lukisan berharga mahal.
Benar kini krisis global mengancam bisnis kita, tetapi daripada membuang energi memikirkan dan berkhawatir yang berlebihan, masih lebih bagus jika energi itu digunakan untuk mencipta, meramu dan mengolah agar bisnis kita terus bernilai tambah yang pada gilirannya akan memberikan keuntungan lebih bagi kita.
Lakukan dengan keberanian tinggi, jika perlu kerjakan dengan kenekatan yang tinggi. Mario Teguh berprinsip; Lebih terhormat gagal karena mengerjakan hal besar dari pada sukses melakukan hal-hal kecil.
”Gagal melakukan hal-hal besar itu tetap lebih terhormat daripada berhasil melakukan hal-hal kecil.
Orang-orang yang gagal melakukan hal-hal yang besar sudah pasti berhasil melakukan hal-hal kecil
Orang-orang yang mengambil tantangan-tantangan besar dalam hidupnya selalu mempunyai kesempatan dua yang baik sekali, satu untuk betul-betul berhasil atau kedua gagal dengan sangat terhormat.
Janganlah kita menjadi pribadi yang gagal pada urusan-urusan yang kecil lalu mengeluh bahwa hidup ini tidak fair.
Ambillah tantangan yang lebih besar, gigitlah lebih besar dari kemampuan mengunyah sehingga gagalpun kita tetap dihormati”.

Melengkapi usaha anda untuk memproses diri menuju sukses, ada orang bijak yang mengatakan “Agar dapat bahagia, isilah tanganmu dengan kerja, isi hatinmu dengan kasih sayang, isi pikiranmu dengan tujuan, isi ingatanmu dengan ilmu yang bermanfaat, warnai masa depanmu dengan harapan, dan isi perutmu yang lapar dengan makanan.
Previous
Next Post »