Prasasti

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada di halaman Bisnis & Teknologi pada tanggal 03 November 2008

PERJALANAN yang penuh dengan pemandangan indah, melewati beberapa tanjakan perbukitan, menyisir sederet pandati pasir putih dan hamparan keindahan laut, membawa saya dititik ini. Titik KM 0, belahan Indonesia yang paling barat di Pulau Sabang.
Sekarang saya berdiri di depan tugu tanda posisi KM 0 dan melihat jelas disekitar saya begitu banyaknya berserak prasasti ’swasta’ yang menempel dibebatuan besar dihalaman tugu. Prasasti itu terbuat dari pualam yang sepertinya sudah dipersiapkan dari asal para petualang tersebut.
Prastasi tersebut dibuat untuk menandai bahwa mereka sudah sampai di KM 0. mereka adalah orang-orang dari berbagai klub sepeda motor, club sekolah, mapala, asosiasi-asosiasi dan berbagai kelompok lainnya. Terlihat asal pemasang prasasti tersebut bukan saja dari kepulauan Sumatra tetapi juga dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
Tidak sekadar deretan prasasti, tetapi juga banyak grafity dari cat atau spidol bagi mereka yang tidak cukup bermodal dalam meninggalkan jejaknya. Pepohonan di depan tugu pun tidak dilewatkan, Nampak beberapa bendera club lengkap dengan daftar nama anggotanya melilit membungkus kulit pohon tersebut.
Saya menjadi teringat betapa beberapa situs penting sering juga mendapatkan perlakuan sama dari pengunjung-pengunjungnya. Di puncak Gunung Sinabung, Tanah Karo sekalipun keinginan untuk meninggalkan pesan jelas terlihat. Tanpa cat dan prasasti, para pendaki mengukir namanya dengan menyusun bebatuan diareal kawah mati. Satu persatu batu dirangkai menjadi huruf-huruf raksasa dan akhirnya membentuk nama dirinya.
Meniggalkan kenangan itu juga bisa kita lihat di Goa Jatijajar- Kebumen Jawa Tengah, Di Pangandaran -Jawa Barat, di Jembatan terpanjang - Batam, di Ngarai Sianok - Bukit Tinggi, dan diberbagai daerah lainnya. Tanda-tanda itu begitu menarik bagi banyak orang. Bukankah itu peluang baik untuk kepentingan bisnis kita.

Pengakuan
Keinginan manusia untuk diakui amatlah besar. Sehingga bisa saja mereka melakukan berbagai hal agar mendapat pengakuan itu. Sentuhan personal dan istimewa adalah perlakukan yang sangat diinginkan oleh semua orang.
Star Buck sekarang mengembangkan kebiasaan menarik dengan menuliskan nama pelanggan dengan pilihan kopi kesukaannya di papan tulis yang bisa dilihat publik. Sebuah ide penghargaan kepada pelanggan yang cerdas serta memancing pelanggan lain untuk lebih loyal sehingga suatu saat nama pelanggan tersebut juga akan tertulis di papan.
Beberapa restoran besar memajangkan botol-botol minuman pelanggan tetapnya lengkap dengan label namanya. Sehingga pelanggannya berlomba-lomba ingin memajangkan namanya juga disana. Tampilan rak tempat pemajangan botol-botol tersebut ditata di lokasi yang mudah dilihat dan mencolok. Sebuah pengakuan bahwa nama-nama pemilik botoil tersebut adalah kelompok tertentu yang istimewa. Sebuah strategi gunting bermata dua, membuat pelanggan loyal dan memancing pelanggan lain melakukan hal yang sama. Tentu saja ada syarat-syarat khusus untuk mendapatkan layanan itu, sehingga hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya.
Jika anda merayakan bulan madu di Hotel Nuansa Maninjau Resort, maka anda akan dihadiahkan sebatang pohon untuk ditanam, lalu nama anda dan pasangan akan dituliskan di papan yang ditanjapkan didepan pohon kenangan tersebut. Betapa sebuah ide pemasaran yang cerdas. Pohon itu manjadi bukti kasih sayang tamu tersebut dan akan diingat sepanjang hidupnya. Suatu saat pasangan itu akan kembali lagi untuk melihat pohon kenangannya dan otomatis hotel itu akan mendapat bisnis lanjutan.
Dahulu, jika ada anak-anak naik pesawat terbang sendirian tanpa didampingi orang tuanya, kepada si anak akan diberikan kenang-kenangan berupa pin berujud Wing terbang yang disematkan di dadanya. Sebuah penghargaan atas keberanian si anak dan kepercayaan orang tuanya kepada perusahaan penerbangan tersebut. Wing itu akan menjadi prasasti yang tidak akan terlupakan oleh si anak. Bisa dibayangkan jika besar nanti, si anak akan memilih penerbangan apa untuk perjalanannya.

Kenangan
Kilometer 0 di Sabang tidak menjual apapun kecuali angka 0 itu sendiri. Keindahan alam hanyalah bumbu penyedapnya. Tidak ada sarana akomodasi bahkan tak ada penjual rokok atau souvenir layaknya di daerah wisata. Namun demikianlah produknya. Seseorang hanya ingin mencapai titik 0 lalu mengabadikannya dengan foto di lokasi ini.
Saya jadi teringat betapa kami sangat senang dengan foto bersama seoarang presiden, sehingga dengan senang hati kami perbesar foto tersebut dan kami pajang di kantor kami agar semua orang bisa melihatnya.
Kenangan yang membanggakan adalah hal penting untuk seseorang, seperti seorang sahabat yang sudah mengkoleksi lebih dari 200 sertifikat seminar, dia terus mengkoleksi sertifikat serupa dan dia ingat persis seminar apa saja yang pernah diikutinya.

Formulasi
Menciptakan kenangan dan pengakuan kepada pelanggan adalah hal penting untuk menjaga loyalitas pelanggan. Untuk menciptakan hal tersebut, selayaknya memenuhi beberapa kaidah dasarnya, yaitu;
Pertama, bersifat isimewa. Kenangan itu tidak diberikan kepada semua orang. Artinya harus diciptakan pembatasan-pembatasan agar yang mendapatkan merasa bahwa program tersebut adalah benar-benar program istimewa. Pembatasan bisa dari pemilihan secara subjektif manajemen atau berdasar kriteria terbuka yang diketahui oleh semua orang, misal untuk pelanggan yang sudah loyal selama beberapa tahun, atau pelanggan dengan nilai transaksi tertentu dan lain sebagainya.
Kedua, bersifat menghargai layaknya bintang tanda jasa. Seseorang harusnya merasa bangga dengan penghargaan tersebut. Selain alasan pemberiannya yang istimewa, tanda penghargaan itu juga tampil menarik dan istimewa.
Ketiga, diberitakan kepada orang banyak. Seseorang akan merasa bangga jika orang lain membanggakan dirinya. Dan pemberitahuan itu akan memancing orang-orang lain untuk bisa mendapatkan penghargaan tersebut.
Keempat, sistem prosedural pemberian penghargaan harus jelas dan dipahami semua pihak internal perusahaan kita. Berlaku secara standard dan bertindak lanjut.
Kini saya sedang ragu-ragu, haruskah saya tinggalkan jejal kaki saya di Kilometer ini? Atau biarkan saja kenangan itu terpatri dalam hati saya yang sudah merekam jelas keindahan pulau ini.
Previous
Next Post »