PROMOSI YANG MEREMBES

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada,pada halaman bisnis dan teknologi, tanggal 17 nobember 2008

SAMPAI pada suatu masa, produk kita cukup dikenal oleh target pasar yang dikehendaki. Tentu saja untuk meningkatkan penjualan, kita perlu menjaga agar pasar tersebut tetap loyal, publik tetap menyadari kehadiran produk kita, pasar baru yang petensial terbuka untuk kita dan kita juga tetap menjaga pesaing agar tidak sampai mengalahkan kita.
Untuk mencapai harapan-harapan diatas, kita perlu tetap melakukan langkah-langkah promosi. Strategi promosi yang terbuka dan langsung, memang umumnya lumayan cocok untuk masa awal agar sesegera mungkin orang mengenal produk kita. Berbeda dengan promosi di awal pengenalan, strategi promosi yang bersifat ‘mempertahankan’ dan ‘menjaga’ kadang kala harus berbeda dengan strategi awal.
Perbedaannya adalah bahwa publik dianggap sudah mengetahui pesan-pesan awal, sehingga tidak perlu berlebihan mengulang pesan-pesan karena pengulangan yang berlebihan cenderung akan mendapatkan penolakan.
Disinilah kita perlu menciptakan strategi promosi yang halus, santun dan merembes. Saya gunakan istilah merembes, seperti air hujan yang tidak diketahui tetesannya tetapi jelas dinding atau langit-langit kita menjadi basah.
Promosi ketika pertama kali, mestinya seperti hujan deras! Jelas terlihat airnya, jelas terlihat basahnya, jelas terdengar suara airnya, jelas terasakan dinginnya. Semuanya jelas dan tegas. Selanjutnya, tahap susulan cukup sesekali seperti hujan gerimis. Lalu stategi rembesan akan menjadi cukup efektif pada masa ’mempertahankan’ atau ’menjaga’.
Konsep promosi yang merembes, memberikan efek nyata tanpa disadari proses kedatangannya. Ini penting karena kebanyakan orang akan menolak apapun yang bersifat ’menjual’ atau berbau ’promosi’. Sekali lagi saya gambarkan, betapa orang dengan segera mengganti channel tv begitu ada iklan. Kini orang-orang hampir tidak lagi membaca spanduk di jalanan karena mereka berfikir itu adalah pesan promosi. Atau mungkin anda sendiri merasa ’terganggu’ ketika petugas promosi atau penjual dari suatu perusahaan berusaha menemui anda di rumah atau di kantor. Masih ingat, bagaimana perasaan anda saat penjual polis asuransi berusaha menemui anda?
Konsep promosi yang merembes, mengurangi penolakan dan perlawanan, tetapi pada akhirnya terasa sangat jelas dan publik yang kita tuju benar-benar merasakan hal itu.

Aplikasi
Di daerah Klambir Lima, Kecamatan Haparan Perak, Kabupaten Deli Serdang ada seorang pengusaha persewaan alat-alat perlengkapan pesta. Dia memiliki tenda-tenda dalam berbagai ukuran, kursi, perlengkapan makan, perlengkapan dapur, lengkap hingga mesin pompa dan generator listriknya. Saya memanggilnya Haji Yatno.
Seingat saya kini Haji Yatno juga menerapkan konsep promosi terselubung yang merembes itu. Di lingkungan sekitar Ia tinggal, Ia dengan cepat dan sigap berusaha memberikan tenda tratak secara gratis jika ada yang tertimpa kemalangan. Lalu, memahami banyak tetangganya yang tidak memiliki kalender, Ia juga mencetak kalender yang menonjolkan pesan-pesan religius sesuai dengan keyakinannya. Pesan itu jauh lebih menonjol daripada pesan bisnisnya. Karena Ia memahami sudah dalam tahapan dikenal, sehingga tidak lagi perlu menyampaikan pesan-pesan khusus selain informasi alamat usahanya. Ia hanya memastikan bahwa orang harus tahu jika bisnisnya masih tetap ada.
Terlepas dari niatan ibadah yang dikerjakan Pak Haji Yatno, jelas langkah-langkah itu memiliki nilai promosi yang merembes dan efektif. Disisi lain, masyarakat penerima ’pesan’ atas tindakan Pak Haji menganggap bahwa tindakan Pak Haji sebagai hal yang wajar, sederhana dan meringankan beban orang lain. Sebuah langkah yang terpuji.
Kegemaran Pak Haji beribadah dengan menolong sesama, aktif dalam pengajian di kampung serta aktifitas sosial yang lain, mengantarkan Pak Haji kepada poluaritas sosial. Pada gilirannya opularitas ini menempatkan nama Pak Haji dalam urutan pertama diingatan setiap orang di kampungnya saat memerlukan perlengkapan pesta.

Merembes
Promosi yang merembes atau terselubung menyesuaikan dirinya dengan situasi target, lalu memasuki dunia target dengan pendekatan yang halus serta tidak mengejutkan. Pola-pola merembes bisa dianggap sebagai promosi yang santun, menyentuh kebenaran universal, mendidik, membawa perubahan-perubahan kearah positif dan manusiawi.
Konsep promosi yang merembes dan santun ini bisa berisi hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan produk atau perusahaan kita sama sekali. Tetapi pada akhirnya publik akan menyadari bahwa dibalik pesan-pesan mulia itu ada kita, lalu seolah-olah, kita senyawa dengan pesan-pesan mulia tersebut.
Secara sederhana, jelas kita menyadari bahwa orang masih sering mencampur adukan siapa berkata dan apa katanya. Artinya, walaupun kita tidak menyebut diri kita secara berlebihan, orang jelas tahu bahwa penyampai pesan-pesan itu adalah kita.
Seperti rembesan air hujan, kita tidak menyadari bagaimana air itu datang, tetapi jelas air itu ada merembes di dinding atau di langit-langit rumah, meninggalkan noda dan berpotensi menghancurkan cat dan kayu yang dilewatinya.

Bentuk
Pada koran yang anda pegang saat ini, ada beberapa promosi. Yang secara jelas menggunakan iklan dan yang secara terselubung menggunakan penulisan berita. Jika menggunakan iklan, jelas kita tahu bahwa itu adalah promosi. Sementara itu, kita juga mengakui ada berita-berita yang bermuatan promosi, walaupun dikemas dalam bahasa jurnalistik.
Untuk bisa dan layak berpromosi melalui berita, kita harus membuat sesuatu yang bernilai berita. Lalu atas kegiatan tersebut, ada alasan untuk memberitakannya. Contoh sederhana, minggu lalu ada sebuah bank swasta yang menerima sekelompok murid SD yang ingin mengetahui dan belajar menabung. Jelas kegiatan itu bernilai terpuji, berisi informasi yang mendidik dan hampir semua orang setuju bahwa budaya menabung harus dimulai sejak kecil. Begitu foto yang muncul adalah petinggi bank tersebut, mulailah kita menyadari bahwa ada unsur promosi didalamnya.
Apapun bentuk-bentuk promosi yang ’halus’ ini, akan semakin mudah diterima jika pesan-pesan yang disampaikan memuat kebenaran universal, sesuatu yang diakui positif oleh publik. Syukur-syuklur bisa lintas batas, lintas suku, lintas religi dan menjunjung upaya-upaya membela yang lemah dan miskin serta kelompok-kelompok yang tidak beruntung.
Yang terakhir, berhati-hatilah dengan citra yang sudah sedikit salah kaprah. Memunculkan pesan-pesan positif dengan membaca citra negatif juga sedikit akan menunai perlawanan. Hanya perlu waktu yang lebih lama agar publik bisa menerimanya. Contoh yang saya maksud adalah beberapa perusahaan eksplorasi tambang / mineral dan perusahaan pemanfaat hasil hutan yang jelas terlihat sebagai perusak lingkungan lantas berusaha mengkampanyekan planet hijau dengan memberikan dukungan aktifitas-aktifitas publik yang mengarah kepada pelestarian alam. Sedikit aneh tapi...?
Previous
Next Post »