Swalayan? Mengapa Tidak

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & teknologi, tanggal 10 November 2008

Kini berbagai jasa toko swayalan menjamur dengan subur. Dari yang menyebut dirinya mini market hingga hypermarket. Kehadiran pemilik group swalayan nasional ke wilayah sumatera bagian utara akhir-akhir ini tidak lagi bisa dibendung dan konon itu mengkhawatirkan pedagang tradisional.
Sekarang model berbelanja juga berganti. Kini masyarakat sudah mulai terbiasa dan menikmati berbalanja dengan memilih dan mengambil barangnya sendiri. Tata ruang pamer barang sudah menjadi ilmu tersendiri. Tata ruang toko sudah menjadi ajang wisata belanja bagi orang kota. Bahkan dengan ruang publik yang semakin terbatas, pusat-pusat perbelanjaan adalah objek wisata yang ’terpaksa’ dipilih oleh orang-orang kota.
Gaya belanja yang sudah demikian berubah. Datang ke toko, mengantri dilayani oleh seorang penjual dan menunggu si penjual mengambilkan barangnya, memilihnya, dan menukarnya jika tidak cocok jelas sudah semakin tidak lagi menarik. Ada kepuasan tersendiri bagi pembeli yang diperbolehkan memilih sendiri barang yang hendak dibelinya.

Gaya Berbelanja
Gaya dan model memang terus berkembang dan pada akhirnya akan berulang. Nah kembali ke topik Swalayan. Saya pikir kini masyarakat cukup terdidik dan terbiasa untuk melayani dirinya sendiri. Ada kenikmatan yang khas, seperti membandingkan sendiri produk sama dengan merek yang berbeda. Bisa membandingkan kemasan dan takaran isinya. Bisa menentukan sendiri harga yang pas sesuai dengan selera. Berbelanja di swalayan sudah menjadi kultur baru dan itulah hal yang perlu kita perhatikan.
Tiap orang memiliki kesenangannya masing-masing. Kesenangan sederhana yang menarik. Seperti dua kawan saya, memiliki perbedaan gaya berbelanja yang sederhana tetapi prinsip bagi mereka yaitu tentang wadah belanjaan. Kawan pertama senang pakai troli karena mudah dan tidak berat, bahkan anaknya pun bisa ia masukkan ke troli yang didorongnya. Kawan kedua lebih memilih dengan keranjang, karena ia bisa memaksa diri berhemat dan tidak terpancing untuk membeli barang-barang diluar rencananya, karena keranjang muatannya sedikit dan akan terasa berat jika terlalu banyak isinya. Keranjang juga membuatnya tidak akan berlama-lama berbelanja.
Bukankah budaya ini cukup menarik untuk dimanfaatkan?

Menjadi Swalayan

Mungkin sudah saatnya dipertimbangkan pelayanan di toko kita dirubah menjadi berbentuk swalayan. Ada beberapa keuntungan jika kita memilih merubahnya menjadi swalayan.
Yang pertama, kita jelas mengikuti budaya baru yang sudah lumrah dalam belanja. Dengan ketertarikan pembeli melayani dirinya sendiri jelas itu merupakan peluang untuk menarik pembeli. Bukankah rasa senang bagi pembeli adalah kunci bisnis yang bekelanjutan?
Kedua, budaya swalayan sudah tercipta, sehingga kita tidak perlu banyak mendidik konsumen untuk menerima konsep swalayan tersebut.
Ketiga, potensi menghemat biaya pegawai pelayanan akan terbuka lebar, karena swalayan tidak membutuhkan banyak pelayan. Disisi lain, sistem swalayan akan mempercepat pelayanan karena pelayan tidak sibuk mencari dan membantu semua tahapan transaksi.
Keempat, potensi penjualan akan semakin terbuka lebar. Toko yang bisa, pada umumnya tidak cukup bisa mempengaruhi pelanggannya untuk bertransaksi lebih dari yang sudah direncanakannya. Karena pelanggan tidak banyak bisa melihat atau memegang produk yang dijual. Sedang tata pemajangan produk di swalayan memberikan kesempatan pelanggan untuk melihat-lihat barang-barang lain yang diluar rencana belanjanya. Saya pikir anda pernah terpancing untuk membeli sesuatu walaupun tidak merencanakannya begitu melihat barang itu terpajang di swalayan.
Kelima, produk swalayan tidak saja menjual produk dagangan, tetapi juga menjual lokasi. Pihak-pihak suplier sangat senang jika produknya dipajang diareal yang strategis, mudah dilihat dan dijangkau. Produk lainnya adalah kerumunan orang. Kerumunan orang ini juga mengundang pemasang iklan untuk mendekati swalayan kita. Dalam tataran swalayan modern, hingga saat ini swalayan sudah memiliki lebih dari 24 jenis pintu pendapatan dari pengelolaan swalayan dan itu baru pendapatan dari pihak suplier misalnya dari listing fee, sampai promotional fee. Bisa bayangkan dari yang lainnya?

Konsekuensi
Semua keputusan akan membawa konsekuensi logis. Demikian juga keputusan untuk merubah pelayanan di toko menjadi swalayan. Berikut hal-hal sederhana yang biasanya akan terjadi;
Pertama, sistem swalayan menuntut sistem manajemen stok dan pencatatan yang cermat dan sistematis, bukan sekadar mengandalkan ingatan masing-masing penjaga toko. Tuntutan ini adalah tuntutan positif karena segala sesuatunya menjadi serba objektif, tidak main perasaan dan tidak bergantung kepada kapasitas ingatan yang tidak konstant.
Kedua, sistem swalayan memerlukan areal ruang pamer yang bisa jadi lebih besar dari toko yang biasa. Penataan yang lega dan memudahkan lalu-lintas pembeli dan berpotensi meingkatkan volume penjualan seiring tingginya tingkat kepuasan dan tingkat kenyamanan berbelanja.
Ketiga, karena pembeli bisa memegang langsung produk yang akan dibeli tanpa pengawasan langsung, maka ada potensi hilang, pecah dan rusak. Belum lagi perilaku pembeli yang suka mencoba-coba, merusak bungkus yang tersegel dll. Tentu saja hal ini bisa dikurangi dengan pengawasan dan kerjasama dengan suplier yang memungkinkan retour.
Keempat, pembeli yang diberi kebebasan terkadang tidak cukup menghormati tatanan penempatan barang. Kadang kala mereka mengambil produk A dan saat berada dipajangan produk C mereka berubah pikiran. Lalu begitu saja meletakkan produk A diareal produk C. Ini yang berpotensi mengacaukan pengaturan stock dan pengawasan masa berlaku sebuah produk.
Kelima, pengelolaan hubungan dengan pihak suplier sangat penting. Kepastian

Kombinasi
Jelas bahwa mode atau gaya terus berulang. Demikian juga dengan berbelanja. Masih saja banyak orang yang senang dilayani atau memang mereka tidak terlalu mampu menolong dirinya sendiri. Disinilah fungsi orang-orang yang sering kita sebut dengan SPG (Sales Promotion Girl), mereka memberikan pelayanan sekaligus menggenjot penjualan di arela swalayan.
Swalayan-swalayan besar bahkan menenpatkan orang-orangnya untuk menjadi agen pelayanan. Mereka dilatih untuk memberikan bantuan dengan serta merta ketika melihat ada pembeli yang kebingungan dan memerlukan bantuan. Semua usaha tetap ditempuh demi mengoptimalkan penjualan.
Selamat mencoba.
Previous
Next Post »