Pembeli Excelence


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 24 november 2008 pada halaman teknologi dan bisnis


DUAPULUH tahun terjun dalam dunia jasa pelayanan, saya melihat bahwa sejatinya, pelayanan itu adalah sebuah aksi dan reaksi dari 2 pihak; pembeli dan penjual. Artinya pelayanan yang prima akan terwujud dengan prima jika terjadi keselarasan antara pelayan dengan yang dilayani.
Dalam obrolan-obrolan waktu senggang antar sesama pelayan, kita akan mendapati berbagai kometar tentang pembeli atau pelanggan yang kita layani. Baik dari komentar positif maupun komentar negatif. Ada yang menyanjung dan berterimakasih kepada palanggan tertentu, ada juga yang bersungut-sungut menyumpahi kesialannya melayani pelanggan yang ‘sulit’.
Benar bahwa pelayan memang bekerja dengan melayani. Melayani dengan tulus dan iklas semaksimal kemampuannya. Tetapi secara sederhana, para pelayan juga manusia biasa, yang bisa menilai dan bersikap atas perlakuan yang diterimanya dari para pembeli.
Setiap pelayan akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, lalu akan menjadi lebih baik, menyenangkan dan mudah begitu si pembeli juga memberikan perlakuan yang sopan dan manusiawi.
Bagi anda para pengusaha, penjual, atau pelayan, pasti suatu saat akan ada masanya kita menjadi pembeli. Apakah itu ke grosir, ke distributor utama, atau kepada semua suplier kita.
Ingat, pembelian adalah salah satu bagian penting untuk memaksimalkan keuntungan bisnis kita. Pembelian bukan hanya sekadar cerita harga yang murah, tetapi juga jangka waktu pembayaran, kecepatan pengiriman barang, garansi pengembalian jika ada kerusakan, dan layanan bantuan jika ada permasalahan. Artinya, jika proses pembelian dilakukan dengan senang hati dan lancar, niscaya kemudahan-kemudahan lain akan mengiringinya.
Benar bahwa pembeli adalah raja, tetapi raja yang santun dan bijak akan lebih mendapat penghormatan dari pada raja yang sok berkuasa, sok memiliki uang dan tidak memperhatikan pelayannya.

Menjadi pembeli excelence
Kiat sederhana untuk mendapatkan pelayanan prima tanpa harus menjadi ‘anggota istimewa’ yang pertama adalah memahami aturan main pelayanan dimana kita akan membelinya. Apakah harus antri? Apakah harus menyiapkan uang pas? Dll.
Tidak mempersiapkan dokumen dengan lengkap saat antri di bank, jelas mengakibatkan arus pelayanan menjadi terhambat. Bukan karena pelayanan yang jelek, tetapi kita sebagai pembeli juga terlibat dalam proses keterlambatan tersebut.
Yang kedua, pikirkan bahwa kita hanya membeli produk atau pelayanan, bukan membeli martabat pelayan. Artinya kita juga harus mengakui keberadaan mereka sebagai petugas yang sedang menjalankan tugasnya.
Terkadang, kita merasa memiliki uang sehingga kita tidak melihat mereka sebagai manusia yang bermartabat. Jangankan melihat mata si pelayan, senyumpun tidak ada keluar dari wajah kita. Ada kawan yang selalu tersinggung kalau tas-nya diperiksa oleh petugas keamanan, ada perasaan sakit hati dan diremehkan. Lalu ia menggerutu, “Baru jadi satpam sudah sok periksa”. Padahal si satpam hanyalah petugas yang menjalankan perintah atasan.
Ketiga; senyum ramah. Kita tidak akan rugi secuilpun begitu kita memberikan penghormatan dengan senyum. Senyuman memberikan efek membahagiakan dan pada gilirannya mengundang rasa senang bagi siapapun yang menerimanya.
Senyum di awal transaksi dan di akhir transaksi akan membuka pintu kerjasama yang baik. Anda akan dicatat sebagai pembeli yang ramah dan anda akan mendapat kebaikan yang kadang tidak kita bayangkan sebelumnya.
Keempat; memberikan penghormatan dan sikap yang layak. Saya percaya bahwa apa yang kita mulai akan berbalik ke diri sendiri. Jika kita menanam padi pasti akan tumbuh padi dan rumput, kalau menanam rumput, yang tumbuh hanya rumput. Artinya, begitu kita memberikan penghormatan, akan tumbuh juga penghormatan dan sesekali hal lain diluar penghormatan. Begitu juga kalau kita tidak memberikan penghormatan, niscaya kita tidak akan mendapatkan rasa hormat dari orang lain.
Membanding-bandingkan harga dan kualias dengan pesaing yang lain, bisa berakibat tertutupnya pintu kerjasama. Sebagian orang masih sulit membedakan antara bisnisnya dengan pribadinya. Mereka masih menganggap kritikan kepada bisnis itu sama saja dengan mengkritik diri pribadinya.
Sikap dewasa juga perlu diperhatikan. Kadang ada saja dari kita yang selalu mengeluh kepada penjual. Tiap bertemu atau tiap bertransaksi, pasti memberikan sederet keluhan dan koreksi, tetapi tetap saja kita menggunakan produknya. Aneh kan!
Kelima; jelaskan dengan jelas. Pelayan juga memerlukan pemahaman yang terang atas kebutuhan kita. Jika kita tidak menyampaikannya dengan jelas dan spesifik, kita akan mendapati kesalahan-kesalahan yang tidak kita inginkan.
Sangat mungkin pelayan, salah memahami keinginan kita. Kejadian salah order makanan di restoran terlalu sering terjadi karena kesalahpahaman itu. Istilah Teh di bagian Indonesia yang lain berarti minuman dengan rasa dan aroma daun teh. Di sebagian Sumatera Utara, teh berarti air putih.
Keenam; berikan empati. Pada saat kita mengalami perlakuan yang lesu dari seorang pelayan, ada baiknya kita sedikit berpikir, sudah berapa lama dia berdiri di situ. Kadangkala, berimajinasi mengenai kelelahan pelayan yang melayani kita bisa membuat hubungan kita dengan petugas menjadi lebih tulus dan baik.
Bercerita tentang dunia si ‘pelayan’ juga akan membuka pemahaman kita lebih baik lagi. Bonus, bonus kecil biasanya akan diberikan kepada orang-orang yang berempati kepada si pelayan.
Ketujuh; ucapkan terimakasih dan penghargaan. Ucapan terimakasih dan pujian akan membesarkan ‘perasaan berarti’ bagi si pelayan. Seperti kita, mereka juga akan ‘berbuat lebih’, jika mereka merasa dihargai dan diakui. Pujian tulus akan selalu berhasil menggerakan seseorang. Apalagi pemberian tips atas perlakuan pelayanan yang anda terima, pasti mereka akan meningkatkan kualitas pelayanannya kepada anda.
Yang terakhir, pembeli yang santun, ramah dan mau bekerjasama, biasanya akan menempati ruang batin yang baik di hati pelayannya. Mereka akan memberikan pelayanan yang sama tulusnya dengan ketulusan sereta kebaikan yang kita berikan kepada mereka. Anda akan menjadi pembeli yang dirindukan, bukan sekadar uangnya, tetapi mereka merindukan melayani anda di kesempatan lain. Mungkin ada yang masih ingat pepatah lama “Gentleman Serve Gentleman”.
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Ari
AUTHOR
December 27, 2008 at 4:46 PM delete

Salam kenal Pak, artikelnya bagus-bagus. Saya Ari, orang Diski, tau blog Bapak dari temen2 di NOS (Fajar M, dan Ainul H).

Reply
avatar
January 21, 2009 at 5:28 PM delete

salam kenal ari...
senang bertemu orang2 spt kalian,
jadi bikin umur lambat tua nya....

salam

Reply
avatar