“Tunggu Apa Lagi?” Komentar Terbuka Untuk Pengusaha Sate Ikan Ponorogo



Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada halamam teknologi dan bisnis, tanggal 15 desember 2008
gambar ilustrasi bukan yang sebenarnya

SATE ikan yang satu ini sangat khas, daging ikannya masih utuh dalam tusukan yang pas. Ikan dan rasa amis biasanya sangat lekat, tetapi juru masak Sate Ikan Ponorogo ini benar-benar piawai meracik bumbu sehingga bau amis dan bau tanah dari ikannya bisa sirnah.
Pembaca yang Budiman, ijinkan saya menuliskan saran-saran untuk pemilik gerai sate di Jalan Tempuling, Medan ini, karena saya yakin tulisan ini juga bisa di aplikasikan di bisnis makanan yang lain.

Hobby
Hobby bisa menjadi alasan bagus untuk memulai bisnis, seperti yang banyak dilakukan para pebisnis makanan. Kegemaran memasak atau menikmati masakah serta perhatian yang lebih terhadap dunia makanan adalah modal istimewa yang bisa menjadi bahan dasar pencetus ide berbisnis makanan.
Produk masakan yang tercipta karena hobby, biasanya memiliki kelebihan cita rasa yang istimewa dan berkualitas prima, karena proses penciptaannya melibatkan rasa senang dan suasana batin yang positif. Produk itu muncul dengan latar belakang cinta.
Cinta adalah bumbu masak yang paling istimewa. Itu bisa dibuktikan dengan komentar-komentar positif dari orang-orang disekitar yang pernah mencicipi hasil karya juru masak yang memang hobby memasak.
Hoby memasak yang dimiliki pengusaha Sate Ponorogo itu adalah asset awal yang positif. Karena ada ketertarikan yang besar dalam menghasilkan produk-produknya. Ada keterlibatan ketulusan hati dalam memprosesnya.

Hobby VS Tugas
Memasak karena hobby biasanya dilakukan tidak setiap hari dan tidak dalam jumlah besar. Tentu saja kualitas masakan hobby cenderung lebih mudah dijaga, karena volume dan durasinya cenderung sedikit dan singkat.
Itulah tantangan yang pertama saat menciptakan produk makanan dalam volume massal dan dilakukan setiap hari. Pertanyaannya adalah, apakah konsistensi kualitas produk tersebut bisa dijaga, dari potongan pertama hingga potongan yang kesekian kalinya. Apakah cita-rasa masih tetap bisa sama sejak hari pertama buka hingga beberapa waktu berikutnya?
Apakah batin yang iklas penuh kasih sayang dalam menciptakan makanan masih bisa terjaga sejak masakan pertama hingga pengulangan yang kesekian kalinya? Apakah masih bisa tugas yang rutin dan banyak tetap diiringi rasa cinta dan kesungguhan batin?
Sampai hari ini saya masih percaya dengan cinta kasih yang tulus bisa menembus seluruh relung batin manusia dari pojok manapun di dunia ini. Tentu saja produk dengan generator yang sama akan mendapatkan respons yang sama baiknya.

Karakter bisnis makanan
Nama aneh, adalah salah satu trik untuk memasuki dunia bisnis makanan yang jumlahnya sudah amat banyak. Apalagi untuk kapasitas investasi bisnis skala mikro dan kecil. Jika nama gerai sudah terlanjur dibuat dengan nama yang biasa-biasa saja, upayakan nama menunya juga yang istimewa, aneh dan jarang terdengar, sehingga akan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pembelinya.
Ingat, nama nasi goreng istimewa sudah tidak lagi istimewa, karena memang kata-kata nasi goreng istimewa selalu ada di hampir seluruh rumah makan / restoran. Artinya, kata ’istimewa’ itu jelas-jelas tidak lagi istimewa.
Bisnis makanan yang sudah banyak saingan, biasanya memiliki daur hidup yang pendek. Kita bisa lihat, gerai-gerai makanan yang ramai pada bulan-bulan pertama tetapi segera sepi pada bulan yang keempat. Upaya bertahan di bulan-bulan berikutnya menuntut banyak rahasia, misalnya lokasi yang strategis, suasana yang nyaman, variasi menu harian dan pelayanan yang khas serta memukau pengunjung.

Pemasaran
Cara sederhana dan klasik, penjualan dilakukan dengan menunggu pembeli datang. Tentu saja ini seperti memasang bubu di pojok sungai, sukur-sukur ada ikan yang masuk. Kini, sudah banyak cara lain dalam penjualan yang terbukti efektif.
Salah satu cara itu adalah dengan jasa layanan antar. Sediakan no telepon yang mudah diingat, beritakan lepada khalayak ramai dan siapkan armada pengirimannya. Mungkin bagus jika dimulai dari areal sempit dalam radius sekitar 3 hingga 5 km dari gerai. Ini penting sebagai bahan penjajagan dan pembelajaran sebelum sampai radius yang lebih luas.
Rahasia pesan antar adalah kecepatan dan ketepatan waktu. Ada dinamisme yang menarik di dalamnya. Pertama, harus ada standard pelayanan pemesanan dan standard kepastian identitas serta lokasi pemesan. Lalu yang kedua, harus ada pengaturan petugas dan alat transportasi dan selain proses pengolahan makanan yang pas, yang ketiga adalah standard kemasan, dimana kemasan harus mudah dibawa, aman (tidak berpotensi tumpah/bocor) dan kepastian kualitas makanan (panas/dingin/rasa) tetap terjaga selama masa pengantaran.
Penjualan lain yang berpotensi mengeruk keuntungan adalah pelayanan pesta. Sudah sangat umum, pesta-pesta pernikahan, ulang tahun atau hajatan yang lain ada menyediakan makanan-makanan pendamping. Makanan seperti Sate Ikan Ponorogo adalah salah satu makanan yang pas untuk kepentingan itu.
Oleh-oleh adalah salah satu produk potensial yang tidak memikirkan kenyang dan selera. Jika Sate Ikan Ponorogo bisa dikemas menjadi oleh-oleh, jelas potensi penjualannya akan meningkat tinggi. Keuntungan lain dalam pola penjualan take away ini adalah bahwa kita tidak harus menyediakan lokasi makan dan perlengkapannya.

Cabang
Membuka cabang --dalam versi bisnis klasik-- bisa dilakukan jika unit pertama mengindikasikan peningkatan usaha yang signifikan. Tetapi perlu disadari bahwa dalam bisnis makanan –yang bukan makanan pokok daerah yang bersangkutan—biasanya faktor trend/mode menjadi penentu penjualan. Sebuah makanan yang tidak lagi trend, biasanya akan tertinggal dan dilupakan.
Untuk itu, sudah waktunya untuk segera membuka cabang dengan jumlah yang banyak secepatnya. Bisa dengan pola modal sendiri atau dengan sistem waralaba.
Ini sangat penting karena, usaha promosi menempatkan citra produk akan memakan energi yang sama, baik untuk satu unit usaha maupun dalam jumlah yang banyak. Keuntungan lainnya adalah bahwa energi pikiran dan pengolahan bahan dasar juga relatif sama antara satu unit usaha maupun banyak unit usaha.
Yang terakhir, percayalah bahwa tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Mengerjakan sesuatu dengan menunggu kesempurnaan bisa kita raih terlebih dahulu adalah faktor yang berlawanan dengan kenyataan universal. Dengan kata lain, jangan tunggu semuanya menjadi baik baru kita bergerak maju. Segeralah maju saat ini juga, biarkan kita bertumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan bersamaan dengan proses penyempurnaan itu sendiri.
Previous
Next Post »