CURANG

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tgl 02 februari 2009 di halaman bisnis dan teknologi

BISNIS bagi saya adalah salah satu pintu yang paling efektif untuk menggapai Tuhan. Bisnis itu seperti puasa, hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Apakah takarannya benar? Apakah mutu produk benar-benar bagus? apakah pekerjaannya kita sempurna? Apakah harga kita cukup wajar?
Saya pikir anda juga setuju, bahwa dalam batin kecil kita akan ada suara-suara yang tetap mengkritik kita bilamana kita akan melenceng dari garis lurus yang dibenarkan Tuhan. Tingal kita putuskan untuk tetap mendengarnya atau menjajah si hati kecil itu dengan mengabaikan seruannya.
Sidang pembaca yang Budiman, terutama para praktisi bisnis. Kita tahu bahwa semua proses bisnis dari pencarian bahan baku, pengolahan hingga penjualan, semuanya memiliki potensi kecurangan. Dan kita sebagai pelakunya punya kesempatan untuk memilih, apakah kita meneruskan kecurangan atau kita menghindari kecurangan itu terjadi.
Saya yakin bahwa kecurangan akan mendatangkan kado yang negatif bagi siapapun yang melakukannya. Mungkin kita sedikit melakukan kecurangan di kemasan, bisa jadi imbal balik kesialannya tidak terasakan secara langsung dan persis seperti yang kita lakukan, tetapi ia akan datang dengan cara yang aneh dan kadang tidak masuk akan.
Yang pasti, akan selalu ada biaya atas segala kecurangan yang kita kerjakan. Entah berupa kecelakaan kerja, kehilangan, keluarga yang penyakitan atau mungkin kita sendiri mendapat berbagai penghianatan dari pegawai yang kita percaya atau dari pelanggan yang selama ini loyal kepada kita. ‘Pembalasan’ atas segala kecurangan yang kita kerjakan bisa berupa apapun dan biasanya terjadi tidak terlalu lama dari kecurangan yang kita sendiri lakukan.

Niat
Kecurangan dalam bentuk apapun biasanya bermula dari niat di hati. Keinginan untuk segera menjadi kaya adalah niat yang wajar dan positif. Tetapi jika cara-caranya tidak lurus dan merugikan pihak lain, jelas itu adalah niat yang berbahaya dan berpotensi merusak diri.
Semua proses bisnis yang bermula dari niat yang tidak tepuji, biasanya akan segera gagal dan tidak bisa bertahan lama. Mungkin akan ada kesempatan untuk menjadi terlihat seperti sukses dan berjalan wajar, tetapi itu hanya masalah waktu, itu hanya sebuah tangga yang mempertinggi tempat untuk jatuh.
Selama apa kita sanggup menjalankan bisnis dengan niat buruk? Lihatlah di media masa, pada akhirnya segala kecurangan itu terbongkar dan mendapat ganjarannya. Saya pikir sudah banyak contoh pengusaha yang berakhir di penjara karena niat yang buruk dengan menjual makanan yang mengandung formalin atau borax. Pengusaha properti yang rugi sampai ujung kubur karena memanipulasi surat tanah dan curang atas komitmen bahan-bahan bangunannya.
Tidak sedikit contoh pengusaha transportasi yang akhirnya menjalani hidup dengan sengsara karena berniat mendapat keuntungan tinggi dengan tidak menyediakan sarana keselamatan dan berniat membiarkan perilaku-perilaku curang dari bawahannya.
Bukan sedikit kini banyak pengusaha yang berurusan dengan pihak hukum karena berusaha menyogok aparat pemerintahan agar bisnisnya tetap bisa memonopoli atau mendapatkan kemudahan-kemudahan yang tidak wajar.
Niat buruk itu bisa datang sebagai niat yang jelas-jelas busuk atau bisa jadi tampil sebagai sesuatu yang seolah-olah memang baik. Misalnya adalah cara berfikir dan niat yang merasa seolah-olah seseorang itu adalah utusan Tuhan yang paling benar dengan kemampuan melihat kesalahan pihak lain dan seolah-olah mendapat persetujuan dari Tuhan yang Maha Kuasa untuk menghukum orang lain yang salah dalam cara pandangnya.
Belum lagi niat untuk membalas atas perlakuan buruk yang diberikan pebisnis lain kepada kita. Benar bahwa kita bukan yang pertama melakukannya, tetapi jelas bahwa pembalasan yang kita lakukan pada dasarnya sama dengan kejahatan atau kecurangan itu sendiri.

Kesempatan
Niat tanpa kesempatan biasanya hanya menjadi mimpi belaka. Kesempatan tanpa niat juga tidak akan terwujud. Jadi niat dan kesempatan secara teori menjadi pintu atas segala tindakan kita.
Dalam hal kecurangan bisnis, bisa jadi niat kita bersih dari berbagai kecurangan, tetapi suatu saat kita akan mendapat celah dan peluang untuk mendapatkan keuntungan dengan merugikan pihak lain. Disitulah kita diuji untuk memilih sikap. Tetap bersih atau menipu diri dengan melakukan kecurangan tersebut.
Contoh sederhana, saat ingin membeli pewarna makanan ternyata yang tersedia hanya pewarna tekstil dan yang jauh lebih murah lagi. Saat itulah dialog batin akan menentukan pilihan, apakah tetap berusaha mencari pewarna makanan di tempat lain, atau pura-pura tidak tahu bahwa itu zat pewarna tekstil yang berbahaya bagi tubuh.

Janji Tuhan
Setahu saya, Urusan kita adalah memberikan yang terbaik kepada siapapun sesuai dengan ukuran kapasitas terbaik kita dan Urusan Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita sesuai ukuranNya. Janji Tuhan berlaku bagi siapapun yang yakin.
Saya akhirnya berfikir bahwa kekhawatiran akan kemiskinan adalah indikasi ketidakpercayaan kepada Tuhan, dan itu ukuran keimanan kita. Saat kita khawatir bahwa kita akan menjadi miskin dan khawatir dengan konsekuensi menjadi miskin, lalu berusaha dengan berbagai cara untuk menjauhkan kita dari kemiskinan tetapi tidak melibatkan Tuhan dalam prosesnya, sebenarnya kita sedang menyepelekan kekuasaan Tuhan.
Suatu saat mungkin kita lupa bahwa Tuhan lebih berkuasa atas kita. Kita lebih yakin dengan segala upaya kita tanpa ingat bahwa Tuhan ada untuk kita. Dari kondisi itu kita menjadi lebih kikir, dan lebih mengutamakan keduniaan dan melupakan Tuhan.
Melupakan Tuhan sangat mudah karena memang Ia tidak berujud dan terlihat seperti barang dagangan, bahan baku, pegawai dan lainnya.
Ada yang ingat Tuhan, tetapi meragukan kekuasaanNya lalu cenderung mengatur Tuhan melalui doa yang kita panjatkan. Maunya semua sesuai kemauan kita bukan menyerahkannya kepada kehendak Tuhan.
Orang-orang yang meragukan kekuasaan Tuhan biasanya tidak dapat tidur nyenyak, karena saat menjelang tidur masih tetap ragu bahwa Tuhan akan mengurus dirinya dengan baik.
Previous
Next Post »