Jualan Keliling

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi pada tanggal 09 februari 2009


TINGGAL di Indonesia memang banyak enaknya. Salah satunya adalah kemudahan berbelanja. Jumlah outlet dan jam bukanya panjang, bahkan ada juga yang buka 24 jam sehari. Belum lagi pelayanan para penjual keliling yang mengunjungi rumah-rumah kita.
Pertengahan tahun lalu saya sempat berdialog dengan beberapa pedagang keliling dalam satu pertemuan UKM. Di akhir bulan lalu, saya kembali bertemu dengan 2 orang diantara mereka dalam sebuah pertemuan yang tidak sengaja. Saya menunggu waktu untuk berangkat ke airport sambil ngobrol dengan satpam di emperan kantor dan ke 2 pedagang tersebut pas sekali singgah di depan kantor saya.
Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang tangguh seperti mereka. Lalu tibalah topik obrolan kepada upaya-upaya meningkatkan produktifitas jualan keliling. Saya menjanjikan kepada mereka untuk menuliskan pemikiran saya diharian ini sebagaimana mereka sering membaca tulisan saya. “Biar kami bisa simpan tulisannya, kami sulit menghapal kalau tidak ditulis” begitu pengakuannya.

Layanan antar
Salah satu ciri khas orang modern adalah malas dan tidak suka ribet. Kini makin banyak produk yang di design untuk serba memudahkan.
Bayangkan, anda mesti mengeluarkan mobil dari garasi, mandi dan ganti pakaian yang sedikit formal, berjalan sedikit jauh dan meninggalkan aktifitas di rumah hanya untuk membeli semangkuk bakso, jelas bukan pilihan yang menarik.
Kini kita dapati banyak sekali jasa jualan keliling, mulai dari sayuran, makanan ringan, makanan berat, perlengkapan rumah tangga, hingga jasa mengasah pisau dapur. Sungguh sebuah fenomena yang menarik. Tidak semua kota di Negara-negara maju memiliki hal seperti ini.
Untuk mengoptimalkan produktifitas jualan keliling, saya mencatat beberapa hal penting yang seharusnya diperhatikan, yaitu; konsep produk dan kemasan media antar, lalu konsep penjualan dan promosi serta konsistensi.

Produk & Kemasan
Dalam binsis layanan antar yang perlu diperhatikan pertama adalah kemasannya. Dalam hal ini ada dua point kemasan, yang pertama adalah wadah/box/kereta-nya dan yang kedua adalah kemasan penyajian produknya.
Tampilan box utama sangat penting, karena itu kesan yang orang lihat pertama kali. Pengerak mobilisasi box tersebut bisa saja berupa kereta sorong, sepeda kayuh, sepeda motor, atau bahkan mobil. Apapun tenaga penggeraknya, penampilan box tersebut harus mewakili produk yang kita jual dan harus memberikan pengaruh kepada publik agar tertarik untuk membeli produk kita.
Dalam hal ini, bentuk, ukuran dan warna menjadi penting. Penjual es krim keliling akan menjadi menarik jika tampilan box dan kereta-nya menggambarkan sesuatu yang disukai anak-anak. Bukan sekadar kotak persegi, tetapi mestinya ditambah ornament-ornamen bernuansa anak-anak, seperti para pahlawan film kartun, badut atau binatang-binatang lucu. Selanjutnya warna yang menonjol, cerah dan mengundang perhatian juga harus disertakan.
Jika penjualan dilakukan hingga malam hari, unsur cahaya sangat vital, semakin terang dan berwarna akan memberikan pesona yang penuh daya tarik. Ingat, seseorang tidak akan mencoba jika tidak tertarik dari pandangan pertamanya.
Dengan prinsip yang sama, konsep ini juga bisa diterapkan kepada produk-produk non makanan. Untuk produk yang ukurannya kecil dan sulit di pajang, kemasan box dituntut untuk tampil menarik dan mempesona. Untuk produk yang bisa dipajang, karena ukurannya besar seperti; kerey, gantungan baju, lampu gantung dan lukisan, ada baiknya produk itu sendirilah yang dijadikan dekorasi utamanya.
Selanjutnya, pelajari kemasan untuk penyajian. Prinsip dasarnya adalah buat pembeli merasakan kelezatan atau manfaat produk kita pada kesempatan pertama saat melihatnya. Jika tampilan pertama terkesan sedap, selanjutnya otak mereka akan tersugesti secara otomatis bahwa produknya juga sedap.

Promosi dan Penjualan
Bayangkan bahwa pasar yang kita kunjungi adalah orang-orang yang sedang berada di dalam rumah, tentu saja kita perlu memanggil mereka untuk segera melihat kita. Secara tradisional ada beberapa media yang sering digunakan, misalnya ketongan bambu untuk bakso, pukulan ke wajan untuk martabak, pukulan ke setang sepeda untuk penjual sate padang dan masih banyak lagi yang lain.
Sayangnya, hingga kini masih banyak yang mengandalkan suara mulut sebagai media promosianya dengan cara beriak-teriak. Lumaya efektif tetapi sungguh membuang energi. Bayangkan betapa berat berteriak dengan keras tetapi suara knalpot sepeda motornya juga lebih keras lagi.
Dalam hal ini yang penting diperhatikan adalah adanya upaya menciptakan media yang tidak digunakan orang lain. Yang cukup keras sehingga terdengar tetapi syukur-syukur tidak bising dan memberikan nilai hiburan. Seperti mobil sampah di salah satu kota di Jawa menutar lagu-lagu daerah saat memasuki komplek perumahan sebagi pemberitahuan kepada ibu-ibu untuk segera mengeluarkan sampahnya.
Selanjutnya, sertakan nomor telepon dengan jelas di body box kita atau kemasan penyajian agar pelanggan mudah menghubungi kita jika mereka ingin memesan sesuatu.

Konsistensi
Untuk produk harian, konsistensi menjadi penentu tingkat penjualan. Upayakan jadwal kunjungan tidak banyak berubah. Upayakan di hari yang sama dan di jam-jam yang sama. Biarkan pasar mengetahuinya. Perubahan-perubahan membuat pembeli bingung dan menyulitkan.
Memastikan konsistensi juga disesuaikan dengan cakupan areal distribusi. Semakin luas dan banyak tempat yang dikunjungi, peluang konsistensi juga sedikit terancam. Berikutnya, kecepatan perjalanan menjadi tuntutan, lalu pada akhirnya kita berpotensi melewati para pembeli karena kita berusaha untuk lebih buru-buru.
Keputusan membeli produk kita bisa terjadi karena memang mereka sudah berniat membeli dan menunggu kita atau karena mereka terpengaruh suara kedatangan kita. Jadi pastikan kehadiran dan kecepatan bergerak kita cukup untuk melakukan proses pemberitahuan itu.
Yang terakhir, pelajari karakter langganan, banyak-banyak lah melihat dan bertanya, sehingga kita tahu persis siapa pelanggan kita, maunya apa dan bagaimana melayaninya dengan baik. Pelajari juga pesaing-pesaing kita, bagaimana mereka bekerja, buatlah perbedaan-perbedaan agar kita tetap dikenal dan sanggup memenangkan persaingan.
Previous
Next Post »