Plesiran (Adalah Sekolah)Untuk Pengusaha


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 06 april 2009 di halaman bisnis dan teknologi


“SUKSES didunia nyata itu bukan karena ijazah, ijazah hanya sekadar kunci masuk, selebihnya diperlukan keahlian khusus untuk menguasai dunianya itu dan rahasianya adalah tergantung kepada seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa banyak orang yang ditemui dan seberapa banyak tempat yang dikunjungi”
Demikian seorang mentor saya mengingatkan saya untuk menyeimbangkan kemampuan akademik dengan kemampuan ‘diluar kelas’ lainnya. Sebuah kenyataan jika bangku sekolah seringkali tidak cukup untuk dijadikan satu-satunya pegangan dalam aplikasi di dunianya nyata.
Hingga kini, sudah banyak terbukti banyak pengusaha sukses yang gagal di dunia akademik. Sayangnya mereka juga sering terjebak dalam rutinitas yang membuat produktifitasnya rata-rata saja. Apalagi mereka adalah pengusaha yang ‘one man show’ –semuanya dikerjakan sendiri--. Dari hari ke hari itu-itu saja yang dikerjakan, semua hal memenuhi rongga kepalanya sehingga membatasi kreatifitas dan daya ciptanya.
Banyak pengusaha yang merasa sangat lelah dan pusing karena hasilnya tetap begitu-begitu saja. Kemudian semakin hari mereka terus memacu kerja fisiknya dan semakin terlibat dalam operasional bisnisnya dengan keyakinan bahwa hanya dengan cara itulah produktifitas kerja terjadi.
Berkembang dari keadaan itu, mereka semakin merasa tertekan dengan beban pikiran serta potensi rugi yang akan dideritanya. Para pengusaha itu berfikir, bahwa tak ada pegawainya yang paham situasi genting yang dihadapinya, mereka pikir hanya mereka yang perduli sedang pegawainya hanya bersenang-senang saja. Lama-lama jumlah musuhnya bertambah, semua pegawainya dianggap juga menjadi musuhnya.
Lama-lama pengusaha pusing tersebut menderita penyakit gila no 24 (meminjam istilah Andrea H melalui Laskar Pelanginya) Berbagai pikiran aneh mengganggu mimpi-mimpi tidurnya, dan tetap saja produktifitasnya tidak naik secara optimal.
Sebelum terjadi tanda-tanda seperti diatas, bagusnya para pengusaha memahami keadaan dirinya dan menakar kemampunannya. Bercermin dan mengevaluasi diri. Berangkat dari keyakinan itu sekarang saya ingin menyarankan para pengusaha untuk sering-sering bepergian untuk berlibur, menikmati hidup dan refreshing.

Mengapa plesiran?
Seperti mengasah senjata setelah kemenangan perang, seperti mengisi baterey tiap kali telepon genggam anda seharian dipakai, seperti mandi dipagi dan sore hari. Plesiran adalah langkah untuk me-refresh diri dan pikiran.
Melepaskan diri dari rutinitas dan segala beban, semata-mata untuk mempersiapkan diri agar lebih tajam, lebih berenergi dan lebih segar setelahnya.
Tapi bukan hanya itu manfaatnya bagi pengusaha.
Plesir untuk pengusaha sungguh bukan sekadar liburan. Banyak maanfaat lain yang penting untuk para pengusaha dengan melakukan perjalanan wisata. Yang pertama, ada upaya penyadaran bahwa pengusaha juga manusia biasa yang membutuhkan istirahat secara fisik dan mental. Saya meyakini bahwa pikiran yang terlalu dipaksa dan penuh dengan data yang ruet, akan sulit menjadikannya kreatif dan penuh ide. Harus ada upaya memindahkan beban pikiran ke media-media pembantu, seperti buku, agenda, termasuk bawahan. Dengan demikian pikiran selalau dalam kapasitas yang prima untuk menghasilkan ide-ide kreatif yang baru.
Kedua, terjadi proses penyadaran bahwa tidak selamanya meninggalkan bisnis akan menimbulkan kerugian besar. Banyak kolega saya yang terpaksa harus pergi meninggalkan bisnisnya selama lebih dari satu minggu, awalnya mereka bahkan tidak punya waktu untuk olahraga karena tidak bisa meninggalkan pabriknya. Pada akhirnya mereka mendapati pabrik dan bisnisnya tetap berjalan seperti biasa, normal dan hampir tidak ada kesulitan seperti yang mereka khawatirkan selama ini. Ada pembuktian bahwa pengusaha bukan dewa dan bukan tuhan yang menjadi penyebab utama sukses atau gagalnya sebuah bisnis.
Ketiga, manfaat liburan adalah menambah rasa percaya diri pegawai dan meningkatkan kepercayaan pengusaha kepada mereka. Karena harus ada delegasi dan harus memberikan kepercayaan kepada yang melakukannya.
Seperti yang dialami kolega saya, mereka jadi semakin percaya kepada pegawainya, dan itu sangat penting untuk sebuah proses kerjasama yang baik antara pengusaha dengan pegawai bawahannya.
Keempat, bahwa perjalanan liburan adalah satu proses pembelajaran yang tidak terbatas.

Sekolahan
Manfaat pembelajaran dalam perjalanan liburan adalah sangat jelas. Bagi pengusaha yang sudah mapan, perjalanan wisata akan memberikan inspirasi tambahan untuk bisnisnya.
Perjalanan itu akan melewati dan melihat kota-kota lain, manusia-manusia lain, bisnis-bisnis orang lain dan berbagai keunggulan yang tidak diketahui selama ini. Mungkin mulai dari hal-hal sederhana semisal; bentuk brosur, bentuk neon box, bentuk logo hingga gaya memasarkan oleh bisnis orang lain.
Perjalanan mengunjungi kota lain bisa memberikan inspirasi pengembangan bisnis. Atau belajar secara cepat dari pelaku-pelaku bisnis lainnya. Bahkan bisa juga dengan mengunjungi lokasi lain dimana banyak orang-orang lokal yang akan menjadi sasaran terget pasar anda.
Perjalanan wisata bagi pelaku bisnis bisa memperbandingkan berbagai bisnis yang dilihatnya. Perjalanan belajar tersebut bisa memberikan ide-ide tambahan untuk memperbaiki bisnis yang sedang dikerjakan.

Jaringan
Perjalanan wisata, memungkinkan pertemuan-pertemuan ‘tidak sengaja’ dengan orang-orang yang berkompeten yang akan menjadi jaringan bisnis anda, pendukung, pemudah dan bisa jadi pembeli baru. Mereka bisa jadi seorang distributor, seorang agen, seorang bankir, seorang investor, pejabat yang berkompeten untuk urusan bisnis anda, seorang ahli bisang khusus atau mungkin pekerja-pekerja yang gigih, cerdas, santun dan cocok untuk anda rekrut dikemudian hari.
Jika beruntung, bahkan ada peluang bertemu dan berbicara kepada pegusaha yang bisnisnya anda amati. Untuk kapasitas pengusaha seperti anda, percakapan sekilas dan melihat secara sekilas saja sudah akan memberikan pemikiran dan analisa yang cukup untuk menambah wawasan anda.
Yang terakhir, suntikan vitamin energi pembaharu yang efektif melalui sebuah perjalanan wisata. Belajarlah mendelegasikan dan anda akan secara perlahan mengubah diri dan melepaskan diri dari pengusaha menuju tahap investor.
“SUKSES didunia nyata itu bukan karena ijazah, ijazah hanya sekadar kunci masuk, selebihnya diperlukan keahlian khusus untuk menguasai dunianya itu dan rahasianya adalah tergantung kepada seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa banyak orang yang ditemui dan seberapa banyak tempat yang dikunjungi”
Previous
Next Post »