Pindah, Dunia Tidak Selebar Daun Tomat


-----tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 13 april 2009 di halaman bisnis dan teknologi-----

“Jika sumur sudah mulai kering terus menerus setelah beberapa musim, galilah lebih dalam dan jika penggalianmu berujung cadas membatu pindahlah lalu gali sumur yang lain, begitulah salah satu pilihan jika kau ingin tetap hidup”. –Direka ulang dari lisan seorang penceramah yang lantang bersuara melalui corong Toa begitu saya melintasi acaranya di Sibolga --
SETELAH lelah berkendara dari Tarutung, sampailah saya di Kota Sibolga. Menikmati kota kecil yang bersih ini, saya berhenti disebuah kedai nasi masakan Minang disalah satu sudut kota berdekatan dengan pasar Ikan Asin khas Sibolga.
Pemilik kedai nasi langsung tahu kalau kami adalah pendatang yang baru pertama kali sampai di Kota di pantai barat Sumatra ini. Dengan keramahannya, ia menyarankan beberapa pilihan penginapan. Ia memberikan referensi harga dan kualitasnya. Sungguh sebuah keramahan yang menyenangkan dan informative dari seorang pendatang juga yang baru akan genap delapan bulan datang dan berjualan di kota ini. Pedagang ini meninggalkan kota Banten yang menurutnya sudah tidak lagi menjanjikan.
Sore yang sejuk –setelah hujan-- di Sibolga mengiring saya ke sebuah kedai bakso –tertulis di gerobaknya sesuatu berbau bahasa Jawa yang berarti arti ‘Paman’--. Bakso dengan cita rasa Jawa plus sedikit rasa Sumut ini, diracik oleh seorang perantau asal Jawa Timur. Ia sudah menjelajah Sumatera yang paling selatan, paling timur dan kini Ia sudah hampir 8 tahun menetap disini.
Malam yang mendung menutupi bulan purnama ke 14. Gerimis berembun membimbing saya menjelajahi komplek jajanan malam yang tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Keputusan Tuhan yang melangkahkan kaki ini kesebuah gerai nasi goreng yang dikelola seorang perantau asal Pariaman. Dari obrolan riangnya, Ia mengaku sudah memerah keringat di Kota Duri dan Kota Dumai beberapa tahun sebelumnya, tetapi kala itu nasib tidak berpihak kepadanya. Kini, sudah 5 tahun keringat yang diperasnya membuahkan hasil, disini, di kota Sibolga.
Apakah besok saya akan bertemu pedagang sovenir asal Bandung? Apakah pemilik kapal yang saya sewa besok berasal dari Tapak Tuan? Apakah pemilik kedai kopi yang akan saya kunjungi besok adalah perantau asal Pematang Siantar? Saya tidak tahu, tetapi sekarang saya merasa bahwa ada jiwa-jiwa pemberani yang saya temui hari ini. Mereka tinggalkan komunitas mereka. Tempat asal muasal keluarga, tempat para leluhur dikebumikan, tempat bermain dan tempat belajar bertumbuh. Sebuah keputusan berat yang mereka yakini.
Mereka memberanikan diri memulai sesuatu yang baru di tempat baru setelah mereka mencoba untuk berusaha ditempat lama, tetapi tetap juga tidak memberikan hasil positif.

Penantang
“Untuk apa bertahan selama memang sudah tidak lagi tidak ada harapan?“ Begitu kata si pemilik kedai nasi. “Dunia ini tidak selebar Daun Tomat“, kata penjual bakso, lalu ”Dunia ini sangat luas, mengapa tidak mencoba di tempat lain?”
“Usaha sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan, tetapi bertahun-tahun usaha makin jelek, apa itu tidak cukup menjadi tanda dari Tuhan bahwa kami harus pindah?” aku pedagang nasi goreng asal pariaman itu.
“Biarlah jauh dari handai tolan, asal kita bisa menolong diri sendiri, itu sudah cukup” kata si Penjual Nasi, “Tidak memberatkan keluarga saja adalah satu pertolongan kepada mereka, apalagi bisa membantu yang lebih”.
Saya mensyukuri mendung dan gerimis yang menyambut kedatangan pertama sana di Sibolga, karena bersamaan dengan prosesnya saya dipertemukan dengan beberapa pemberani. Orang-orang terpilih yang berani hidup. Berani membuka lembaran-lembara lain dalam halaman semesta yang diciptakan Sang Maha Penguasa.

Pindah
Terlalu berlebihan jika saya meminjam kata hijrah untuk mewakili perjalanan para petualang tersebut. Tetapi sungguh bahwa mereka benar-benar pindah dan secara utuh mereka membuka halaman baru.
Ada hal menarik dalam ‘hijrah’ ini. Yang pertama, pindah adalah salah satu upaya penting jika memang semua hal yang dicoba menunai kegagalan. Saya ingat salah seorang pengrajin sepatu dekat Pasar Ramai yang sering mengatakan kepada saya bahwa, ‘berhenti’ sama dengan mati.
Kedua, pindah tempat adalah bahasa yang paling sederhana untuk menyegarkan pikiran. Konon dari penelitian berbasis Neuro Linguistic Programming, jika anda duduk di satu tempat dan merasa pusing, pikiran buntu dan resah, cobalah pindah ke kursi yang lain, niscaya kesegaran menjadi milik anda. Jika anda sedang dalam pertengakaran dengan seseorang, cobalah pindah tempat, niscaya ketegangan akan berkurang.
Ketiga, pindah memberikan motivasi keberanian dan keteguhan batin. Jelas tidak ada orang yang pulang dengan kegagalan. Dalam falsafah merantau, apapun harus dikerjakan untuk bisa hidup. Gengsi dan rendah diri adalah istilah yang tidak lagi menempel bagi mereka yang meninggalkan zona asalnya. Kerinduan akan kampung halaman adalah vitamin untuk meningkatkan usaha dan perjuangan.
Keempat, pindah memberikan kesempatan kepada kita untuk ‘memilih’ kawan-kawan baru yang lebih memberikan motivasi. Kita akan bertemu dengan orang-orang senasib. Kita akan saling menolong, saling memberi dan saling mendukung.
Kelima, pindah adalah salah satu cara pencucian atas noda masa lalu. Secara psikologis pikiran kita sering terikat oleh kegagalan masa lalu. Sejauh kita tidak sanggup terlepas dari ikatan itu, kita akan tetap tenggelam lalu kembali gagal. Tempat dan orang-orang yang akan kita temui adalah orang baru, yang tidak menyadari masa lalu kita.
Jiwa Pejuang
Pindah adalah pilihan keras yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang berjiwa pejuang. Mereka-mereka menghiasi dinding batinnya dengan keteguhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak saja bermandikan keringat, tetapi juga berairmata darah.
Yang terakhir, jika ingin pindah menghitunglah dulu potensi pasar di lokasi baru. Sumber bahan baku, biaya-biaya pegawai, infrastruktur yang tersedia serta getaran batin. Getaran batin akan memberikan indikasi nyaman dan tidaknya lokasi baru baginya kelak.
Previous
Next Post »