Ada air tawar mengapa minum air laut? Catatan kecil untuk Penjual Mangga Parapat


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 18 Mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi. www.cahyopramono.com

“Satabi Inang, adong na naeng hu dokkon”. Dengan segala hormat dan kerendahan hati, ijinkan saya memberikan catatan kecil untuk para pejuang kehidupan yang luar biasa; para inang penjual mangga di Kota Turis, Parapat.
Bertahun-tahun saya memahami apa yang terjadi dalam romantisme kisah penjualan mangga kecil-kecil –mangga udang-- yang sering di sebut Mangga Parapat. Kisah Mangga Parapat benar-benar selalu menjadi topik hangat setiap kali kepariwisataan Danau Toba diperbincangkan. Mulai dari rasa yang khas, bentuk yang khas hingga pengalaman-pengalaman pahit mendapatkan mangga yang asam padahal saat mencicipi rasanya sangat manis.
Sekali waktu seorang mantan Pejabat di Salah Satu Kabupaten di pinggiran Danau Toba bahkan bercanda dengan menyebutkan, “Kalau tanpa trik itu jelas bukan Mangga Parapat!” dalam keprihatinannya, ia mengaku juga bahwa memang benar banyak wisatawan yang tertipu, tapi mereka tetap saja tidak jera untuk membeli mangga pada kesempatan kunjungan berikutnya.

Perjuangan Hidup
Atas nama kehidupan dan penghidupan, para laskar ekonomi keluarga ini –penjual mangga—sudah mewarnai kota Parapat sejak jaman dahulu. Sejak kota itu sepi hingga ramai lalu sepi lagi seperti saat ini.
Bertahun-tahun saya mencoba mengobservasi pola penjualan mereka, hingga kini saya bisa memahami bagaimana mereka yang menyalah adalah untuk bertahan hidup. Hingga muncullah berbagai lelucon tentang Mangga ini -- jikalah ada lelucon dan contoh-contoh negatif dalam tulisan ini, saya nyatakan itu tidak terjadi dan tidak dilakukan oleh semua pedagang. Saya sekali lagi menegaskan bahwa pedagang yang jujur dan tulus jumlahnya sangat banyak--.
Ada lelucon mengenai pembeli yang mengeluh karena 3 kg mangga yang dibeli semuanya asam dan busuk. Lalu dalam lelucon itu si penjual mangga menjawab bahwa tak usah mengeluh dan marah, “Baru 3 Kg saja Kau sudah berisik, tengoklah, punyaku 3 keranjang saja aku diam saja”.
Seorang penjual mangga pernah berkata kepada saya, “Amang, kami ini menjual ciptaan Tuhan, Cuma Dia yang tahu mana yang asam dan mana yang manis” lalu “Dan kami harus cepat menjualnya, kalau tak mau semuanya membusuk dan kami rugi”.
Ada juga kisah pedagang yang selalu berganti-ganti marga sesuai dengan marga pembelinya. Itu dilakukan agar terjadi kedekatan dan memuluskan transaksi. Demikianlah kisah perjuangan hidup berjalan selangkah demi selangkah; mulai dari kondisi timbangan yang tidak lagi sesuai ukurannya. Sangat bisa terjadi mangga 8 Ons akan menggerakkan jarum ukur hingga ke angka 1 Kg.
Semua bermula dari kualitas mangga yang diterima pedagang dan tawaran harga yang disepakati dengan pembeli. Jika mangga yang diterima pedagang bagus adanya, maka besar kemungkinan pembeli mendapatkan mangga yang manis. Berikutnya, berhati-hatilah jika harga yang disepakati jauh dari harga awal yang disebut pedagang. Itu artinya pedagang sudah terdesak harus menjual mangga itu karena kurang laku atau karena mengejar usia bertahannya buah tersebut sebelum menjadi busuk.
Untuk keterdesakan itu, biasanya ada pedagang yang meminta kompensasi, salah satunya adalah dengan mempraktekkan kelihaian tangannya; Begitu proses pemilihan mangga dilakukan oleh pembeli, bersamaan itu pula penjual ikut memasukkan mangga pilihannya kedalam wadah yang disediakan. Jelas pedagang yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan mangga akan sangat tahu mana mangga yang baik dan mana yang kurang baik. Saat pembeli baru memilih satu – dua butir mangga, si pedagang sudah memasukkan empat – lima butir mangga. Jika pembeli meminta 1 Kg, maka pedagang akan memasukkan mangga dengan jumlah lebih dari 1 Kg, sehingga ada alasan untuk mengurangi mangga dari wadahnya. Nah disaat itulah pedagang akan mengambil keluar buah-buah yang berkualitas baik dari dalam wadahnya, hingga yang terbawa oleh pembeli adalah mangga dengan kualitas rendah.
Dalam kejadian lain, mungkin wadah akan dipegang oleh pembeli sehingga pedagang tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Tetapi jelas itu bukan akhir dari segalanya; strategi yang lain menggantikan bungkusan terpilih dengan bungkus ‘cadangan’. Bungkus ‘cadangan’ sudah disediakan di meja dibalik keranjang buah pajangan berisi mangga dengan kualitas jelek dalam berbagai ukuran, sesuai rata-rata berat orang membeli mangga.
Tehnik permainannnya adalah, ketika semua proses penimbangan sudah dilakukan, maka berikutnya adalah proses mengikat bungkus plastik –wadah--. Pada saat pengikatan itulah proses penggantian ke ‘bungkus cadangan’ dilakukan. Saran paling sederhana saat berbelanja mangga Parapat adalah jangan pernah menawar terlalu rendah...!

Tidur Nyenyak
Saya meyakini bahwa masih ada langkah-langkah lain yang positif untuk bisa hidup layak tanpa harus membutakan batin. Sejauh kita berniaga dengan jujur dan iklas, niscaya kita akan bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasa khawatir. Perniagaan yang diawali dengan kecurangan itu persis seperti meminum air laut, tidak akan ada rasa puasnya.
Terlepas dari faktor filosofi perniagaan, berikut ada beberapa langkah praktis untuk perniagaan yang terbuka, dan meningkatkan kepercayaan pembeli.
Yang pertama adalah daftar harga. Para pelancong yang bukan penduduk asli jelas tidak cukup paham akan situasi daerah kita. Ada perasaan ragu, apakah harga yang didapatkannya adalah harga terbaik atau harga yang menjebak penuh tipuan. Penggunaan daftar harga atau tanda harga, akan memudahkan pembeli memilih sesuai keinginannya.
Yang kedua, kumpulan produk sesuai kelasnya. Ada kelompok berdasar rasa dan ukuran. Mungkin manis dan besar, sedang, kecil lalu ada juga yang asam atau berkualitas rendah. Masing-masing kumpulan memiliki harga yang berbeda-beda. Disinilah margin keuntugan bisa didongkrak, karena harga bisa didongkrak naik untuk mangga dengsan kualitas yang baik. Ketiga bangkitkan rasa nyaman pembeli dengan menjamin perasaan amannya dari ancaman penipuan dll. Kalau perlu biarkan pembeli menimbang sendiri dengan alat ukur yang jujur dan benar.
Keempat bangkitkan semangat kasih sayang, bayangkan jika kita sendiri atau anak-cucu sendiri yang menjadi pembeli dan diperlakukan dengan penuh tipu daya oleh penjualnya. Memuliakan tamu adalah cara terbaik untuk memastikan anak cucu kita bisa selamat dan sejahtera dalam perantauan mereka.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »