Belajar Menjual ke Multi Level Marketing


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 13 juli 2009 di halaman bisnis dan teknologi.

ALKISAH, seorang penjual topi berjalan melintasi hutan. Karena cuaca panas, ia memutuskan beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan disampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut.
Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak keatas dan betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Yang semuanya mengenakan topi-topinya.
Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata monyet-monyet itu menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama.
Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Ketika terbangun iapun menyadari kalau monyet-monyet dipohon tersebut telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi-topi itu erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu penjual topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Emangnya cuman elo aja yang punya kakek…?”


Kisah diatas adalah sedikit gambaran tentang manfaat belajar. Kini banyak sekali kursus-kurus atau seminar singkat yang mengajarkan trik-trik menjadi pandai dalam menjual. Secara teori, kursus-kursus tersebut lumayan bagus, bahkan ada kalanya dilengkapi dengan sedikit praktek singkat.
Saya pikir anda sependapat dengan saya, bahwa tidak ada orang yang dilahirkan langsung pandai menjual. Tetapi siapapun bisa menjadi pandai menjual jika berusaha secara serius mempelajarinya.
Sayangnya untuk menjadi pandai menjual sebenarnya memerlukan lebih dari sekadar teori. Sangat sedikit orang yang sukses dengan hanya mengaplikasikan teori tanpa belajar praktek dan pendampingan dari orang yang lebih dahulu mengetahuinya. Salah satu pola pembelajaran yang saya yakini masih ‘mempan’ untuk orang Indonesia adalah belajar dengan didampingi seorang mentor.

Mentoring
Seorang Chip R. Bell mengartikan mentoring adalah proses seseorang membantu orang lain untuk belajar sesuatu dan bila proses tadi tidak terjadi, maka pembelajarannya menjadi kurang baik, lebih lamban, atau bahkan sama sekali tidak akan terjadi.
Saya mengartikan mentoring ini sebagai proses belajar yang didampingi oleh pengasuh/guru secara langsung dan pribadi. Satu per satu.
Mentor yang baik tidak menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang memerintah dan berkuasa melainkan sebagai seorang rekan atau pembimbing. Seorang mentor adalah seperti seorang bidan yang membantu seorang ibu yang siap mengadakan persalinan. Dia membutuhkan sepasang tangan yang lembut dan bukannya sepasang tangan dengan otot yang kekar.
Selama proses mentoring, baik mentor maupun mentee belajar bersama. Mentee dan mentor akan mempelajari sesuatu hal baik dari proses yang ada ketika mereka menyediakan ruang bagi sentuhan yang baik.
Mentor harusnya menyukai proses pembelajaran dan menginspirasikan menteenya. Ia bukan merupakan seorang pemimpin yang gemar untuk mengajari saja. Ia juga menciptakan suasana belajar sehingga menteenya akan menyukai proses belajar.
Sikap saling mempercayai haruslah menjadi landasan dari proses tersebut. Tanpa saling percaya, maka mentoring menjadi suasana penuh kalkulasi dan dominasi.

Belajar di Multi Level Marketing
Tentu saja, jika anda mencari kursus dengan pola ini, pasti harganya sangat mahal. Karena satu murid dilayani satu guru. Dalam pengamatan saya, ada satu bentuk mentoring yang sangat hemat bahkan cenderung gratis. Itulah yang saya sebut dalam judul diatas. Sistem jaringan yang diterapkan dalam multi level marketing didukung oleh sistem yang mengarahkan pengikutnya kedalam pola-pola penjualan yang bagus.
Karena nasib up-line juga tergantung dari down-linenya maka tidak heran kalau posisi up-line juga berusaha agar down-linenya pintar dan produktif. Semakin pintar down-line dan semakin produktif si down-line, semakin beruntunglah si up-line tadi.
Para upliner yang sukses, biasanya menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang juga merangkap sebagai mentor atau pendamping. Mereka dengan sabar mendampingi bawahannya mulai dari memperkenalkan, memberitahu, mengajari, memberi contoh sampai akhirnya membiarkan downliner-nya bekerja sendiri sesuai dengan kemampuan barunya.
Itulah sebabnya mengapa saya rekomendasikan penjual pemula untuk belajar ke kelompok multi level marketing. Dalam kelompok-kelompok tersebut (terutama yang sudah mapan), mereka sudah memiliki sistem yang rapih dan terukur. Mereka memiliki format-format pembelajaran dan pola-pola motivasi yang baik. Mereka sudah memetakan permasalahan-permasalahan penjualan yang umum terjadi dan sekaligus solusinya.
Anda tidak harus berprestasi di dalam kelompok tersebut. Disana anda bisa mempelajari cara menjual yang sederhana hingga cara-cara yang sistematik. Bersamaan dengan proses itu, anda akan mendapatkan kawan dan jaringan baru yang akan memberikan keuntungan dikemudian hari.
Yang terakhir, ingat bahwa mentoring sangat tergantung kedua belah pihak. Artinya seorang mentor yang baik pun akan gagal, jika mantee-nya juga tidak aktif.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »