KREDIT Bank


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada tanggal 25 mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.

TERLALU banyak pertanyaan kepada saya tentang bagaimana caranya mendapatkan kredit dari bank. Sebagian dari penanya berfikir bahwa kredit adalah satu-satunya solusi bagi permasalahannya.
Sebelum saya menuliskan sedikit pengetahuan saya tentang persyaratan dan prosedur mendapatkan kredit dari bank, saya perlu sekali menegaskan bahwa, pertama bank bukan lembaga sosial. Artinya, mereka tidak akan pernah membantu siapapun. Jadi tak ada istilah bantuan kredit, karena bank juga mau hidup dengan mendapatkan bunga dari kredit kita.
Kedua, meminjam uang ke bank tidak seperti meminjam uang ke saudara yang bisa kapan-kapan saja dikembalikan. Ketiga, jika penjualan tidak bertambah setelah mendapatkan pinjaman, itu awal dari kebangkrutan. Keempat, cermatlah membaca bahasa bank dan bersabar mengikuti prosesnya. Kelima, berhubungan dengan bank umumnya sulit diawalnya saja, selanjutnya mudah dan semakin mudah (bukan dalam artian bunga, karena pihak bank tak pernah mau rugi sepeserpun). Dalam tahap tertentu, justru pihak bank yang akan mengejar kita serta memohon kepada kita.
Berikut adalah gambaran umum prosedur kredit dari beberapa sumber perbankan yang saya olah. Untuk jelasnya saya persilahkan menghubungi bank anda.

Sebelum ke bank
Sebaiknya persiapkan beberapa dokumen penting, antara lain berupa proposal permohonan kredit yang memenuhi syarat perbankan yang meliputi: data historis usaha; perkembangan usaha (neraca dan rugi laba); sumber dan penggunaan dana; jenis, jumlah, dan penggunaan kredit; penerimaan dan pengeluaran dalam bentuk arus kas (cashflow); Administrasi dan legalitas usaha.
Peminjam perseorangan akan diminta untuk memberikan: Fotokopi identitas diri; Fotokopi akte nikah. Dalam hal ini Akte nikah digunakan oleh bank untuk mengetahui apakah harta yang dijaminkan merupakan harta bersama suami-istri atau bukan, sehingga baik istri atau suami peminjam dapat dimintai persetujuannya dan turut bertanggung jawab terhadap harta yang dijaminkan ke bank berikut sejumlah utangnya.
Data yang lain adalah Fotokopi kartu keluarga (KK). Data ini digunakan bank untuk mengetahui apakah calon peminjam juga menanggung biaya hidup orang lain selain dirinya sendiri. Lalu juga Fotokopi rekening koran/rekening giro atau kopi buku tabungan di bank manapun antara enam hingga tiga bulan terakhir. Data ini diperlukan bank untuk melakukan analisa keuangan calon debiturnya, sehingga dapat diukur seberapa besar penghasilan debitur yang dapat disisihkan untuk membayar angsuran pinjaman tiap bulannya.
Adapun peminjam yang berbentuk perusahaan meliputi bentuk badan usaha seperti CV, PT, firma dan lain-lain. Persyaratan yang diminta antara lain: Fotokopi identitas diri dari para pengurus perusahaan (direktur & komisaris ); Fotokopi NPWP; Fotokopi SIUP ( Surat Izin Usaha Perdagangan ); Fotokopi Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris; Fotokopi TDP ( Tanda Daftar Perusahaan ); Fotokopi rekening koran/giro atau buku tabungan di bank manapun selama enam hingga tiga bulan terakhir. Disusul Data keuangan lainnya, seperti neraca keuangan, laporan rugi laba, catatan penjualan dan pembelian harian, dan data pembukuan lainnya.
Jika Anda telah menyiapkan semua dokumen dan berkas sebagai penunjang permohonan kredit, langkah selanjutnya Anda menemui petugas bank di bagian kredit. Biasanya Anda akan diberikan formulir (isian) permohonan kredit.
Di bank tertentu, formulir permohonan kredit Anda diisi oleh petugas bank. Jadi, Anda hanya diwawancarai saja. Namun, tidak menutup kemungkinan, di bank lain Anda akan mengisi formulir sendiri. Formulir tersebut pada umumnya berisi tentang data pribadi, profil usaha, pengalaman usaha, jumlah pengelola, jumlah karyawan, jenis dan pemasaran produk (barang atau jasa) termasuk bahan bakunya, omset usaha, profit margin rata-rata, modal, jaminan, tujuan penggunaan kredit, kebutuhan kredit, kepemilikan Jaminan, dan lain sebagainya.

Analisa
Bisa jadi akan ada Wawancara. Gunanya untuk untuk mencari kebenaran data di dalam formulir permohonan kredit dan data tambahan yang diperlukan bank. Lalu ada kunjungan pihak bank ke tempat usaha Anda; lalu dibuat laporan kunjungan; lalu Analisa Lanjutan yang berisi Analisa Keuangan menyangkut: Likuiditas, kemampuan usaha dalam membayar utang yang jatuh tempo. Leverage, mengukur seberapa besar asset calon debitur yang dibiayai oleh bank (kreditur). Kalkulasi ini dapat dilihat melalui komparasi total utang yang dimiliki dengan modal sendiri dan perbandingan antara pendapatan bersih dengan bunga yang harus dibayar. Aktivitas usaha, dinilai oleh bank melalui perbandingan pembayaran yang diterima dengan persediaan barang, perbandingan-perbandingan penjualan dengan persediaan total asset, serta perputaran modal kerja dalam setahun. Profitabilitas atau kemampuan menghasilkan keuntungan, diukur melalui perbandingan laba bersih dengan total asset, serta perbandingan laba bersih dengan modal sendiri.
Lepas dari analisa keuangan selanjutnya adalah Analisa Usaha/industri, Analisa Manajemen, Analisa Yuridis Usaha, Analisa Karakter dan Analisa Jaminan. Jaminan yang diminta oleh bank untuk kredit pemilikan rumah biasanya adalah rumah yang akan dibeli tersebut. Pada kredit pemilikan mobil, mobil yang akan dibeli itulah yang biasa dijadikan jaminan.
Sedangkan jaminan yang diminta untuk kredit usaha dan kredit serba guna, biasanya lebih bervariasi seperti tanah, rumah tinggal, ruko, apartemen, kendaraan, pabrik dan lain-lain. Jaminan yang kita ajukan biasanya dinilai kembali oleh tim tersendiri dari bank.

Persetujuan/Penolakan Kredit
Setelah melakukan analisa-analisa tersebut diatas, bank akan menyetujui atau menolak permohonan kredit Anda. Jika bank menyetujuinya, maka Anda (calon debitur) akan memperoleh offering letter (surat persetujuan prinsip bersyarat) dari bank yang bersangkutan.
Bila Anda (calon debitur) setuju atas persyaratan yang termuat dalam offering letter, maka akan dilanjutkan dengan pengikatan pembiayaan (kredit) dan jaminan. Proses selanjutnya adalah pencairan dana. Tiap bank mempunyai kebijakan berbeda.
Itulah prosedur standard yang dilakukan oleh pihak bank, sepertinya tidak mudah, tetapi semua orang sepakat bahwa tidak ada istilah saudara untuk perkara uang. Dan pemenangnya adalah mereka yang bersabar mengikuti prosesnya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »