Meraut Sisi Pemasaran Yang Tumpul


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 15 juni 2009 pada halaman bisnis dan teknologi.


SELAMAT pagi para pembaca yang budiman. Apa kabar anda dihari ini? Apakah jawaban anda atas pertanyaan saya ini? Kalau saya coba mengira, mungkin banyak yang menjawab dengan nada riang, “Luar biasa..., Terimakasih”, ada juga yang menjawab, “Bagus..., terimakasih”, mungkin ada yang hanya menjawab “Baik” saja, atau “Biasa...!” atau jawaban-jawaban bernuansa ketidakbaikan yang tercermin dari nada yang melemah, tarian nafas hampa, raut wajah yang memelas atau tegang dan pilihan katanya tidak berkekuatan.
Pagi ini saya ingin mengajak anda berwisata sejenak di areal bisnis anda masing-masing. Mohon luangkan waktu sambil membaca terus tulisan ini. Anda tidak memerlukan apapun selain sedikit perhatian dan konsentrasi.
Yang pertama, lihatlah dinding kantor/kedai/outlet/bangunan anda. Apakah masih bersih seperti saat pertama dahulu di cat? Kapan terakhir anda mengecatnya? Waspadalah bagi anda yang mendapatkan cat dinding anda sudah mulai luntur dan kotor. Lebihlah kewaspadaan anda jika anda sudah menyadari kekotoran itu selama beberapa waktu tetapi tidak juga memperbaikinya.
Yang kedua, lihatlah peralatan pendukung penjualan. Mulai dari counter pelayanan, meja-meja resepsionis, ruang tunggu, kursi-kursi tamu, kamar mandi tamu dan semua kelengkapan untuk pelanggan. Lihatlah apakah masih sebersih saat baru? Apakah masih berfungsi sebagaimana mestinya? Apakah terasa nyaman menggunakannya?
Coba duduk diposisi tamu duduk, lihatlah dari kaca mata tamu. Lihatlah semuanya, apakah anda merasakan sambutan yang ramah? Apakah anda merasakan fasulitas itu memudahkan anda? Apakah anda merasa diutamakan? Apakah anda merasa segar dan bersemangat dengan dekorasi ruangan serta peralatannya?
Yang ketiga, lihatlah bagaimana pegawai kita melayani pelanggan. Lihatlah apakah mereka masih bersikap seperti ketika pertama kali bekerja? Apakah mereka masih sopan, membantu dan bersemangat dalam menjual produk-produk anda? Apakah mereka berpakaian dengan rapi sebagaimana seharusnya diatur dalam ketetuan dahulu?
Lihat bawah meja pegawai anda, apakah ada sendal jepit disana? Apakah ada banyak tumpukkan barang tak perlu? Lihatlah dan rasakan, apakah ada kesan usang dan bosan disana? Apakah ada kesan rutinitas yang statis?
Yang keempat, lihatlah perlengkapan promosi dan penjualan. Lihat design brosur yang ada, apakah design itu masih layak? Lihat juga tempat dudukan brosurnya. Lihat daftar harga, katalog serta semua hal yang berhubungan dengan peragkat penjualan. Apakah anda merasakan aliran pesona yang menarik dari perlengkapan tersebut? Atau anda langsung kehilangan selera setelah melihatnya.
Yang kelima, Jika anda ingat, lihatlah kegiatan-kegiatan pemasaran dan penjualannya, apakah ada pembaharuan-pembaharuan atau sekadarnya saja berulang setiap waktu? Apakah even promosi tetap berpola sama hingga anda merasakan kebosanan terlihat dimana-mana?

Usang
Bisa jadi grafik penjualan dan kinerja secara umum mengindikasikan peningkatan, tetapi jika kelima poin diatas ternyata mengindikasikan ‘ke-usangan’, mestinya anda harus waspada. Kelima hal tersebut diatas adalah buah dari pribadi-pribadi yang terseret rutinitas dan biasa.
Situasi biasa itulah yang akan menciptakan probadi-pribadi biasa saja. Pribadi-pribadi yang biasa-biasa saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang luarbiasa. Apalagi jika kesan usang benar-benar berpendar dalam kelima poin diatas.
Siapa yang suka sesuatu yang usang? Memang ada pengumpul barang tua, tapi pengumpul barang tua menghargai usia dan tingkat antiknya, bukan usangnya. Bisakah saya katakan bahwa usang lebih dekat dengan sampah, daripada tingkat antiknya. Orang datang ke musium bukan untuk mencari barang rongsokan, tetapi mencari nilai atas barang lama.
Sekarang, apakah anda merasakan kesan ‘usang’ itu dilinkungan anda? Apakah anda bisa merasakan bahwa tingkat kesibukan yang dialami pada akhirnya melupakan hal-hal sepele seperti lima point diatas. Pembiaran-pembiaran menjadi kebiasaan yang ditolerir. Itu sangat berbahaya. Itulah awal dari keusangan yang dihindari pelanggan.
Usang dihindari pelanggan karena bermakna lama dan sudah tidak bagus lagi. Usang juga bermakna tidak terurus, terlupakan dan tidak serius. Jangan pernah ijinkan kesan usang ada pada saat pelanggan berhubungan dengan kita. Hindarilah...!

Penyegaran dan Pemasaran
Awal pikiran yang membiasakan kekurangan-kekurangan sederhana, pada akhirnya akan memberikan toleransi yang berlebihan atas kekurangan-kekurangan besar. Kekurangan-kekurangan besar itulah yang akan menjadi penghambat kreatifitas. Bisa jadi anda mencurahkan tenaga habis-habisan tetapi hasilnya tidaklah sebesar pengorbanan anda.
Jika lima check-list diatas terjadi pada anda, selayaknya sudah perlu sedikit serius untuk menciptakan peyegaran-penyegaran. Apalagi imbas dari ke’biasaan’ itu adalah mengenai langsung ke jantung pemasaran dan penjualan.
Mulailah melakukan penyegaran fisik dan mental. Secara fisik adalah hal-hal sederhana yang menjadi ‘dunia’ team pemasaran dan penjualan. Mulai dari sarana fisik, pelengkapan, gedung dan lain sebagainya.
Penyegaran secara mental menjadi sangat penting, karena dari mental-mental inilah akan muncul produk-produk pemasaran yang baik dan unggul. Penyegaran ini bisa melalui kegiatan non job bersama-sama seperti rekreasi atau pelatihan-pelatihan serta perjalanan dinas yang berbeda suasananya.
Sebagian pemimpin memilih untuk secara rutin mengganti petugas penjualan. Merotasinya atau bahkan mengganti yang baru. Mereka sangat berkonsentrasi kepada kualitas layanan dan penjualan yang selalu baru, dinamis dan berkembang.
Jaman membawa bisnis kepada era persaingan yang semakin tajam dan keras. Pesaing menggunakan trik-trik cerdas dan kreatif. Pasar semakin pintar dan suka membandingkan. Jaman yang demikian tidak bisa ditembus dengan strategi yang begitu-begitu saja. Kompetisi ini tidak bisa dimenangkan oleh orang yang begitu-begitu saja.
Penyegaran menjadi vital dan penting. Tentu saja, konsep ini mustahil dikerjakan oleh satu orang yang itu-itu saja. Bentuklah satu forum atau tim yang memiliki kesempatan untuk menciptakan hal-hal kreatif. Forum itu membuka kesempatan kepada semua pihak untuk mengkontrinbusikan ide-ide cemerlangnya menjadi strategi-strategi bagus.
Yang terakhir, bangunlah budaya pembaharuan. Budaya yang memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bersuara dan beride. Budaya yang menghargai ide-ide baru. Budaya yang menghapuskan monoton. Budaya yang mengijinkan pribadi-pribadi didalamnya untuk berkembang maju.


Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »