Numpang Nampang


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi, tangal 01 juni 2009.

JAKARTA, KOMPAS.com — Produk sepatu bermerek JK Collection Shoes yang dipasarkan pada pameran industri di Gedung Departemen Perindustrian Jakarta laris karena diminati pengunjung.
"Tiga hari pameran yang dijadwalkan ditutup, Jumat sore, meraup pendapatan sekitar Rp 11 juta," kata seorang perajin sepatu, Adeng Sugiarto, di Jakarta, Jumat (8/5).
Sepatu bermerek Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla itu diproduksi perajin dari Cibaduyut, Kota Bandung.
Sebelum membeli, konsumen memeriksa sepatu secara teliti hasil produksinya sambil memakai untuk membandingkan sepatu tersebut dengan buatan pabrik maupun impor. "Tidak kalah kualitasnya dengan produksi pabrikan maupun impor," ujar seorang ibu yang mengaku bernama Shinta.
Sepatu perempuan ditawarkan bervariasi antara Rp 130.000 dan Rp 180.000 per pasang tergantung jenisnya.
Sejumlah pria juga tertarik dengan sepatu kantor dan santai dengan harga Rp 300.000. "Seorang bapak mengaku asal Kalimantan, kemarin (Kamis), membeli langsung lima pasang karena tertarik kualitas dan mode," ujar Adeng.
Dia mengaku terinspirasi memakai label JK setelah Wapres mengunjungi Cibaduyut. "Saya beruntung karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk promosi karena Wapres sudah terkenal sehingga pastinya menarik minat masyarakat," katanya.
Dia berharap, pemerintah yang telah memotivasi masyarakat agar memanfaatkan produksi sepatu dalam negeri itu dan mengatur mekanisme pasar sehingga sepatu lokal dipakai masyarakat.
"Rasanya kualitas tidak kalah bersaing dengan produksi pabrik dan impor. Sekiranya, pemerintah membekali perajin dengan kemudahan kredit, pelatihan bagi perajin dan peralatan," kata Adeng Sugiarto
.

Numpang Nampang
Dalam berita diatas, pengrajin sepatu Cibaduyut itu memanfaatkan popularitas Jusuf Kalla –JK--. Karakter yang dimiliki JK melekat terhadap sepatu tersebut. Pasar mengasosiasikan produk sepatu itu sebagai sesuatu yang dibanggakan, sebuah produk dalam negeri yang murah tetapi berkualitas dan bergengsi, karena juga disukai oleh seorang petinggi yang terkenal.
Seperti tanaman yang baru tumbuh, biasanya tidak cukup tangguh untuk berdiri, mereka memerlukan ajir --tonggak pengikat—agar tananam itu bisa berdiri hingga saatnya mereka mampu berdiri sendiri dengan akarnya yang kokoh.
Konsep pemasaran yang menumpang ‘tampang’ seseorang juga merupakan upaya untuk mempengaruhi konsumen. Upaya meningkatkan kepercayaan, mengalihkan konsentrasi, meningkatkan loyalitas dan lain sebagainya.
Ketika bencana Gunung Merapi mengancam sebagian warga sekitarnya, muncullah seorang kuncen yang pada saat itu terbukti kebenaranya bahwa Merapi tidak akan meledak. Dialah mbah Marijan yang kemudian menjadi sangat populer di berbagai media.
Ke’tangguhannya’ menginspirasi sebuah jamu yang mencitrakan keperkasaan. Konon dengan dibintanginya iklan produk Kuku Bima Energy oleh Mbah Marijan, Chris John serta Rieke, penjualan produk jamu laki-laki itu melonjak hingga 60 persen pada Agustus tahun ini.
Dalam sebuah kesempatan di Jogja, pihak produsen jamu mengaku sampai kewalahan dan kekurangan stock melayani permintaan pasar. Tapi, menurut Irwan –pimpinan perusahaan jamu tersebut--, kesuksesan promo produknya itu bukan saja karena Mbah Marijan sebagai penjaga Merapi atau Chris John sebagai petinju kelas dunia. Melainkan, karena mereka adalah orang-orang yang punya nilai, rendah hati, dan jujur.

Referensi
Dua contoh diatas adalah satu bentuk bukti bahwa tokoh-tokoh yang digunakan untuk mengkampanyekan sebuah produk menjadi sangat penting. Mereka menetukan perilaku pasar, mengapa? Tentu saja karena sebagian besar pasar adalah trend follower ¬¬–pengikut mode--. Hanya sedikit orang-orang yang menjadi trend setter –pencipta mode--.
Sebutlah seorang penyanyi Afgan yang menjadi penyebut bentuk model kaca mata. Kini orang-orang menyebut kaca mata dengan frame lebar dengan sebutan, kaca mata Afgan. Itu terjadi karena si penyanyi ini kerap menggunakan kaca mata seperti itu. Lalu banyak orang ikut mengenakan jenis model yang sama karena mencontoh si penyanyi tadi.
Kini celana panjang anak muda kembali mengulang mode beberapa tahun yang lalu. Tetapi sebutannya baru; celana Cangcuter. Karena group band ini selalu muncul dengan model celana sempit yang ngepress sekujur kakinya. Bukankah sekarang hampir semua anak muda berpakaian yang serupa?
Pernah seorang Agnes Monika menjadi sebutan untuk sebuah model rambut, semua salon ikut mempopulerkanya. Pernah seorang Said -- tokoh peran dalam sintron Bajai Bajuri – menjadi sebutan model celana panjang jeans yang sobek di lututnya. Demikian juga Vokalis Group musik Radja yang menjadi sebutan jenis model kaca mata hitam.
Dalam hal ini, ketokohan menjadi penting untuk mengarahkan perilaku pasar agar berorientasi kepada produk atau bisnis yang dipromosikannya.

Tokoh Gratis
Nah ini yang penting karena tidak semua dari kita yang memiliki modal besar untuk membayar tokoh-tokoh publik tersebut. Tetapi sebuah kenyataan bahwa tidak semua tokoh yang ada juga harus dibayar. Seperti seorang JK yang dimanfaatkan oleh pengrajin sepatu Cibaduyut.
Banyak radio siaran yang meminjam suara artis-artis terkenal untuk mempromosikan radionya dan itu gratis. Tidak sedikit rumah makan yang memajang foto-foto artis atau tokoh terkenal di ruang restorannya, sekadar mengatakan kepada publik, bahwa orang ‘hebat’ itu juga pernah makan disana.
Setiap kota, sekecil apapun itu, biasanya memiliki tokoh-tokoh yang diangap terhormat, atau menonjol pada sisi tertentunya. Adalah langkah cerdas menggunakan mereka –para tokoh itu—untuk mempromosikan produk yang kita miliki. Entah itu adalah seorang Walikota, Bupati, Pejabat militer atau tokoh masyarakat. Seperti seingat saya, ada sebutan kedai Durian Pejabat di Kota Langkat, karena banya pejabat yang datang makan durian disana.
Teknik sederhananya adalah hadirkan tokoh tersebut kelokasi yang kita miliki. Atau jika produk berupa sesuatu yang bisa dikenakan, berikan kepada tokoh tersebut untuk memakainya. lalu dokumentasikan dan publikasikan. Tentu saja, semakin terkenal tokoh itu, semakin besar kemungkinan produk kita juga ikut terkenal.
Tertapi berhati-hatilah memilih tokoh, karena setiap tokoh memiliki karakter yang khas. Upayakan pilih tokoh yang sesuai dengan karakter produk. Pilih tokoh dengan catatan sejarah yang positif. Seperti Pepsi Cola membatalkan kontrak dengan Michel Jackson karena sekali waktu ia sakit dehidrasi –kekurangan cairan--.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »